
Tebing yang tinggi telah dituruni, dataran luas diisi rerumputan liar yang terkadang memiliki bunga-bunga berwarna-warni sedang dilewati.
Semerbak harumnya bunga, menghilangkan bau obat-obatan dari kemeja Putra Mahkota yang belum sempat berganti.
“Hm, aku sudah menerimanya.” Putra Mahkota menekan tombol dari balik headset untuk memutuskan panggilan, lalu menghentikan langkah kaki serta melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Zili kemudian menyentuh jam tangan yang terlihat sebuah pesan masuk pada layarnya.
Pesan dari Ilmuwan Berbakat yang mengirimkan peta petunjuk keberadaan para pejabat tinggi yang sedang bertugas saat itu.
“Xu’i, bukankah sebaiknya kita membawa bekal. Kau bahkan belum mengisi sedikitpun perutmu itu?, pikirkan juga keadaan wanitamu!” Shen Shi Yun mengutarakan pendapat lalu mulai berjalan mendekati sebuah pohon besar dan mengulurkan tangan, mengeluarkan tali dari jam tangan miliknya kemudian melompat ke dahan pohon, setelahnya ia berbaring telentang dengan kedua tangan di bawah kepala pada batang yang lumayan besar di atas pohon tersebut.
Sepertinya Putra Mahkota menyetujui permintaan Shen Shi Yun, segera ia menghubungi Ilmuwan Berbakat kembali, untuk menyerukan perintah menunggu lalu menghubungi Prajurit militer yang tadinya membawa helikopter untuk mencarikan bekal bagi mereka.
Tidak ingin terus berada di sisi Putra Mahkota yang masih memberikan bekas rasa sakit di dalam hati, Zili yang lelah pergi mendekati pohon lain yang tak jauh dari pohon tempat Shen Shi Yun beristirahat berada.
Awan-awan putih tebal di langit bergerak perlahan-lahan terbawa oleh angin menurut pandangan mata, rerumputan panjang tampak menari-nari begitu indah, nyanyian suara burung mampu menenangkan hati orang-orang di sana. Gadis itu, kini telah duduk lalu bersandar di batang pohon kemudian memejamkan matanya.
Angin menerpa tubuh, menyejukan hati, menghilangkan segala gundah gulana.
“Aku merindukanmu.” Gumam Putra Mahkota yang telah berjongkok di depan Zili yang terlelap masuk ke dalam mimpi, “hm, Cekp..” lalu mencium pinggiran bibir gadis tersebut dengan hidungnya sembari menghirup aroma nafas gadis yang ia sukai itu lalu bergerak ke samping Zili dan duduk di sana. Segera Putra Mahkota menarik bahu gadis tersebut untuk mendekat ke tubuh sampingnya, setelahnya laki-laki tersebut membawa kepala Zili untuk menyandar di dada bidangnya, barulah ia memejamkan mata.
**************
Wuuuuzzzzzzz...
Kelelahan perlahan-lahan sirna, Zili mulai membuka mata dan sedikit terbelalak ketika melihat Putra Mahkota ada di atas kedua paha kakinya.
“Jangan bangunkan dia!” suara Shen Shi Yun terdengar sedikit jauh, laki-laki itu terlihat sedang menyusun beberapa jenis makanan dan minuman ke dalam sebuah tas dibantu oleh dua orang prajurit militer.
“Hm,” Angguk Zili menuruti, gadis itu terlihat menoleh kepala, menahan diri untuk tidak melihat wajah tampan Putra Mahkota tetapi sayang, hasrat hati tak mampu lagi terbendung, ragu-ragu ia memandang ke arah wajah Putra Mahkota, melirik sedikit lalu pasrah dengan keinginan hati untuk terus memandangi wajah tersebut.
Deggg deggupp...
Jantungnya memompa, kali ini bukan rasa takut yang menyelimuti kecuali rasa rindu yang tak lagi terobati.
Wajah pucat Putra Mahkota membuat gadis itu merasa bersalah karena telah mengeraskan suara tadinya. Tangan gadis itu tak lagi tahan untuk menyentuh wajah pucat tersebut dan akhirnya terangkat lalu memegang bulu-bulu mata.
Dalamnya perasaan gadis tersebut untuk Putra Mahkota padahal ia tahu dengan pasti bahwa dia juga mencintai Pemilik Apartemen.
Entah mengapa, baginya semua kesalahan Putra Mahkota lenyap begitu saja, tertelan rasa cinta yang begitu dalam hingga tiada lagi rasa sakit ataupun keinginan hati untuk memikirkan kesalahan Putra Mahkota kembali.
Mungkin itulah yang disebut dengan mencintai yang sesungguh-sungguhnya. Tidak peduli sebesar apapun kesalahan orang yang ia cintai, ia akan tetap selalu memaafkannya.
