
Matanya berkaca-kaca, memandang bola mata berwarna coklat di depannya.
Terkadang terasa panas lalu tiba-tiba saja tubuhnya terasa dingin.
Getaran semakin menyiksa hingga tanpa disadari tetesan keringat di kepala meluncur jatuh, membawa tetesan air mata melewati tepian hidung menuju dagu dan menetes mengenai seragam militer yang ia kenakan.
“Seorang anak kecil tidak mungkin melakukannya.”
“Lalu kenapa seorang anak kecil dibiarkan pergi ke dalam hutan sendirian?”
“Seorang anak kecil tidak mungkin diberikan kekuasaan begitu cepat.”
“Lalu kenapa seorang anak kecil dipekerjakan layaknya seorang pejabat pemerintahan?” setiap jawaban berhasil ditepis dengan jawaban berbentuk pertanyaan.
“Aku,” dia lelah, tidak lagi sanggup mengangkat kepala, mungkin bertambah lelah karena gejolak batinnya merasa begitu tersiksa, “...tidak percaya.” Zili menundukan kepala, keringat yang bercucuran membawa tetesan air mata yang keluar, jatuh membasahi lantai ruangan di sana.
“Maukah kukatakan satu hal padamu agar kau semakin yakin?” laki-laki tua itu masih terus memaksa, sementara keadaan mental Zili semakin lama semakin tertekan saat itu.
“Aku, tidak mau mendengarnya.” Zili lemah, satu-satunya orang yang tersisa dan selalu menyemangati hidupnya, saat itu sedang dalam pembicaraan yang dia sendiri ingin berhenti mengetahui tentangnya.
“Alasan mengapa Yuanna yang sangat menyayangimu selama ini tidak pernah mengetahui bahwa kau sangat menderita hidup di sekolah?”
__ADS_1
Setiap orang mulai melangkah kaki keluar dari pintu lift di sana.
Zili yang tadinya masih berdiri, saat ini telah terjatuh duduk karena begitu lemas. Dibandingkan dengan luka fisik, luka batin yang saat ini sedang menghantam jiwanya, jauh lebih menyayat hati hingga ia sekalipun tak lagi mampu melawan rasa perih.
“Aku,” Zili berusaha keras untuk menahan tangisannya, “...tidak mau tahu.” Dia juga berusaha keras untuk tidak mempedulikan ucapan laki-laki tua di hadapannya.
“Itu karena Xu’i membenci Shin’A, dan aku sebagai kakek mereka berdua, tidak ingin perkelahian terus terjadi.”
“Aku,” gigi-gigi Zili mulai bergertakan, menahan diri untuk tetap tenang dan menghentikan kegelisahan. “... tidak peduli.” Menunduk, kakinya yang dilipat ke belakang terasa mati saat itu. Nafasnya bahkan mulai terengah-engah kembali karena detak jantung yang terus memompa kencang tiada henti.
“Ikutlah denganku jika kau masih ingin tidak peduli!” Ajak kembali laki-laki tua sembari membungkukkan tubuh lalu mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya.
“Aku,” Zili mengangkat kepala, matanya memerah, ada sedikit aliran mata di sana, “... akan meminta penjelasan ini kepada Putra Mahkota dulu, setelahnya, aku akan ikut denganmu, kakek.” Gadis itu sungguh sangat ingin menemui Putra Mahkota karena ia tidak begitu saja mempercayai ucapan laki-laki tua di hadapannya.
“Yuhan, kau ingat?, saat gerombolan serigala masuk ke kediaman Xu, kau kira, mungkinkah seseorang tiba-tiba muncul dan datang menyelamatkanmu?” laki-laki tua itu terlihat tidak dapat menahan kesabaran lagi.
“Haaa..” Sungguh, pertanyaannya tersebut membuat Zili terkejut bahkan jantungnya semakin tak kuasa ia kendalikan saking takutnya gadis tersebut mendengar kelanjutan dari kalimat laki-laki tua di hadapannya.
“Kukatakan padamu, akulah penyelamatmu.” Tegas laki-laki tua begitu lelah dengan sikap keras kepala gadis di hadapannya. “Putraku datang atas perintahku saat itu dan jika bukan karena aku, saat ini mungkin kau tidak berada di hadapanku lagi dan pasti kau telah lama mati lalu kematianmu itu akan menjadi awal kehancuran Xu’i ataupun Shin’A, karena sebenarnya,..” mengulang kembali uluran tangan yang tadinya telah ia tarik ke depan wajah Zili yang langsung membuang wajahnya tersebut karena rasa sakit yang menyayat hati. “Hari itu Xu’i dan Shin’A memang berniat membunuhmu.”
