Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Digedung Sewa ruangan


__ADS_3

berdiri ditengah-tengah halaman rumah sempit yang terdapat beberapa tumpukan pecahan batu-bata dibagian sisi kanannya.


rumah petak yang atapnya terbuat dari Seng, terlihat lumayan Kumuh karena warna batu-bata yang mulai memudar ditambah dengan pengecoran Semen yang tidak tertata rapi.


"aku akan memberimu pekerjaan.." ucap putra mahkota mengejutkan Zili,


pikir gadis itu,


dibandingkan pekerjaan, kenapa tidak Lunasi saja hutang wanita dewasa dihadapan mereka..?


menghapus air mata "tuan..." panggil wanita dewasa tidak percaya "aku sudah bekerja menjadi tukang Jemur pakaian." jawabnya menolak pekerjaan yang diberikan putra mahkota.


tersenyum kecut "kalau kau sudah memiliki pekerjaan, maka ..." sedikit geram, karena wanita dewasa tersebut menurut putra mahkota terlihat sangat manja "bayarlah hutangmu.." lanjut laki-laki tersebut mengejutkan Zili yang mulai akan marah.


"hoi.." bentak Zili tidak terima


"mungkinkah.." ragu-ragu bertanya " jika aku bekerja pada Tuan, aku bisa melunasi hutangku kepada bank..?" lanjutnya mulai melontarkan pertanyaan.


tersenyum kecut "tentu saja tidak.." jawab putra mahkota mengecewakan "hanya saja.." masih mengembangkan senyuman kecutnya "jika kau bekerja denganku, kau masih memiliki kesempatan untuk mencicil Hutangmu pada bank hingga lunas dan mungkin,.." memandang dengan tatapan serius "kau masih memiliki sisa gaji lebih untuk biaya hidupmu nanti"


menghela nafas sejenak "mungkinkah pekerjaan yang tuan berikan Ringan...?"


menghela nafas tidak percaya "sadarlah.." ingatkan laki-laki tersebut "ketika kau sedang susah, apapun pekerjaannya, asalkan tidak mengandung kejahatan dan meskipun berat sekalipun, kau harus menjalaninya" lanjut putra mahkota lagi "kita kembali saja" ajak laki-laki tersebut kali ini tertuju kepada Zili.


tetap pada tempatnya, Zili tidak bergerak sama sekali ketika putra mahkota menarik tangannya "kau membutuhkan putri mahkota tapi kau tidak mengenalinya" ucap Zili mengejutkan kedua orang disana "bagaimana dia bisa tahu bahwa kau membutuhkannya jika kau tidak mengenalinya..?" lanjut gadis itu kecewa, mulai melangkah kaki, kini giliran Zili yang menarik tangan putra mahkota "berhentilah berharap sesuatu jika kau tidak bisa bersabar." tambah gadis tersebut menasihati."sama halnya dengan Tuhan yang melihat Ciptaannya, jika ciptaannya tidak ingin mengenalinya, bagaimana mungkin Dia peduli karena ciptaannya sendiri bahkan tidak mempedulikannya" terus berjalan, Raut wajah Zili terlihat merasa bersalah karena telah melontarkan Perkataan tersebut.

__ADS_1


mulai melangkah keluar dari gang sempit bersama putra mahkota.


"Nona, " panggil wanita dewasa yang tampak sedang mengejar mereka "aku tidak memahami maksud perkataammu, tetapi.." menghentikan langkah kaki tepat dihadapan Zili "sungguh aku telah berusaha dan bersabar"


"maka dari itu, kau bertemu dengan kami sebagai buah dari hasil kesabaranmu" balas putra mahkota cepat "dan Kami telah memberikan Kesempatan untukmu memperbaiki nasib," lanjut putra mahkota yang terlihat berdiri disamping depan wanita dewasa tersebut "terima atau tidak, itu bukan urusan kami lagi"


"baiklah tuan, aku menerima pekerjaan darimu" jawab Wanita dewasa tersebut tegas "tapi, mana mungkin aku bisa mengenali putri mahkota..?" lanjut wanita dewasa tersebut sangat mengecewakan zili.


tersenyum kecut, karena tidak menyukai wanita tersebut "bagaimana mungkin kau mengharapkan bantuan dari seseorang sementara kau tidak mengenalinya..?" tanya putra mahkota sedikit keras, "kau saja tidak ingin mengenalinya, lalu ketika dia tidak mengenalimu, kau malah menyalahkannya " menggertak gigi geram sejenak "konyol bukan, padahal kau yang membutuhkannya tapi kau tidak ingin mengenalinya," terlihat mengendalikan emosi "kalau kau ingin mengenalinya maka harusnya kau cari tahu tentangnya," bentak putra mahkota sedikit kesal "sama halnya ketika kau meminta Bantuan kepada Tuhan tetapi kau tidak pernah mengenalinya, bagaimana mungkin Tuhan yang tidak kau kenali ingin membantumu...?"


"tuan.." panggil Zili mencoba menenangkan.


