Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 37


__ADS_3

"Pahamilah perasaanku, siapa saja, siapa saja, aku mohon. Mengapa harus aku? Aku bahkan sudah menandatangani surat cerai namun.. hiks.. namun shisou tidak mau bercerai. Dia membutuhkanku agar bisa dekat dengan ratu yuanna. Terus salahku dimana lagi! Dulu aku tidak pernah merasakan apa itu namanya teman lalu setelah itu aku selalu dijahili. Aku bahkan sering menahan lapar karena bekal dan uangku diambil orang.


Lalu mengapa? Mengapa sekarang setelah kupikir semuanya telah berakhir, dia datang lagi. Dia menggangguku lagi. Bahkan setelah aku menikahi orang lain, tidak berhubungan dengannya lagi. Dia.. dia masih saja.. kapan aku bahagia. Tolong lah ... sedikit saja biarkan aku bahagia.


Hanya shisou,kalau pun mati. Biarkan aku melihat shisou untuk yang terakhir kalinya! Sungguh dialah satu satunya orang yang pernah percaya padaku.. hiks hiks" air mata Zili menetes melewati pipi jatuh keatas lantai keramik mewah berwarna putih kebiru biruan.


Berkali kali ia memukulkan sebuah kursi kayu tempat Shin'A duduk sebelumnya ke kaca jendela kamar sekuat tenaga.


"Aku mohon aku mohon pecahlah" gumamnya. Ia tetap berusaha tanpa menyerah. Kekhawatiran kedatangan Shin'A terus menerus menyelimuti hatinya.


*******


Sebuah lorong yang menghubungkan antara gedung SMP dengan SMA terletak di lantai dua sekolah high raise.


Suara Ricuh murid murid sekolah meramaikan suasana makan siang hari itu. Berkali kali beberapa murid yang hendak berjalan menuju ke Gedung Smp ataupun SmA terpaksa kembali melihat pemandangan didepan mata mereka.


Zili berdiri dengan menundukan kepalanya, seragam SMP yang dikenakan telah kotor terkena tepung karena gangguan beberapa murid dikelasnya saat pelajaran praktek tata boga dilaksanakan.


"Ibu, dia mengundangmu makan malam dirumah."


sHin'A yang sedang mengantongi kedua telapak tangannya menatap kesal kearah Zili yang bahkan tidak memandangnya.


Zili baru saja keluar dari kelas tata boga, ia yang ingin pergi menuju toilet gedung SMA untuk membersihkan diri karena toilet tersebut lebih dekat dengan kelas Tata boga tanpa sengaja bertemu dengan pangeran istana Dilorong Penghubung.


Zili menganggukan kepalanya, lalu melangkah pergi tanpa melihat Shin'A.


"Tunggu"


langkah kakinya terhenti tepat disamping shin'A. Ia memutar tubuhnya. Melihat kesumber suara yang memanahan kepergiannya.


"Ayya" ucap Shin'A dengan senyuman senang.


"Kau mengerjainya lagi, sudah kubilang berapa kali.. aduh, shin'A. Kenapa kau bisa sekejam ini sih"


"Bukan aku, sungguh ayya bukan aku yang mengotori pakaiannya"


"Benarkah?" tanya gadis remaja yang dipanggil ayya tersebut kepada Zili dengan mendekatkan wajahnya ke wajah zili.


Zili menganggukan kepala perlahan.


"Ayya, sudah tinggalkan saja dia, ayo kita kekantin? Hari ini Xu'i datang kesekolah loh. Kudengar sekarang dia ada dikantin khusus"


"Benarkah?"


"Hm. Kapan aku pernah bohong padamu?"


"Tapi seyin..."


"Seyin? Apakah kau cemburu?"


"Mana mungkin.. aku pikir dia akan marah kalau aku dekat denganmu"


Wajah senang Shin'A berubah menjadi sedih. Senyuman pahit tersungging dibibirnya.


"Mana mungkin. Kau kan bibiku,..bibi" ledek shin'A.


"Aahh shin'A, jangan panggil gitu dong, "


"Bibi.. bibi .. bibi" shin'A dengan cepat berlari meninggalkan zili dan Ayya yang masih berhadapan.


"Iiiiihhhh shin'A" dengan kesal Ayya mengejar anak kakak laki lakinya yang berbeda ayah. Mengikutinya tanpa menghiraukan Zili yang sedang berdiri menahan sedih.


