Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 24


__ADS_3

“Sebulan lebih sudah berlalu, yang kulakukan hanyalah berlari dipagi hari dan berenang disore hari. Kecepatan lariku juga sudah jauh meningkat, beberapa hari yang lalu bahkan Shisou sempat melepaskan anjing pelacak untuk mengejarku hingga aku sampai keatas sebuah bukit dekat dengan pagar hutan tanpa kusadari. Itu sih masih mending. Yang lebih parah, Shisou melepaskan seekor buaya didalam kolam renang agar kecepatan renangku semakin meningkat.


Shisou sangat luar biasa tega, tidak peduli selelah apa aku, dia tetap saja memaksa ku menjalankan seluruh aktivitas lari dan renang tanpa melewati satu haripun.


Kadang Shin ji datang menyemangati, tapi tetap saja lelah ya lelah, diberi dukunganpun tetap lelah.


Karena melihat latihan ku sudah semakin meningkat Shisou berencana pindah posisi tempat latih, Tujuan kami selanjutnya adalah Desa Shen 2. Tempat salah satu sekolah kemiliteran terbesar dinegara berdiri. Sekolah dengan penghasil Murid murid berbakat dalam hal berlatih fisik.


Disana, aku bisa berjumpa dengan Orang yang dijuluki dewa perang. Orang yang sangat terkenal diseluruh penjuru wilayah negara bahkan hingga sampai ke pelosok desa. Juga bisa bertemu dengan Putri latih tiada tanding. Salah satu cucu dari ketua klan Shen yang tidak tertandingi kemampuannya oleh wanita wanita lain dinegeri ini.


Senang sekali bila aku bisa bertemu dengan orang orang yang posternya selalu terpampang di gedung gedung tinggi dekat dengan apartemenku. Tapi sebelum kesana, lagi dan lagi. Aku harus berlatih renang untuk terakhir kalinya. Latihan kali ini sungguh akan sangat menyiksa.


Berlatih renang ditengah laut desa Xu 50 sungguh sangat berbahaya. Belum lagi bertemu dengan hewan buas didalam lautan. Shisou sungguh kelewatan dalam melatihku. Tapi ya mau gimana lagi. Aku harus menjadi kuat agar bisa menghindari gangguan dari Shin’A. Beruntung saat terakhir bertemu, dia tidak mengenaliku, jika dia tahu, aku yakin, aku pasti sudah mati.


Kalau dipikir pikir, menurutku lebih baik putra mahkota dibandingkan Shin’A, meskipun kejam, putra mahkota tidak pernah mengganggu orang jika mereka tidak bersalah. Sedangkan Shin’A, dia sungguh keji. Bahkan selalu tega sekali menyakitiku. Aku benci dia, sampai matipun akan kubenci.


Sekarang, aku sedang berada didalam kamar putra mahkota. Untuk pertama kalinya dia melatihku agar berani menatap mata tajamnya. Dia bilang, kalau aku belum lolos ujian tatap mata kali ini. Latihan lari dan renangku akan semakin diperparah. Bahkan putra mahkota mengancam untuk memasukan buaya caiman hitam kedalam kolam renangku, buaya ganas yang bisa mencabik cabik daging tubuh manusia.


Malang nian malang nian malang nian lah nasibku. Tapi mau gimana lagi, aku sudah pasrah. Ntah sejak kapan hati ku sedikit demi sedikit tidak lemah lagi. Kadang tanpa sadar aku berani membantah perkataan putra mahkota. Luar biasa latihan yang kujalani memang. Tapi semua itu sebanding dengan keteguhan hati yang kini kumiliki.”


Zili duduk bersila diatas kasur empuk milik putra mahkota. Dihadapannya putra mahkota juga sedang duduk bersila. Dia menatap kearah kanan dan kiri mencari cari alasan agar tidak memandang wajah putra mahkota sebelum latihan dimulai.


