
Drururduudrudududukkkkk...
Suara keras helikopter tidak mampu menghilangkan kegelisahan hati, meskipun demikian, laki-laki itu berusaha untuk tetap tenang, mencari keberadaan Putri Mahkota yang telah terpisah dengan regunya.
Di atas sebuah meja kecil di depannya, sebuah laptop terlihat menyala. Jari-jari tangan juga terus ia gerakan begitu cepat untuk mencari tahu keberadaan jam tangan yang dikenakan Zili berada.
“Kenapa begitu sulit sekali ditemukan?”
Shen Shi Yun yang berdiri di samping laki-laki tersebut, terlihat risau melihat raut wajah laki-laki yang semakin pucat itu. Ia mengetahui dengan pasti bahwa temannya tersebut sangat lelah dan juga tubuhnya belum terisi energi kecuali hanya air mineral saja.
“Mereka menyembunyikannya, sengaja mengacaukan jaringan area ini agar aku tidak bisa menemukannya.”
Laki-laki tersebut adalah Putra Mahkota, rambutnya terlihat berantakan, ia bahkan belum sempat membersihkan wajah dan meminum vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
“Hm,” Putra Mahkota tersenyum tipis, lalu menggeser meja lipat di depannya kemudian berdiri.
Seorang prajurit militer yang ditugaskan mengawal laki-laki tersebut datang dan menutup laptop serta melipat meja yang tadinya digunakan oleh Putra Mahkota.
“Kau menemukannya?”
“Lintang utara, percepat laju!” perintah Putra Mahkota kepada Prajurit pengemudi helikopter yang langsung menurutinya dan memutar arah menuju ke arah utara. “Hm, aku menemukannya,” Kali ini laki-laki itu menjawab pertanyaan dari Shen Shi Yun sembari melihat layar jam tangan bergambarkan jarum petunjuk, yang ia kenakan.
Sepertinya Putra Mahkota telah memasukan data pencarian yang berhasil ia temukan dari laptop ke dalam jam tangan canggih miliknya.
“Yang Mulia!” Seorang prajurit militer yang bertugas menjaga di pintu helikopter datang menghampiri dengan membawa sebuah teropong. “Kami menemukannya, Yang Mulia Putri Mahkota berada di bawah.”
“Turun!” Perintah Putra Mahkota kepada Pengemudi Helikopter untuk mendaratkan kendaraan tersebut di sana. “Berikan aku senapan!” lalu berjalan mendekati pintu helikopter.
Wuuuzzzz...
Kencangnya angin menerpa tubuh, mengacakkan rambut yang telah berantakan itu.
“Kau yakin bisa melakukannya?”
Krrrkkkkkk...
Dooorrr...
Cuuupppp...
Suara tembakan pertama segera menghilang terbawa angin kencang.
__ADS_1
Dooooorrrr...
Cupppp...
“Perkiraan kecepatan angin dan senjata, aku bisa menghitung semua.” Putra Mahkota memberikan senapan kepada prajurit di sampingnya lalu melompat ke udara dengan begitu santai sembari mengulurkan tangan dan tali jam tangannya berhasil mengikat di besi bagian bawah helikopter.
Segera Shen Shi Yun melompat mengikutinya, dan dalam hitungan detik, ia berhasil memukul laki-laki tua yang berdiri di depan Zili tadinya, menjauh.
************
“Haa.. Hikkssss.. Aku hanya ingin hidup normal tetapi kenapa, hiks haa.. haa.. “ Gadis itu menangis sesunggukan, tak lagi kuasa melihat wajah pucat Putra Mahkota. “Kenapa aku selalu dilibatkan masuk ke dalam masalah keluarga kerajaan hiks hiks haa...?, hiks..” Sakit sekali, tubuhnya bahkan sampai gemetaran tidak mampu menahan kemarahan yang bercampur rasa sakit yang menusuk relung hati.
Wuuuuzzzz..
Angin menerpa tubuh Putra Mahkota yang masih berdiri, lalu selangkah demi selangkah, kaki laki-laki itu mendekati kembali.
“Hanya karena kau membenci Shin’A hiks hiks..haa, aku yang bahkan dibenci olehnya, tidak sedikitpun kau berikan kesempatan untuk belajar keahlian Klan di sekolah, karenanya semua orang menghinaku. Hiks haa hikss.. haruskah orang yang tidak bersalah menanggung kesalahan orang lain?, hiks hiks..”
