
Aku Tahu ini pasti akan terjadi.
Hari dimana, aku akan kecewa bahkan tersiksa dengan perasaan ini. Tetapi, saat itu sangat tiba-tiba.
Aku tidak sanggup mengendalikan perasaan terlukaku.
“Bisakah kau biarkan aku yang melakukannya sendiri?” suasana ruangan yang remang-remang, hanya lampu berbaterai yang mengisi cahaya tak seberapa.
Suara jangkrik berdecik dipetang menjelang malam, mengiringi suasana sepi didesa tengah hutan.
Dentuman blackhole telah berhenti, menenangkan banyaknya binatang liar di kedalam hutan.
Zili terduduk menyelonjorkan kaki, bersandar didinding kamar. Matanya masih sayu bahkan terlihat sedikit membengkak karena goresan luka dipelipis salah satu matanya.
Didepannya, putri istana membuka salep luka yang pernah Zili gunakan ketika terluka di desa Shen melawan putri latih tiada tanding beberapa minggu yang lalu.
Putri istana menghela nafas berat, ia jelas mengetahui dengan pasti bagaimana perasaan gadis dihadapannya yang sempat dipermalukan oleh kedua saudaranya.”biar aku saja” jawabnya tidak ingin mengabaikan perintah Putra mahkota yang telah memintanya untuk mengoles obat tersebut.
“Tidak usah, aku tidak ingin membuatmu semakin membenciku karena telah membebanimu dan maaf, karena telah mencintai orang yang kau cintai”
“Lupakanlah tentang membebani,” putri istana mulai mengoles luka dimulai dari kaki zili. Sesekali zili menahan rasa perih ketika obat sampai dilukanya “kau bahkan belum melihat Xu’i yang asli tapi sudah mencintainya” Zili sedikit mememperlebarkan matanya. Merasa sangat bingung dengan perkataan putri Istana.
“Maksud.....
Putri istana melihat Zili sejenak lalu melanjutkan olesannya” Lu, Sun, Ou dan wanita dari klan-klan lainnya, kebanyakan dari mereka menyukai hingga rela mati demi putra mahkota karena tanggung jawabnya bukan karena kedudukannya, jadi bagaimana denganmu?, karena apa kau mencintainya?”
Karena apa!
Aku bahkan tidak tahu.
Ungkapan Zili dalam hatinya, dia berpikir bahwa dia juga termasuk dari para wanita yang menyukai Putra mahkota tetapi tidak pernah mengetahui mengapa ia berakhir jatuh cinta kepada laki-laki tersebut padahal laki-laki tersebut telah melarang Zili untuk mencintanya.
“Aku mencintainya karena tanggung jawabnya” belum mendengar jawaban Zili, putri istana malah menjawab pertanyaan yang ia ajukan kepada zili, untuk dirinya sendiri.
*******
__ADS_1
Malam yang larut sama sekali tidak menyulitkan Putra mahkota dan pangeran Xu mencari bahan-bahan. Tidak menaiki pepohonan karena menghabisikan tenaga lebih banyak dibandingkan berjalan kaki.
“Kau masih menyukai Kakakku ya?” pangeran Xu membuka suara dikesunyian malam setelah mereka berdua sampai di puncak bukit, kandangnya beberapa hewan liar langkah yang mereka cari.
Putra mahkota melirik sejenak kearah pangeran Xu yang berada disampingnya “seperti kau yang menyukai Yu’A dan sampai sekarang masih menyukainya, begitupula denganku”
Pangeran Xu berjongkok, ia mendapatkan belalang tinzal yang hampir berkamuflase dengan rerumputan “jelas saja kita sangat berbeda” dia menarik belalang yang masih mengeratkan kakinya didedaunan,setelah mendapatkannya, ia memasukannya kedalam kantung berkawat yang terkait dipinggang samping kanannya. “Yu’a dan aku tidak dimiliki oleh siapapun, sementara kau dan kakakku memiliki pemilik”
Putra mahkota masih diam, ia memegang hewan yang disebut dengan SChpozie yang telah ia buang racunnya. Binatang sejenis ular namun bentuknya lebih kecil seperti Cacing tanah darat. “sadarlah Xu’i, kau adalah milik Zili saat ini.”
“Bisakah kau diam! Terlalu cerewet mungkin bisa merusak gendang telingaku”
Pangeran Xu tersenyum getir, dia menghempaskan nafas kesal melihat laki-laki yang sedari dulu tidak pernah berubah tersebut “ sadarlah, sadarlah kau orang bodoh” bentaknya kesal lalu pergi meninggal Putra mahkota yang masih berdiri menghadap pohon besar.
