
Menyusuri jalanan setapak kecil perkebunan cokelat, Sembari menikmati pemandangan alami desa Ou di malam hari yang diterangi bulan sabit serta jutaan bintang di atas langit, malam itu, Zili terlihat mengenakan jaket hoodie tebal berwarna hitam dengan celana training yang juga berwarna sama menuju ke Sekolah Pertanian.
Sekolah Pertanian sendiri terletak di atas bukit sehingga untuk mencapai tempat tersebut, Zili yang lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingkan dengan menggunakan kendaraan karena ia sendiri pergi secara diam-diam, terpaksa harus menaiki bukit dipandu dengan peta desa yang berhasil ia retas dari salah satu komputer milik salah seorang Pejabat Militer Tinggi klan Ou.
Di Pertengahan bukit, jalanan pintas cepat menuju Sekolah Pertanian, gadis itu menghentikan langkah kaki. Ia mulai berbalik dan berdiri tegak, menikmati pemandangan malam desa Ou yang begitu indah dengan lampu berwarna-warni yang menggantung di atas beberapa batang pohon cokelat pinggiran jalan setapak.
Kabel panjang kecil yang terisi lampu berwarna-warni tampak menggantung di batang-batang pepohonan tersebut dan menerangi malam di jalan setapak, membantu mempermudahkan perjalanan Zili menuju Sekolah Pertanian.
Mulai berbalik kembali, gadis itu sontak terkejut. Matanya membelalak lebar, bahkan raut kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
Di perempatan malam yang dingin, dengan nyanyian suara jangkring dan juga gonggongan suara Anjing serta tangisan suara Musang yang kadang-kadang mampu membuat suasana malam menjadi sedikit lebih menyeramkan, gadis itu memandang seorang laki-laki berpakaian ninja berwarna kuning menutup seluruh wajah kecuali mata, sedang berdiri di atasnya sembari memegang sebuah buku bersampul biru yang tertuliskan judul dengan huruf kapital, RACUN SARAF DAN SEL DARAH.
“Kau.” Belum sempat melanjutkan kalimat, laki-laki tersebut telah berbalik dan berlari naik kembali ke atas bukit. “Tunggu brengsek.” Maki Zili keras mulai berlari, mengejar laki-laki tersebut. “Kembalikan bukunya.”
Melupakan rasa dingin yang terkadang mampu menembus jaket masuk mengenai kulit tubuh, gadis itu terus berlari kencang mengejar ketertinggalan yang cukup jauh. Setelah naik ke atas bukit, mereka melewati tembok bagian belakang sekolah pertanian yang terdapat begitu banyak pot-pot dan juga polybag yang terisi bibit-bibit tanaman.
Terus menelusuri puluhan pot dan juga polybag yang berjajar rapi, hingga berada jauh dari sekolah, laki-laki tersebut mulai melompat menuruni bukit yang diisi pepohonan buah Tin. “Brengsek.” Mau tidak mau Zili juga terpaksa melompat lalu berlari tak terkendali sama halnya dengan perilaku laki-laki yang kini telah berada di bawah bukit lalu berlari kencang kembali.
“Akkkhh..” Tubuhnya menabrak pohon kecil buah tersebut hingga ia terpaksa berjongkok mengelus dahi sejenak. Walaupun terasa sedikit sakit, gadis yang telah sampai di bawah bukit mulai berdiri dan berlari mengejar kembali. Lampu-lampu yang menggantung di pepohonan pinggiran jalan setapak menerangi pengejarannya saat itu.
Mengerahkan seluruh tenaga, pikir gadis itu, Musuh negara NC memanglah hebat, bahkan kecepatan larinya yang tidak diragukan lagi dan mampu menyaingi lari kuda di desa Shen di masa lalu, tidak mampu mengejar kecepatan laki-laki tersebut.
__ADS_1
Sebuah gumpalan kertas tiba-tiba terbang mengenai wajah Zili yang masih berlari, meraih dengan cepat sebelum gumpalan kertas tersebut jatuh lalu membuka kertas itu masih dengan berlari. LARIMU BOLEH JUGA, Sebuah tulisan berkalimat tersebut tertera di atas kertas itu.
“Ha..” Begitu bodohnya gadis itu, bahkan dalam masa pengejaran ia tetap membaca tulisan dan berakhir tersandung batu lalu jatuh.
Baaakkk...
Wajahnya mencium tanah, hampir saja mengenai Pupuk kandang yang berada tak jauh darinya. Pupuk kandang yang terbuat dari kotoran hewan di sana berbau busuk, hampir membuat gadis itu muntah.
“Grsskk” Suara dedaunan kering dari pijakan laki-laki yang di kejar Zili terdengar hingga ke telinga. Dengan segera gadis tersebut berdiri lalu memandang laki-laki yang tampak berdiri di hadapannya.
Matanya sedikit menyipit, mungkin saat itu dia sedang tersenyum geli melihat keadaan gadis itu.
