Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
ATB, My majesty 35


__ADS_3

Suara keramaian sekolah SD high raise saat saat waktu makan siang telah tiba terdengar memekik hingga ketelinga.


Terkadang suara nyanyian cempreng berserentak menambah ketidaktenangan kebanyakan orang yang mendengarnya.


Suara tangisan murid murid Kelas satu yang baru saja masuk sekolah pun ikut meramaikan suasana Sekolah pagi menjelang siang hari itu.


Seorang gadis kecil dengan rambut diikat dua tinggi kesamping sedang duduk membaca buku Pelajaran SD bahasa NC.


Sepanjang sekolah, setelah menghabiskan bekal yang dibuatkan Pelayannya, ia selalu saja menghabiskan waktu istirahat makan siang nya dikelas dengan duduk sendirian tanpa seorangpun yang menemani.


Gadis kecil yang tidak lain adalah Zili telah berada dikelas Tingkat 3 sekolah dasar high raise. Meskipun ia terkenal dengan kecerdasannya dan mampu menyelesaikan ujian dengan cepat dan memperoleh nilai sempurna, ia tidak juga diberi kesempatan untuk masuk kekelas khusus disekolah tersebut.


Baginya tidak masalah, ia sudah terbiasa. Yang paling terpenting dalam hidupnya saat itu disekolah, ia tidak bertemu dengan pangeran istana yang akan membuatnya berada dalam masalah besar.


Terlebih sudah sebulan berlalu, ia tidak lagi menerima pembulian dari murid murid kelas khusus karena selalu menyembunyikan diri dari pandangan Tunangannya.


Hanya memandang, ataupun bertemu secara tidak sengaja, Shin'A sudah tampak sangat membenci Zili, ia yang tidak suka melihat gadis kecil itu lalu secara sengaja memerintahkan bawahannya untuk menjahili gadis tersebut.


Terakhir kali, masalah yang ia terima sampai dampai harus mengorbankan Tas yang baru saja dibeli ayahnya, tas tersebut terpaksa menjadi korban kerusakan oleh para bawahan pangeran istana hanya karena tanpa sengaja bertatap mata dengan anak laki laki tersebut saat hendak membeli minuman dikantin sekolah.


"Baaaak"


"krantang"


Suara gebrakan meja serta kaleng tempat penyimpanan alat alat tulis milik Zili terjatuh diatas lantai.


"Sekarang apa lagi?" gumam zili dalam hati menggertak gigi geram melihat seorang gadis kelas khusus dengan usia yang sama datang ingin mencari masalah dengannya.


Terlebih lagi gadis kecil itu adalah sepupunya sendiri, Zin ziya, anak pertama dari kakak ayahnya, zin Zilan. Seorang anak yang telah dipilih sebagai Putri Kebanggaan Klan Zin secara langsung oleh kakek mereka. Zin zidan, karena menduduki posisi ketua klan dari klan Zin.


Ziya mengenakan seragam kelas Khusus, berwarna putih dengan tali merah di bagian pertengahan seragam tersebut dan lambang kelas khusus berbentuk Pin bergambar bintang.


Rambutnya terurai panjang sepinggang dengan bando hijau diatas kepala dan dua buah Kepangan rambut kecil tergulung dikedua sisi kepalanya


"Kau, anak miskin. Jangan buat aku malu donk" bentak Ziya seenaknya.


"Apa sih mau mu, mana pernah aku buat malu"


"dengar, aku tidak mengakuimu sebagai sepupuku. Bisa bisa nya kau merebut pangeran istana dari tangan Seyin. Buat malu saja"


"Kau ini bicara apa sih?"


"Kau tidak dengar ya, pangeran Shin'A sendiri yang bilang kalau dia terpaksa menerima pertunangan kalian karena kau dekat dengan Ratu, padahal dia tidak menyukaimu"


"Astaga"


"Kau mau buat malu klan Zin ya. Hanya karena kau dekat dengan ratu, kau tidak boleh seperti itu. Aku sangat malu punya saudara sepertimu"


Ziya yang kesal mengambil buku dari tangan Zili. Ia menghempaskannya ke lantai lalu menginjak injak buku tersebut.


"Itu buku berhargaku" teriak zili mendorong Ziya jatuh keatas lantai saking tidak tahan melihat sikapnya.