“Shisou,” gumam Zili pelan dengan mata sedih melihat wajah pucat Putra Mahkota yang semakin kurus.
Gadis itu menarik nafas lebih dalam sembari memejamkan mata sejenak.
“Emmm..” Sontak ia membuka mata ketika bibirnya tersentuh oleh bibir Putra Mahkota dan terkejut ketika melihat Putra Mahkota telah membuka mata tetapi masih berada di atas pangkuannya.
“Shis.. Yang Mulia, “ Zili tertegun, jantungnya memompa jauh lebih kencang dari sebelumnya, “Apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
“Menciummu.” Jawab santai Putra Mahkota sembari mengangkat kepala sedikit lalu meletakan kedua tangan di belakangnya, masih dengan terbaring di atas pangkuan istrinya.
“Jangan lakukan itu secara tiba-tiba, aku...”
“Xu’i, kau sudah bangun?”
Suara Shen Shi Yun menyela kalimat Zili yang belum sempat terselesaikan.
“Aaaahhh, mengganggu saja.” Keluh Putra Mahkota mulai duduk sembari mengacak-acak rambut di kepala lalu menguap sebentar dan berdiri, “sudah selesai?” tanya laki-laki tersebut ketika melihat Shen Shi Yun mengangkat tas ransel di pundaknya.
“haaaa, benar.” Jawab Shen Shi Yun bersamaan dengan para prajurit militer yang telah ditugaskan kembali ke helikopter mereka dan menunggu perintah selanjutnya. “Kau ingin makan?”
“Kau ingin makan?” pertanyaan Shen Shi Yun kembali diulangi Putra Mahkota namun pertanyaan tersebut ditujukan untuk Zili yang telah berdiri dan membersihkan dedauanan kering yang menempel di celana.
“Hmm,” Zili menggelengkan kepala, menolak untuk makan di tempat tersebut saat itu. “Yang Mulia, bisakah kau membiarkanku ikut bersama prajurit militer menuju helikopter saja, aku,” gadis itu merasa sedikit takut, terlebih lagi mengingat kejadian penyerangan Pengusaha Kebanggaan Negara kepadanya. “... aku ingin beristirahat lebih lama lagi.” Lanjut gadis itu gugup, dia terlihat masih belum bergerak dari tempatnya.
Putra Mahkota sedikit menyadari sesuatu, namun saat itu ia masih mengira bahwa mungkin Zili sedang berusaha untuk menghindarinya.
“Hmm baiklah, aku akan memberikan lebih banyak waktu untukmu beristirahat, dan bukan di helikopter tapi di sini,” Putra Mahkota menepuk bahunya, memberitahukan bahwa dia bersedia memberikan punggungnya untuk Zili beristirahat di sana.
Zili menggertakan gigi-giginya di dalam mulut, dia sadar bahwa dirinya tidak bisa lagi menolak untuk bertugas dan bertemu Pengusaha Kebanggaan Negara kembali.
“Yang Mulia,..”
“Hm, kemarilah!” Putra Mahkota segera berjongkok, menyerukan Zili untuk datang mendekatinya.
“Yang Mulia, sepertinya rasa lelahku sekarang telah pergi.” Ucap Zili cepat lalu mulai melangkah menghampiri.
“Hm.” Zili menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaan Putra Mahkota yang telah berdiri kembali.
“Padahal aku telah bersedia memberikan punggungku untuk wanita yang aku cintai, tetapi dia menolaknya.”
“Itu artinya dia menolak cintamu.” Sambut cepat Shen Shi Yun yang telah melangkah sesuai arah petunjuk di jam tangannya.
“Haaa,, untuk kedua kalinya aku ditolak wanita.” Keluh Putra Mahkota yang telah berjalan mengikuti langkah Shen Shi Yun, lalu terhenti ketika Zili tak kunjung mendekati mereka. “Hm, ternyata gerakan wanitaku sangat lambat seperti kura-kura.” Sindir laki-laki tersebut dari kejauhan terdengar hingga sampai ke telinga Zili.
“Bukan lambat seperti kura-kura, dia hanya tidak nyaman dekat denganmu, sepertinya dia sangat membencimu.” Begitulah dengan santai Shen Shi Yun menjawab ucapan Putra Mahkota. Perkataan laki-laki tersebut sontak mengejutkan Zili.
“Aku, tidak pernah membenci Putra Mahkota.” Jawab Zili cepat dari kejauhan, menghentikan langkah kedua laki-laki di hadapannya.
“Kau percaya?” tanya Putra Mahkota kepada Shen Shi Yun di sampingnya.