Zili, dengan baju kemeja Putih biasa yang dibeli dari Diskon besar besaran di Pasar Dekat apartemennya, sudah tidak diperkenankan lagi untuk menunduk kepala. Perintah mutlak putra mahkota harus dijalaninya kalau tidak ia akan tidur diluar rumah seperti ketika ia gagal menjalankan misi dari putra mahkota beberapa hari yang lalu karena tanpa sengaja menundukkan wajah.


“Tatap aku” Putra mahkota memulai latihan.


Zili mengambil nafas dalam dalam sembari memenjam sejenak matanya. Perlahan ia membuka mata. Ditatap olehnya putra mahkota dengan segenap keberanian. Sedetik,dua detik,tiga detik.. dalam hitungan ketiga detik jantungnya mulai berdegup kencang tidak karuan. Dua puluh detik kemudian keringat takut mengguyur tubuh Gadis itu. Berkali kali ia mengedipkan mata masih dengan menatap gurunya. Semenit kemudian tubuhnya mulai gemetaran. Takut, itulah yang ia rasakan saat itu. Nafasnya sesak, kepalanya pusing ia merasa tidak sanggup lagi menatap putra mahkota.


Dialihkan pandangannya ketempat lain agar ia bisa mengambil nafas, tapi sayang sungguh sayang. Tangan putra mahkota meraih pipi gadis malang, menekannya agar terus melanjutkan tatapannya. Dua menit masih bertahan tapi tiba tiba.. tubuh gadis malang jatuh tepat dipelukan gurunya. Ia tidak sadarkan diri lagi. Tidak mampu menatap mata tajam sangat menakutkan milik gurunya.


Sehari, dua hari, tiga hari , empat hari, sampai delapan hari telah berlalu. Gadis malang masih terus berlatih. Ia mengira akan segera pindah posisi latih karena sangat bosan dengan suasana desa Xu 48. Yang dilihatnya hanyalah pepohonan, anjing dan buaya. Jika beruntung dia diperbolehkan memanjat pagar mencari cari suasana baru tapi yang selalu ditemui hanyalah sekumpulan babi hutan.


Bahkan ia yang sangat ingin melihat harimau terpaksa harus meminjam ponsel salah satu pelayan demi memandang hewan yang diinginkan dari dalam layar ponsel.


Malam ini seperti biasa, ia masih berlatih memandang gurunya setelah sore tadi berjuang keras berenang menghindari buaya muara yang sengaja diletakkan putra mahkota didalam kolam renang sekitar rumah.


“Kali ini kalau gagal setahun lamanya kau akan berlatih disini”


“Haaa, jangan gitu donk shisou, aku kan juga sudah berusaha”


“Malah melawan”


“Shisou kejam sekali sih”


“Kalau tidak kejam, mana mungkin sekarang kau berani berbicara sambil menatapku”


Perkataan putra mahkota menyadarkan Zili, dia merasa perkataan tersebut sangatlah benar. Hatinya mulai bertanya tanya sejak kapan dia berani berbicara sembari menatap mata putra mahkota. Bicaranya dengan orang dihadapan ia pun semakin hari semakin tidak sopan.

__ADS_1


Zili tersenyum lembut memandang gurunya. Dia yang selalu berakhir tidur diatas kasur lembut sementara gurunya terpaksa pindah kekamar lain merasa sangat senang sedikit demi sedikit dirinya telah berubah.


“Hmm” angguk gadis itu “ shisou, kau luar biasa” Putra mahkota tersenyum tipis hampir tidak terlihat mendengar pujian dari muridnya. Hanya saja, zili tidak sanggup menebak isi hati orang yang saat ini berada dihadapannya.


“Kalau sudah mengerti. Kita mulai lagi latihannya”


Malam penuh dengan kesunyian, tidak terdengar satu suara pelayan pun bahkan jangkrik yang biasa berbunyi serta nyanyian burung hantu karena kamar Pribadi milik putra mahkota memang didesain secara khusus oleh klan Co agar kedap suara.


Nafas Zili sesekali berbunyi. Jam dinding buatan tangan Klan Lu telah menunjukan angka 3 malam. Zili telah berlatih memandang mata Gurunya selama lebih dari 7 jam. Meskipun detak jantungnya masih tidak karuan namun ia tidak lagi pingsan.


