Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Pengendali lain


__ADS_3

Wuuuuzzzzzzzzz....


Lagi dan lagi hembusan angin Samudra Pasifik yang kencang menerpa tubuh.


HITOKSI DREAM CRUISE.


Sebuah tulisan besar tampak mengukir di dinding luar kapal.


Kapal Persiar yang besar itu bukanlah sebuah kapal perang melainkan hanyalah sebuah kapal pribadi milik seorang Pangeran.


Di tepi atap kapal, dua orang laki-laki tampak berdiri sembari memegang sebuah teropong.


Dari jauh, pemandangan menegangkan tampak sedang berlangsung, teropong dari balik mata yang mereka gunakan memperlihatkan ledakan-ledakan dahsyat di atas langit.


Ketepaaaakkkkk...


Suara cipratan ombak terbawa angin dan terdengar hingga ke telinga.


Duaaaammmm...


Suara ledakan tidak terlalu jelas terdengar, mungkin karena jarak kapal mereka yang cukup jauh dari tempat kejadian di sana.


Dari jauh juga terlihat kapal-kapal penghancur mulai menembakan misil-misil ke sebuah kapal yang memiliki besar 10 kali lipat dari kapal Impian milik Pangeran Negeri Jepang tersebut.


“Kau yakin hanya akan menyaksikannya saja?” Masih menggunakan sebuah teropong berwarna hitam, seorang laki-laki mulai membuka obrolan pada siang hari itu Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan hanya beristirahat saja serta tidak membicarakan tentang Negara sedikitpun.


“Mau bagaimana lagi, Dia juga tidak meminta bantuan dariku.”


Laki-laki yang ditanya menjawab, wajahnya sedikit terlihat kesal namun sepertinya rasa penasaran jauh lebih memenuhi hati dibandingkan dengan rasa kekesalannya tersebut. “ Orang yang tidak dibutuhkan tidak seharusnya ikut serta dalam peperangan?”


“haha Jadi kau marah padanya?”


“IIyakkk,”(Tidak), Jawab laki-laki di sebelahnya mulai menurunkan teropong di tangan dan berbalik, menyandarkan punggung di dinding atap dengan kedua lipatan siku tangan yang juga bersandar pada dinding tersebut. “Aku hanya percaya pada orang yang berada di belakang semua ini.” Jawab laki-laki itu mulai melemparkan teropong lalu melangkah kaki menuju sofa lembut yang tampak mengisi bagian sudut lain atap sembari mengantungi satu tangan di celana.


“ Xu’i?”


“Bukan dia,” Jawab laki-laki yang telah berbaring terlentang di sofa lembut. Sofa dengan kakinya yang tampak terkait menyatu pada atap kapal.


Angin laut kembali menerpa tubuh Laki-laki yang kini tampak sedang terbaring, menahan kepala dengan kedua tangan dan memejamkan mata.


“Mungkinkah ada orang lain seperti Xu’i?”


“Tentu saja ada, Sebelum Xu’i kembali dari seluruh pelatihannya dan menduduki posisi Putra Mahkota, Orang itu adalah kebanggaan nomor satu di Negaraku.” Jawab laki-laki tersebut mengejutkan laki-laki yang masih berdiri di tepi atap kapal dan memakai teropong di sana.


*********


Duduk di bagian belakang mobil sembari menggeser layar Tablet di tangan, laki-laki tua tampak tengah melakukan panggilan dengan headset yang mengkait di telinga.


Di luar kaca jendela mobil, Suasana Kota tampak lumayan ramai dengan jutaan butiran salju berwarna putih yang mulai berjatuhan perlahan-lahan dari atas langit. Salju yang jatuh, mulai bertumpuk dan mengisi jalanan aspal di tempat tersebut.


Sepertinya Laki-laki tua di dalam mobil tersebut tidak sedang berada di Negara tempat kelahirannya yang hanya memiliki dua musim saja, Musim dingin dan musim semi.

__ADS_1


“Kau sudah memastikannya?” Dia mulai bertanya sembari mengeluarkan sebuah jam tangan dari kantung di belakang kursi di hadapannya.


Jam tangan canggih yang ia pegang tersebut sepertinya adalah Jam tangan milik Putra Mahkota. Jam tangan canggih yang berbentuk bulat dengan tali besi yang menyatu kuat pada bagian utamanya.


“Benar,” Suara dari balik Headset terdengar, “Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pergerakan darinya, Xu’i juga selalu berada dalam pengawasan ketat dan sedikitpun tidak menggunakan alat komunikasi selama ini.”


Lanjut suara seorang laki-laki itu menjelaskan.


Laki-laki tua yang sedari tadi menyentuh layar di jam tangan namun sentuhannya sekalipun tidak mampu menggerakan layar tersebut, mulai terkekeh lalu, “ hahaha hahaha hahahahaah.” Tertawa keras hingga urat-urat lehernya terlihat jelas dan tawanya tersebut sungguh mengejutkan supir di depannya. “Dia sungguh Louise, dia pasti Louise hahahaha.”


“Aku memang merasa ada yang berbeda karena Xu’i terlihat tergila-gila pada laboratorium, Setiap hari ia menetap di sana hingga aku sekalipun bosan harus terus mengawasi kegiatan anehnya menghabiskan bahan kimiawi.”


