Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Bukanlah penjahat biasa


__ADS_3

First Class,


Kelas utama pada penerbangan kali itu sungguh dipenuh dengan pelayanan istimewa.


Ruangan yang nyaman dan luas serta pelayan terbaik, membuat Zili yang baru pertama kali menumpangi pesawat terbang, bagaikan seorang Ratu yang dimuliakan hari itu.


Kenikmatan bertambah dengan adanya Kursi empuk yang bisa memanjang hingga membuat tidur sekalipun terasa nyaman, ruangan yang harum juga semakin menambah ketenangan di sana.


Para Pramugari terlihat seperti seorang pelayan khusus yang begitu ramah dengan tata rias wajah yang begitu mempesona.


Sesekali mereka yang datang dengan menawarkan sebotol minuman anggur, melirik ke arah Putra Mahkota dan juga Pangeran Istana maupun Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang berada pada baris yang sama di sisi kanan mereka dengan Putra Mahkota yang berada pada bagian paling depan.


Tentu saja perilaku mereka mengganggu Zili dan juga Putri Keagungan yang duduk di samping pasangan mereka masing-masing, hingga Putri Keagungan terkadang melirik tidak suka.


Sementara itu Raja dan ratu bayangan tampak duduk di sisi kiri, dan hanya mereka berdua saja di bagian tersebut. Di depan mereka terlihat sebuah meja yang di isi begitu banyak makanan serta minuman mewah di sana.


Pesawat yang diterbangkan secara pribadi tersebut bahkan dikemudikan oleh seorang pilot profesional pilihan terbaik hingga sangat jarang guncangan pada pesawat itu terjadi.


“Yang Mulia, Wine.” Seorang Pramugari mulai mendekati dengan membawa Troli yang di atasnya terdapat sebotol minuman anggur dan beberapa gelas kaca.


“Aku tidak meminumnya, beri aku teh hijau saja!” Ucap Putra Mahkota menolak minuman tersebut karena di samping usianya masih sangat muda, menurutnya minum minuman beralkohol tidak baik untuk kesehatan tubuhnya sebagai seorang dokter negara NC.


“Nona muda di sana.”


“Istriku.” Ucap tegas Putra Mahkota hingga membuat Pramugari tersebut terkejut karena tidak menyangka bahwa Putra Mahkota dengan sendirinya mengakui Zili yang tidak terkenal sebagai Istrinya.


“Yang Mulia, apakah anda ingin mencoba...


“Susu saja!” Sela Putra Mahkota dengan cepat.


“Shisou aku tidak ingin susu,” Tolak Zili dengan cepat karena dia merasa tidak nyaman meminum susu pada hari itu. “Teh hijau saja.” Lanjutnya berbicara, meminta jenis minuman yang sama dengan pesanan Putra Mahkota.


“Jelas sekali terlihat, seorang suami tidak pernah mencintai istrinya, bahkan minuman kesukaan istrinya saja dia tidak pernah tahu.” Sindir seorang laki-laki dengan suara sedikit keras yang terdengar tepat di belakang Putra Mahkota.


Laki-laki itu tampak duduk sembari membaca Majalah Internasional dengan santai di tangannya.


“Shin’A, apa yang sedang kau bicarakan?” Ratu Negara yang duduk tepat di seberang Putranya mulai merasa aneh dengan ucapan laki-laki tersebut, ia yang tadinya akan tertidur di bahu suaminya yang telah tertidur bahkan mulai menegakan kepala.


“Aku sedang membaca majalah ibu, tentu saja yang kuucapkan berkaitan dengan isi majalah ini.” Jawab laki-laki yang tak lain adalah Pangeran Istana sembari menoleh ke arah ibunya sejenak lalu tersenyum dan mengulang kembali bacaannya di dalam hati.


“Omongan kosong yang tak memiliki arti menandakan otak manusia berada di bawah rata-rata, anehnya omongan itu muncul dari mulut laki-laki terhormat dan disegani oleh kebanyakan manusia.” Balas Sindir Putra Mahkota, laki-laki itu kini tampak memejamkan mata dan menyandarkan punggung di kursinya sembari melipat tangan.


Suasana nyaman tiba-tiba berubah menjadi mencekam,


Semua orang mulai merasa tidak tenang karena saat itu mungkin sedang terjadi pertengkaran.


“Xu’i...