“Tidak.” Jawab Shen Shi Yun memulai langkahnya kembali.
“Ternyata dia pandai berbohong.” Sindir Putra Mahkota sehingga membuat Zili mempercepat langkah karena tidak ingin dianggap bahwa saat itu ia sedang membenci Putra Mahkota negara NC.
*********
Tuuukkkk.. tukkkkk...
__ADS_1
Langkah kaki terdengar memasuki sebuah lorong berlantaikan tanah,
Keheningan serta suasana dingin mulai terasa di tempat tersebut.
Cahaya senter menembus lurus jauh dipandang mata.
Langkah cepat perlahan-lahan melambat ketika menemukan cahaya lain pada tikungan lorong di hadapan mereka.
“Itu kau?” tanya Putra Mahkota dari balik headset yang ia kenakan.
“Kau melihat cahaya laptopku?” tanya balik laki-laki dari balik headset tersebut.
Segera Putra Mahkota mempercepat langkah kembali, diikuti Shen Shi Yun dan Zili, “ Hm, aku melihatnya.” Lalu memutuskan panggilan dan datang mendekati sumber cahaya di sana.
Terus berjalan hingga menemukan seorang laki-laki yang duduk di atas lantai tanah. “ Huh, kami lelah menunggumu.” Keluh Ilmuwan berbakat sembari melirik ke arah Zili sejenak dan melayangkan senyuman kecut untuk gadis itu.
“Dimana kalian menemukannya?” tanpa peduli, Putra Mahkota langsung mempertanyakan hasil penemuan dari pejabat tinggi, bawahannya tersebut.
Merasa keluhannya sedikitpun tidak dipedulikan oleh Putra Mahkota, laki-laki tersebut menutup laptop lalu berjalan di depan, untuk memberikan petunjuk keberadaan pejabat-pejabat tinggi lainnya.
Terus berjalan memasuki lorong hingga menemukan lubang di bawah tanah yang memiliki tangga besi berkarat, cahaya lampu mulai menyinari kehadiran mereka berempat.
Cahaya tersebut ternyata berasal dari sebuah kereta api bawah tanah. Kereta tersebut terlihat tua tetapi lampu-lampu dikereta tersebut dapat dinyalakan.
“Kau menyalakannya?” tanya Putra Mahkota terlihat sedikit berpikir.
“Aku belum menyalakan kereta ini, hanya lampu-lampu saja.” Jawab Ilmuwan berbakat bersamaan dengan pandangan mata yang tertuju kepada para pejabat tinggi lain yang tampak sedang beristirahat di dalam kereta yang jendelanya terbuat dari kaca.
“Jadi menurutmu kereta ini terbuat dari dua daya energi?” tanya lagi Putra Mahkota yang telah melangkah mendekati pintu kereta bawah tanah tua tersebut dan memasukinya, lalu menemukan sebuah kontak baterai di sana.
“Benar, tanpa dinyalakan sekalipun, lampu-lampu kereta ini bisa menyala.”
“Awet sekali, bukan?” Putri Kelincahan datang mendekat, ia terlihat begitu senang dengan kedatangan Putra Mahkota.
Zili hanya bisa diam dan menundukan kepala, dia terlihat berdiri di belakang Putra Mahkota.
“Bukan awet, tetapi mungkin baterainya telah diganti dengan baterai yang baru.” Jawab Putra Mahkota yang telah melihat jalur kabel di kontak baterai tersebut dan memperkirakan sesuatu.
Tunggg.. tunggg..
“Kau sudah datang?” Pengusaha kebanggaan Negara terlihat datang dari gerbong kereta lainnya, diikuti oleh Ou Nura. Mungkin tadinya mereka sedang melihat-lihat keadaan kereta api bawah tanah tua tersebut.
Sementara itu, Penasihat Pangeran Istana terlihat tertidur pada bangku panjang di kereta api tersebut. Lalu Mantan Presiden Teknologi hanya berdiri di kejauhan, enggan untuk mendekati Putra Mahkota.
Tukkk tukkk .. tukk.. tukkk..
Masih belum menjawab pertanyaan Pengusaha Kebanggaan Negara, berkali-kali kaki Putra Mahkota dihentakan ke lantai kereta api bawah tanah tersebut, setelah terdengar bunyi berbeda, laki-laki tersebut berjongkok, lalu menemukan sebuah tempat penyimpanan baterai di bawah salah satu kursi di sana.
Beberapa mata terkejut.
__ADS_1
“Benar, Kereta api ini mungkin pernah dipakai belum lama ini.” Ucap Ilmuwan Berbakat masih memandang terkejut ke arah baterai berukuran besar yang terlihat masih sangat baru dan sepertinya benda tersebut merupakan produk buatan dari perusahaan Co negara NC.