Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
sakit hati yang harus dihilangkan


__ADS_3

Dipertengahan Tangga,


berdiri bercucuran Air mata, sungguh tak kuasa menahan tangis karena Hati terasa perih.


didalam ruangan yang remang-remang, karena cahaya Lampu tak terlihat sedang menyala, hanya Cahaya matahari sajalah yang menembus masuk lewat celah-celah pintu jendela tetapi tidak terlalu menyinari karena Pintu jendela tersebut Sedikit jauh dari Tangga, tempat dimana putra mahkota dan Zili berada.


menghela nafas sejenak "hmm" suara putra mahkota terdengar bersamaan dengan suara obrolan orang dari bawah anak tangga,


mungkin mereka adalah penghuni Kos lainnya.


meraih kepala belakang Zili, putra mahkota yang berada disamping gadis itu dan menghadap kearah Sisi samping tubuh wanita miliknya, mulai membalikan Tubuh tersebut menghadap kearahnya dan memeluk tubuh wanita miliknya itu bersamaan dengan dua orang Wanita penghuni Kos yang melihat heran kearah mereka berdua "maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi, sayang" ucap putra mahkota berpura-pura, mengejutkan Zili yang langsung menghentikan tangisannya.


"mereka sedang bertengkar" bisik seorang dari mereka kepada teman lainnya.


"penghuni baru ya..?" tanya yang lainnya.


terus melangkah dan belum menjawab Pertanyaan temannya hingga mereka melewati Putra mahkota dan Zili "sepertinya iya" jawab Temannya lalu bergerak cepat, meninggalkan pasangan yang sedang bertengkar menurut mereka.


melepaskan pelukan "sudah berhenti...?"


"tuan..." panggil gadis itu menghapus air matanya "maaf" ucapnya merasa bersalah karena menangis ditempat yang tidak tepat.


tersenyum lembut memandang kepala gadis yang tertunduk "ayo.." ajak putra mahkota menarik tangan Zili naik kembali,


membelalak mata, merasa belum Siap untuk menemui Ibu kandungnya "tapi..." kaki Zili tidak juga bergerak melangkah naik.

__ADS_1


memahami perasaan wanita miliknya "Bukankah memang telah lama kau ingin bertemu dengannya..?" tebak putra mahkota mengejutkan Zili yang masih tidak menyangka bahwa laki-laki dihadapannya, bisa mengetahui keinginan hatinya. dia mulai berpikir Laki-laki tersebut memiliki kemampuan yang sama hebat dengan Gurunya.


mulai berbalik, menghadap putra mahkota yang berada di Satu anak tangga atasnya, Zili menghela nafas, mempersiapkan diri untuk menemui ibu kandungnya.


melangkah kaki terus melangkah.


hingga berdiri didepan wanita dewasa yang terlihat masih berada didepan rumahnya. "maaf nona.." tanya wanita dewasa yang memiliki Rambut Panjang terikat setengah kebelakang dan berwarna pirang, mungkin karena cat rambut permanen, walaubagaimanapun, Shi kariean adalah mantan seorang artis dimasa lalu. wajah wanita dewasa tersebut sedikit mirip dengan Zili, mungkin pada bagian Hidung dan matanya. "mungkinkah ada yang salah dengan saya hingga anda menangis dan pergi begitu saja...?" tanya wanita dewasa tersebut kepada Zili yang terlihat terus memandangi ia dengan Lekat. perlahan-lahan, kelopak mata gadis itu mulai diisi penuh dengan air mata lagi.


menghela nafas karena Wanita miliknya tetap diam membisu dan tidak menjawab pertanyaan "menagih Hutang.." ucap putra mahkota, menggantikan zili untuk menjawab pertanyaan Wanita dewasa tersebut "Putrimu ini sedang menagih hutang Bank kepada Ibu kandungnya."


menundukan kepala, zili tidak lagi berani memandang wanita dewasa dihadapannya.


"ahhh" wajah wanita dewasa yang tadinya terlihat ramah kini telah berubah menjadi tidak senang, ia melipat tangan lalu membuang wajah bersamaan Dengan Tubuh menyamping "aku tidak ingat, aku pernah memiliki Seorang putri"


seperti tersengat Aliran Listrik, baik putra mahkota ataupun Zili, keduanya merasakan sakit yang Luar biasa mendengar jawaban Dari wanita dewasa dihadapan mereka.


betapa jelas terlihat wajah penyesalan karena telah membawa wanita miliknya kembali menemui ibu kandungnya.


"ck, menjengkelkan" ucap wanita dewasa tersebut tersenyum Hina "maksudmu putri mahkota bodoh yang tidak pernah bisa berguna Bagi Negara itu adalah putriku...?" Lanjut wanita dewasa tersebut sembari menoleh kesamping, menghadap kearah Zili "dibandingkan dengan Putri mahkota yang tidak berguna, aku malah berharap putriku adalah bawahannya, si Tanpa Nama yang kini dicari-cari banyak orang" tambahnya lagi mulai berbalik kearah pintu Kos nya yang terbuka. "Aku tidak akan pernah mengakui orang bodoh menjadi putriku."


