
Cahaya lampu redup.
Kelopak mata perlahan-lahan terbuka. "Shisou" guman Zili pelan, memandang langit-langit ruangan lalu bangkit dan duduk.
Berbalik,
Tidak menemukannya,
Menoleh kepala ke segala penjuru arah. Masih tetap tidak menemukan orang yang dia cari.
Pintu kamar terbuka "Yang Mulia, anda sudah bangun..?" seorang pelayan wanita berdiri memberi hormat kepada Zili.
Menurunkan kaki dari atas kasur lalu berdiri "kau tahu dimana Putra Mahkota...?" tanya gadis itu kepada pelayan dihadapannya.
menoleh ke belakang, ke arah pintu keluar kamar Zili "berikan kepada Yang Mulia!" Perintah Pelayan wanita tersebut kepada pelayan wanita lainnya yang saat itu terlihat membawa beberapa Lembaran kertas ditangan.
Melangkah masuk lalu mendekati Zili "ini pemberian dari Putra Mahkota, Yang mulia" Ucap pelayan yang baru saja masuk, memberikan lembaran kertas yang ia pegang kepada Zili setelah itu memberi hormat dan berlalu pergi.
Membaca isi lembaran kertas "Naskah drama...?" tanya Zili sungguh tidak memahami maksud dari pemberian Putra Mahkota.
Masih berdiri dengan sopan "Putra Mahkota memberi pesan bahwa siang ini anda akan ditugaskan ke Bank negara Cabang desa Zin, Yang Mulia" Pelayan wanita tersebut mulai menjelaskan "potongan naskah adalah tugas yang diberikan Putra Mahkota ketika anda berada disana nanti dan sebelum pergi ke Wilayah Timur..." berhenti sejenak mengambil nafas "anda diperintahkan untuk menemui Putra Mahkota di Perusahaan Xu" lanjutnya menjelaskan sontak mengejutkan Zili.
Menganggukan kepala sejenak "hmm, jadi Shisou sudah mulai bekerja lagi, ya...?" tebak gadis itu mulai sedih karena menurutnya akan sangat sulit untuk menemukan laki-laki tersebut nantinya.
Berjalan mendekati sebuah meja belajar dikamar gadis itu, lalu membuka salah satu laci disana, Pelayan wanita terlihat sedang meraih remote dan menyalakan Televisi yang menggantung di dinding kamar gadis itu.
DIKABARKAN PERGI KE JERMAN, RAJA DAN RATU NEGARA MENGALIHKAN TUGAS MEREKA KEPADA RAJA DAN RATU BAYANGAN, KARENANYA PUTRA MAHKOTA KINI MEMEGANG KENDALI PERUSAHAAN XU.
BERITA INI MULAI VIRAL SEJAK 20 MENIT YANG LALU DAN MENDUDUKI PERINGKAT PALING ATAS DARI PENCARIAN NCB HARI INI.
Seperti tersengat Lebah,
__ADS_1
Rasanya selama ini ia selalu bermimpi ketika bersama dengan Putra Mahkota.
Terlebih lagi ketika melihat laki-laki tersebut sedang berjalan diikuti puluhan Eksekutif tinggi dan juga dikerumuni oleh banyaknya pegawai Perusahaan Xu yang terlihat begitu Antusias mengambil gambar Laki-laki tersebut ketika baru saja memasuki pintu sebuah Gedung menjulang tinggi ke atas langit yang memilik banyak tingkat bersama dengan sekretarisnya dan disambut begitu hormat di sana.
Perasaan gadis itu mulai kalut dan merendah. pikirnya, Mungkinkah ia pantas untuk mendampingi laki-laki hebat didalam layar televisi...?
Sungguh, tubuhnya mulai gemetaran ketika mengingat akan kelemahannya sendiri ditambah lagi dengan pandangan orang yang selalu menghinanya dimasa lalu.
Hal tersebut semakin menurunkan semangatnya untuk mencintai Putra Mahkota menimbang Laki-laki tersebut belum juga membalas perasaannya.
