
Krdududududkkkkk....
Tooooottt...
“Bagaimana?”
“Kendalinya sudah berfungsi.”
“Huh,” Putra Mahkota keluar dari bawah kolong kepala kereta api dengan membawa sebuah alat mekanik di tangannya. “Aku butuh membersihkan diri.” Lalu berdiri dan memberikan benda yang ia pegang kepada Mantan Presiden Sekolah Teknologi.
“Sepertinya ada danau di dekat sini, Xu’i, aku akan mencarikannya untukmu.” Shen Shi Yun menawarkan diri membantu, laki-laki tersebut terlihat duduk di dalam gerbong kepala kereta api dan kini mulai membuka pintu lalu melangkah keluar dari sana.
“Huh, aku akan pergi bersamamu, kau bawa seragamku, bukan?” tanya Putra Mahkota yang telah membuka dua kancing kemeja sembari berjalan mendekati tangga berkarat, penghubung lubang pintu keluar dengan tempat kereta api tua itu berada.
“Tentu saja, aku akan segera mengambilnya dan menyusulmu nanti.” Teriak Shen Shi Yun keras lalu melangkah memasuki gerbong-gerbong untuk mengambil tas ransel yang ia bawa sebelumnya.
***********
Rambutnya basah,
Namun hal itu semakin menambah pesona pada wajah tampan laki-laki tersebut ditambah lagi dengan seragam militer berwarna biru langit yang ia kenakan.
Wajahnya terlihat sangat segar setelah membersihkan diri di dana,u luar lorong wilayah tersebut.
Kini, Putra Mahkota terlihat sedang memasuki lorong itu kembali, namun tiba-tiba menghentikan langkah dan ia sedikit terkejut.
Langkah hentinya tersebut membuat langkah-langkah pejabat tinggi yang lain, ikut menghentikannya.
“Yang Mulia, “ Sapa seorang prajurit militer yang mungkin merupakan pemimpin suatu kelompok tentara militer diikuti dengan beberapa prajurit militer lain yang menundukan kepala menghadap Putra Mahkota.
Melihat lencana pada bahu seragam masing-masing prajurit di sana yang hampir sama, “ Tim Penyidik?” Putra Mahkota menyadari sesuatu dan wajahnya mulai terlihat datar dan dingin.
“Benar Yang Mulia, kami berasal dari militer Co, telah menerima tugas dari Yang Mulia Raja Bayangan untuk menyelidiki sistem lift di tempat ini.” Jelas Pemimpin kelompok tersebut, menjawab pertanyaan Putra Mahkota tanpa harus dilontarkan oleh laki-laki tersebut terlebih dahulu.
“Hm,” laporannya di terima, segera Putra Mahkota mempercepat langkah diikuti oleh Shen Shi Yun dan juga Ilmuwan Kebanggaan Negara menuju kereta api.
Terus melangkah dan menemukan seseorang dengan pengawalan yang ketat di atas lubang pintu menuju kereta api tua bawah tanah, “Kembali!” ruangan yang gelap kini telah terang benderang dengan cahaya penerangan lampu berbaterai yang dipegang oleh beberapa pengawal Raja Bayangan.
“Begitu ya?”
“Kau bekerja terlalu lama dan sekarang semua orang sedang menunggumu di istana.” Ucap Raja Bayangan lalu bergerak cepat meninggal tempat di sana.
Laki-laki dewasa yang sangat sibuk terpaksa datang dengan sendirinya untuk membawa Putra Mahkota kembali ke Istana karena dia tahu bahwa akan sangat percuma jika hanya mengirimkan pesan perintah melalui pejabat tinggi saja. “Aku akan menunggumu di helikopter.” Karena mengetahui bahwa Putra Mahkota mungkin akan menemui Zili, Raja Bayangan memberikan kesempatan untuk laki-laki tersebut melakukannya.
“Hm, baiklah.” Jawab Putra Mahkota lalu berjalan menuruni tangga berkarat dan melihat para pejabat tinggi berdiri di luar kereta api dengan sedikit terkejut lalu marah.
__ADS_1
“Ahh, Maaf.” Ucap Penasihat Pangeran Istana yang tidak dapat berbuat sesuatu apapun saat itu dan Putra Mahkota menyadarinya.
Segera Putra Mahkota masuk ke dalam gerbong.