"lupakanlah" menghela nafas sejenak "Pelayanku akan datang mengunjungimu nanti untuk memberikan pekerjaan," mulai melangkah membawa Zili pergi "jadi tunggulah" lanjut putra mahkota meninggalkan wanita dewasa yang hanya diam terpaku membisu.


**********


mulai berjalan dipinggiran jalan Aspal desa zin,


dengan suasana desa setengah kota, yang terkadang terdapat bangunan Bertingkat tiga dan diselingi dengan rumah-rumah penduduk biasa.


panas terik matahari mulai menghilang, mungkin karena tertutup awan "tuan," panggil Zili memandang kearah putra mahkota yang masih terus berjalan didepannya.


menghentikan langkah lalu berbalik memandang zili "hmm" jawab putra mahkota bersamaan dengan beberapa kendaraan yang melewati mereka "kenapa kau tidak melunasi hutangnya saja dibandingkan dengan memberi pekerjaan kepadanya..?" tanya Zili merasa Aneh dengan bantuan yang diberikan putra mahkota, mungkin gadis itu mengetahui bahwa laki-laki dihadapannya adalah laki-laki kaya, mengingat laki-laki tersebut pernah memiliki beberapa pelayan ketika Dia dan Zili tinggal diApartemen Laki-laki tersebut dimasa lalu.


tersenyum lembut memandang Zili "ada dua tipe orang susah Didunia ini..." ucap putra mahkota menjawab, jawabannya mengernyitkan dahi zili "orang susah karena kemalasan mereka dan orang susah karena cobaan dari tuhannya" lanjut laki-laki tersebut, jawabannya mulai dipahami gadis itu "untuk membedakannya, aku hanya perlu memberikan bantuan berupa pekerjaan" tambah laki-laki tersebut lagi "jika dia menerimanya lalu bekerja keras dan bersabar menjalaninya maka kehidupannya akan menjadi jauh lebih baik dari kehidupannya saat ini tetapi jika dia menolaknya.." mulai menghilangkan senyuman lembutnya "maka biarkan saja dia dalam kesusahan karena kemalasannya" berbalik, putra mahkota mulai menarik tangan gadis itu kembali "kemana lagi kita akan pergi...?" tanya putra mahkota kepada Zili yang saat ini membawa buku tagihan hutang yang berisi Alamat para pemilik hutang ditangannya.

__ADS_1


melepaskan genggaman tangan putra mahkota, lalu membuka buku "gang Tiberia, gedung lantai 3" jawab gadis itu lalu mulai menengadah memandang putra mahkota.


"disana, bukan..?" sepertinya mereka tidak perlu Lagi bersusah payah mencari Alamat, karena Alamat yang dituju kini telah berada didepan mata mereka.


membalas senyuman lembut, lalu memandang kearah sebrang jalan mereka "benar." jawab gadis itu mulai melangkah menyebrangi jalanan aspal yang terlihat sepi. terus melangkah, diikuti putra mahkota dari belakang, gadis itu telah berada dihalaman gedung yang mereka cari "mungkinkah gedung ini adalah sebuah apartemen..?" ucap Zili bertanya-tanya karena Gedung tersebut tidak terlihat Luas seperti Gedung Apartemen biasa yang ia ketahui.


"bukan.." jawab putra mahkota menebak "sepertinya gedung ini adalah Gedung tempat penyewaan Ruangan" lanjut laki-laki tersebut menebak lagi.


"kontrakan..?" tanya Zili mulai memperkirakan.


"bisa dibilang begitu" Lanjut jawab putra mahkota mulai melangkah kembali, mengikuti Zili memasuki gedung tersebut, terus melangkah menaiki anak tangga dan berhenti tepat didepan sebuah Pintu rumah tertutup.


toookk tookkk..


sepertinya pintu tersebut tidak memiliki Tombol Pemanggil, hingga Zili terpaksa harus mengetuk pintu rumah, tidak seperti Apartemen pada Umumnya yang biasanya memiliki Sebuah Tombol yang berguna untuk memanggil pemilik ruangan.


pintu terbuka "debt collector ya..?" menghela nafas berat "maaf...


belum sempat pemilik apartemen melanjutkan kalimatnya, ia dibuat terkejut dengan aliran mata deras Zili yang membasahi pipi.


aliran mata gadis tersebut juga mengejutkan putra mahkota "hei, ada apa denganmu..?" tanya laki-laki tersebut kepada Zili yang mulai menangis tak kuasa menahan kepedihannya.


"kau..?" suara pemilik apartemen mulai bertanya.


menggertakan gigi menahan rasa nyeri didalam hati "aku ..hiks.." mulai berbalik, Zili terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan wanita dewasa itu, dia mulai melangkahkan kaki menjauh, meninggalkan putra mahkota yang langsung mengejarnya.

__ADS_1


"zili, ada apa denganmu..?" tanya putra mahkota lagi yang telah berhasil mengejar wanita miliknya menuruni anak tangga.


menghentikan langkah kaki "dia adalah ibu kandungku" jawab gadis itu mengingat jelas wajah wanita dewasa yang dulunya hanya mampu ia lihat didalam layar televisi saja.


__ADS_2