
Sudah sangat sering ia mengunjungi makamnya, Meskipun hanyalah sekedar makam formalitas dan tidak terdapat tubuh di dalamnya tetapi ia menganggap laki-laki itu benar-benar telah mati.
Tak terbendung air mata, lebih dari setengah tahun lamanya, laki-laki tersebut telah hadir dalam kehidupan pahitnya selama ini, menguatkan dirinya dan menemaninya disaat ia susah.
Di perempatan malam yang dipenuhi bintang dengan angin malam yang kadang-kadang bertiup kencang, dia menghapus air mata meskipun setiap kali ia hapus, air mata tersebut tetap mengalir deras tak terkendali.
“Syukurlah ha..” Dia bernafas menggunakan mulut, Hidung yang memerah karena cubitan saat itu bertambah memerah. “Hiks Syukurlah.” Ucapnya lagi menundukan kepala sembari mengusap mata berkali-kali menggunakan punggung kedua telapak tangan.
Tubuhnya bergerak sendiri, “Grskkk.” Suara dedaunan kering terdengar kembali.
Kehangatan menenangkan hati di malam yang semakin dingin. Embun pagi mulai terlihat di atas dedaunan pohon-pohon buah Tin.
Dia menghentikan gerakan tangannya, membiarkan air matanya tetap mengalir hingga hatinya lega. Didalam Pelukan laki-laki yang mendekapnya, ia meluangkan kesedihan yang selama sebulan lamanya ia rasakan.
Terkadang menangis sendirian ketika mengerjakan tugas-tugasnya, terkadang kesulitan tidur di malam hari.
“Mereka bilang hiks.. mereka bilang..” Sangat sulit berbicara menimbang ia harus bernafas menggunakan mulut, “mereka bilang kau telah mati, mereka bilang...” Laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya, senyuman hangat terlihat menghiasi bibirnya mendengar ucapan gadis dipelukannya yang terbatah-batah.
*********
Matanya membengkak,
Menangis begitu lama hingga fajar hampir terlihat di bagian timur langit, membuat hati gadis itu begitu lega.
Tidak ada lagi kesedihan yang ia sembunyikan. Semua hilang ditelan kerinduan yang telah terobati.
Begitulah hidupnya yang kini telah berubah setelah cinta datang memenuhi hatinya.
Malu,
Tetap menunduk dengan bernafas melalui mulut. Kadang-kadang ia menarik nafas dengan hidungnya yang tersumbat. Kadang-kadang ia salah tingkah dengan menutup wajah di dalam kedua lipatan kaki yang ia peluk.
Suasananya masih canggung. Duduk di jalan setapak kecil pertengahan bukit dan saling berdekatan, kedua orang itu hanya terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“Ehm..” Laki-laki itu berdehem, ia mulai mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk membuka pembicaraan dengan meraih topi jaket hoodie gadis itu lalu menutup kepala gadis yang duduk di sampingnya hingga membuat gadis tersebut sontak menoleh kepala ke arah laki-laki itu.
Melempar senyuman lembut. “Kenapa kau diam saja?” Mengusap topi hoodie hingga membuat kepala gadis tersebut sedikit menunduk.
“Tuan, “ Panggil gadis itu masih melihat wajah Laki-laki tersebut namun belum berani menatap matanya. “Bagaimana caranya kau bisa selamat dari kematian?” Pertanyaan gadis tersebut membuat laki-laki di sampingnya tertawa kecil sembari melepaskan tangan dan meletakan kedua tangannya di atas kedua lutut kaki yang dilipat sedikit melebar.
“Siapa yang bilang aku mati?” Mengalihkan pandangan ke arah depan, melihat cahaya matahari berwarna jingga yang akan segera terbit di atas langit. “Aku hanya berpura-pura mati untuk membawa Xu’i kembali ke negara kita.” Jelasnya penuh dengan kebohongan yang tak disadari.
“Be..benarkah?” Tanya gadis tersebut masih melihat sisi samping wajah Laki-laki itu. “Itu artinya Kau sedang berjuang sendirian saat ini, bukan?”