Putra Mahkota kini berada di depan gadis yang terduduk melipat kaki ke belakang dan menunduk menangis, menggenggam seragam di dadanya sangat erat dengan kedua tangan.“ Berapa banyak lagi kebohongan yang kau sembunyikan dariku?, aku bahkan seperti orang gila yang terus mengejar cintamu padahal kau sedikitpun tidak pernah mencintaiku dan kau juga berusaha membunuhku. Hikss haa.. Hikkss.. aku tahu hikss hikss aku tahu tapi aku berusaha untuk tidak peduli, aku tahu kau hanya memanfaatkanku selama ini, aku tahu tapi tetap saja, rasanya sangat sakit.” Gadis itu menuangkan seluruh isi hatinya, dia bahkan tidak lagi mempedulikan kehadiran Putra Mahkota yang telah berjongkok di depannya. “Tolonglah, tolonglah, gantikan aku, siapa saja gantikan rasa sakit ini, rasa sakit karena membenci suamiku sendiri hikss hikss tolonglah, aku hanya ingin hidup biasa, tidak masalah bagiku sulit makan ataupun hidup susah asalkan ada orang yang tulus kepadaku, aku tidak ingin menjadi putri pengendali kerajaan, aku tidak ingin hidup mewah, aku tidak kuat menahan rasa sakit ini lagi hiks hiks haaa..hikss haa..”
Sedikit terkejut, Putra Mahkota menarik tangan gadis itu, membuatnya sontak berdiri.
Berusaha untuk melemaskan kembali kakinya, namun sayang, Putra Mahkota sanggup menahan tubuh gadis itu melayang di depannya. “Hm, kita akan hidup normal.” Santai sekali Putra Mahkota berbicara, ia bahkan hanya memeluk Zili dengan satu tangan dan mendekapkan kepala gadis itu di dada, membiarkannya menangis di sana.
“Kenapa harus aku,?,Yang Mulia, hiks hiks. “ Kali ini panggilan Zili berubah, ia enggan memanggil guru kepada Putra Mahkota seperti sebelumnya. “Hanya karena aku bertunangan dengan Shin’A lalu kau takut aku akan membantunya menyingkirkanmu, maka dari itu, kau sengaja melakukannya, bukan?, pantas saja kau menyelamatkanku saat aku terjun ke bawah jembatan, itu semua kau lakukan agar usahamu tidak sia-sia, iyakan?, agar Shin’A tetap menikah dengan wanita bodoh yang tidak mungkin bisa membantunya, iyakan?, hiks hiks haa..” Tebak Zili yang telah berdiri tegak dan masih terus menangis di dada bidang Putra Mahkota dengan hembusan angin kencang menerpa tubuh dan menghamburkan helaian rambut mereka berdua.
“Hm, benar.” Jawab santai Putra Mahkota kembali, mengiyakan.
“Pantas saja hiks hiks haa.... pantas saja kau mengetahui banyak hal tentang kekayaan ayahku padahal kukira kau tidak mengenaliku, itu semua kau lakukan karena aku adalah Putri Pengendali kerajaan, bukan?” tanya Zili lagi masih terus menangis dan mengeluarkan semua isi hatinya.
“Benar.” Wajah pucat Putra Mahkota semakin terlihat pucat, meskipun demikian, ucapan laki-laki tersebut masih terus tenang bahkan terdengar tak merasa bersalah.
Mungkin ia telah terbiasa menyembunyikan keadaan hati dengan sikap tenangnya yang sangat terlatih.
“Shin Ji, Shin Jo, Presiden Sekolah, padahal mereka telah berada dipihakmu, “ gadis itu menyebutkan nama-nama Putra pengendali kerajaan, Kedua Pelindung Putra Mahkota, Shin Ji dan shin Jo memang merupakan Putra dari pengendali kerajaan, Sun Shin Joila dan Presiden Sekolah, Ou Natsu juga merupakan Putra dari Pengendali Kerajaan, Ou Natto. “... tetapi kenapa kau harus menyingkirkanku lagi?, aku bahkan tidak pernah tahu kebenaran bahwa ayahku adalah pengendali kerajaan. Lalu kenapa aku harus dibunuh?, aku tidak tahu apapun Yang Mulia, karena kebodohanku itu, aku bahkan begitu tidak tahu diri terus mencintaimu padahal aku ini sangat mengganggu bagimu hiks hiks..” Zili menghapus air mata di hidungnya yang terasa gatal dan menganggu dengan sedikit menarik wajah, menjauhi dada bidang Putra Mahkota.
“Tetapi kau sama sekali tidak menggangguku.” Putra Mahkota menurunkan kepala, melihat wajah memerah yang dipenuhi aliran air mata di bawahnya.
“Lalu kalau tidak mengganggu, kenapa kau berusaha membunuhku?” kali ini suara Zili sedikit lebih keras dibanding sebelumnya, mungkin karena setiap beban di dalam hati sedikit demi sedikit telah ia keluarkan. “Kau pasti tahu, hari itu Shin’A datang untuk menemuiku lalu dengan sengaja pergi dan merencanakan sesuatu untuk membunuhku agar dapat menjebak Shin’A, bukan?,kau selalu memasang Cracker di anting-antingku, Itu semua kau lakukan untuk mempermudahkanmu merencanakan urusanmu, iyakan hiks hiks?, Aku tahu, aku tahu aku tidak berharga, tetapi tetap saja, ketika mengetahui kebenarannya terasa sangat menyakitkan padahal selama ini aku terus berusaha untuk selalu menyangkalnya.”