Dia terduduk lesu kembali di atas kasur. Merasa tidak percaya pada dirinya sendiri yang bahkan belum berhasil meraih hati Putra Mahkota apalagi harus mendatangi Perusahaan paling besar di Negara NC yang diisi begitu banyak pejabat Formalitas kelas tinggi dan hampir semua dari mereka adalah Bangsawan Kerajaan.
************
Supir pribadi Putra Mahkota menghentikan kendali mobil tepat di halaman gedung perusahaan Xu yang terdapat sebuah patung Huruf X.U dan dikelilingi tumbuhan bunga Mawar merah yang semerbak harumnya bahkan mampu masuk kedalam rongga hidung hingga menenangkan siapapun yang menghirup aromanya.
Pintu mobil terbuka, Seorang Penjaga Keamanan dengan cepat melakukannya karena memang begitu tugas mereka disana, terlebih lagi jika mobil tersebut merupakan mobil Seorang Pejabat Tinggi seperti mobil pribadi Putra Mahkota yang terdapat Ukiran X.U di kap bagian depan.
Tentu saja hal tersebut membuat para Penjaga Keamanan berbondong-bondong datang dan membukakan pintu lalu berdiri berbaris memberi Hormat kepada Pemilik mobil tersebut.
Sedikit mengejutkan semua orang disana yang tidak menyangka bahwa Putri Mahkota negara NC datang ke Perusahaan Xu karena menurut mereka gadis tersebut belum layak untuk mengunjungi tempat tersebut saking ketatnya Peraturan yang dibuat sendiri oleh Para pegawai perusahaan disana dan tentu saja hal tersebut diketahui oleh masyarakat luas hingga tak seorangpun dari kelas menengah berani menapakkan kaki ditempat tersebut.
Peraturan bahwa hanya orang-orang bergelar kehormatanlah yang boleh mendatangi tempat tersebut dengan usaha mereka sendiri, bukan karena bantuan dari keluarga kerajaan apalagi jika mendapatkan gelar dengan cara menyuap pejabat tinggi lainnya.
Sungguh, Mereka mengira selama ini Zili mendapatkan kedudukannya secara instan tanpa usaha apapun mengingat bahwa gadis tersebut tidak pernah sekalipun muncul pada aktivitas kenegeraan seperti Pertandingan antarklan yang dilangsungkan setiap tahun sekali.
Ragu-ragu Zili melangkah kaki, rasanya sungguh takut hingga kakinya gemetaran menuju ke pintu masuk yang tak jauh dari posisinya berada.
Sungguh, banyak pandangan mata tidak menyukainya, gadis itu sangat memahami karena memang begitulah selama ini perkiraan masyarakat NC tentangnya, maka dari itu Mertua wanita gadis itu sangat jarang membawa dia untuk pergi ke Pesta bangsawan saking takutnya wanita dewasa tersebut jika Zili tidak sanggup menerima tekanan dari para bangsawan yang terkadang ucapannya bahkan mampu membuat orang hampir gila.
Berjalan dengan perasaan tidak percaya diri, Langkah gadis itu mulai terhenti ketika melihat seorang laki-laki tampak berdiri menunggu kedatangannya didepan pintu "Teman, kau sudah datang...?" ucap seorang laki-laki yang begitu dihormati oleh orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
memandang senyuman lembut di wajah Pangeran Xu yang terlihat sedang mengantungi kedua tangan dengan setelah kemeja berwarna Biru tua Mengkilat serta Extra Limited edition yang sangat khusus dibuat oleh salah seorang designer ternama Negara NC hanya untuk laki-laki tersebut. "ah" tertegun, berusaha mengendalikan dirinya yang ketakutan diantara begitu banyak pandangan tidak senang "benar, aku sudah datang" jawab Zili berusaha keras agar tetap tenang.
"ayo" ajak pangeran Xu lalu berbalik dan berjalan diikuti gadis tersebut.