"jadi kalau aku tidak Bodoh lagi, mungkinkah Kau mau mengakuiku sebagai putrimu..?" Zili mulai membuka suara bersamaan dengan wanita dewasa yang telah berdiri tepat DiPintu Kos miliknya.


"apa..!" jawab wanita tersebut tidak menyangka.


"aku hanya ingin memastikan Saja" jawab zili penuh dengan keinginan "walaubagaimanapun, kau adalah orang yang telah melahirkanku, Baik kau mengakuiku ataupun tidak.." berusaha kerasa agar air matanya tidak jatuh kembali membasahi pipi "didunia ini, kau tetap adalah ibuku" lanjut Zili menggertakan Gigi nya menahan rasa sakit didalam hati.

__ADS_1


tersenyum remeh "hm" memandang mata Zili yang Juga memandangnya "Aku bilang, aku tidak pernah melahirkan Putri sepertimu jadi.." mulai memasuki ruangannya "berhentilah berharap dan bermimpi"


baaaaakkk...


bantingan Pintu terdengar keras,


suaranya tidak lagi mengejutkan Zili dan putra mahkota.


Mulai menghadap kesamping, kearah sisi samping putra mahkota "Tuan, " panggil gadis itu, panggilannya membuat putra mahkota bergerak menghadap kearahnya "mungkinkah aku ini bodoh, berharap diakui sebagai Putri oleh ibu yang tidak menginginkanku..?" tanya gadis itu tersenyum Pahit karena mengira bahwa Laki-laki dihadapannya mungkin menganggapnya sebagai seorang gadis Bodoh dan juga Lemah.


mengangkat tangan, mengelus kepala Zili "Tentu saja Tidak.." jawab putra mahkota mengejut gadis itu "Yang kau lakukan sudah benar" jawab laki-laki tersebut menenangkan Hati wanita miliknya "walaubagaimanapun, Ibumu telah berjuang membawamu didalam perutnya lalu melahirkanmu dengan seluruh Tenaga bahkan hingga mempertaruhkan Nyawanya" lanjut putra mahkota, mulai menarik kembali Tangannya dari kepala Zili "tentu saja kau yang Bisa hidup karenanya tidak perlu sakit hati dengan semua ucapannya kepadamu," Tambah putra mahkota mulai menggenggam Tangan zili kembali dan membawa gadis itu pergi menjauhi tempat tersebut "ucapan menyakitkannya tidak sebanding dengan Nyawanya untuk memperjuangkan kau hidup didunia ini" terus membawa Zili yang mulai menangis, putra mahkota membiarkan wanita miliknya terus menangis sembari berjalan menuruni anak tangga.


"tuan, hiks apa yang harus aku lakukan sekarang..?" tanya gadis itu meminta saran.


tersenyum lembut, terus berjalan didepan Zili yang menundukan kepala, masih menangis "buktikan saja kepada ibumu bahwa kau tidaklah sebodoh yang dia pikirkan"


"tapi aku memang bodoh.." jawab gadis itu merasa rendah diri.


tersenyum geli menghentikan kakinya lalu berbalik, hingga kepala Zili yang tertunduk tanpa sengaja menabrak dada putra mahkota, "kau bukan Bodoh, " jawab putra mahkota melepaskan genggaman tangan dan memandang Zili yang telah mundur beberapa langkah setelah mereka berada dikoridor lantai dua gedung disana lalu mengangkat kepala gadis itu dengan kedua tangan yang menghampiri Kedua pipi wanita miliknya "kau hanyalah orang yang tidak memiliki kepercayaan Diri karena terbiasa hidup Sendirian dimasa lalu" Lanjut jawab laki-laki tersebut menghapus seluruh air mata Hingga Hidung wanita miliknya menggunakan sapu tangan yang telah ia ambil dari kantung celana miliknya "keluarkan ingusmu.." perintah putra mahkota ketika Sapu tangannya berada dihidung Zili.


menghempaskan tangan putra mahkota "tidak mau" jawab Teriak gadis itu dengan suara parau. "tuan, kau ini Kotor sekali" bentak gadis itu tidak menyangka.


"aku hanya ingin membersihkannya"


"biar aku saja yang melakukannya" balas Zili meraih Sapu tangan putra mahkota namun laki-laki tersebut menolak memberi.

__ADS_1


"sudahlah, serahkan saja kepadaku" jawab laki-laki tersebut meletakan kembali sapu tangan kelubang hidung Zili.


"si brengsek ini, " geram, dengan cepat Zili meraih sapu tangan Putra mahkota dan menariknya paksa "kau kira aku Anak kecil Ya...?" bentak gadis itu sungguh tidak terima.


__ADS_2