“Aku tidak tahu maksud dan tujuanmu mengajakku pergi tapi Shin’A, tidak bisakah kau lihat aku sedang bertugas saat ini?” lalu mendengar suara Zili sedikit jauh dari tempatnya berada.
Tidak ada yang mengikutinya karena mereka semua tidak mungkin ikut serta dalam urusan pribadi Putra Mahkota.
“Sadar dirilah Zili, yang kau lakukan hanya akan menghambat semua pekerjaan Xu’i. Pergi bersamaku dan aku akan membawamu ke pulau tempat tuanmu berada.” Sontak ucapan Pangeran Istana membuat Zili sedikit lebih tenang padahal tadinya gadis tersebut berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Pangeran Istana.
“Aku tidak tahu kenapa seorang istri bisa menghambat pekerjaan suami?”
“Ada banyak kelompok-kelompok klan yang ingin memberontak, jika dia terus memikirkanmu dan terjadi masalah denganmu karena kau adalah kelemahannya, kau kira, mungkinkah dia dapat bertahan menyelamatkan negara dan rakyatnya ini?” Jelas Pangeran Istana menjawab pertanyaan Zili yang terlihat diam memikirkan perkataannya.
“Tapi aku telah berusaha keras untuk mengejar ketertinggalanku, mengejar kehebatan para pejabat klan dan juga Putra Mahkota, lalu haruskah aku menyia-nyiakan segala usahaku selama ini?” Tanya Zili lemah, dia berada pada keraguan yang mendalam, memikirkan ulang ajakan Pangeran Istana berkali-kali.
“Kau ingin bertemu dengannya, bukan?, Tuanmu itu masih hidup dan aku bisa membawamu bertemu dengannya jika kau ikut denganku.” Deg.. duppp.. jantung Zili terpacu kencang.
“Berhentilah menip...”
“Akan kubuktikan padamu,” Pangeran Istana meraih Ponsel lalu memperlihatkan foto Pengawal Rahasia Putra Mahkota bersama Shen Shi Yun memasuki sebuah helikopter di pulau makam Claya beberapa minggu yang lalu.
“Haa..” mata Zili berkaca-kaca, mulutnya bahkan sempat terbuka.
Buuuukkkk..
Secepat kilat, pukulan berbentuk kepalan mendarat di wajah Pangeran Istana.
“Hm, Omong kosong, Kau kira perkataanmu patut dipercaya?” tangan Zili terlepas dari genggaman tangan Pangeran Istana, ketika Putra Mahkota berhasil memukul wajah saudaranya tersebut.
“Lalu haruskah penipu sepertimu yang lebih dipercaya?” balas sindir Pangeran Istana yang mulai menegakan tubuh setelah tadinya sedikit membungkuk.
“Yang Mulia, be.. benarkah itu?” tanya Zili cepat, berdiri di pertengahan, antara Putra Mahkota dan Pangeran Istana, menghalangi Pangeran Istana negara NC untuk membalas pukulan dan menghadap ke arah Putra Mahkota negara tersebut. “.. kau menyembunyikan tuanku?” lanjut gadis itu bertanya.
“Hm, “ Pangeran Istana tersenyum merasa puas, ia yang tadi akan melayangkan pukulan, mulai mengantungi kedua tangan ke dalam celana.
“Aku akan mengingatkanmu pada satu hal.” Tangan Zili diraih cepat, gadis itu terpaksa melangkah mengikuti Putra Mahkota yang membawanya pergi menjauhi Pangeran Istana.
“Zili, kau tidak harus percaya dengan semua kebohongannya.” Ucap Pangeran Istana mengingatkan, membiarkan Zili untuk menentukan pilihannya.
**********
Mereka terus melangkah menuju ke gerbong di utara lalu masuk ke dalam sebuah ruang kesehatan yang terlihat kotor dan dipenuhi dengan debu.
Kasur busanya juga tak layak lagi di pakai, namun dipan yang terbuat dari kayu jati masih terlihat kokoh.
__ADS_1
Putra Mahkota menutup pintu, lalu menarik tirai berdebu menutupi jendela kaca.
“Uhuk..” Debu yang jatuh, sedikit mengganggu pernafasan Zili dan membuat gadis itu terbatuk sejenak.
“Balas!” Ucap Putra Mahkota lalu membawa Zili ke sudut ruangan hingga gadis itu tak lagi mampu meloloskan diri ataupun menjauhi Putra Mahkota.