Menoleh ke arah gadis itu kembali, membuat gadis tersebut sontak mengalihkan pandangan ke bawah bukit. “Tidak, saat ini Aku sedang berjuang bersamamu.” Jawaban laki-laki itu sontak mengejutkan gadis tersebut lagi dan lagi.
“Aku?” Menolah kepala ke arah laki-laki tersebut lalu ketika pandangan mata saling beradu, ia dengan segera memandang ke bawah bukit kembali. “Mungkinkah maksud tuan dengan mengambil alih pekerjaan Putra Mahkota?,” raut wajahnya berubah sedikit kesal. “Aku tidak butuh penghargaan yang menipu sebagai balasannya.” Ucapnya tegas sembari menyembunyikan wajah di dalam lipatan kedua kaki kembali. “Aku tahu, aku telah gagal mendapatkan pengakuan penduduk NC selama ini, tetapi tetap saja, jika diakui bukan dengan hasil usahaku sendiri, rasanya sangat tidak nyaman dan sedikitpun aku tidak merasa bahagia.”
“Dengar Zili,” Nada laki-laki tersebut terlihat berbeda dari sebelumnya. Sepertinya ia mulai berbicara serius saat itu. “Seseorang yang dianggap buruk selama ini, akan tetap buruk dimata orang kecuali bukti kebaikannya terlihat di depan mata.” Memandang ke arah matahari yang telah terbit di ufuk timur belahan bumi. “Meskipun kau berhasil membuktikan kepantasanmu tetapi jika Xu’i tetap berada disampingmu, Semua orang akan tetap menganggapmu buruk bahkan semakin buruk karena menyangka bahwa Xu’i telah membantumu meraih kepantasan itu.” Jelas laki tersebut sembari membuka topi hoodie milik gadis di sampingnya dan mengacak-ngacak rambut gadis yang diikat satu ikatan ke belakang tersebut. “Satu hal lagi,” laki-laki itu mulai berdiri setelah puas menyerakan rambut tersebut. “Belajar mencari tahu terlebih dahulu sebelum kau mempercayai perkataan orang, dan jika kau tidak mendapatkan kebenarannya maka jangan sepenuhnya mempercayai perkataan orang itu sebelum kau melihat bukti kebenarannya, karena sifat manusia tidak ada yang sempurna.”
“Hm..”Angguk gadis itu mulai berdiri. “Tuan, maafkan aku yang mempercayai kau telah mati sebelum melihat bukti kematianmu terlebih dahulu.”
“Maka anggap saja saat ini aku telah mati.”
“Kau tidak boleh percaya padaku karena belum tentu aku bisa selamat dalam misi ini.” Ucap laki-laki tersebut mulai berjalan menuruni bukit diikuti oleh gadis yang tampak berusaha keras mengiringi langkahnya.
“Kalau begitu, biarkan aku ikut denganmu.” Pinta gadis tersebut sedikit memaksa dengan menggengam salah satu lengan laki-laki itu menggunakan kedua tangan. “Aku tidak butuh penghargaan dari usahamu, aku tidak mau diakui dengan perjuanganmu, aku tidak mau..”Teriak gadis tersebut keras hingga menggema di kesepian kebun pagi hari itu.
“Hmm.” Laki-laki tersebut tersenyum nakal, dia menghentikan langkah kaki tepat di bawah bukit begitupula dengan gadis tersebut.
“Aku mohon bawalah aku bersamamu, aku juga sangat ingin melihat Putra Mahkota.” Lanjut gadis tersebut memohon, meskipun ia tidak tahu mengapa rasa rindunya terhadap Putra Mahkota tiba-tiba menghilang, tetapi gadis itu masih sangat ingin melihat wajah suaminya tersebut. “Aku mohon Tuan.” Lanjut gadis tersebut semakin memaksa meminta.
“Tidak boleh,”
“Aku berjanji, aku tidak akan menangis melihat perubahan Putra Mahkota menjadi Louise, aku berjanji, aku tidak akan mengacaukan rencanamu.” Tidak henti-hentinya memaksa, gadis tersebut bahkan sampai memeluk lengan laki-laki itu.
