Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Pilihan Kematian


__ADS_3

Di Ruang makan itu, berkumpul semua para tamu,


Tidak ada pelayan dan juga awak kapal lain atau bahkan Kapten, Pemimpin pelayaran sekalipun.


Di Ruang makan itu juga, Hampir semua orang memandangi Zili dan menunggu jawaban dari gadis itu, tetapi sayang, gadis itu tidak juga membuka suara.


Ia ingin sekali mengakui kesalahannya, namun dia takut hal tersebut malah akan mempermalukan Putra Mahkota di hadapan Pemilik kapal di depannya. Walaupun sebenarnya, hati gadis itu tidak sanggup lagi untuk terus menerus menyimpan kebohongan tersebut.


Bagaimana jika orang lain menjadi dirinya? Apa yang akan mereka lakukan di situasi menegangkan yang ia rasakan?


Pikirnya.


Maka, Yang dia lakukan hanyalah tetap membiarkan saja dirinya untuk tetap diam agar Putra Mahkota yang cerdas menurut pandangannya bisa mengetahui dengan sendirinya perbuatan keji yang telah ia lakukan selama ini di belakang laki-laki tersebut.


Tidak lagi terpikirkan olehnya untuk tetap hidup bersama laki-laki tersebut karena sebagai Seorang Putri Mahkota, dia telah melakukan Pengkhianatan besar yang mungkin tidak dapat terampuni.


“Tanpa Nama, Kenapa kau diam saja?”


Tidak menjawab juga meskipun ingin sekali ia menjawab pertanyaan dari Putri Keagungan yang selama ini telah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri.


Dia sungguh, benar-benar menginginkan gadis di sampingnya tersebut untuk menjadi sahabatnya meskipun belum tentu gadis tersebut menginginkan Zili untuk mendekatinya.


Putra Mahkota mulai meraih tangan Zili, “Dia sedang tidak ingin berbicara, jadi biarkan saja.” Ucap laki-laki itu bernada sedikit menekan lalu menarik tangan Zili untuk ikut bersamanya turun dari atas kapal.


Wuuuuzzzzz...


Angin laut mulai terasa menerpa tubuh,


Keteepppaaaaakkkk...


Poooommm pooommmm..


Suara kapal bercampur ombak dengan cepat berlalu menghilang terbawa arus angin.


Sungguh, Pemandangan yang menakjubkan.


Karang-karang berwarna-warni di dalam laut yang sedikit dangkal terlihat menganggumkan mata yang melihatnya dari atas tangga bertingkat.

__ADS_1


Satu lantai telah berhasil di lewati, lalu menurun ke lantai kapal lainnya.


Kapal Pesiar pribadi tersebut memang memiliki beberapa lantai. Untuk menuju ke daratan, mereka yang berada di lantai paling atas kapal harus melewati beberapa tangga luar lainnya sembari melihat-lihat Paronama keindahan lautan di samudra pasifik yang begitu menakjubkan.


Terus berjalan hingga langkah mereka berhasil menapak di atas pasir pantai tepi lautan,


“Berpencar!” Putra Mahkota mulai memberikan Perintah untuk menemukan makam Claya yang membuat semua orang tertarik untuk menemuinya sembari melepaskan tangan Zili dan membiarkan gadis itu berdiri sendirian.


“Sayang,” Teriak Putri Kelincahan dari kejauhan begitu senang melihat Putra Mahkota, gadis itu mulai berlari menghampiri laki-laki tersebut.


Sungguh, Zili bahkan mulai merasakan sakit karena hatinya yang cemburu namun apa daya, jika dia sendiri saja bahkan telah berkhianat dengan laki-laki lain.


“Hm,” Sebuah tangan menepuk salah satu bahu Zili hingga membuat gadis itu sontak terperanjat terkejut, tetapi setelah menyadari bahwa si Penepuk bahu adalah Pangeran Istana, gadis itu mulai menundukan kepala kembali sesekali melirik Punggung Putra Mahkota yang telah di kelilingi semua teman-temannya dan hari itu gadis tersebut kembali merasa kesepian seperti dia di masa lalu. “Jadi Suamimu lainnya yang telah menggigit lehermu di Sekolah Pertanian waktu itu?hmm..” Pandangan hina tertuju pada gadis itu, begitu hina hingga Pangeran istana bahkan mulai mengelap tangan yang memegang bahu Zili dengan sapu tangan miliknya kemudian membuang sapu tangan tersebut tepat di depan gadis yang masih menudukan kepala itu dan benda tersebut jatuh di kaki gadis yang mengenakan sepatu berhak tinggi.


Laki-laki itu mulai pergi meninggalkan Zili dengan kekecewaan yang mendalam, sangat dalam hingga ia mengepalkan tangan teramat marah karena wanita yang masuk ke dalam hatinya ternyata adalah wanita pengkhianat dan tidak tahu malu, Pikirnya.


“Tanpa Nama,” Suara Putri Keagungan terdengar, gadis itu hanya diam menahan rasa sakit atas kesalahan yang diperbuatnya sendiri. “Tanpa Nama.” Panggil Putri Keagungan lagi, sepertinya dia tidak menyerah begitu saja untuk mendengar jawaban Zili. Dengan cepat ia mulai memegang tangan Zili, “Tanpa Nama, yang tadi, aku sungguh minta maaf, aku benar-benar merasa bersalah karena telah berkata kasar kepadamu.” Ucapan Putri Keagungan sontak membuat Zili menoleh dengan aliran air mata membasahi pipi, “Maafkan aku.”Putri Keagungan mulai ikut menangis karena dirinya merasa sangat bersalah dan berpikir bahwa Zili menangis karena sikap kasarnya. “Ucapanku pasti sangat menyakitkan, iyakan?”


