Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Pembakaran Kertas


__ADS_3

Pipi terasa geli.


Tubuh juga terasa berat.


Namun kesejukan terasa menenangkan tidur nyenyaknya.


Mungkin karena udara dingin memenuhi ruangan tersebut.


Perlahan-lahan matanya terbuka,


Tubuh yang miring sontak tegang lalu bergerak cepat melompat. “Haaa..” Dia terkejut ketika menemukan seekor harimau kecil berdiri di atas kasur.


“Dimana?” Tanyanya pada diri sendiri sontak melihat ke segala penjuru arah lalu bergerak cepat keluar ruangan tersebut.


Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika harimau kecil berwarna putih mendekat dan bergelayut manja di kaki.


Jantungnya mulai terasa kencang memompa dan rasa takut digigit mulai menghantui.


“Ah, aku dimana?” Tanya gadis itu panik, lalu menghela nafas sedalam-dalamnya, mulai menenangkan diri. Setelah pikirannya tenang, segera ia berjalan cepat menuju pintu dan membukanya.


“Ahh, pantas saja aku cari tidak ketemu.” Suara seorang laki-laki mengejutkan gadis itu, laki-laki itu datang mendekati Zili lalu mengambil harimau kecil yang masih terus bergelayut di kaki gadis itu. “Ternyata kau bersembunyi di kamar Zili.”


“Kau sudah bangun?” Suara laki-laki lain terdengar bertanya.


Di luar ruangan, ia memandang beberapa orang terlihat sedang duduk di atas sofa, memenuhi semua bagian benda tersebut hingga tak tersisa sedikitpun bagian dari tiga buah sofa panjang di sana.


“Kau pasti terkejut?” Sembari menggendong harimau, laki-laki yang berada di samping Zili mulai mengacak-ngacak rambut gadis itu sebentar saja.


“Ka,, kakak, kenapa kau ada di sini?” Tanya Zili kepada laki-laki yang tak lain adalah Lord Breeder dengan menolehkan kepala ke arah laki-laki yang telah ia anggap sebagai saudara laki-lakinya tersebut. “ Sa’i juga?, dan di.. dimana ini?” Lanjut gadis itu bertanya.


“Ruang pintu darah.” Jawab laki-laki dewasa mengejutkan Zili yang tidak menyangka bahwa saat itu Pelindung Raja, Sun Shin Joila berada di sana.


“Pelindung Raja!” Gumam gadis itu pelan.


“Xu’i memerintahkan hampir semua pejabat muda ikutserta dalam tugas pencarian dan penyerangan musuh kali ini, dan paman Joila bertugas mengatur rencana.” Jelas Dewa Kemenangan yang terlihat duduk sembari memandang sebuah layar laptop di atas meja.


“Bagaimana aku bisa ada di sini?”


“Ah aku yang menemukan dan membawamu ke sini, Maaf karena telah menyentuh tubuhmu seenaknya.” Pelindung Putra Mahkota Shin Ji tersenyum getir merasa bersalah, ia memandang Zili dengan membalikan tubuh yang tadinya membelakangi gadis itu di atas sofa.


“Soni,” Panggil Pelindung Raja, panggilannya yang bermaksud memberi perintah untuk segera bersiap-siap melaksanakan tugas negara, dimengerti oleh Lord Breeder.


“Ah aku harus segera pergi melanjutkan misi,” Dengan cepat laki-laki tersebut menaiki tangga menuju pintu keluar bersama harimau kecilnya.


“Ahh maaf, aku tidak tahu kalau aku bisa ketiduran di atas pohon.”

__ADS_1


“Di atas Pohon?, aku melihat Shin Ji menemukanmu tidur di balik tembok, mungkin kau lupa bahwa kau telah turun dari pohon?”


Jawab Pelindung Putra Mahkota Shin Jo yang juga telah duduk berbalik, menghadap ke arah Zili yang masih berdiri dan terkejut.


“Begitu ya?” Gadis itu mulai memijat dahinya, ia masih mengingat dengan jelas bahwa saat itu ia berada di atas pohon, menutup panggilan Putra Mahkota. Setelahnya ia kembali melompat ke atas tembok lalu berlari hingga mendekati rumah kediaman keluarga kerajaan di tempat tersebut, kemudian ia mendekati rumah dengan menaiki pohon satu lalu memanjat pohon lainnya.


