Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 45


__ADS_3

Suasana kelas tiba tiba berubah, tidak ada seorangpun yang berani berbicara kepada Putra mahkota yang masih menyamar sebagai Sa’i setelah sebelumnya mereka sibuk mengajak bicara namun diabaikan.


Bahkan 7 orang siswa yang biasanya menyertai putra mahkota saat itu tidak lagi berani mendekat. Mereka juga selalu menghindar ketika melihat putra mahkota berjalan.


Putra mahkota tampak tidak peduli, namun hal tersebut membuat Zili merasa curiga. Tanpa ia sadari, selama disekolah ia telah terbiasa bersama laki laki tersebut diwaktu waktu makan siang dan istirahat lainnya.


Zili berjalan mengikuti langkah kaki putra mahkota pergi mengunjungi ruang taekwondo. Seragam sekolah shen berwarna biru dengan celana panjang polos berwarna sama tampak membuat wajah Zili terlihat cerah.


Mata zili membelalak, ia bergegas lari cepat menghampiri putra mahkota “Awas” zili mendorong tubuh mahkota dari belakang karena didapatinya sebuah pot bunga jatuh dari gedung lantai atas.


Gadis itu semakin khawatir karena ia tidak mampu mendorong putra mahkota yang tetap berdiri dipeluk zili dari belakang.


Dengan penuh kekhawatiran Zili menarik tubuhnya, membayangkan darah bercucuran dikepala putra mahkota.


“Kau sedang apa?” tanya putra mahkota dengan santainya, remaja laki laki tersebut bahkan sampai menoleh kebelakang.


ZIli memandang penuh kekhawatir kepads putra mahkota, ia sontak terkejut, karena pot bunga berada tepat di atas tangan remaja laki laki tersebut. Dan orang yang dia khawatirkan malah baik baik saja.


Putra mahkota tersenyum meremehkan, ia lalu melirik keatas.


“aahhh. ..kepalaku kepalaku.. “ teriak seseorang dari atas gedung lantai tiga ketika putra mahkota melemparkan kembali naik pot bunga tersebut.


ZIli memandang penuh kengerian, melihat darah bercucuran menetes membasahi pakaian seragam seorang siswa dari bawah.


“Aaah kepalaku” teriak nya mengundang perhatian orang orang disekitar untuk segera membantu.


Putra mahkota tersenyum remeh. Dia bahkan dengan santai kembali berjalan tanpa merasa bersalah.


“Tuan..”


“Ayo cepat”


*****


Hari itu terasa sangat aneh. Berkali kali putra mahkota menerima pembulian secara sembunyi sembunyi. Ia bahkan sempat dikunci didalam toilet tetapi berhasil keluar dengan santai menendang pintu hingga roboh.


Beberapa orang kadang sampai patah kaki karena mencoba mejanggal kaki putra mahkota namun dibalas dengan tendangan keras dari kaki remaja laki laki tersebut.


Suasana hiruk pikuk tidak terdengar ketika siswa siswi kelas spesial berada didalam ruangan setelah jam makan siang berakhir.


Putra mahkota yang biasanya diikuti zili berjalan memasuki ruangan yang penuh ketegangan. Zili mulai curiga karena ia terbiasa mengalami pembulian.


Pintu kelas spesial bahkan sengaja ditutup karena putra mahkota tidak diizinkan masuk.


Dari belakaang, zili yang telah menyadari keanehan menarik tangan putra mahkota untuk tidak memasuki pintu kelas.


Namun dengan santai putra mahkota malah tersenyum dan melepaskan tangan Zili.


“Byuuur” seember air jatuh keatas lantai tepat ketika putra mahkota membuka pintu dengan kakinya.


Remaja laki laki itu bahkan telah menyadari terlebih dahulu sebelum zili menghentikan langkahnya.


“Tuan, anda baik baik saja”


“Hm.. tentu saja” putra mahkota yang tidak sedikitpun terkena percikan air karena berhasil menghindar, mengambil ember yang masih tersisa sedikit air lalu melemparkannya kesalah seorang siswa laki laki yang sedang pucat pasih.

__ADS_1


Ember terlempar tepat masuk ke kepalanya. Semua orang tertegun tidak ada yang berani berbicara, mengingat ada seorang dari pejabat tinggi klan shen yang telah memerintahkan kepada mereka untuk membuli putra mahkota yang sedang menyamar.


Mereka juga tidak berani membalas perbuatan Putra mahkota, karena dirasa sangat tidak mampu melawannya.


“Bagaimana?”


“Maksud anda tuan?”


“Besok besok kalau dibuli, ikuti cara ku tadi” putra mahkota tersenyum licik, ia bahkan mengajari Zili cara membalas dendam.


*****


Sore telah tiba, para siswa siswi sekolah shen telah diperbolehkan kembali kerumah.


Semua orang tiba tiba berlarian, bergegas kembali keasrama meninggalkan kesepian sekolah.


Putra mahkota masih dengan santai berjalan mengantongi celana dan mengunyah permen sementara Zili mulai merasa tanda tanda mencurigakan kembali.


“Tembak bagian kakinya” suara dari balik headset memerintahkan seseorang dengan membawa senapan yang telah berada diatap gedung sekolah untuk melancarkan serangan karena dirasa telah berkali kali gagal membuat putra mahkota jera berteman dengan Zili.


“Siap” kelompok gelap bayaran tingkat menengah bahkan sengaja diturunkan secara langsung untuk melakukannya.