“haha haha hahahahaha, Kalau begitu, pastikan satu hal terakhir untukku, Sien.” Laki-laki tua itu mulai memberikan perintah.


“Tentu saja, aku akan berpihak kepadamu selama Yuanna menjadi milikku dan akan berbalik melawanmu jika kau melukainya.”


*********


Duaaaaammmm...


Duaaaaaarrrr...


Dooorrrrr...


AAaaaaahhhhh...


Axuyeeeeee... hochu houchu...


Suara Tembak demi tembakan terdengar mengisi penuh seluruh wilayah bagian kapal.


Keributan dari balik headset juga ikut mericuhkan pendengaran Zili hari itu.


Di atas jalanan aspal, tepat di gedung berbentuk kubah, gadis itu sedang berhadapan dengan teman lamanya yang sudah sangat lama tak pernah ia temui.


Laki-laki tinggi dengan bentuk rambut terbelah dua tersebut sangat tampan di pandang mata meskipun kulitnya tak secerah Putra Mahkota dan matanya tak setajam singa namun tetap saja tidak akan mudah untuk melawannya.


Bergerak.


Dooorrr....


Shen Shi Yun menghindari peluru yang bergerak cepat menuju ke arahnya hingga peluru itu mengenai tiang listrik yang berada di belakang laki-laki tersebut.


Doooorrr...


Laki-laki itu mulai meraih pistol dan mengeluarkan peluru ke arah Zili sembari bergerak cepat mendekati gadis yang juga bergerak cepat mendekatinya dengan dua pistol di tangan.


Saling menghindari tembakan dengan keahlian klan Zin mereka yang begitu hebat hingga tak satupun peluru berhasil menyentuh kulit. “Kembalikan Putra Mahkota.” Teriak Zili mulai melompat,


Baaaaakkk...


Dan menendang setelah ia berada di belakang tubuh Shen Shi Yun.

__ADS_1


Laki-laki itu berbalik cepat lalu menahan tendangan dengan lengan bagian bawahnya hingga tubuhnya sedikit menggeser ke samping.


“Bermimpilah Xu’i akan kembali lagi.” Menepis kaki Zili lalu memberikan pukulan balasan dengan kepalan tangan.


Baaaakkkk...


Baaaakkk...


Tangan berhasil di tepis, dooooorrrr...


Shen Shin Yun menghindari tembakan Zili dengan menekuk tubuh ke belakang lalu melanjutkannya dengan melompat ke atas pohon menggunakan jam tangannya, menghindari tembakan Zili lainnya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika melihat Shen Shi Yun berada di atas Pohon, dengan langkah cepat gadis itu menuju bangunan berbentuk kubah di hadapannya namun langkah kakinya terhenti ketika puluhan orang keluar dari sana dengan membawa senjata di tangan.


Memejamkan mata lalu menghela nafas sejenak,


Angin yang kencang mulai terasa menerpa tubuh, menyejukan kulit panas karena keringat yang bercucuran membasahi tubuh.


“K- Texchi” Panggil gadis itu lalu membuka mata,


dRudududkk duruduk..


Doooorrr.


dan berlari cepat menghindari ribuan peluru yang akan segera melesat ke arahnya.


Druudududkkk...


Melompat ke atap sebuah gedung yang tinggi dengan cepat lalu berdiri tegak di sana dengan puluhan pisau texchi milik Putra Mahkota di belakangnya.


“Kau tidak ingin melihatnya?” Dari kejauhan, seorang laki-laki tampak begitu kagum melihat gadis yang berdiri dengan di kelilingi pisau dari balik teropong miliknya.


“Kenapa aku harus melihatnya?” Tanya balik laki-laki yang masih terbaring di atas sofa.


“Shin’A, baru kali ini aku melihat puluhan pisau mampu di kendalikan oleh orang lain selain Xu’i.” Ucapan laki-laki tersebut sontak mengejutkan laki-laki yang terbaring tersebut hingga matanya yang terpejam mulai terbuka lebar dan terbelalak.


“Wanita?”


“Hm” Angguk laki-laki yang masih menggunakan teropong tersebut bersamaan dengan laki-laki di atas sofa yang mulai duduk dan menggenggam kedua tangan di pertengahan kedua kaki yang melebar.


“Bawa aku ke sana!”


*********


Di dalam bola matanya, tampak seorang gadis sedang berdiri dengan puluhan pisau yang mengelilingi.


Laki-laki yang berada di dalam bangunan kaca berkubah tampak duduk jauh namun tepat berhadapan dengan gadis yang berdiri di balik kaca bangunan tersebut.


Kakinya ia lipat, satu telapak tangan menutupi dahi bagian kiri dengan sikunya yang bersandar di gagang kursi, satu mata yang tak tertutup sedang mengawasi. Laki-laki itu berada di depan dinding kaca lantai tertinggi bangunan tersebut sembari tersenyum senang lalu, “Hahahahaha.” Tertawa.


“C-texchi.” Suara gadis itu terdengar dari balik headset miliknya.

__ADS_1


Seorang yang berdiri di samping laki-laki tersebut hanya bisa tersenyum senang melihat perubahan Istri dari Junjungannya.


__ADS_2