Sedih karena tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan wanita tercantik nomor satu tingkat remaja di negara NC tersebut.


Dan merasa iri serta cemburu dengan gadis itu yang menurut ia memiliki segalanya. Wajah cantik, ketenaran, kecerdasan, teman, serta keluarga yang selalu berada disampingnya.


******


"Prraaaaankkk" suara pecahan kaca terdengar keras.


Beberapa serpihan kaca jatuh keatas lantai. Tanpa basa basi. Zili terus memperlebar pecahan kaca jendela yang telah pecah membentuk lubang hingga tubuhnya mampu keluar dari nya meskipun serpihan kaca dilantai melukai kakinya. Dan sesekali menggores tangan yang sedang menggenggam kaki kursi.


Dirasa telah cukup. Dengan cepat Zili melangkah keluar. Dilihat olehnya balkon dengan pagar dinding setengah mengelilingi.


Ia naik keatas pagar yang tidak terlalu tinggi tersebut. Dipandang olehnya, ombak bergulung ditengah laut.


"Aku mohon, biarkan aku jatuh kelaut. " gumamnya dalam hati.


"Berhenti" teriak Shin'A telah masuk kedalam kamar.


Zili menoleh sekilas, lalu tersenyum kearah shin'A.


"aku sangat membencimu" ucapnya. Ia lalu menjatuhkan dirinya kebawah. Bersiap siap untuk berenang.


"Shisou, terima kasih telah mengajarkan ku segalanya. Ntah aku bisa lolos dari kematian ataupun tidak. Aku tidak peduli. Yang terpenting. Aku tidak lagi dekat dekat dengannya" gumam Zili dalam hati ketika tubuhnya telah berada diudara.


"Byuuuur"

__ADS_1


"Cari sampai ketemu" perintah panik shin'A.


*****


Putra mahkota berjalan keluar ruangan khusus gedung militer desa shen 2 setelah menyelesaikan beberapa masalah.


Pintu ruangan hampir tertutup. Terlihat seorang gadis sedang terbaring miring dengan darah berkali kali keluar dari mulutnya.


Ia sedang menahan rasa sakit yang tidak terkira diperutnya. Dia mengerang namun masih bisa tersenyum kecut. Dibuangnya darah yang masih tersisa didalam mulutnya kearah lantai didepannya. Dan pintu pun tertutup.


"Shi ra" ucap ketua klan Shen panik langsung menyerbu ruangan tersebut setelah Putra mahkota telah pergi menjauh.


Putra mahkota telah diikuti oleh dua orang sahabatnya serta beberapa jendral tinggi negara NC.


Langkah kakinya terhenti, setelah seorang tentara berpangkat rendah datang menghampirinya dengan sebuah dokumen ditangan yang ditujukan untuk putra mahkota.


Remaja laki laki itu mengambilnya. Lalu tersenyum kecut.


"Tidak berguna" ucapnya sembari melempar dokumen tersebut kewajah tentara didepannya.


"Minggir"


Dengan cepat, tentara tersebut menyingkir dari jalan putra mahkota. SHin ji berhenti mengikuti langkah kaki putra mahkota. Dia mengambil dokumen yang telah di bungkus dengan map berwarna merah.


"Surat cerai" gumamnya dalam hati setelah mendapati barang tersebut. Dia juga menemukan sebuah surat. Lalu membacanya perlahan.


"JIKA INGIN PUTRI MAHKOTA SELAMAT. BERCERAILAH DENGANNYA" isi surat didalam map tersebut. "hm" Shin ji tersenyum kecut " tidak berguna" ia lalu melemparkan dokumen yang ia pegang kebelakang. Tanpa peduli lagi. Ia mempercepat langkahnya mengikuti putra mahkota.


*******


"Haaaaaa.... haaaaa..." sesak,sulit mengambil nafas . Itu lah yang dirasakan Zili. Setelah berjuang keras melawan gulungan ombak lautan, gadis itu kini terdampar dipinggir pantai.


Sangat beruntung sekali. Ia tidak mendapati hewan buas didalam lautan. Hanya kumpulan ikan Kembung berenang bersamaan menemaninya.


Ia selamat, namun belum merasa lega. Setelah mampu bernafas normal. Ia yang sedang terbaring telentang diatas pasir putih harus segera pergi memasuki hutan. Mengingat tidak mungkin dengan mudah Shin'A akan melepaskannya.


Dia mengambil nafas terakhir sebelum berdiri dalam dalam. Setelahnya, dengan sempoyongan. Zili berjalan gontai memasuki hutan bakau.