“Jadi kau percaya bahwa Xu’i telah berubah menjadi Louise?” Tanya laki-laki tersebut sembari berbalik, menghadap ke arah gadis yang langsung menundukan kepala dan melepaskan lengan laki-laki itu dari pelukannya.
__ADS_1
“Bukankah di Novel sudah dijelaskan bahwa butiran otak Louise yang telah dihancurkan bisa masuk melalui luka, setelahnya sel-sel darah mampu membawa butiran itu masuk ke dalam otak si penerima lalu seluruh ingatan si pemilik butiran otak akan didapatkan bahkan yang lebih parah, butiran akan merubah sifat si penerima menjadi sama seperti sifat si pemilik?” Jelas gadis tersebut mengingat kembali novel yang belum sempat ia selesaikan bacaannya akibat kesibukannya yang begitu padat.
“ tahukah kau, apa yang disebut dengan Novel?” Tanya Laki-laki itu, memandang kepala gadis yang masih menunduk itu.
“Novel adalah cerita karangan bukan?, Meskipun begitu, bukankah Novel Take me to the time Machine sudah banyak membuktikan kebenaran?, Novel itu juga telah diakui sebagai novel kisah nyata hidup Profesor Cayden di masa lalu.”
“Belajarlah lebih memahami setiap bukti yang ada, lihat dengan baik sebelum memutuskan untuk mempercayainya.” Lanjut laki-laki tersebut menasihati gadis itu lalu dengan segera melangkah pergi namun langkahnya terhenti kembali,
“Baiklah aku akan belajar nanti, sekarang bawa aku bersamamu, aku mohon bawa aku bersama, aku mohooon.” Karena gadis itu berhasil memeluk lengan laki-laki tersebut kembali, suara teriakannya bahkan sampai membuat laki-laki tersebut terdiam dan tidak sanggup untuk melangkah kaki lagi.
“Hah.” Terlihat menghela nafas berat, Sepertinya laki-laki itu memang belum sanggup untuk meninggalkan gadis yang memeluk erat lengannya tersebut. “Baiklah aku akan membawamu.”
“Benarkah?” Tanya gadis tersebut mulai kegirangan tetapi masih belum melepaskan lengan laki-laki itu.
“Tapi dengan satu syarat, Bagaimana?”
“Baiklah, katakan saja.” Jawab cepat gadis tersebut, sepertinya tidak ingin membuang-buang waktu.
“Biarkan aku menciummu.”
“Ha?” Betapa terkejutnya gadis tersebut ketika mendengar syarat yang diajukan.
“Biarkan aku menciummu, bagaimana?” Tegas laki-laki itu, terlihat jelas senyuman nakal menghias di bibirnya, tatapan nakal juga terlihat dimata yang memandang kepala gadis di hadapannya.
“Tidak mau, aku hanya ingin dicium Suamiku saja.” Tolak gadis tersebut dengan lirihnya.
Melepaskan lengan tangan dari pelukan gadis itu. “Ya sudah kalau tidak mau.” Sungguh, laki-laki tersebut sedikitpun tidak berniat membiarkan gadis itu untuk ikut pergi bersamanya. Dia mulai melangkah kaki kembali setelah lengannya terlepas dari genggaman gadis itu.
“Baiklah.”
Langkah kaki laki-laki tersebut kembali terhenti karena gadis itu lagi dan lagi mengulang genggaman tangan di lengannya. “Hmmm.” Senyuman laki-laki itu semakin jelas terlihat nakal.
“Baiklah ku bilang, baiklah.” Teriakan gadis tersebut kembali menggema.
__ADS_1
Menghadapkan tubuh ke arah gadis itu lagi. “Angkat wajahmu! Aku akan segera melakukannya.” Ucap laki-laki itu begitu senang mempermainkan gadis di hadapannya.
“Hm.” Angguk gadis tersebut dengan ragu-ragu mengangkat kepala.