__ADS_1


Belum sempat Ratu Negara bertanya, tangan suaminya telah menghentikannya terlebih dahulu dengan menarik lengan tangan istrinya dan membisikan sesuatu.


“Dengarkan saja, agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi?” Ucap Raja Negara pelan lalu membawa kepala istrinya ke atas bahu.


“Omongan kosong lebih baik dibanding dengan omongan hati yang tidak sedikitpun diketahui isinya. Perilakunya seperti orang terbaik di dunia tetapi di belakang dunia, otak yang berada di atas rata-rata itu bahkan lebih berbahaya dalam memperdaya otak manusia hingga menunggu detik saja, mereka yang terpedaya akan tergila-gila dan menuruti semua perintahnya.” Balas sindir Pangeran Istana mengabaikan penawaran seorang Pramugari yang mendekatinya.


Ia mulai membalikan majalah lalu melipat kaki yang berada di celah sedikit jauh di belakang Putra Mahkota.


Sementara di belakangnya, Pelindung Putra Mahkota Shin Ji dan tunangannya terlihat acuh tak acuh, tidak mempedulikan keributan yang sedang terjadi.


Mungkin mereka berada pada masalah mereka sendiri, hingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan masalah orang lain di sana.


“Omongan kosong yang tidak berdasarkan fakta kebanyakan memang selalu dipercaya manusia, pandai berbicara dan mengurusi masalah orang lain hingga segala kegiatan orang sekalipun diikutnya, hmm isi hati mulai terlihat nyata meskipun sedang tersembunyi.” Balas Putra Mahkota yang telah membuka mata ketika sebuah troli yang diisi makanan ringan dan dua cangkir teh hijau berada di depannya.


Dua orang Pramugari mulai melipat roda-roda benda tersebut naik ke atas hingga troli yang tadinya di gunakan untuk membawa makanan kini telah berubah menjadi sebuah meja.


“Konyol, tuduhan yang tidak mendasar.”


Pangeran Istana tersenyum kecut lalu menutup majalah.


“Bukankah begitulah yang dituduhkan kepadaku?, tidak mendasar dan tanpa fakta. Dugaan akan tetap menjadi kepalsuan jika tidak ada bukti dan fakta yang menyertai, orang yang percaya pada omongan tanpa fakta, Hm, sepertinya ada masalah dengan otaknya.”


Putra Mahkota kini telah melepaskan lipatan tangannya dan mulai meraih cangkir yang diberikan Zili untuknya. “Dan aku anggap orang itu sudah gila, jadi tidak perlu menanggapinya kalau tidak, orang yang pandai berpikir sekalipun akan ikutan gila.”


Meskipun tidak mengerti tetapi sepertinya Zili mulai berpikir tentang maksud perkataan kedua orang di sana.


“Tunggu saja, Fakta itu akan muncul di saat waktunya tiba.”


“Maka tunggulah, hanya tunggu saja sampai kau tua.” Jawab Putra Mahkota yang telah mengembalikan cangkirnya ke atas meja dan mulai menutup mata kembali.


********


Maskapai Penerbangan terbaik Negara NC mulai mendarat di Bandara Internasional Negara Mongolia.


Semua orang mulai melepas sabuk pengaman mereka dan menerima seragam Pramugari dan seragam pilot dari tangan beberapa Pramugari atas perintah Raja Negara.


“Pakailah dulu!” Perintah Putra Mahkota kepada Zili yang saat itu masih kebingungan namun tetap melaksanakan perintah tersebut tanpa banyak tanya.


“Kami berdua akan menemui Presiden Mongolia dan bekerja sama dengannya. kalian hanya perlu bergerak secara diam-diam mencari keberadaan Red Sprayer dan jangan sampai ketahuan oleh siapapun tentang identitas kalian. Segalanya akan kami persiapkan nanti setelah menemui Presiden negara ini, untuk sementara waktu menginap saja dulu di hotel.” Raja Negara memberikan beberapa buah kartu tanda kependudukan Negara Mongolia yang telah di buat atas bantuan Kepala Negara tersebut kepada seorang Pramugari yang berdiri di sana.


Satu persatu dari mereka mulai menerima kartu tersebut dengan nama yang berbeda-beda namun foto mereka terlihat di sana.


Yang lebih parah, usia mereka di Negara tersebut sedikit lebih tua. Usia Zili di sana bahkan telah mencapai 24 Tahun, begitupula dengan Pangeran Istana.


