
Tersenyum geli, memandang wajah Zili masih diudara “jadi kau mau mati bersamaku..?” Tanya putra mahkota begitu terlihat santai melayang disana.
Perlahan-lahan cahaya mulai menghilang, memutar layar jam tangan kesamping dibelakang pinggang Zili, layar jam tangan mulai terbagi menjadi dua “sudah berkhianat, mati bersamapun percuma..”
Semakin memperlebar senyuman geli memandang zili, Melihat senyumannya saja jantung gadis itu semakin bergejolak, berdetak kencang, karenanya ia terpaksa menyembunyikan wajah Didada bidang putra mahkota “bukankah mati bersama itu terlihat indah..?” Ungkap putra mahkota mempererat pelukannya.
“Indah apanya, itu namanya mati konyol..” jawab Zili cepat “sudah berkhianat, setelah matipun tidak akan pernah bisa bahagia.” Lanjut gadis itu lagi masih menyembunyikan wajah didada bidang putra mahkota lalu membelalak mata tiba-tiba ketika ia merasa bahwa saat itu tubuhnya tidak lagi melayang turun, Malahan berbelok menyamping “tuan...” menengadah, memandang putra mahkota keheranan.
“Hmm” memandang lucu kearah Gadis yang kebingungan dibawah wajahnya.
“Mungkinkah kita berada diruang angkasa..?” tanya gadis itu penasaran karena merasa tubuh mereka berdua melayang dengan Aneh.
Takkk
Suara sesuatu terdengar berbunyi.
Tubuh putra mahkota dan Zili berhenti bergerak,
Masih melayang diudara, gadis itu melihat salah satu tangan putra mahkota terangkat naik, sedangkan tangan lain masih memeluk pinggangnya.
“Magnet..” putra mahkota mulai menjawab, Zili memandang ketangan Putra mahkota yang terangkat, benar saja..
“Jadi Dinding ini besi, ya...?” tanya Zili membuat putra mahkota tersenyum senang, karena mengetahui bahwa wanitanya tidak begitu bodoh dan dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
“Benar,” tersenyum senang lalu melepaskan pinggang Zili.
“Aaaahh...”tubuh gadis itu terjatuh “hah..” berhenti berteriak lalu melompat,
Tidak terlalu tinggi, kakinya kini telah menapaki Tanah disana,
__ADS_1
Menarik jam tangan yang saat itu menempel lekat didinding besi, putra mahkota mulai menapakan kaki, tepat dihadapan wanita miliknya.
“Hari ini kita gagal mati bersama..” ucap putra mahkota menggoda “lain kali, aku tidak akan membuka jam tanganku dan mengeluarkan magnet agar kita bisa mati bersama,”
“Astaga..” jawab Zili menutup mulutnya “ternyata memang tidak berniat mati bersama ya..?” ucap gadis itu diantara kegelapan lorong bawah tanah disana.
Tersenyum geli, lebar, sayangnya tidak kelihatan karena gelapnya ruangan “Untuk apa mati bersama,..” jawab putra mahkota mulai menutup jam tangan yang tadinya terbelah dua, lalu menghidupkan senter disana “mati sendiri saja susah, apalagi mati bersama..”lanjut laki-laki tersebut mulai memandang wajah zili yang terlihat terkejut mendengar jawabnnya.
“Ternyata kita satu pemikiran..” jawab gadis itu tersenyum senang karena bisa memandang wajah putra mahkota lagi dikegelapan lorong menggunakan cahaya senter jam tangan laki-laki tersebut. “meskipun mati, aku hanya ingin mati karena takdir sekarang..”
“Mungkinkah kau pernah membunuh dirimu sendiri sebelumnya....?” tanya putra mahkota sedikit terkejut mendengar ucapan Zili.
Mulai melangkah kaki setelah putra mahkota menggenggamnya lalu membawa pergi bersama “iya..” jawab gadis itu mengingat kebodohannya “hari itu, beruntungnya putra mahkota menyelamatkanku kalau tidak..” sambil berjalan sambil bercerita “aku pasti tidak akan pernah merasakan kebahagaiaan seumur hidupku” lanjutnya lagi mengingat kenangan kebersamaannya dengan putra mahkota.
“Menyelamatkanmu..?” mulai berpikir dan mengingat “hmm mungkinkah kau wanita yang melompat diatas jembatan Jalan waktu itu..?” sungguh, memang ingatan putra mahkota tidak diragukan lagi kehebatannya, masalah sekecil apapun, jika dia mau, dia akan mampu mengingatnya.
“Tentu saja karena aku adalah pengawal rahasianya.” Jawab putra mahkota mulai menghentikan Langkah ketika melihat sebuah kontak Listrik didinding.
Melepaskan tangan Zili, lalu mengarahkan jam tangannya kekontak tersebut “kalau aku tahu dari awal bahwa penderitaan akan menghadirkan kebahagiaan dimasa depan,” memandang punggung putra mahkota yang telah berbalik mengotak-atik kontak Listrik “aku tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti bunuh diri..” lanjut gadis itu menyesali segala perbuatannya.