Rumah yang dulunya telah bersih, saat itu terlihat tidak terawat lagi bahkan air di dalam kolam renang yang melingkari rumah juga berwarna keruh hanya saja, lampu-lampu rumah pada saat itu masih menyala, ia bahkan sempat mengambil gambar rumah tersebut dengan ponselnya. “Ponsel?” Benar, gadis itu teringat seusuatu, “Kau lihat dimana ponselku?” Tanya gadis itu mencari-cari ponsel di kantung tetapi tidak dapat menemukannya. Tanpa sengaja ia juga melihat bintik-bintik di tangannya telah sembuh dan tidak terasa gatal lagi. “Kalian sudah memberikan obat padaku ya?” Tanya gadis itu lagi.


“Tidak ada ponsel saat aku menemukanmu,” Jawab Pelindung Putra Mahkota Shin ji berbalik badan kembali setelah tadinya kembali pada posisi semula dan mengerjakan tugasnya menandai sebuah kertas bergambar peta di atas meja.


“Mungkinkah kau terserang penyakit tertentu?” Tanya Pelindung Putra Mahkota Shin Jo masih memandang ke arah gadis itu, “Aku pikir kau baik-baik saja ketika dibawa kemari.” Lanjut laki-laki tersebut mulai mengingat kembali keadaan gadis itu ketika berada di kedua tangan saudaranya.


“Be.. begitu ya?” Gadis itu mulai berpikir aneh, memang ketika berada di atas pohon malam itu, ia merasakan kantuk yang sangat berat, ditambah lagi dengan rasa lelah yang menyelimuti tubuh tetapi dia masih tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang bisa begitu ceroboh tertidur di balik tembok dan bahkan kehilangan ponsel yang mungkin terjatuh tanpa ia sadari.


Dia memang tidak dapat mengingat kembali setelah itu, karena tidak ingin berpikir keras, gadis itu mulai melangkah menuju anak tangga dan menekan tombol merah di samping pintu darah lalu membuka pintu dinding tebal tersebut kemudian melangkah kaki naik keluar ruangan bawah tanah.


Ramai,


“Zili,”


“Kau sudah bangun?”


Dia tidak lagi sendirian, di rumah, di hutan maupun di sekolah.


Dia bukan lagi gadis kesepian seperti di masa lalu hingga membuatnya tersenyum bahagia pagi hari itu.


Dia mengenali orang-orang hebat yang dulunya hanya bisa ia lihat dari jarak jauh atau lewat layar televisi saja.


“Ahh, menyebalkan sekali nyamuk-nyamuk ini.” Teriak seorang gadis yang Zili kenali, dia adalah Putri Klan Zin, Zin Ziya yang terlihat duduk di depan tendanya yang terbuka sembari membaca dan mengamati sebuah kertas di tangan.


“Kau lapar?” Putri Keagungan datang mendekati bersamaan dengan Putri Latih tiada tanding yang telah menghampiri.


“Bibi, kau mau roti?” Suara Putri Istana juga terdengar sedang mengobrol bersama Putri Kecantikan, mereka duduk tak jauh dari tempat Zili berada.


“Regu tiga, mulai bergerak!” Sebuah perintah terdengar berteriak di belakang Zili. Perintah itu datang dari Pelindung Raja.


Lord Breeder mulai berdiri tegak, diikuti Putri ketelitian, lalu Mantan pelindung Pangeran Istana, Sun Shin Sura dan juga dewi perang Shen Shina, serta Putri Teknologi Co Hai Win, Seorang laki-laki prajurit militer tak di kenal yang mungkin berasal dari Klan Ou, lalu Putri kecantikan, Lu Ayya.


Ketujuh Prajurit dengan keahlian klan masing-masing yang mulai di tugaskan bergerak memantau keadaan tempat, tampak telah bersiap-siap dengan headset di telinga masing-masing.


“Keluarlah jika tak mampu lagi, hanya cukup pantau tempat dan meletakan alat pelacak saja, pastikan kalian saling membantu dengan keahlian kalian masing-masing!, dimengerti?” Perintah telah di keluarkan,


“Siap dilaksanakan.” Perintah yang dikeluarkan juga telah diterima,


Seragam berwarna-warni, sesuai dengan wilayah Klan masing-masing mereka kenakan. Biru, putih, hitam, kuning, ungu, jingga, menyemangati hidup Zili yang semakin hari semakin berubah pada pagi hari itu.