"Kau berani mendorongku haaaaa...." ziya menangis melihat telapak tangannya berdarah. Ia berdiri dengan cepat lalu mendorong zili masih dengan menangis terisak isak.


Dengan geram Zili berdiri lalu menjambak rambut panjang ziya saat itu.


Suasana kelas tiba tiba ramai dan ricuh menyaksikan pertengkaran kedua saudara sepupu tersebut. Beberapa guru datang untuk menghentikan pertengkaran mereka.


Rambut Zili dan Ziya teracak acak. Ikatan rambut yang telah dibuat rapi oleh pelayan zili terlepas berantakan. Ia menangis sejadi jadinya, merasa sangat sedih dengan perilaku saudaranya sendiri.


****


Sebuah Mansion bercat putih berada tepat dibukit atas laut. Mansion yang terdiri dari dua tingkatan lantai pagi itu terlihat sangat menganggumkan bagi mata yang memandang.


Sebuah kaca jendela berbentuk pintu terlihat tertutupi sebuah gorden dari dalam. Sebuah balkon dengan beberapa kursi kayu serta meja kayu dengan sebuah pot berisi bunga berwarna merah diatasnya menambah keelokan bangunan tersebut.


Dari kejauhan, ombak tinggi tampak hampir menggapai ujung bukit yang memiliki banyak bebatuan licin serta lumut lumut yang berada diatas bebatuan tersebut.


Samar samar, seorang gadis yang tengah terbaring terlentang dengan selimut yang menutupi tubuhnya mendengarkan suara seseorang dari balik pintu.


Perlahan, gadis yang masih memakai pakaian seragam Sekolah Shen berwarna hijau lumut beserta celana formal berwarna yang sama membuka mata.

__ADS_1


"Yang mulia, tampaknya putra mahkota telah kembali"


"Hmm, senang sekali, kalau begitu kembalilah. Tunggu perintahku selanjutnya"


"Baiklah yang mulia"


Pendengaran gadis yang tidak lain adalah Zili mulai sangat jelas. Ia bahkan telah mampu menandai suara laki laki yang berada di balik pintu tersebut.


Gadis itu sontak sadar dari kebodohannya, entah mengapa saat itu ia merasa sangat menyesal. Melupakan perkataan gurunya yang menyerukan dia agar tidak pernah takut kepada siapapun dan apapun ketika gurunya masih hidup.


Pintu terbuka, Zili tersenyum pahit menggigit bibir bawah sejenak lalu melepaskannya. Ia mulai menutup matanya segera, berpura pura untuk tetap tidur agar tidak berhadapan dengan laki laki yang sangat ia kenali secara langsung.


Rambut panjangnya terurai berserakan diatas batal. Tanpa mengganti posisi tidurnya, Zili perlahan menguatkan diri. Meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa dia akan baik baik saja karena gurunya telah kembali.


Baginya, putra mahkota adalah sumber kekuatan. Hanya mendengar kabar dari sumber kekuatannya, Zili merasa tidak perlu lagi mencemaskan sesuatu. Meskipun mungkin saat itu ia dalam bahaya namun ia sadar bahkan bahaya itu telah terjadi sebelum ia bertemu kembali dengan laki laki yang tengah berjalan mendekat.


"Berpura pura ya"


Laki laki yang tidak lain adalah Shin'A, seorang pangeran, putra dari Pasangan Raja Sun Shin ya dengan Istri satu satunya, Ratu Xu yuanna. Seorang pangeran yang telah menyandang gelar pangeran Istana sebelum ia lahir kedunia, bukanlah Seseorang yang akan dinobatkan sebagai Raja berikutnya dikarenakan Darah yang mengalir ditubuhnya Bukan merupakan darah dari keturunan Klan Xu melainkan Klan Sun.


Ia yang telah membawa semangkuk Bubur di sebuah nampan kecil yang juga terisi segelas air lalu meletakan nampan tersebut diatas meja samping tempat tidur.


Tangannya menarik sebuah tali lampu meja untuk mematikan lampu tersebut yang masih menyala semalaman.


"Bangun" perintahnya.


Namun tampaknya zili tidak peduli, dia membangkang. Hal yang dia lakukan untuk pertama kalinya dengan berani mengabaikan perintah pangeran istana.