“Penderitaan adalah Tabunganmu yang tak ternilai harganya..” lanjut jawab putra mahkota bersamaan dengan lampu-lampu menyala yang menggantung dipertengahan dinding.
Ruangan tersebut kini mulai terang benderang, terlihat sekali tempat yang mereka kunjungi tersebut begitu luas, hingga sisi dinding lainnya tidak terlihat. “tabungan...?” tanya zili tidak mengerti.
“Kalau kau sabar, kau akan mendapatkan Hadiah Yang begitu besar dari Tuhanmu..” lanjut jawab laki-laki tersebut “kalau kau menyerah, kau akan mendapatkan kebahagiaan seadanya, “ tambahnya lagi “lalu kalau kau berbuat jahat karena merasa hidup didunia ini tidak adil, “ tersenyum kecut “selamanya kau tidak akan pernah bahagia, malahan hidupmu akan selalu diselimuti kejahatan hingga tidak akan lagi terpikirkan olehmu untuk berbuat kebaikan.” Jelas putra mahkota lagi, berbalik, lalu meraih tangan Zili melangkah kaki menelusuri Lorong dengan bantuan lampu-lampu Yang menggantung didinding sana.
Menunduk kepala “lalu kalau aku bunuh diri...?” Memandang kearah depan kembali mengikuti langkah putra mahkota “aku termasuk pada bagian yang mana...?” tanya Zili begitu khawatir.
“Tentu saja bagian orang yang jahat..” jawab putra mahkota menoleh kepala sejenak kebelakang, kearah wanitanya berjalan “bukankah kau menjahati dirimu sendiri..?”
__ADS_1
“Ha...”
Tersenyum lembut memandang kearah depan kembali “ingatlah, dirimu sendiri ada yang menciptakannya,” lanjut putra mahkota mulai menghentikan langkah didepan sebuah pintu darah. “Itu artinya, kau tidak bisa memiliki dirimu sendiri sepenuhnya, maka jangan melukai Barang milik penciptamu” tambah putra mahkota lagi mulai meraih kantung celana dan mengeluarkan botol kecil yang berisi darah disana.
“Lalu bagaimana jika aku menyerah..?” tanya Gadis itu lagi,
“Jalani saja penderitaan yang diberikan tuhan semampumu,..” jawab putra mahkota mulai mendekati pintu “ikuti alurnya..” lanjut laki-laki tersebut “kalau ingin marah, kau boleh marah, ikuti saja takdir yang sudah ditentukan untukmu menurut kata hatimu asalkan kau tidaak menyakiti orang lain secara berlebihan dan juga menyakiti dirimu sendiri.” Lanjut laki-laki tersebut mulai menancapkan botol kecil yang terbuat dari plastik tersebut kedalam lubang dipertengahan dinding Pintu darah.
“Lalu kalau aku bersabar..?” tanya Zili untuk yang terakhir kalinya.
“Terima dengan lapang dada semua penderitaan yang kau dapatkan tanpa menyakiti siapapun termasuk dirimu sendiri..” pintu terbuka, sebuah lorong kecil bercahayakan lampu putih terlihat didepan mata.
“Aku telah menyakiti diriku sendiri..” ucap gadis itu “mungkinkah aku akan terus menderita..?”
“Bukankah kau telah melewatinya dan tidak melakukannya lagi...?” mulai membawa Zili memasuki ruangan tersebut.
Cucuccupp..
Sebuah tombak meluncur cepat menuju kearah mereka, berhasil diraih putra mahkota.
“Tuan, kau baik-baik saja..” tombak yang lainnya melayang lagi menuju putra mahkota yang kini telah bersembunyi dibalik dinding, membiarkan puluhan tombak terus meluncur kedepan hingga habis dan tidak muncul kembali.
Tersenyum lembut memeluk tubuh zili “ aku sudah mendapatkan hadiah besar dari hasil kesabaranku..” mengintip sejenak, melihat keadaan ruangan Disana “mulai sekarang, aku akan menjalani hidupku sesuai keinginan hatiku” lanjut laki-laki tersebut lagi mengejutkan hati Zili. “kau tahu ketika mendengar Shin’A memiliki kemampuan mengingat cepat saat itu aku merasa bahwa dunia ini tidak adil..” jelas laki-laki itu lagi “tetapi ketika aku bersabar dan menerima lapang dada rasa iri ku itu, “ tersenyum senang mengingat masa lalu “ kemampuan itu akhirnya aku miliki dan bahkan melebihi Orang yang saat itu aku irikan” Tambahnya lagi mulai menarik Zili membawa masuk kedalam lorong bercahaya putih.
“Jadi kau juga memiliki kemampuan mengingat cepat, ya..?” tanya Zili terkejut mengikuti langkah putra mahkota
“Husshh rahasia.” Ucap putra mahkota berbohong “kau harus menjaga rahasia ini baik-baik..” pintanya lagi juga berbohong.
“Hmm” angguk gadis itu mengerti.
__ADS_1