Putra Mahkota sampai menghela nafas ketika melihat Usianya di kartu tersebut telah mencapai 27 tahun. ”Konyol sekali.” Gumamnya pelan, memperhatikan dengan seksama tulisan yang tertera di atas benda tersebut.


Sambutan hangat atas kedatangan Raja dan Ratu Negara NC tengah berlangsung,

__ADS_1


Suara Jepretan kamera mengisi bandara yang sengaja di kosongkan khusus untuk kedatangan Pemimpin Negara NC.


Presiden Negara Mongolia yang telah menunggu kedatangan mereka, mulai bergerak menghampiri diikuti dengan Para Pengaman Kepala Negara yang mulai mengelilingi area tersebut agar keamanan tempat tetap terjaga.


Putra Mahkota mulai keluar dengan menggunakan seragam Pilot berwarna biru langit,


Wajahnya yang tampan disembunyikan dengan berjalan menundukan kepala.


Dia tampak menggeret sebuah koper di tangannya lalu Zili dan Putri Keagungan mulai keluar dari Pesawat terbang tersebut secara beriringan mengikuti langkahnya.


Setelahnya Pangeran Istana dan Pelindung Putra Mahkota Shin Jo mulai terlihat dengan koper di tangan mereka.


“Ternyata kau sangat cantik, Tanpa Nama.”


Puji Putri Keagungan yang telah melihat riasan wajah Zili yang dilakukan oleh seorang Pramugari ketika berada di dalam pesawat terbang tadinya. “Andai kau memiliki keahlian Klan Lu, aku yakin akan ada banyak lelaki yang terpesona dengan kecantikan wajahmu ini.” Lanjut gadis itu sembari berjalan bersama Zili tanpa membawa koper mengikuti langkah Putra Mahkota.


“Ah..” Zili mulai tertegun, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu hingga pujian Putri Keagungan ia abaikan begitu saja. ”Bisakah kau memanggilku Zili?”


“Bolehkah aku melakukannya?” Tanya balik Putri Keagungan, sedikit terkejut dengan permintaan gadis yang berjalan di sampingnya tersebut.


“Sungguh, sebenarnya aku sangat senang jika kau memanggilku Zili.” Ungkap Zili sangat berharap Putri Keagungan menuruti keinginan hatinya.


“Hm,”Angguk gadis itu mulai menghentikan langkah diikuti oleh Zili. “Zili, mulai sekarang aku akan memanggilmu Zili.” Lalu melanjutkan kalimatnya sembari memandang seorang Tentara Pengaman Kepala Negara yang telah memberikan beberapa kunci secara diam-diam kepada Putra Mahkota.


“Sepertinya kita akan tinggal di tempat mewah kali ini.” Ucap Pelindung Putra Mahkota Shin Ji yang telah melewati kedua gadis itu.


“Pergilah!, Aku ingin berbicara dengannya.” Pangeran Istana yang telah menghentikan langkah di samping Zili, memberikan perintah kepada Putri Keagungan. Dengan terpaksa gadis itu menuruti perintah meskipun ia tidak menyenangi Zili bersama laki-laki yang pernah berniat membunuh temannya tersebut.


Segera ia melangkah pergi mengikuti Pelindung Putra Mahkota Shin Ji sembari menghela nafas berat.


“Shin’A.”


“Aku katakan padamu, berhati-hatilah jika tidak ingin terluka.” Ucap Pangeran Istana mulai melangkah kaki kembali.


“Apa maksudmu?” Tanya Zili yang merasa sangat penasaran dengan ucapan laki-laki tersebut dan mulai melangkah beriringan.


“Tahukah kau orang paling dikagumi di Negara kita?”


Sambil berjalan, Pangeran Istana mulai mengajukan pertanyaan ringan yang kebanyakan orang sekalipun akan mengetahui jawabannya.


“Tentu saja Putra Mahkota.”


Jawab Zili tanpa basa basi.


“Hm, Maka dari itu kau harus tahu bahwa dialah sebenarnya orang yang paling jahat di Negara kita.” Lanjut Pangeran Istana sembari terus berjalan meninggalkan Zili yang telah menghentikan langkah saking terkejutnya gadis itu mendengar kalimat tersebut.


“Tidak, Shisou bukanlah penjahat seperti yang kau ucapkan itu.” Gumam Zili pelan lalu mulai berjalan dan memikirkan perdebatan Putra Mahkota dan Pangeran Istana akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2