“Aku tidak percaya, aku tidak peduli, aku tidak mau tahu, itu urusan kalian, itu urusan kalian, itu bukan urusanku, itu bukan masalahku, aku percaya Shisou, dia tidak mungkin melakukannya, aku percaya Shi..”
__ADS_1
“Kau harus tahu, Zili, sesungguhnya Xu’ilah musuh negaramu. Anak kecil yang selalu tersenyum di masa lalu itu sebenarnya menyimpan kebencian yang begitu mendalam untuk negaranya, percaya atau tidak, saat ini aku hanya perlu menyelamatkanmu.” Laki-laki tua tidak tahan lagi, segera ia menarik lengan Zili lalu setelah gadis itu berdiri, ia membawanya pergi bersama.
***********
“Sampah, sampah, sampah!” maki seorang anak laki-laki dengan beberapa luka di tubuh yang telah mengering. “Makanan ini sampah,” lanjutnya sembari menyingkirkan sebuah mangkuk yang terbuat dari kayu di atas meja kecil pertengahan hutan, hingga benda itu jatuh dan makanan di dalamnya tumpah.
“Itulah makananmu, atau kau mau membiarkan bibimu terus menderita?” Seorang laki-laki tua datang mendekati anak laki-laki itu sembari membawa sebuah mangkuk lain yang berisi daging ikan salmon kukus untuk menggantikan ikan salmon yang tadinya terjatuh dari atas meja karena ulah anak laki-laki tersebut.
“Aku bosan, tidak ada rasa, hiks hiks, aku ingin pulang, aku ingin bermain dengan teman-temanku hiks.” Anak laki-laki yang duduk di atas tumpukan dedaunan kering terlihat menjatuhkan diri telungkup. Isak tangisnya tak lagi terbendung, rasa mual karena harus makan makanan dengan olahan yang sama setiap hari semakin memperparah perasaan rindu akan teman-temannya dan keramaian kota.
“Paksakanlah!, atau kau ingin menyerah lalu membiarkan Klan Sun menguasai istana dan membunuh satu persatu keluargamu termasuk Yuanna?” ucapan laki-laki tua menggertakan hati anak laki-laki yang langsung terduduk dengan air mata yang membasahi pipi, lalu meraih mangkok dari tangan laki-laki tua di sampingnya dan memakan daging seekor ikan salmon kukus tanpa rasa dengan sumpit yang ia terima sembari sesekali menghampus air mata dengan lengan tangannya.
“Tapi hiks, Paman Shin sangat mencintai bibiku hiks hiks.” Anak laki-laki itu terus menangis tanpa henti, bahkan air mata turut masuk ke dalam mulutnya yang sedang memasukan daging salmon di sana.
“Dia mencintai bibimu namun tidak dapat menyelamatkannya. Dengar Xu’i!, saat ini ayahmu sudah terpengaruh oleh hasutan Klan Sun, dia bahkan terus memaksamu belajar, dia juga tidak peduli dengan perasaanmu selama ini. Xu’i, masih ingatkan kau tentang apa yang dikatakan Shin’A kepada ibunya?” laki-laki tua berhasil menghentikan tangisan anak laki-laki itu.
Dia yang telah berhenti menangis, saat itu juga menghentikan tangan mengambil daging dan menoleh ke arah samping, tempat dimana laki-laki tua itu duduk.
“Benar, aku benci Shin’A, aku benci ayah, aku benci paman Shin. Aku benci mereka semua hiks, aku sangat membenci mereka,aku hiks.. hikss..” Anak laki-laki tersebut mulai memakan kembali daging di hadapannya, “hiks hiks, aku benci mereka hiks,”
“Xu’i!” suara seorang laki-laki tua lain terdengar menghentikan tangisan anak laki-laki yang tadinya melanjutkan tangisan.
__ADS_1
Tidak lama, tangisan itu keluar kembali setelah anak laki-laki tersebut menoleh kepala ke belakang, ke arah sumber suara berada. “Kakek hiks hiks..” Pandangan matanya berkaca-kaca, melihat sesosok orang yang sangat ia kagumi. “Kakek hiks hiks kakek, aku ingin hidup normal...”