Segera membersihkan wajah yang kotor karena debu tanah, gadis itu mulai bertanya-tanya pada diri sendiri.
Laki-laki tersebut menggeleng kepala, mungkin itulah jawaban dari penolakannya.
Tidak terlihat lagi buku dipelukannya, mungkin buku resep tersebut telah ia simpan di balik pakaian ninja kuning yang ia kenakan. “kembalikan!” Bentak Zili marah setelah mendekat lalu mulai memukul laki-laki tersebut dari arah samping kepalanya.
Berhasil di tahan, “Haa..” Tangan Zili kesulitan untuk terlepas dari genggaman tangan lebar laki-laki tersebut.
Menggelengkan kepala kembali, mata sedikit sipit laki-laki tersebut masih tetap terlihat, mungkin ia juga masih tersenyum dibalik kain yang menutup mulutnya.
__ADS_1
“Lepaskan!” Berusaha keras menarik tangannya, tangan lain gadis tersebut mulai meraih genggaman tangan laki-laki itu dan berusaha membuka jari-jarinya namun sayang, ia tak kunjung berhasil melakukannya.
Masih fokus dengan melepaskan tangannya, tiba-tiba tangan lain laki-laki tersebut terangkat lalu meraih hidung Zili dan menekannya.
“Ouh.”Gadis itu mengerang kesakitan setelah laki-laki itu melepaskan tangan dari hidupnya. Hidung yang telah memerah kini telah tertutupi dengan tangan lain Zili yang tidak terkunci. “Sakit.” Ucap lirih gadis itu sembari memandang mata laki-laki tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Mata laki-laki yang tadinya sedikit menyipit, tiba-tiba membelalak ketika melihat mata Zili. Segera ia melepaskan tangan Zili lalu berbalik dan mulai melangkah.
“Katakan!” Satu tangan Zili meraih bagian dari kain belakang yang di kenakan laki-laki tersebut. “Aku mohon hiks.. “ Pintanya sembari menjatuhkan air mata menunduk masih memegang kain belakang laki-laki tersebut. “Katakan siapa yang membuatku mendapatkan begitu banyak penghargaan?” Pinta gadis tersebut sangat berharap.
Laki-laki tersebut terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan, gadis itu tetap memegang pakaian belakang dan mengikuti langkah kakinya.
“Jawablah aku mohon.” Pintanya lagi masih terus mengikuti laki-laki yang kini telah menghentikan langkah. “Temanmu mengatakan bahwa kaulah orang yang mampu menjawab pertanyaan ini.” Lanjut gadis itu ikut menghentikan langkah kaki. “Putra Mahkota yang melakukannya, iya kan?” Dia melontarkan perkiraannya selama ini. Pikirnya, hanya Putra Mahkotalah yang mungkin akan melakukan hal tersebut. “ Putra Mahkota sengaja membuatku diakui masyarakat NC karena aku telah gagal membuat diriku sendiri diakui oleh mereka, iya kan?” Tebak gadis tersebut lagi masih menundukan kepala di malam penuh bintang dengan pepohonan buah Tin yang mengelilingi mereka. “Mungkinkah hanya karena aku, Putra Mahkota berbalik memusuhi Negara dan berpura-pura menjadi Loiuse?” Tanyanya lagi berharap mendengar jawaban “kalau begitu, hiks..” Tetesan air mata jatuh membasahi dedaunan kering di atas tanah. “Biarkan saja aku tidak diakui dan terus dihina asalkan Putra Mahkota tetap berada di Negara ini, aku sungguh tidak butuh penghargaan apapun, aku tidak butuh semua hal yang dia berikan, yang kubutuhkan hanyalah melihatnya saja hiks.. hanya melihat dia saja, jadi aku mohon sampaikan pesan ini untuknya.” Zili melepaskan tangan dari kain belakang laki-laki tersebut, ia mulai berbalik dan melangkah pergi, membiarkan laki-laki tersebut mencuri buku resep racun.
Melawanpun percuma pikirnya, hanya sekedar melepaskan tangan dari genggaman laki-laki tersebut saja tidak mampu apalagi mengambil kembali resep yang telah berhasil dicuri.
“Akulah yang mengatur dan merencanakan itu semua.”
Suaranya terdengar tidak asing, Tubuh Zili mulai gemetaran hingga tangisannya semakin deras mengalir. Dirinya yang sengasara dan menderita selama sebulan lamanya karena mendengar kabar buruk tentang pemilik suara, kini terlihat menangis terisak-isak lalu berbalik cepat melihat ke arahnya kembali.
Kain yang menutupi wajah terbuka, wajahnya sungguh tidak asing, bagaimana mungkin orang yang telah mati hidup kembali,? Pikirnya.
__ADS_1
“Mau pelukan.” Laki-laki itu melentangkan kedua tangan.
“Haa.. “ tangisan gadis itu pecah “ Tuan ha.. hikss hikss.” Panggilnya masih berdiri dengan tubuh gemetaran memandang wajah seseorang yang juga ia rindukan.