Kaki yang tidak bersandal, dipenuhi beberapa luka kadang sangat menyakitkan baginya. Bahkan membuat langkah kakinya tidak sanggup berjalan cepat.


Hutan bakau telah ia masuki. Terkadang, terlihat beberapa kepiting besar sedang bersemayam ditempatnya. Ingin sekali Zili menangkap, namun situasi tidak memungkinkannya.


Diwilayah mana, ia tidak peduli. Yang paling penting saat ini ia selamat.


Zili terus berjalan diatas akar akar pepohonan tembakau, kadang terpaksa merangkak karena lebatnya rating rating pepohonan tersebut dan kadang merunduk menghindari ranting pohon.


Suara percikan kubangan air terkadang juga terdengar hingga ketelinga. Gadis itu merasa sangat lelah. Dia berhenti sejenak, duduk di atas tanah hitam lengket hingga mengotori seragam sekolah shen.


Dia terus berjalan sempoyongan, terus berjuang hingga akhirnya keluar dari hutan bakau, memasuki hutan rimba. Tempat yang paling bahaya telah dimasukinya.


Pepohonan pendek hutan bakau telah dilewati. Saat ini, pepohonan tinggi dengan rerumputan tebal telah ia masuki.


Zili tersenyum pahit. Mendapati sebuah ular sedang melilit tidak jauh darinya. Dengan cepat ia menghindar meskipun tubuhnya terasa berat.


Dia terus berjalan. Menyingkirkan rerumputan tinggi sepinggang yang menghalangi jalannya. Tidak terlihat jalanan setapak kecil disana. Dapat ditebak, itu berarti hutan tersebut tidak pernah dikunjungi manusia.


Lagi zili tersenyum pahit. Dengan bibir bawah digigit. Ia merasakan takut setengah mati hingga berkali kali muntah saat melihat tapak kaki harimau atau hewan sejenisnya diatas tanah.


"Apa hidupku akan berakhir disini?" gumamnya dalam hati. Tidak lagi memiliki tenaga untuk berlari jika harimau ataupun hewan buas lainnya menemukan dia.


"Cari disana?" Suara teriakan orang semakin menakuti Zili. Perasaan takut bertemu manusia lebih besar dibandingkan bertemu dengan binatang buas.


Bawahan Shin'a kini telah dekat. Dengan usaha keras, zili menghindari sumber suara. Terus berlari sekuat tenaga yang ia bisa. Hingga perasaan takut menghilangkan rasa lelah.


Tetesan air mata jatuh keatas rerumputan. Terkadang daun daunan tajam menggores telapak kakinya yang telah luka. Membuat luka baru diatas luka lama.


Perih, sakit, takut, lelah, sedih, khawatir . Perasaan buruk bercampur aduk menjadi satu. Zili terus berlari.


"Akkkh" dia menabrak seseorang.


"Kau... "


Dia membelalak mata. "haaa...haaa..haaa"


"Shin'A"


"Mana mungkin kau bisa lari dariku"


"Aaaaaahhhh" dengan kesal ia menyerundukan kepalanya kearah perut shin'A. Mendorong remaja laki laki itu sekuat tenaga. Hingga ia jatuh keatas tanah.


"Kau... kejar dia" perintah shin'A saat zili telah berlari sekuat tenaga.


Zili terus berlari.. terus berlari..


"Doooooor" suara tembakan terdengar dekat..


"Dooooor" kali ini peluru telah melesat kearah betis kaki gadis itu.

__ADS_1


"Hikks..kenapa aku" zili jatuh tersungkur. Kakinya berdarah. Rasa sakit luar biasa kini ia rasakan.


"Kenapa kau menembaknya" teriak Shin'A lalu menendang kaki bawahannya. Ia terlihat sangat marah. Bahkan sampai memukul wajah bawahannya dengan kepalan tangan.


Dengan menggeret kakinya. Zili tetap berdiri. Berjuang untuk melepaskan diri. Dia berusaha keras berjalan.


"Aku mohon.. selamatkan aku tuhan" gumam gadis itu dengan suara ringkihan menahan sakit.


Dia terus berjalan pincang. Darah mengalir keluar dari betisnya.


Langkah kakinya terhenti. Dia pasrah dan menyerah. Karena sebuah jurang telah menghalanginya untuk terus berjuang.