“Bagus, kau sudah berhasil” puji putra mahkota melepaskan pandangannya. Zili tampak sangat senang akhirnya bisa pindah posisi rumah. Sedari tadi didalam hatinya memang hanya memikirkan pindah posisi. Meskipun menatap gurunya tapi Zili selalu menyebut kata pindah rumah didalam hati selama lebih dari 7 jam.


“Tidur saja disini, sebagai hadiah karena berhasil menyelesaikan tugas”


“Sungguh?”


“Hm” tanpa menjawab putra mahkota turun dari atas kasur mengantongi kedua tangan pergi keluar kamar.


“Yahooo” seru senang Zili sembari menghempaskan tubuh diatas kasur. Tiba tiba ia teringat dengan remaja laki laki yang telah menyelamatkannya dari kumpulan srigala. Dia merasa aneh karena tidak menemukan remaja laki laki tersebut berada didepan gerbang rumah sesuai janji yang ia katakan kepada Zili sebelumnya.


Dalam hati gadis itu bertanya tanya, bagaimana kabar penyelamat hidupnya.


“Suatu hari pasti akan bertemu” gumamnya dalam hati mengingat teman penyelamat hidupnya.


Sebuah helikopter terbang diatas lautan berwarna biru penuh ombak. Sesekali ombak bergulung naik keatas menegunkan siapapun yang memandang. Di tengah tengah laut terdapat pulau kecil penuh dengan pepohonan. Pantai dipulau itu tampak sangat menawan dilihat dari atas kejauhan. Pasir putih pantai terkadang terhempas air asin lautan.


“Sudah kau pastikan aman?” suara putra mahkota terdengar berada dibelakang Zili yang sedang berdiri gemetaran dipintu helikopter sembari memegang dua gagang besi dikedua sisi pintu. Zili dengan memakai pakaian renang hitam ketat menutupi seluruh bagian tubuhnya akan melakukan latihan renang untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan desa Xu.


Putra mahkota sengaja mengambil waktu disore hari menimbang ombak laut tidak terlalu bergelombang karena air yang surut.


“Sekarang turun” putra mahkota melempar eraphone nya yang langsung diambil oleh salah satu pilot helikopter yang sedang tidak bertugas.”aku bilang padamu, selama aku masih hidup, kau tidak perlu takut dengan apapun dan siapapun”


“Shisou” suara zili gemetaran ketakutan. Perlahan tapi pasti putra mahkota melepas jari jari kedua tangan Zili dari gagang besi samping pintu. “shisoooooooooooooooou” remaja laki laki itu tersenyum lucu yang bahkan senyumannya tidak pernah dilihat oleh kedua pilot yang berada didalam helikopter sesaat setelah ia mendorong zili jatuh.


Dengan segera ia mengambil langkah lompat dan menjatuhkan tubuhnya setelah melihat murid yang ia telah latih berada diatas udara.


“Byuuuuurrrrr” tubuh gadis malang jatuh tepat dipertengahan laut. Ia dengan segera mengayun kan kaki serta tangan bergegas berenang menuju tepian laut.


“Byuuuuuur” tubuh putra mahkota jatuh kedalam air laut. Ia memandang muridnya sedang berusaha berenang mati matian melawan derasnya ombak lautan.


“Lambat” ejek putra mahkota setelah berada disebelah Zili yang masih kesusahan. Gadis malang tidak peduli, yang ia pikirkan saat itu adalah bertahan hidup.


Jarak antara Zili dan pantai semakin dekat, ia memandang gurunya telah berbaring santai ditepi pantai sembari meletakan kedua tangan diatas kepala menatap keatas langit menunggu kedatangan Muridnya.


Tiba tiba sesuatu menarik kakinya masuk kedalam laut. Permukaan tidak lagi tampak. Zilk hanya bisa berusaha mangulurkan tangan memohon bantuan siapapun itu.


“Shi....s....” tubuhnya masuk hingga jauh dari permukaan. Lemah dan lemas ..dia melihat seekor kaki gurita tengah menarik tangannya. Pandangannya pun mulai kabur.