ZIli mulai khawatir namun putra mahkota terlihat biasa saja. Ia bahkan berjalan tanpa membawa barang apapun ditangannya.


“Selesaikan” ucap putra mahkota tiba tiba.


“Maksud anda tuan?”


“hm” putra mahkota tersenyum remeh.


“Aaaaaaaahhhhhh” suara teriakan terdengar melengking ditelinga, bahkan beberapa siswa dan siswi yang mendengar dari asrama sampai membuka jendela mereka menyaksikan seseorang berpakaian hitam menutupi wajah sedang dipukuli dan tendangi habis habisan oleh Seorang dengan pakaian Merah menutupi wajah.


“Kelompok elit” beberapa dari anak petinggi klan bahkan menyadari ketika melihat pakaian merah tersebut. Kelompok elite merupakan kelompok gelap tertinggi dan terkuat dikerajaan NC yang dipimpin oleh Raja bayangan Xu idris.


Bahkan tentara ataupun polisi kemiliteran tidak ada yang sanggup melawan satu saja anggota dari kelompok elite karena kehebatan mereka yang tidak diragukan lagi.


“Tu.. tuan i..i” dengan gemetaran Zili memandang orang yang telah menghilang masuk kedalam gedung. Tubuhnya takut hingga menggigil.


“Besok libur, aku akan menunggumu didepan pintu asrama. Berganti pakaianlah disekolah agar tidak ketahuan oleh orang”


“Ahh iya”


Putra mahkota meninggalkan zili yang masih tidak percaya melihat remaja laki laki tersebut tampak biasa saja mendengar teriakan orang bahkan ia tidak sedikitpun memandang.


*****


Koridor asrama putra shen tiba tiba sepi tidak seperti biasa. Bahkan tidak terdengar sedikitpun suara para penghuni malam itu.


Putra mahkota sengaja menempati ruangan biasa tanpa kedap suara agar penyamarannya tidak diketahui. Dia duduk dengan santai membaca buku sembari memainkan kursi kayu naik turun dengan salah satu kakinya, karena kaki yang lain ia angkat keatas pahanya.


“Tok tok tok” suara ketukan pintu yang ditunggu tunggu putra mahkota tiba tiba berbunyi.


“Tidak dikunci”


Putra mahkota tersenyum senang. Sebuah gas tidur pelumpuh tiba tiba terhembus masuk memenuhi seluruh ruangan putra mahkota.

__ADS_1


Jam dinding berdetik, waktu telah menunjukan angka 10 malam. Zili masih belum menyiapkan lembaran bacaan bukunya namun matanya mulai mengantuk.


“Tok tok tok” suara ketukan pintu terdengar.


“Yang.. yang mulia, mohon maaf saya ingin memberikan pesanan”


“Pesanan?” zili bergegas membuka pintu, dipandang olehnya, salah seorang siswi penghuni asrama putri shen dengan cepat menyerahkan kotak kardus kecil ketangan Zili lalu bersegera melangkah lari meninggalkan zili yang masih kebingungan.


Zili tertegun ia merasa khawatir dan berpikir mungkin benda ditangannya adalah bom ataupun racun.


Namun tetap saja rasa penasaran menguatkan hati zili, ia lalu mengambil kain dan menutupi sebagian wajah bawah. Takut bahwa akan terjadi masalah kepadanya.


Tanpa membawa benda tersebut masuk kedalam ruangan, zili berjongkok didepan pintu, hujan deras tiba tiba jatuh. Memang cuaca tadi sore terlihat mendung.


Suara gemuruh menyembunyikan suara keras detak jantung zili. Ia perlahan membuka kotak kardus tersebut.


Kotak terbuka,


Zili bingung.


Ia melihat sebuah ponsel didalam nya, dengan ragu ragu ia mengambil ponsel tersebut. Layar ponsel tersentuh tangan. Sebuah video tiba tiba muncul.


Dengan masih ragu ragu zili memutar video tersebut.


Sontak gadis itu berhamburan lari ketakutan, bahkan Shen shi ra yang diam diam melindunginya dari jauh terpaksa menghentikan langkahnya dengan menarik keras tangan Zili.


“Kau mau kemana?”


“Minggir,lepaskan tanganku” teriak Zili.


“Jangan ceroboh, berapa kali kau mau membuang nyawaku” bentak Shi ra marah.


“Kapan aku buang nyawa mu? aku tidak pernah mengganggumu, jadi jangan ganggu aku”


“Kau tahu, aku hampir mati ditendang putra mahkota karena mengajakmu pergi ketempat pelatihan militer yang lalu”


“Itu urusanmu, aku tidak peduli”


“Tetap saja nyawaku ada ditanganmu”


“Sekarang kau baik baik saja kan, aku harus menyelamatkan temanku sebelum terlambat”


“Temanmu?”


Genggaman shi ra melemah, tidak menyia nyiakan kesempatan Zili berlari kencang bahkan shi ra pun tidak mampu mengejarnya.


Sebuah ponsel tergeletak diatas Lantai koridor asrama, ponsel tersebut terjatuh dari tangan Zili tanpa ia sadari.


SHi ra menyentuh layar ponsel tersebut. Sontak ia terkejut.


Menemukan laki laki sedang duduk dikursi dengan ikatan tali tambang melingkari tubuh.


Sebuah pesan dari video yang masih berputar semakin mengejutkan Shi ra.


“Jika ingin dia selamat, segera gantikan posisinya. Dia menunggumu di Gudang tua Lapangan kuda”

__ADS_1


__ADS_2