"Lagi. Hidupku memang tidak pernah beruntung" dia menggigit keras bibir bawah hingga berdarah. Dipandang olehnya, shin'A telah berjalan cepat mendekatinya.


"Berani sekali kau lari" teriak shin'A dari jauh.


"Hahahahah" untuk pertama kalinya zili melepaskan tawa. Tawa senang melihat wajah kesal shin'A. "kukatakan padamu, aku akan terus lari darimu. Aku tidak sudi mencintaimu. aku bahkan tidak pernah mau berada disampingmu. Karena.. selama hidupku. Aku takut dekat dengan mu" Zili memasrahkan dirinya.


Menjatuhkan diri kebawah jurang yang penuh dengan ranting ranting karena pepohonan tumbuh menyamping dari dalam bukit.


"Berhenti" teriak shin'A dengan lari cepat mencoba menyelamatkan Zili namum gadis itu telah menghilang.


Rasa sakit tidak lagi terkira. Tubuh zili terhempas batang pohon. Dia mencoba menggenggam beberapa ranting namun tangannya tidak lagi berkuasa.


Ia tidak bertenaga. Genggaman tangannya terlepas. Ia lagi lagi terjatuh terbentur diatas ranting pohon lainnya. Kaki nya terkadang menapak diatas batang pohon. Namun licin. Ia tidak mampu menyeimbangkan tubuh. Dan lagi lagi terjatuh.


Zili pasrah. Tidak mampu bergerak. Bahkan hanya sekedar untuk menggerakan tangannya.


Dilirik kebawah. "haaa aku akan mati" ia melihat bebatuan besar dan tajam telah bersiap siap menunggu kedatangannya.


" ayah , ratu yuanna, ibu nana, ayah idris, raja shin .... Shi.....hiks... shisou" gumamnya dalam hati dengan tetesan mata terjatuh diudara. Zili menutup mata bersiap siap mendarat keatas bebatuan."selamat tinggal"


"Aku menemukannya?"


"Kerja bagus yuhan"


"Tapi kakak, jangan beritahu Xu'i tentang keberadaannya"


"Kenapa?"


"Haaaah xu'i"


"Kenapa tidak jawab?"


"Baru saja aku bicara dengan kakak, sekarang ponselnya sudah kau kuasai"


"Kenapa tidak jawab?"


"Baru saja aku bicara dengan kakak, sekarang ponselnya sudah kau kuasai"


"Memalukan"


"Aku tidak peduli, aku yang menemukannya, akulah yang memilikinya"


"Terlalu besar harapan. Aku saja sudah mengetahui keberadaanmu"


"Xu'i" panggilan telah tertutup. Dengan kesal remaja laki laki itu membanting ponselnya.


*****


Disebuah ruangan besar. Dengan suasana menegangkan. Idris tersenyum kecut memandang kepergian putranya. Ia bersama dengan Rein dan Shin ji dengan langkah cepat keluar dari ruangan yang telah dipenuhi dengan para petinggi klan shen terdiam terpaku.


"Yang mulia, kemana tujuan kita?"


"Shen 50"


Suara putra mahkota mengakhiri pandangan idris untuk memandangnya. Ia lalu tersenyum pahit melihat seluruh anggota bawahannya dari klan shen didepan mata.


"Aaaah.. kalian, bisa bisa nya selalu saja mencari masalah" keluh pria separuh baya tersebut lalu mengambil posisi duduknya.


*****


Zili melayang diudara. Perlahan lahan tubuhnya mulai mendekati tanah.


"Baaak"


"Uhhh.. ringan sekali"


Tanpa mampu bergerak lagi, zili berusaha keras membuka mata.


"Haaa"


"Yahooo, wanita dambaan putra mahkota. Kita bertemu lagi"


"Kau..." air mata zili keluar deras jatuh keatas bebatuan. Tubuhnya telah mendarat diatas kedua lengan tangan seorang remaja laki laki yang dulu juga telah menyelamatkannya dari kumpulan srigala.


Disaat mendesak, disaat ia telah pasrah dari kematian. Lagi, untuk kedua kalinya, dia telah menyelamatkan hidup Zili.

__ADS_1


Merasa lega, zili yang tidak mampu lagi menahan segala rasa, ia telah menutup mata tanpa sadar meninggalkan tidur Remaja laki laki yang tersenyum senang memandang lega kearah zili yang berada dikedua tangannya.


Ia lalu berjalan cepat meninggalkan sungai kecil yang dipenuhi bebatuan granit disekitarnya.


__ADS_2