"Hm, tidak mau bangun juga ya?"


Zili mencoba mengendalikan jantungnya yang berdetak kencang. Dia berkali kali mengingat perkataan putra mahkota yang menyeru untuk tidak takut kepada siapapun dan apapun.


"Baiklah, aku akan menggendongmu, lalu membawamu kekamar mandi, menjatuhkanmu tepat diatas bak mandi yang penuh dengan air dingin. Atau bisa juga membuka seluruh pakaianmu disini" ancam laki laki itu.


Sontak zili membuka mata, duduk dari tidurnya, dengan terus menerus mengendalikan rasa takutnya tanpa melihat kearah Shin'A.


SHin'A tersenyum nakal, saat itu, ia terlihat sangat senang mempermainkan gadis yang telah duduk menatap dinding bangunan. Ia lalu mengambil posisi duduk tepat disebelah Gadis itu.


Zili terkejut, ia segera bergeser menjauh. Namun Shin'A menarik tangannya untuk tidak menjauh darinya. Membuat dia spontan menghempaskan tangan Laki laki itu.


Ia mengambil sebuah mangkuk bergambar bunga dibagian luar yang berwarna putih serta sebuah sendok diatas nampan.


"Makan" perintahnya lagi,


Zili membuang muka kearah jendela yang masih tertutup gorden hijau bercorak tombak. Gorden cantik buatan tangan Klan Lu itu terlihat sangat mewah dilengkapi renda renda permata kecil dibagian kedua sudut sampingnya.


SHin'A tersenyum nakal perintahnya lagi lagi diabaikan. Baru kali ini dia mendapati seorang wanita yang baru saja masuk menjadi anggota keluarga kerajaan berkali kali mengabaikan perintahnya.


Ia memasukan sendok kedalam mangkok bubur, lalu memasukan beberapa sendok bubur kedalam mulutnya. Menahan Makanan tersebut didalam mulut, meletakan kembali mangkok diatas meja lalu menarik dagu Zili mencoba untuk memasukan makanan dari mulutnya kedalam mulut zili.


Zili membelalak mata, ia lalu menutup mulut Shin'A menggunakan tangannya.


"Aku akan makan" teriak zili keras sembari menepis tangan Shin'A dari dagunya.


Shin'A tersenyum kecut sembari menelan makanan didalam mulutnya. Ia merasa barusaja ditolak wanita. Apalagi dengan wajahnya yang tampan, rata rata semua wanita ingin mendapatkan ciuman darinya.


Zili mengambil mangkok diatas meja. Dengan cepat ia melahap bubur tersebut tanpa menggunakan sendok. Rasa bubur yang nikmat ditambah dengan kehangatan dari makanan tersebut telah masuk sepenuhnya kedalam Perut gadis itu.


Ia kemudian meletakan mangkuk yang kosong lalu mengambil segelas air dan meneguknya perlahan lahan.


"Handuk?" Tanya Zili mulai membuka suara setelah meletakkan gelas yang masih tersisa setengah air putih didalamnya.


"Jubah mandi ada didalam kamar mandi"


Zili turun dari atas kasur, ia segera berjalan menuju kearah kamar mandi yang terletak di bagian sudut ruangan dekat pintu masuk.


****


Ruangan kamar dengan sebuah kasur lembut berspreikan kain berwarna Putih serta selimut yang masih berantakan belum terlipat diatas kasur.


Mangkok serta gelas diatas nampan tempat penyuguhan makanan serta minuman telah hilang setelah seorang gadis dengan masih menggunakan pakaian sama dengan yang ia gunakan malam tadi serta rambut lembab namun tidak lagi berair keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Dilihat olehnya,seorang laki laki tengah duduk diatas kursi kayu elegan mengkilat berwarna merah maron terbuat dari kayu jati disamping jendela kaca kamar yang gordennya telah terbuka mengenakan pakaian kemeja berlengan panjang berwarna putih dan celana formal hitam.


Ia menyandarkan siku di atas anak kursi, menahan pipi kanannya dengan genggaman tangan sembari melipat kaki memandang kearah luar jendela. Sebuah laut dengan air biru serta ombak yang menyapu bebatuan terlihat didalam bola matanya.