Putra mahkota tersentak, ia bahkan sempat menolehkan kepala memandang kepergian pangeran Xu. Karena dirasa tidak memiliki banyak waktu untuk bertengkar, putra mahkota melanjutkan kegiatannya mencari binatang liar lain yang mengandung bakteri didalamnya.
*******
Kecepatan lari kaki menghempaskan dedaunan kering. Memasuki halaman luas yang telah dibersihkan.
Terus berlari menerjang Aurora, dengan terburu-buru ratu negara memasuki desa diikuti raja negara yang berjalan dengan santainya.
Menandai bahwa rumah tersebut sudah pasti dipakai putra mahkota untuk tempat mereka berteduh.
“Xu’i “ teriaknya terengah-engah menahan nafas lelah.
Putri istana dan Zili sontak terkejut mendengar suara perempuan yang memanggil nama putra mahkota. Hampir selesai dengan olesan terakhir dipelipis mata. Putri istana menunda olesannya, meletakan obat diatas lantai papan rumah berpanggung tersebut lalu keluar kamar membawa lampu.
“ne... nenek sihir, untuk apa kau datang kemari”
“Apa,” ratu negara yang terlihat lelah merasa geram dengan panggilan yang disebut putrinya. “kau panggil ibumu apa tadi”
“Nenek sihir, kau memang pantas dipanggil seperti itu” putri istana membuang muka, tidak ingin melihat ibunya. Raja memasuki pintu rumah, disinari aurora dibelakaang.
“Ayah” Putri istana meletakan lampu di tangannya lalu berlari menuju ayahnya karena merasa sangat merindukannya.
__ADS_1
Belum sampai dipelukan ayahnya, tangan ratu negara menghentikan putri istana mendekati suaminya dengan memegang kepala gadis tersebut “apa yang kau lakukan disini?” tanyanya membuat putri istana sadar bahwa sebelumnya dia pergi secara diam-diam.
Putri istana menghempaskan tangan ibunya, lalu melipat tangan membuang wajah “tentu saja menemui Xu’i, aku juga tidak mau nyawanya dalam masalah”
Raja negara memeluk putrinya, membuat kecemburuan tersendiri didalam hati ratu negara “kenapa kau malah memeluknya?”
“Aku hanya merindukannya”
“Tapi dia berbuat salah” ucap ratu negara dengan kesalnya mencoba melepaskan pelukan ratu negara namun tak kuasa.
“Berikan hukumannya nanti saja setelah sampai di istana, sekarang aku hanya ingin memeluk putriku lebih dahulu” ucap raja negara sembari tersenyum senang melihat kecemburuan Yuanna.
Jauh dibalik kamar, lagi-lagi air mata menetes menahan kecemburuan. Rasa iri mendarah daging terasa sangat dalam dibandingkan rasa sakit karena luka goresan.
Bagaimana tidak!
Gadis kecil didalam kamar belum pernah sedikitpun merasakan kasih sayang dan kebahagian penuh dari apa yang disebut dengan keluarga.
Bahkan untuk bertemu dengan ibunya, ia bahkan tidak diberikan sedikitpun kesempatan apalagi bertengkar dengannya.
Dan juga, ayahnya yang selalu bekerja saangat jarang menyempatkan waktu untuk saling bercanda ria dengannya malahan sesampai rumah hanya sejenak ia memeluk lalu meninggalkannya lagi.
Bahkan setelah menikah, ia sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang suami layaknya ratu negara yang sangat dicintai oleh raja negara.
Senyuman getir ditengah-tengah tangisan memperlebar luka dipipinya
Zili menghapus air matanya lalu berusaha berdiri untuk menyapa ratu dan raja negara.
Perlahan-lahan berpegang pasa dinding menuju keruang tamu tempat dimana mereka berada.
“Selamat datang yang mulia raja dan ratu” sapa Zili yang sedang kesulitan berdiri.
Ratu negara tersentak begitupula dengan raja negara.
Tetesan air mata mengalir dipipi ratu negara melihat keadaan Zili yang penuh dengan goresan luka karena perlakuan putranya.
__ADS_1
“Hiks,...”
Ratu negara mengusap pipinya, ia berlari memeluk Zili Sementara raja negara melepaskan pelukan putri istana menuju kearah gadis yang sedang dipeluk oleh istrinya “apa yang terjadi padamu?” tanyanya merasa nyeri memandang putri sahabatnya lagi-lagi harus mengalami penderitaan.