__ADS_1


“Zili, bersiap-siaplah pakai seragammu, aku dan kau akan ditugaskan bersama.” Putri Keagungan mulai berlari cepat ke dalam tenda berwarna kuning milik Klan Zin lalu mengambil seragam kebanggaan klan Zin dari sana. “Ini.” Setelah mendekati Zili kembali, gadis itu menyodorkan pakaian tersebut kepada gadis itu.


“Aku juga bertugas?” Tanya Zili tidak menyangka bahwa ternyata ia juga dibutuhkan hari itu.


“Hmm, Regu kedua, kita akan berangkat setelah mereka keluar.” Jawab Putri Keagungan bersamaan dengan Putri Latih Tiada Tanding yang telah meraih tangan Zili dan memberikan peta wilayah kepada gadis itu.


*********


Putra Mahkota mulai berjalan mendekati jendela kaca yang terbuka di ruang pribadinya.


Ia terlihat memegang sesuatu di tangannya, tumpukan kertas tebal dan sebuah Pematik, sejenis korek api yang memiliki tuas.


Pintu ruangan terbuka, seorang laki-laki masuk dengan menggenggam ponsel di tangan lalu memperhatikan keadaan dan suasana luar, setelah memastikan aman, ia menutup pintu dan mengunci rapat pintu tersebut.


Segera ia berjalan mendekat Putra Mahkota, “Dia ingin berbicara langsung kepadamu.” Ucap laki-laki yang tak lain adalah Shen Shi Yun tersebut telah menghampiri.


Putra Mahkota tersenyum remeh, lalu memberikan lembaran kertas tebal kepada temannya serta meraih ponsel secara bersamaan. “Ternyata kau masih mau menuruti permintaanku?, hm..” Ucap Putra Mahkota kepada laki-laki dari balik ponsel yang ia genggam sembari menekan pematik hingga api menyala lalu meniupnya dan menekannya kembali, melakukan hal yang sama berulang kali.


“Jadi karena dia?”


Tanya suara laki-laki terdengar marah.


“Hm..” Jawab Putra Mahkota santai mengiyakan.


“Harusnya aku bunuh saja dia tadi malam.” Lanjut suara laki-laki tersebut terdengar menggertakan gigi-giginya.


“Maka aku juga akan menyiksa Putrimu dan kedua Putramu, tidak peduli mereka adalah keluargaku sendiri.” Jawab Putra Mahkota memberikan ancaman.


“Xu’i, Kau menghancurkan semuanya hanya karena wanita, dan datang menghubungiku juga karena wanita?” Suara tersebut terdengar membentak.


“Kau meninggalkan Ibu dan anak-anakmu juga karena wanita lalu bergabung dalam kelompok manapun juga karena wanita, Kakek, kau dan aku, dimana letak perbedaannya?” Ucap Putra Mahkota begitu santai kali ini sembari meraih satu lembar dari tumpukan kertas yang di pegang Shen Shi Yun setelah memutuskan panggilan dan memberikan ponsel tersebut kembali kepada pemiliknya.


Sebuah kertas bergambarkan rancangan dan bertuliskan bahasa aneh tampak menggantung dan bergoyang-goyang terkena angin.


Api yang berhasil dikeluarkan dari gas di dalam pemantik juga ikut bergoyang.


WUuuuzzzzz...


Brrkrkrkrkrr...


Api yang bergoyang menyambar kertas lalu membakar benda tersebut hingga menjadi abu dan tak tersisa.


Abu kertas terbang melayang ke udara tak tentu arah.


Segera Putra Mahkota meraih lembaran kertas lainnya dan mengulang pembakaran benda tersebut. “Rancangan Mesin Waktu telah musnah, tidak ada lagi waktu yang harus dikembalikan, mulai hari ini, wanitaku tidak akan pernah terpisah lagi denganku. Aku akan menutup semua mulut hingga tak seorangpun yang bisa mengungkapkan kesalahanku di masa lalu.” Ucap Putra Mahkota sembari meletakan pematik di atas tumpukan kertas, memerintahkan Shen Shi Yun untuk melanjutkan pembakaran kertas-kertas tersebut.

__ADS_1


“Hm, “ Putra Mahkota tersenyum senang, lalu berjalan mendekati meja kerjanya dan duduk di sana.


Sorotan matanya terlihat tajam memandang ke arah seorang gadis yang tampak berdiri dan berbicara kepada dua orang gadis lain yang mengelilingnya di dalam layar komputer di hadapan laki-laki tersebut.


__ADS_2