
Matanya membelalak penuh amarah.
Di dalam ruangan bercahayakan lampu terang dengan suara mesin yang semakin mengganggu suasana hati, Gadis itu terlihat sedang berusaha untuk merelakan Tangannya karena melihat Musuh negara, Co Sien Ya mendorong tabung neneknya.
Akkkkhh..
Mengerang sejenak sembari menggertakan gigi-giginya lalu,
Berputar miring hingga tangannya terkilir.
Baaaakkk..
Tendangan melesat naik ke atas hingga mengenai wajah pengendali Kapal Roll-V. “Akkkhhh.. Brengsek.” Dan membuat laki-laki tersebut mundur kebelakang memegang wajahnya yang merah dan terasa sangat sakit.
Berdiri dengan cepat, memegang lengan tangannya yang terkilir karena terpaksa ia putar. “ Lepaskan Nenekku, Brengsekkk.” Maki Zili berusaha keras menahan rasa sakit lalu berlari cepat memasuki kerumunan robot-robot manusia, melompat lalu menendangi, masih dengan memegang lengan tangan menahan rasa nyeri.
Wuuuzzzz...
Tendangan udara dari kaki Zili berhasil di hindari Musuh negara.
“Ehhmmm..” Mengangkat satu tangan yang tidak terluka lalu memukul ke samping namun sayang, tangannya berhasil di raih laki-laki dewasa di hadapannya.
Baaaakkk..
Buukkkk..
Kepala gadis itu ia benturkan ke dagu laki-laki dewasa yang lebih tinggi darinya bersamaan dengan tendangan kaki yang terangkat kesamping, menendang mundur robot manusia yang mendekat.
Berhasil membuat Musuh negara melepaskan tangan dari tabung neneknya. Zili mulai mendorong tabung tersebut dengan satu tangan menuju pintu keluar, menabrak dan menendang Robot manusia manapun yang mencoba mendekat serta menyerangnya.
Baaaakk.. Bukkkk..
Melepaskan tabung neneknya lalu melompat ke belakang ketika serangan pengendali kapal datang.
Bakkkk..
Akkkhhhh..
Gadis tersebut terpaksa mengerang kesakitan karena harus menepis pukulan kedua tangan laki-laki tersebut dengan tangannya yang terkilir.
Baaaakkk.
Uhukk uhukkk..
Tidak dapat memfokuskan diri, Zili tak lagi mampu menghindari serangan Musuh negara dari belakang dan pengendali kapal dari depan secara bersamaan, hingga salah satu serangan mengenai tubuhnya dan gadis tersebut terpental jauh menabrak para manusia robot yang mulai merobek pakaiannya dan menggigit tangan gadis itu.
“Akkkhhh.. hiks.” Menahan rasa sakit. “Shisou..” Panggil Zili terbaring lemah di atas lantai, di kerumuni robot-robot manusia yang tampak begitu Bengis menggigit kulit tubuh serta merobek sedikit demi sedikit pakaiannya. Menutup mata, lagi dan lagi ia pasrah akan kematian. “Shisou..” Panggil gadis itu sekali lagi dalam kegelapan mata yang telah tertutup.
Srrrrrkkk...
“Accel.”
Taarrrr.. Taarrrr.. Taarrrr..
Duammm...
Duammmmm...
Baaaakkkk....Baaaaakkk...
Membuka mata,
Mata yang terbuka tiba-tiba melebar ketika melihat dirinya sendiri berada di depan mata.
“Attack.”
“Akkkkkhhhhh...”
Krrrrrttt krrrrtttr....
Teriakan erangan kesakitan menggema mengejutkan seisi lorong bahkan Nenek Zili sekalipun ikut terbangun mendengarkan suaranya. “ Zili. “
Lampu – Lampu yang menerangi ruangan mulai redup dan sebagian berpecahan.
Kabel Listrik dari beberapa lampu yang berpecahan tersebut tiba-tiba memanjang lalu mengenai pengendali kapal hingga membuatnya jatuh lemah dan terus mengerang kesakitan.
