
Saling memandang.
Saling tidak menyukai.
Berada ditengah-tengah perseturuan yang terlihat didepan matanya, hati Zili mulai tampak gelisah.
“Jadi kau temannya..?” Tersenyum kecut hingga membuat gadis dihadapannya kesal, lalu menarik lengan tangan Zili masuk kedalam ruangannya.
Meraih lengan tangan Zili yang lain, mengeluarkan gadis itu dari ruangan milik gadis dihadapannya “memangnya kenapa kalau aku temannya..?” Tanya gadis dihadapan putra mahkota menarik Lengan Zili lagi untuk masuk kedalam ruangannya kembali.
“Ayo kita pulang..” ajak putra mahkota menarik tangan Zili keluar ruangan kembali “dia tidak pantas menjadi temanmu..”
Geram, menarik tangan Zili kembali hingga gadis itu mengerang kesakitan “kau bilang apa barusan..?” ucap Gadis yang tak lain adalah putri kelincahan menggertak gigi geram memandang putra mahkota yang saat itu telah berbalik menarik tangan Zili untuk kembali bersamanya.
Menarik tangan Zili kembali lalu memeluk gadis itu hingga putra mahkota tidak lagi bisa membawanya pergi “perlukah kuulangi kembali perkataanku..?” menoleh geram kearah putri kelincahan.
“Kau saja sana yang tidak pantas untuk menjadi suaminya..?” teriak putri kelincahan mulai marah, melepaskan genggaman tangan putra mahkota dari lengan Zili lalu membawa paksa gadis itu masuk kedalam ruangannya dan mengunci pintu.
Tersenyum lembut memandang Zili yang terlihat tertawa lucu melihatnya, lalu melepaskan pelukannya.
Kraaaaakkkk..
Buuuukkkk
Sontak kedua mata kedua gadis tersebut membelalak ketika pintu roboh, jatuh hampir mengenai mereka jika saja mereka berdua tidak segera mundur kebelakang.
Tampaknya putra mahkota telah menendang pintu tersebut karena marah.
Hawa Kemarahan menyelimuti tubuh laki-laki tersebut hingga membuat kedua gadis dihadapannya menggigil ketakutan.
“Tuan..”
“Ayo pulang..” putra mahkota melangkah kaki masuk lalu meraih tangan Zili.
“Kenapa aku tidak berhak menjadi temannya,..?” teriak putri kelincahan sedih, hal itu membuat Zili menghentikan langkah.
Menoleh kearah Zili yang tidak juga ingin melangkah kaki “aku tidak pernah punya teman sebelumnya..” ucap gadis itu mulai memandang Sedih kearah putra mahkota yang terlihat marah “aku hanya ingin mengetahui rasanya memiliki teman wanita..” ungkap gadis itu lagi tampak begitu memohon “bukankah aku memilikimu tuan..?” berusaha meyakinkan “kalau temanku menyakitiku, kau pasti akan datang menolongku, bukan..?” lanjut gadis itu membuat putra mahkota tidak bisa berkutik sama sekali,
Memandang putri kelincahan yang terlihat begitu menginginkan Zili bersamanya, lalu memandang Zili yang terlihat begitu ingin tetap tinggal bersama gadis itu, putra mahkota melepaskan lengan tangan wanita miliknya “terserah kau saja..” mulai berjalan menuju apartemennya kembali, meninggalkan Zili dan putri kelincahan yang tampak begitu senang karena diizinkan bersama Hari itu.
__ADS_1
********
Ruangan yang begitu Aneh,
Seluruh dinding berwarna Hijau dan bergambarkan payung mengembang.
Didalam ruangan tersebut juga terlihat beberapa lemari kaca yang terisi banyak sekali koleksi berbagai jenis payung dan juga berwarna-warni.
Tampaknya pemilik apartemen tersebut memang sangat menyukai benda tersebut, terlebih lagi yang berwarna hijau, karena disana tampak sebuah lemari khusus yang menyimpan payung berwarna hijau didalamnya.
Terus melangkah mengikuti putri kelincahan masuk kedalam kamarnya.
Mata Zili sontak membelalak lebar ketika melihat seluruh Dinding kamar Diisi penuh dengan Foto putra mahkota.
Bahkan beberapa foto yang Zili sendiri belum pernah melihatnya.
Foto laki-laki tersebut mengenakan seragam kebanggaannya berwarna merah, lalu seragam berwarna hitam kebanggaan Klan Co, lalu seragam berwarna Jingga kebanggaan Klan Lu, Kuning kebanggaan Klan Zin, Ungu kebanggaan Klan Co, serta Hijau kebangaan Klan Sun yang belum pernah Zili lihat sebelumnya.
Putra mahkota didalam sebuah foto juga tampak begitu sangat tampan mengenakan seragam berwarna Biru kebangaan Klan Shen.
Sungguh sangat tampan hingga membuat Zili tidak bisa melepaskan sedikitpun pandangan matanya kepada foto laki-laki tersebut. Mulai dari mengenakan kaos biasa sembari duduk meminum air mineral, lalu mengenakan Kemeja Abu-abu sembari memandang tajam kearah Sesuatu yang tak diketahui kemudian berdiri menyamping memandang sesuatu.
