
Atap kaca perlahan-lahan tertutup kembali. Hembusan angin terakhir menerpa tubuh gadis itu dan mengeringkan air mata di pipi hingga air mata lain mengalir kembali.
“Akkkhhh...”
Tangan yang terpelintir semakin terasa sakit ketika tubuhnya dipaksa berputar dan jatuh ke pelukan Putra Mahkota.
Semua musuh-musuh negara kini tampak sedang menyaksikannya.
“Emmm, akkkhhhh...” Betapa liarnya Putra Mahkota mencium bibir gadis itu lalu menggigit bibirnya hingga erangan kesakitan terdengar saking perihnya luka di bibir tersebut.
Belum mengering darah di bahu kini darahnya kembali mengalir dari bibir bersamaan dengan air mata yang terus jatuh.
Sementara satu tangan tak lagi dapat bergerak, tangan lainnya tampak naik tergenggam erat di telapak tangan Putra Mahkota, sementara leher belakang tertahan kuat oleh telapak tangan lain Putra Mahkota hingga gadis tersebut tak mampu melepaskan ciuman kejam laki-laki di hadapannya.
“Bagaimana rasa darah dari gadis spesial?” melepaskan Ciuman sembari melepaskan tali yang mengikat rambut gadis itu hingga rambut hitam panjang terurai lalu membalikan tubuh gadis di hadapannya ke arah sebuah robot berkepala layar monitor yang terlihat telah berada di depan mata, Putra Mahkota memperlihatkan wajah gadis tersebut kepada Musuh paling berbahaya di Negaranya saat itu.
“Manis,” Kepala gadis itu terangkat ketika rahangnya tergenggam erat tangan Putra Mahkota hingga membuatnya menahan rasa sakit, Darah di bibir juga tampak menetes mengenai punggung tangan laki-laki yang menekan keras leher gadis itu. “Sangat manis hingga aku tidak sabar lagi untuk menikmatinya .” Ungkap Putra Mahkota dengan wajahnya yang telah berada tepat di samping gadis tersebut,
“Aaaaaakkkhhh..” Dan tangan lain Putra Mahkota dengan cepat memelintir tangan gadis yang tadinya masih baik-baik saja hingga semua tangan gadis tersebut tak lagi mampu bergerak.
“Hahahahaha..” Tawa seorang laki-laki tua dari balik layar robot di sana. “Janjiku telah kutepati, dan sekarang aku sedang menunggumu menepati janji.” Lanjut laki-laki tua menagih bersamaan dengan tubuh Zili yang telah berbalik dan Ciuman liar Putra Mahkota yang telah mendarat di bibirnya kembali.
__ADS_1
“Tentu saja,” Melepaskan Ciuman liar yang membuat luka di bibir gadis itu semakin melebar, “ Setelah aku puas menikmatinya, janjiku pasti segera ku penuhi.”
“Shisou sadarlah!” Bentak gadis tersebut keras dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia berusaha keras mengangkat kepala dan memandang wajah Putra Mahkota dari bawah, “Hiks Sadarlah Shisou, sadarlah..” tapi mulai menunduk karena merasa Wajah Putra Mahkota sangatlah berbeda.
“Oh.. Sepertinya dia mulai memberontak.” Laki-laki tua kembali berbicara, Seringai kesenangan tampak jelas di wajahnya bahkan sesekali ia terkekeh melihat betapa teganya Putra Mahkota memperlakukan wanita yang ia cintai.
“Hahaha..” Putra Mahkota tertawa lebar hingga kepalanya naik memandang atap-atap kaca kapal induk di sana. “Semakin melawan, maka terasa semakin menyenangkan untuk melakukannya.” Ungkapnya memeluk erat tubuh Zili hingga gadis itu hanya bisa menahan rasa sesak di dada.
“Hahahaha.” Balas tawa laki-laki tua di dalam layar. “Gadis bodoh, lihatlah dengan baik, dia bukan lagi suami yang kau banggakan hahahahaha.” Tawa laki-laki tersebut menggelega di saksikan begitu banyak Prajurit musuh di sana hingga para sniper handal mulai turun dari atap-atap gedung dan menapakan kaki di jalanan aspal kota yang kini tak lagi dihuni oleh para penduduk Klan asli Xu. “Menyerahlah gadis bodoh.”