“ Attack.”
Kabel mulai menyerang Musuh negara.
Krrrrtttt.. Dengan segera ia lari setelah mengendalikan Robot Manusia untuk menghalanginya terkena serangan listrik dari Wanita transparan di depan mata Zili.
Krrrttttt...
Satu persatu mayat robot manusia bergelempangan jatuh setelah terkena aliran Listrik di ruang yang remang-remang. “Zili..”
__ADS_1
“Nenek.” Gadis tersebut berdiri perlahan-lahan, pakaiannya penuh dengan robekan. Kulit tubuhnya terlihat berwarna putih, beberapa bagian tubuh juga tampak memerah dan terluka hingga berdarah akibat gigitan para Robot manusia.
“Zili, Kau baik-baik saja..?”
“Delia ditemukan.”
Srrrrkkkkk...
Tubuhnya gemetaran, dia tak lagi memiliki banyak tenaga.
Wanita Transparan tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali di hadapan tabung nenek Zili dengan Kabel listrik di belakangnya, yang tampak sedang bersiap-siap menyerang wanita tua tersebut.
“Jangaaaannn.”Teriak Zili, sekeras-kerasnya sembari menangis tersedu dan terus melangkah secepat yang ia bisa.
“Attack.”
“Shisooouuu..”
************
Bakkkkkkk...
Tubuhnya terpental jauh hingga menabrak dinding,” Akkhhhh uhuk, uhuk.” Dan mengerang kesakitan.
Tersenyum getir, sepertinya memang tidak memiliki kesempatan lagi untuk melarikan diri ketika melihat laki-laki mengerikan yang tak kenal kata iba berada di depan mata.
“ Apa kau pikir aku tidak tahu alasanmu menginginkan Rancangan Mesin Waktu...?” Putra Mahkota berjalan mendekat, Matanya Tajam menusuk hingga siapapun yang melihat akan bergetar karena tatapan tersebut sangat jarang ia perlihatkan.
“Hm.” Tersenyum kecut, Tulangnya bahkan hampir remuk hanya dengan satu tendangan keras Laki-laki remaja yang tiba-tiba memasuki Ruangan Obat Pengubah Darah lalu menendangnya sekuat tenaga. “Lalu..?” Baru saja berhasil melarikan diri dari Wanita Transparan, kini dia harus berhadapan dengan Musuh paling berbahaya bagi kelompoknya.
Remaja laki-laki tersebut di matanya tampak seperti Seekor Harimau ganas yang tanpa ampun menerkam mangsa di depan mata serta Manusia menakutkan yang bahkan Kelompok gelap tertinggi di Negara luar pada masa itu sekalipun tidak berani untuk menyentuhnya.
“Hm.” Tersenyum remeh. “Masa lalu tidak akan pernah bisa di ubah.” Ucap Putra Mahkota menaikan sedikit wajah, begitu Sombong memandang hina laki-laki yang terbaring miring lemah di depannya. “ Sekalipun kau berhasil kembali, Yuanna tetap saja menjadi milik Shin, karena Ikatan Cinta yang kuat akan selalu ditakdirkan hidup bersama.”
“Hahaha.” Tawanya lepas, Pikir laki-laki dewasa tersebut. Bagaimana mungkin seorang Putra Mahkota yang berwatak Kejam dan Dingin mengenal Sesuatu hal yang disebut dengan Cinta. “ Ucapanmu tidak berlogika.” Dia menghentikan tawa, mengangkat sedikit kepala memandang mata tajam Putra Mahkota lalu menurunkannya lagi ke atas lantai.
“Hm..hmm...hmm..” Terkekeh dengan mulut tertutup. “Hahahhaah” Putra Mahkota membalas tawa laki-laki dewasa tersebut. “Kau percaya pada Mesin Waktu tetapi tidak percaya pada Ikatan Cinta, Lucu sekali.” Ucap Putra mahkota dengan begitu senang sembari mengangkat kaki lalu meletakan di atas Telapak tangan Laki-laki dewasa tersebut.