__ADS_1


Putra mahkota dengan teramat khawatir menarik tangan Zili dan berhasil memeluknya. Kaki kuat gurita bahkan mampu ikut serta naik karena tarikan Tangan putra mahkota yang begitu kuat. Dipandang oleh remaja laki laki itu, Kapal selam yang tidak jauh darinya hanya diam tidak menolong muridnya ketika dalam bahaya.


Dibawa olehnya kaki Gurita yang masih memeluk kaki Zili kepermukaan air laut hingga sampai kepantai. Putra mahkota dengan emosi meluap luap melepaskam kaki gurita dari kaki gadis malang, membela dengan tangannya, lalu setelah putus ia menendang hewan yang terlihat takut hingga terpental masuk kepertengahan laut.


Zili tengah tidak sadarkan diri. Berkali kali nafas buatan dihembuskan dari mulut putra mahkota kedalam mulut gadis malang yang telah hampir mati.


“Uhuk..uhuk” air laut kaluar dari mulut gadis malang itu. Dengan lemas ia telah berada dipelukan gurunya.


“Shisou, aku sudah mati ya”


“Bodoh, mana mungkin aku biarkan kau mati”


“Tapi tadi ada gurita menarik kakiku” zili memandang potongan kaki gurita masih bergerak gerak di bawah kakinya.


“Guritanya sudah pergi, kan aku sudah bilang, kau tidak perlu takut selama aku masih hidup”


“Shisou”


“Apa”


“Terima kasih ya”


“Hmm.. tidak perlu” Putra mahkota tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari Muridnya.


Sore hampir berlalu, dipandang oleh kedua remaja tersebut matahari terbenam memancarkan cahaya berwarna jingga. Indah, itulah yang sedang terpikirkan oleh gadis yang tengah dipeluk oleh gurunya sembari menatap matahari yang perlahan lahan menghilang dari langit. Saat itu Mereka sedang menunggu bantuan datang.


“Kusuruh tangkap malah mau mereka bunuh” maki suara dari dalam ponsel milik seorang pelayan dari keluarga Xu yang berada disebrang pantai pulau tempat Xu’i dan Zili berada.


“maaf yang mulia”


“Bunuh mereka.”


“Segera saya laksanakan, tapi yang mulia, tampaknya putra mahkota sangat melindungi gadis itu”


“Heeemmmmm,, jadi ingin memilikinya”


“Apa perintah selanjutnya yang mulia”


“Tidak ada, aku merasa sangat tertarik dengan wanita dambaan Xu’i. Untuk kedepannya biar aku saja yang turun tangan secara langsung”


“Baiklah yang mulia”


“Ddddddoooooooom” suara ledakan dari dalam laut mengejutkan Xu’i dan Zili serta orang orang didalam kapal yang tengah menjemput kedua pasangan suami istri dipantai pulau pertengahan laut desa Xu 50 tersebut.


Beberapa saat kemudian, kapal selam yang tadinya bertugas mengawasi keadaan Laut saat Latihan renang dilaksanakan telah muncul dengan bara api yang besar dipertengahan laut.


Xu’i menggertakan gigi geram, ia telah mencium tanda tanda mencurigakan. Pandangannya tertuju kepada Zili yang lagi lagi tengah ketakutan. Xu’i, sang putra mahkota saat itu telah sadar, bahwa Muridnya sedang berada dalam bahaya yang besar.

__ADS_1


Kapal pesiar bergerak menuju kapal selam yang telah tebakar setelah berhasil menjemput putra mahkota dan istrinya. Di lihat oleh mereka, tidak tampak lagi tanda tanda kehidupan manusia didalamnya. Mereka bahkan sempat menemukan potongan kain Pakaian yang terakhir kali dipakai oleh pengemudi kapal selam.


Tubuh mereka hangus terbakar tidak tersisa. Semua orang tidak menyangka kapal selam buatan klan Co telah terpasang Bom peledak didalamnya.


__ADS_2