“Hmm,, bukan karena..


“Tidak mau,” Balas teriak Putri Keagungan, “ Ayo,” Lalu mengajak Zili tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepala, menolak ajakan Putri Keagungan yang mulai kecewa lalu menghapus air mata, melepaskan tangan Zili karena merasa sangat bersalah.


“Xu’i memberi Perintah.” Teriak Putri kelincahan lagi dari kejauhan, kini mereka semua telah masuk ke dalam Pulau di sana.


Dengan terpaksa, Putri Keagungan membiarkan Zili yang telah menghapus air mata, sendirian. Meskipun berat, gadis itu lebih mengutamakan perintah Putra Mahkota dibandingkan dengan keinginan hatinya sendiri selama ini.


Sayup-sayup angin menggerakan gaun bagian bawah selutut kaki yang Zili kenakan, Gaun berwarna biru itu, sebiru air di lautan.


Dia berusaha tetap tegar hingga seseorang telah datang menghampiri.


“Aku diperintahkan untuk pergi bersamamu mencari makam Claya, Yang Mulia”


“Yang Mulia?” Sontak Zili terkejut mendengar suara sopan laki-laki yang ia kenali namun ia rasa suara tersebut sedikit terdengar berbeda.


“Tuan,”


“Ahh ,Shi An saja, aku mohon, Karena Putra Mahkota ada di sini.” Pinta laki-laki tersebut mulai melangkah kaki namun tidak dengan Zili, “ Aku mohon, jangan mempersulitkanku, Yang Mulia.” Pinta laki-laki itu lagi mengejutkan Zili. Dengan berat hati, gadis tersebut mulai melangkah mengikuti Pengawal Putra Mahkota tersebut untuk masuk ke dalam Pulau yang di penuhi pepohonan yang lumayan tinggi dan tumbuh- tumbuhan yang menjalar.

__ADS_1


Terus melangkah, hingga kaki mereka terhenti tepat di depan sebuah danau di bawah bukit kecil.


Haaa..


Sontak Zili terkejut ketika lengannya tertarik tangan seseorang,


Shin’A,


Gumamnya dalam hati karena mengetahui bahwa orang yang selalu menariknya dengan paksa adalah Pangeran Istana,


Segera ia melepaskan tangan yang mencengkram erat lengannya itu tetapi sayang, setelah ia menoleh kepala, “Shisou.” gadis itu terkejut dan tak percaya. “Shiso..


Bertambah terkejut ketika Putra Mahkota telah menodongkan Pistol ke arah Pengawal Rahasianya.


“Bukankah aku sudah bilang akan membunuh Pengkhianat yang berani berselingkuh denganmu di belakangku?” Ucapan Putra Mahkota membuat Zili sontak ketakutan, lalu dengan segera melepaskan genggaman tangan Putra Mahkota namun tak juga mampu melakukannya.


“Aku yang salah, aku saja yang harusnya di bunuh, Shisou, aku yang salah..” Teriak Zili sembari menangis ketakutan siang itu.


“Dengar Zili, Antara dia dan keluargamu, mana yang akan kau pilih?”


“Apa?” Pertanyaan Putra Mahkota semakin mengejutkan gadis itu,


Gadis itu hanya bisa melihat pemilik Apartemen berdiri pasrah akan kematiannya.


“Jika aku harus membunuhmu maka keluargamu juga akan ikut serta terbunuh karena perbuatanmu, tapi jika kau ingin dia yang mati, maka aku akan memaafkanmu dan akan melupakan semua perselingkuhanmu.” Jelas Putra Mahkota memberikan pilihan yang sangat sulit untuk gadis itu.


“Aku yang salah,” Aliran air mata mulai jatuh membasahi pipi, “Aku yang salah kenapa kau harus membawa keluargaku dalam kesalahan yang kuperbuat.” Ucap gadis itu masih berusaha berbalik memandang Putra Mahkota tetapi genggaman kuat laki-laki tersebut membuat Zili tetap berada di posisinya.


Doooorrrr....


“Tidak ada pilihan lain.”


“Tuaaaannnn, Tuaaan...”Teriak Zili keras ketika peluru telah tertembak tepat di hati Pengawal rahasia Putra Mahkota dan tubuh laki-laki tersebut jatuh menggelinding menuruni bukit. “ Tuan, lepaskan Shisou, lepaskan.” Bentak Zili keras, berusaha melepaskan genggaman Putra Mahkota yang telah memaksanya pergi dari tempat tersebut. “Tuaannn, aku yang salah, shisou hiks, aku yang salah..” Gadis itu mulai menangis meronta-ronta.


Namun Putra Mahkota bersikeras membawa Zili segera pergi meninggalkan Pulau tersebut.


“Shisou,, Aku mohon selamatkan dia, Shisou,, Shisou, aku yang salah, harusnya aku saja yang mati.” Teriak Zili terus menerus hingga leher belakangnya menerima pukulan keras Putra Mahkota dan gadis itu kini tak lagi sadar diri.

__ADS_1


__ADS_2