“Benar-benar suamimu itu...” putri kelincahan mulai membuka Suara, mengejutkan Zili yang tadinya masih memandang penuh kekaguman pada foto-foto putra mahkota “pasti dia sangat takut jika aku melukaimu hanya karena kita berdua menyukai orang yang sama..” tebaknya mulai duduk diatas Kasur miliknya, “kemarilah..” ajak gadis itu lagi, lalu meraih sebuah album foto diatas kasur dan membukanya.
“Bolehkah..?” Tanya Zili ragu-ragu melangkah kaki.
Tuk tuk tuk...
Suara ketukan terdengar, seorang pekerja perbaikan bangunan mungkin saat itu sedang memperbaiki pintu Apartemen milik putri kelincahan.
“Tentu saja..” jawab putri kelincahan lalu menunjukan foto-foto putra mahkota kepada Zili.
Tersenyum lembut lalu melangkah kaki menuju gadis itu, “duduklah disini..” putri kelincahan mulai menarik tangan Zili lalu memberikan Album foto tersebut kepadanya.
“Waah...” berbinar-binar, mata nya bahkan mampu disadari putri kelincahan.
“Sangat tampan, bukan..?” tanya putri kelincahan dengan mata bebinar-binar juga.
Menganggukan kepala, sembari mengganti lembaran album “tampan sekali, begitu tampan.” Ucap zili begitu menganggumi putra mahkota.
__ADS_1
“Padahal kau sudah memiliki suami, tetapi tetap saja menyukai Xu’i..” Sindir Putri kelincahan sontak menghentikan Tangan Zili mengganti lembaran baru “aku juga begitu..” Kalimat lanjutan gadis itu semakin mengejutkan Zili hingga tanpa seengaja ia menoleh kepala kearah gadis disebelahnya.
“Maksudmu..” mengernyitkan dahi tak mengerti “kau sudah memiliki suami..?” Tanyanya begitu penasaran.
“Hahahah” tertawa lucu sembari memukul punggung Zili pelan “bukan begitu maksudku..?” jawab cepat putri kelincahan menghentikan tawa.
Mulai memandang Album foto putra mahkota kembali “maaf, aku tidak tahu..” jawab Zili terlihat begitu menyesali.
Tersenyum lembut “maaf ya..” ucapan putri kelincahan menambah keterkejutan didalam hati Zili “aku tidak bermaksud mengejekmu..”
“Aku tahu..” jawab cepat Zili “Lupakan saja. “ lanjut gadis itu memberikan kembali album foto milik putri kelincahan.
Menolak mengambil album foto, membiarkan Zili untuk terus melihatnya “bagiku Xu’i hanyalah seorang idola..” Ucap putri kelincahan mulai bercerita.
“Idola...?” tanya Zili kebingungan.
Tersenyum menundukan kepala “ kau tahu idola tidak akan mungkin diraih kecuali untuk orang-orang yang pantas mendapatkannya saja, bukan..?” jawab Gadis itu menjelaskan “orang-orang yang memang telah ditakdirkan tuhan untuk bersamanya karena Tidak akan mudah berada disamping seorang idola..” lanjutnya lagi menjelaskan.
“Begitu ya..”
Zili mulai memandang Foto putra mahkota yang terlihat sedang membaca buku dibawah pohon.
“Tentu saja.” Jawab putri kelincahan mulai menahan tubuh dengan kedua tangan lalu memandang ke langit-langit atap ruangan “karena aku mengetahuinya, maka dari itu aku tidak akan pernah menyakiti wanita yang berada disampingnya, meskipun aku membencinya.” Lanjutnya lagi menjawab.
Tersenyum getir “kenapa kau harus membencinya..?” tanya Zili begitu terasa sakit karena kebencian Putri kelincahan ditujukan kepadanya.
“Karena dia lemah..” jawab Putri kelincahan kesal hingga terlihat sekali senyuman kecut mengembang dibibirnya. “orang lemah tidak harusnya berada disisi Xu’i agar Xu’i tidak menderita karena kehilangannya” lanjut jawab gadis itu mulai menegakan kembali tubuhnya. “kau tahu...” dia mulai menoleh kearah Zili “pada awalnya aku bahkan membenci Xu’i karena dia sangat sombong..” dia mulai bercerita.
“Benarkah..?” tanya Zili mulai penasaran.
“Hmm”angguk putri kelincahan “ tapi ternyata dia memiliki alasan sendiri melakukan hal itu..” Lanjut gadis itu semakin membuat Zili penasaran.
“Benarkah..?” Tanya ulang Zili lagi.
“Tentu saja, “ jawab putri kelincahan lagi “laki-laki yang kucintai Dulunya adalah Bagus..” tersenyum getir lalu memandang kehadapannya.
“Bagus...?”
“Ou bagus, aku menyukainya tetapi dia menyukai Ou nura..” tersenyum pahit mengingat masa lalu “lalu aku mulai menghilangkan rasa sukaku dan memandang kearah xu’i sebagai idolaku.” Lanjut gadis itu menoleh kearah Zili yang sedari tadi telah memandangnya.
__ADS_1