“Kenapa?, Memangnya kenapa? “ Balas Zili membentak, gadis itu kini tampak berada di pelukan erat Putra Mahkota dan menghadapkan wajah di dada laki-laki tersebut. “Meskipun dia bukan Xu’i tetapi dia tetap suamiku,” Tetesan air mengalir semakin deras jatuh di pipi. “Aku hidup untuknya, aku berjuang dan berusaha untuknya, aku berubah menjadi lebih baik karenanya, dan kalaupun dia telah berubah maka aku juga akan berubah, Aku tidak menyerah, tidak akan pernah menyerah hiks Shisou aku mohon hiks Shisou haa...”
“Jadi kau akan berpihak kepada kami?” Tanya laki-laki tua memberikan penawaran.
“Tidak ada lagi kesempatan bagimu, sayang.” Balas laki-laki tua tampak senang melihat suara lemah gadis tersebut.
“Tidak masalah asalkan aku bersama Suamiku, tidak masalah jika tidak ada kesempatan lagi asalkan aku sudah melihat wajahnya, tidak masalah shisou,hiks tidak masalah Shisou hiks haa..” Tubuhnya terangkat, tapi dia tetap menangis memejamkan mata.
“Kesabaranku sudah habis,” Putra Mahkota membuka suara kembali, “Aku tidak lagi dapat menahan keinginanku.” Lanjut laki-laki yang telah membawa gadis tersebut di kedua tangannya dan mulai melangkah memasuki gedung berbentuk kubah.
Semua orang mulai bergeser memberikan jalan untuknya,
__ADS_1
“Shisou ..” Suara panggilan lemah gadis itu terdengar hingga ke telinga mereka.
“Tetap awasi dia!” Suara Perintah terdengar dari balik headset milik musuh negara, Co Sien Ya.
********
Raja Bayangan tersenyum, dia tetap berdiri di pertengahan tangga menuju Podium.
Semua Penghuni gedung tampak tercengang tidak percaya mendengar ucapan seseorang yang sangat di hormati oleh mereka.
“Tentara Yuan telah mengepung seluruh Istana, Sekarang Pilihlah, Mati bersama dengan Raja lama kalian atau tetap hidup bersama Raja kita yang baru,” Seru keras seseorang yang telah berdiri di depan pintu masuk ruang rapat hari itu.
“Kami tahu kalau Paman Sihan memang mata-mata musuh, dan sebenarnya dialah orang yang membuat Anya mengkhianati Negara, maka dari itu Shin tidak hadir dalam rapat kali ini dan memaksaku menggantikannya karena dia mengetahui bahwa Ayahnya sendiri adalah pengkhianat sesungguhnya.” Ungkap Raja Bayangan dengan mata memerah karena marah,
“Sihan.” Ketua Klan Lu, Lu Leo, ayah tiri dari Raja Negara bahkan tampak ikut marah menyaksikan pengkhianatan sahabatnya hari itu.
Ayah Raja Negara hanya terdiam, ia tampak berdiri di belakang seseorang yang hari itu berhadapan dengan Raja Bayangan secara langsung.
Sebagian menteri mulai ragu-ragu untuk berpihak, sebagian lain tampak berjalan lalu dengan setianya mereka berdiri di belakang Raja Bayangan.
Raja Bayangan tersenyum, “ Pantas saja Yuanna memerintahkan Natto ikutserta dalam penyerangan kapal Induk dan tidak membiarkan Nana bergabung dalam rapat hari ini,..”
__ADS_1
“Yuanna,” Panggil seorang yang tampak terkejut mendengar ucapan Raja Bayangan.
“Hm, “ tersenyum getir lalu menghela nafas berat. “Sudah dari lama kau memang berpihak pada Yuan,bukan? Kau menyiksa Aura agar Nura terobsesi pada Xu’i, kau katakan pada Nura bahwa dengan menikahi Xu’i, Aura bisa selamat maka hari itu Nura menggilai Xu’i sampai berani meracuni Yu’A, lalu ketika Nura terkurung, kau sengaja melepaskannya dan memberikan anak itu ke tangan Yuan, lalu berpura-pura tersiksa di depan Nura agar anak itu percaya bahwa kau datang untuk menyelamatkannya agar semangat hidup Nura kembali lagi, bukan?, Kau sangat kejam sama halnya dengan Yuan. Ou Yatto, Bagaimana reaksi Istriku dan adik iparku jika mereka tahu bahwa kakek merekalah pengkhianat Negara yang sesungguhnya?”