“iiiikkkkhhh” Menahan rasa sakit karena tapak sepatu Putra Mahkota yang mendarat di telapak tangannya. Baaaaakkkk... “ Akkkhhhh.” Sungguh, tidak kenal rasa iba sedikitpun hingga berkali-kali Putra Mahkota mengangkat kaki lalu memijakkan kembali tapak Sepatunya yang keras. “Iiikkkkhhh.” Baaaaakkkk... “ Akkkhhhh.” Sungguh, Putra Mahkota begitu tega melakukannya hingga Kulit telapak tangan laki-laki dewasa tersebut terkelupas dan mengeluarkan banyak darah “Xu’i..” Teriak laki-laki dewasa itu teramat geram.
“Ku katakan padamu, Dunia ini memang tidak berlogika.” Ucap Putra Mahkota begitu senang mempermainkan telapak tangan yang berkali-kali ia injak. “Bahkan di hidup manusia saja tidak berlogika ketika sebuah balasan tiba-tiba muncul dari hasil kejahatan yang manusia lakukan atau sebuah kebahagiaan akan muncul ketika telah berusaha sekuat mungkin namun tetap gagal lalu pasrah akan takdir dan terus bersabar.”
“ Konyol...
BAaaakkk
“Akkkkk..”
Kraakk..
Patah,
Suara remukan tulang terdengar hingga sampai ketelinga. “Kemudian Shin yang terus menunggu Yuanna meskipun wanita itu melupakannya dan selalu berusaha menyelamatkan Yuanna meskipun ia selalu gagal,..” Tersenyum sinis, bola mata hitamnya tampak serius memandang Wajah pucat Musuh Negara yang tampak sedang mengerang kesakitan. “ Bukankah Sekarang Shin yang bahagia memilikinya..?” Baaaakkkk...
“Akkhhhh..” Tendangan mengenai perut laki-laki dewasa tersebut hingga rasa sakit bertubi-tubi memenuhi tubuhnya.
“Buktikan saja sendiri, karena aku pernah membuktikannya.” Putra Mahkota mulai berbalik, “ Hal- hal yang tidak berlogika itu sudah menjadi bagian dari hidupku.” Dia mulai berjalan cepat memasuki pintu ruang darah yang telah terbuka.
Bau darah Klan Xu tercium menyengat di hidungnya, mungkin darah Klan tersebut memang sedikit berbeda atau memang mungkin indera penciuman Putra Mahkota yang terlalu sensitif dengan aroma bau dari golongan darah klan tersebut.
*********
“Attack.”
“Shisoooouuu....”
Lemah sekali, dia tidak memiliki tenaga lebih hanya untuk berjalan cepat menyelamatkan neneknya.
Taaaarrrrr...
Kaca penutup tabung pecah.
Aliran Listrik terlihat jelas di Ujung kabel berkawat.
Trrrkkkttt.
“ Hancurkan.”
“ Yes My Lord.”
DUaaaaammmm.....
Duaaaaaammmm......
Suara ledakan terdengar mengejutkan,
__ADS_1
Tubuh-tubuh robot manusia yang tak lagi mampu bergerak, berpindahan tak tentu arah akibat ledakan yang menggetarkan kapal tersebut.
Krrrttt krrtttt..
Putra Mahkota tampak berjalan begitu santai keluar dari kegelapan Lorong, memandang tubuh Wanita Transparan yang mulai menghilang perlahan-lahan seperti sebuah layar yang tiba-tiba mengalami kerusakan.
“Hiks..Hiks..” Air matanya jatuh semakin berderai, dia memandang Laki-laki yang ia cintai telah berjalan mendekati.
Perlahan-lahan dia mulai melangkah ikut mendekati.
“Haa...
Matanya terbelalak kaget,
Sungguh,
Dia merasa Aneh ketika melihat perubahan sikap Putra Mahkota kepadanya yang tetap berjalan melewati gadis tersebut begitu saja menuju ke arah mesin-mesin pengendali kapal.