Gadis itu membuang wajah, menoleh ke samping dan tidak ingin bersandar kembali di dada Putra Mahkota.
__ADS_1
“Hm,” entah mengapa perilakunya tersebut membuat Putra Mahkota tersenyum geli, “ ehm, “ ia bahkan sempat berdehem, berusaha untuk menyembunyikan tawa di antara kesedihan dan perilaku marah Zili terhadapnya.
“Aku mencintaimu.”
“Lalu kau bilang mencintaiku setelah semua kebohonganmu terungkap, sebenarnya apalagi yang sedang kau rencanakan?, aku berhenti, aku lelah dan tidak ingin dimanfaatkan, aku tidak ingin mati, aku tidak ingin berurusan denganmu ataupun Shin’A lagi, aku tidak mau menjadi pemancing jebakanmu, Yang Mulia, tolonglah, lepaskan aku!” Ucap Zili dengan gertakan gigi-gigi geram karena sedang menahan emosi yang sedang meledak-ledak di dalam hati.
“Bagaimana bisa aku melepaskanmu, kau bahkan sudah menikah denganku?” begitu santai Putra Mahkota menjawab pertanyaan Zili dengan pertanyaan yang semakin membuat gadis itu ingin sekali marah.
“Maka bercerailah!”
“Lalu jika bercerai, semua orang akan tahu bahwa selama ini aku adalah musuh negara.” Deg.. Deg.. detak jantung Zili sontak mulai memacu kencang.
Benar,
Semua yang ia dengar dari mulut laki-laki tua adalah benar adanya.
“Yang Mulia, kau...”
Perlahan-lahan kepala gadis itu terangkat naik ke atas, namun tubuhnya masih berada di lingkaran satu tangan Putra Mahkota.
“Hm,” Jawab Putra Mahkota sembari tersenyum lembut menggetarkan hati, senyumannya tersebut membuat wajah Zili dengan cepat menunduk, karena tidak ingin terpikat oleh pesonanya. “Aku adalah musuh rajamu, ratumu dan juga ayahmu.” Lanjut Putra Mahkota menjawab pertanyaan Zili yang masih belum terucap.
Zili berusaha menjauh tetapi tangan Putra Mahkota tidak melepaskannya begitu saja.
“Jadi hari ini aku memang harus mati ya?” gumam gadis itu pelan karena menyadari bahwa ia mengetahui rahasia tersembunyi Putra Mahkota.
“Bagaimana kalau kau saja yang membunuhku?, bukankah aku telah menghancurkan hidupmu?, aku juga pernah berusaha membunuhmu dan kau juga tahu bahwa aku adalah musuh negaramu. Tidak masalah bagiku mati karena aku sangat mencintaimu.” Ucapan Putra Mahkota yang terdengar tidak serius semakin membuat Zili tidak meyakini bahwa laki-laki tersebut memang telah menaruh perasaan untuknya.
“Bagaimana kalau kau membiarkanku tetap hidup?, kau adalah calon raja, keluarga kerajaan juga adalah keluargamu. Kau pasti tidak akan membunuh mereka. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di masa lalu hingga sampai menjadi musuh negara. Maka dari itu, biarkan saja aku hidup, aku akan menutup mulut dan pergi dari negara ini, sekarang aku hanya ingin pergi ke satu tempat, Yang Mulia,..“ Perlahan-lahan Zili melepaskan tangan Putra Mahkota yang melingkari pinggangnya dengan sangat sopan.
Ucapan dan perilakunya tersebut membuat raut wajah Putra Mahkota seketika berubah, datar dan terlihat sangat dingin. “ ... Saat ini, aku hanya ingin tinggal dipulau tempat tuanku berada. Aku tahu kau telah membunuhnya tetapi aku akan tetap hidup dan menemani tidurnya meskipun tubuhnya hiks..” Zili menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir deras kembali, “Meskipun tubuhnya mungkin kini tidak ada lagi tetapi aku akan berada ditempat yang sama dengan tempat terakhirnya hidup lalu menghabiskan sisa hidupku di sana, karena aku, hiks.. aku sangat mencintainya, Yang Mulia, jadi berikan kesempatan untukku hidup dan bertemu dengannya di sana.” Dengan keberanian yang telah ia kumpulkan, Zili mengangkat kepala dan memandang tatapan mata Putra Mahkota di depannya.
WWuuuuuzzz...
Kecepaaakkk..
Sayup-sayup hembusan angin berhasil membawa suara ombak hingga ke telinga.
Di atas tebing tinggi, Putra Mahkota dan Zili sedang berdiri saling berhadapan.
Mungkinkah Putra Mahkota akan mengakui diri bahwa dialah tuan yang selama ini dicintai oleh Zili?
__ADS_1