Terus melangkah hingga memasuki sebuah ruangan, hati yang tadinya lemah semakin bertambah lemah ketika ia melihat Putri Istana duduk di sebuah kursi kerja dan memandang lekat Zili penuh rasa kesal "harusnya kau tidak datang" ucap Pangeran Xu ketika seorang pegawai telah menutup Ruangan kerja tersebut.
"kau ini nekad sekali" tambah putri istana mulai berdiri lalu mendekati Zili setelah pangeran Xu berbalik menghadap ke arah gadis dibelakangnya.
menunduk kepala sejenak lalu mengangkatnya kembali "Maafkan aku" ucap gadis itu menenangkan diri "tapi karena ini perintah maka aku harus melaksanakannya" lanjut gadis itu menjelaskan, tidak ingin semakin tertekan.
Menghela nafas "aku tahu ini perintah Xu'i tapi Zili..." menggertak gigi merasa geram "tolong berikan waktuku untuk berbicara padanya"
"kau ingin berbicara lalu apa hubungannya dengan perintah yang saat ini sedang kukerjakan" jawab cepat Zili berusaha keras memberanikan diri dan menghilangkan rasa takutnya.
geram, "kalau kau datang ke tempat ini sampai kapanpun aku tidak akan bisa berbicara dengan Xu'i" jelas Putri Istana terlihat sekali kemarahan yang tertahankan di bola matanya.
"kenapa...?" tanya Zili memandang mata marah Putri Istana "kenapa karena aku...?" lanjut gadis itu menambah kalimat pertanyaannya "kalau kau sudah tahu bahwa Putra Mahkota tidak ingin berbicara padamu, kenapa kau masih memaksakan kehendakmu dan kini malah menyalahkanku...?" lanjutnya lagi kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras.
"kau...?" Geram, Putri Istana terlihat tidak lagi mampu menahan emosi.
Menahan tubuh Putri Istana untuk tidak berbuat kasar kepada Zili "Tenanglah Yu'a" ucap Pangeran Xu menenangkan wanita yang ia cintai "berikan aku waktu untuk berbicara padanya" Pinta Laki-laki tersebut begitu lembut hingga Putri Istana yang marah, mulai berbalik dan berjalan cepat menuju meja kerja ruangan milik pangeran Xu untuk menghilangkan rasa marah dan menenangkan diri.
"Aku harus segera menemui Putra Mahkota, teman" ucap Zili mulai berbalik namun sayang lengan tangannya tertahan laki-laki dibelakangnya, hingga membuatnya sontak berbalik kembali dan tangan laki-laki tersebut segera lepas dari lengan Zili.
"Bukankah aku pernah menyelamatkanmu...?" pertanyaan yang memiluhkan hati Zili.
"Bukankah kita telah membuat perjanjian malam itu...?" tanya balik Zili yang merasa saat itu tertekan dengan hutang budinya kepada Pangeran Xu "aku tidak berniat untuk mengubah perjanjian" Lanjut gadis itu berusaha keras mempertahankan keinginannya untuk menemui Putra Mahkota.
"Bukankah aku sudah dua kali menyelamatkanmu..?" Sungguh, Hutang budi memang perkara yang sangat menyakitkan ketika terungkit kembali.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa itu adalah kesalahanmu sendiri menyelamatkanku...?" tanya balik Zili merasa benci karena kelemahannya dimasa lalu.
__ADS_1
"Setidaknya kau harus membalas perbuatan baikku saat itu" Ungkitan yang semakin menyayat hati "aku mohon balaslah bantuanku saat itu dengan pergi dari sini dan jangan menemui Xu'i" Pinta Pangeran Xu membuat gadis itu hampir menangis karena rasanya begitu menyakitkan ketika terusir tanpa menemui orang yang dicari "Bukankah kau harus melakukan tugas negara di Desa Zin...?" lanjut laki-laki tersebut lagi bertanya "sungguh, aku mendo'akan kau agar tidak kembali dengan selamat" tambahnya memperparah perasaan hati Zili yang mulai tersentak dan ingin segera pergi dari sana.
tersenyum lembut, menghela nafas lalu menundukan kepala yang tadinya memandang mata Pangeran Xu "aku pastikan aku akan Selamat"