Zili dengan perlahan mendekati pintu. Mengambil kesempatan untuk lari dari laki laki remaja yang masih belum bergerak sedikitpun dari pandangannya.


Ia memutar gagang pintu.


"emm, ah, kesal sekali" gumamnya dalam hati.


"percuma saja." Shin'A mengalihkan kepala menatap Zili yang sedang kesusahan membuka pintu. "ini" ia memperlihatkan dua buah kunci dari genggaman tangannya.


Zili tertegun, ia tahu bahwa shin'A tidak mudah melepaskannya, meskipun demikian. Ia masih merasa ingin mencoba melepaskan diri.


Dengan langkah cepat, Shin'A yang telah berdiri dari posisinya mendekat kearah Zili, Menyudutkan gadis itu.


Ia memasukan kedua tangan dikantungnya, lalu mendekatkan wajah nya tepat dihadapan Zili.


"Jadilah milikku"


Sontak Zili terkejut mendengar perkataan Shin'A. Ia bahkan merasa sangat mustahil mendengarkan perkataan tersebut dari mantan tunangannya tersebut.


Terlebih lagi, remaja laki laki itu lah yang tidak ingin memiliki hubungan dengannya ditambah kejahilannya, kenakalannya, serta penderitaan yang Zili terima selama menyandang status tunangan bersamanya dimasa lalu semakin membuat gadis itu merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia dengarkan pagi itu.


"Jangan mimpi" dengan geram Zili membalas tajam perkataannya lalu bergegas pergi menjauh darinya menuju kasur.


Namun sayang, lengan tangan atas nya dengan cepat telah dikuasai laki laki tersebut. Dia menghempaskan Zili terdorong di pintu kamar. Gadis itu tersandar merasa tersudutkan dan tidak bisa pergi kemana mana. Karena kedua telapak tangan Shin'A telah disandarkannya tepat disamping kedua sisi telinga gadis tersebut.


"Kubilang jadilah milikku"


"Maaf saja"


"Kau berani menentangku"


"Siapa juga yang mau denganmu setelah aku berhasil menikahi putra mahkota. Kau dibandingkan dia sangat jauh berbeda jadi jangan mim..."


Dengan geram tanpa ingin mendengarkan kelanjutan perkataan Zili,Shin'A menampar wajah gadis itu dengan punggung telapak tangan kanannya.


Zili menggertakan Gigi, merasa sakit serta nyeri dipipi kanannya. Tidak ada darah yang keluar karena tampaknya Shin'A sedang menahan emosinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar.


"Yang mulia, informasi yang anda minta telah saya bawa seluruhnya"


Suara laki laki terdengar dari balik pintu.


Dengan marah tertahan, Shin'A menarik siku Zili menjauhkannya dari pintu.


Zili melangkah maju cepat karena tarikan Shin'A yang lumayan kuat. Ia membelakangi tubuh Shin'A yang telah keluar dari kamar tersebut.


Suara putaran kunci terdengar. Zili dengan sangat pasrah menghempaskan tubuh telentang diatas kasur. Sekali lagi dia harus berurusan dengan pangeran Istana setelah selama ini merasa yakin bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengannya.


Malahan kali ini gadis itu merasa sangat tertekan, karena berbeda dari sebelumnya, saat ini, pangeran istana lah yang tiba tiba menginginkan gadis itu untuk menjadi miliknya.


****


Suara langkah kaki cepat terdengar menggema. Wajah penuh emosi meluap luap terlihat jelas. Shin'a berjalan menaiki anak tangga dengan penun kepalan dikedua tangannya.


Mendapati sebuah informasi yang selama ini membuatnya penasaran.


Ia memutar kunci pintu kamar, dibuka pintu dan dilihatnya Zili sedang berdiri memandang keluar jendela kaca besar. Menatap lautan penuh ombak tanpa peduli dengan seseorang yang telah memasuki ruangan kamar tersebut.


"Kau.., putri dari paman Lian?"


Zili terkejut, secara spontan ia membalikan tubuh memandang kearah Shin'A yang telah mengetahui kebenaran bahwa Mantan tunangan yang sangat ia benci dan ingin sekali disingkirkan telah berada didepan mata.


********


singgah kecerita baruku.

__ADS_1


yes mu bos.


jangan lupa bagi like dan comment nya ya


__ADS_2