Memainkan jari-jari tangan diatas begitu banyak tombol-tombol mesin di sana. Gadis yang telah lemah, hanya bisa pasrah akan ketidakpedulian suaminya, dia berjalan perlahan-lahan mendekati neneknya yang masih tampak terkejut dan sedari tadi tidak bersuara.
Titt.. ttttiii.. tititit. Tiii..
Belum sempat ia memanggil Neneknya, Getaran kapal tiba-tiba muncul kembali dan kali ini semakin kuat.
Bahkan kadang melonjak miring hingga gadis tersebut ikut terjatuh terbaring dan hampir saja tertimpa tabung neneknya yang telah pecah.
Wuuuuzzzz...
Oeeeekkk..
Mual,
Hingga perutnya yang tak kuasa menahan, terpaksa mengeluarkan muntahan saking kuatnya lonjakan kapal saat itu.
Suara kericuhan terdengar Silih berganti,
Ke kanan dan ke kiri, betapa tidak seimbangnya hingga tubuhnya dan tubuh neneknya berkali-kali berpindah posisi.
Wuuuzzzzz...
Kraaaakk...
Sebuah cahaya menembus Masuk.
Putra Mahkota yang tetap berdiri dengan santai dan mampu menyeimbangkan tubuhnya mulai berbalik.
Matanya terbelalak, entah apa yang membuatnya tiba-tiba melupakan Zili ketika berada di ruangan tersebut hingga kini ia memandang tubuh lemah wanita miliknya terbaring memeluk neneknya dan tertimpa tabung kaca.
“Hahh..” dengan segera ia bergerak lari. “ aku,..” Tubuhnya gemetaran karena merasa teramat bersalah telah mengacuhkan Zili begitu saja. “ Zili.. Zili..”
“Shisou.”
Laki-laki tersebut mulai mengangkat tabung, lalu memeriksa kondisi kesehatan Nenek Zili.
Setelah memastikan wanita tua yang terlihat terbaring lemah menutup mata, dalam kondisi baik-baik saja.
Putra Mahkota dengan sigap meraih tubuh lemah Zili dan memeluknya. “Maaf.” Ucap laki-laki tersebut teramat merasa bersalah. Namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat Sakit. Melepaskan tubuh Zili. “Aaaaaahhhh...” Lalu memegang kepalanya sendiri. “ Ahhhhhh..” Laki-laki tersebut berteriak kesakitan mengejutkan gadis yang langsung memeluknya.
“ SHisou..”
“Ahhhhh...”
“ Shisou..” Panggil Zili lagi masih mencoba menenangkan. “Akkhhh...” Terdorong menjauh, gadis tersebut mengerang kesakitan ketika Putra Mahkota memukul keras kedua bahunya mundur hingga menabrak berbagai para manusia robot yang tak lagi bergerak.
“Mati.” Tatapan mata Putra Mahkota berubah menjadi Kosong. Ia mulai berdiri dan berjalan mendekati Zili.
“ SHisou..hiks..” Gadis itu terduduk lemah, dia memandang kedatangan Putra Mahkota yang bergerak cepat mulai menyerangnya. “Shisouuu..
BAaaakkk..
“ Zili..”
Putra Mahkota mundur ke belakang setelah menerima tendangan dari seseorang yang tiba-tiba datang.
“ SHin’A..” Tubuh gadis itu gemetaran, pakaian yang robek mengejutkan Pangeran istana yang baru saja datang.
Melepaskan Jaket lalu melentangkan dan menutupi tubuh Zili. Setelahnya,
Pangeran Istana mulai berdiri menghadap ke arah Putra Mahkota yang tampak aneh saat itu. “ Xu’i, Kau nekad sekali.”
“Xu’i.”
Krrrttt Krrttt..
Tiga Wanita Transparan tiba-tiba muncul di belakang Putra Mahkota. “ Yo Cayden, Kau ini memanggil siapa..?” Ucap Putra Mahkota tersenyum Licik begitu menakuti mata yang memandangnya.
__ADS_1