“Emmmm, haa.. Emmmm..” Zili mendorong Putra Mahkota sedikit kuat namun tidak berhasil menjauhkan laki-laki tersebut darinya.
“Yang Mul, Shisou, berhentilah!” Ucap Zili setelah melepaskan bibirnya dari gerakan cepat bibir Putra Mahkota.
“Kau tidak dengar aku, kubilang balas!” perintah Putra Mahkota dengan nada menekan, sembari meraih bibir Zili kembali dan menikmati aroma nafas gadis itu.
“Haa.. Haa.. emmmm...haa.., aku, aku tidak mengingat apapun kecuali hanya saat-saat ketika kau menciumku, Shisou, hiks..berhentilah!” segera gadis itu mengusap air mata dengan cepat dan tidak ingin menangis lagi.
“Setidaknya kau harus ingat bahwa akulah orang yang selalu menciummu, dan kaulah satu-satunya orang yang selalu ingin kucium.” Jawab Putra Mahkota lalu melepaskan kedua tangan Zili yang ia genggam, kemudian mulai melangkah kaki.
“Jawab dulu pertanyaanku?” namun Zili menghentikan langkah kaki Putra Mahkota dengan menggenggam pergelangan tangan laki-laki tersebut. “Jawab dulu pertanyaanku sebelum kau pergi!” pinta Zili berdiri menundukan kepala, sangat berharap Putra Mahkota memenuhi keinginannya.
“Aku mencintaimu, itulah jawaban dari pertanyaanmu yang belum sempat kujawab.” Jawab Putra Mahkota lalu melepaskan tangan Zili dari pergelangan tangannya.
“Hiks Hiks.. “ Tak lagi kuasa menahan tangis. “Tolong, jangan menipuku lagi, hiks..” masih dengan menangis menunduk, gadis itu membersihkan aliran air mata dengan lengan hingga punggung telapak tangannya.
Mendengar tangisan Zili, Putra Mahkota segera membawa gadis tersebut mendekati dipan dan duduk di pinggiran benda tersebut. “Aku mencintaimu, sangat mencintai, jadi berhentilah mencintai tuanmu!, aku minta itu padamu, anggap saja sebagai balasan atas permintaanmu untuk tidak membunuh tuanmu waktu itu.” Pinta Putra Mahkota yang telah duduk lalu menarik pinggang Zili untuk jatuh ke atas pangkuannya.
“Aku,..”
“Jangan menolak, aku adalah sejenis pria pemaksa, jika kau menolak, kau tahu apa yang akan terjadi pada tuanmu, bukan?” Ancam Putra Mahkota yang telah meletakan salah satu kaki Zili di samping tubuhnya lalu meletakan kaki yang lain di samping tubuhnya yang lain, hingga kini wajah mereka berdua saling berhadapan dan sangat dekat.
“Yang Mul,..”
“Shisou, aku hanya ingin dipanggil dengan sebutan itu olehmu.” Sela Putra Mahkota cepat, dengan pandangan matanya yang lembut dan tangan yang menghapus air mata Zili. “ Kau mencintaiku, bukan?”
“Aku, haaa...”
Putra Mahkota meletakan telinganya di dada Zili,
“Pasti jantungmu saat ini terasa Duuuuaaamm, hm, benarkan, aku?” laki-laki tersebut tersenyum, namun ucapannya sontak mengejutkan Zili dan mengingatkan gadis itu akan sesuatu. “Aku tidak akan menipumu lagi, jadi katakan yang sejujurnya?” terus memaksa dengan pertanyaan, hal itu membuat Zili mau tidak mau mengakui perasaannya karena sulitnya dia menyempatkan diri untuk memikirkan jawaban.
“Hm, “ Angguk Zili, “ Aku mencintaimu, Shisou.” Ungkap gadis itu lalu pasrah, menerima ciuman bibir Putra Mahkota yang sangat cepat melahap seluruh bagian bibirnya tersebut.
“Haah,, emmmm.. Haaa..Shisou, apa yang kau laku... haa..”
“Ini akan baik-baik saja.” Ucap Putra Mahkota yang telah membuka beberapa kancing seragam Zili dan mendekati wajah di balik seragamnya tersebut, membuat tanda yang membekas di leher dan dada.
“Akkhh, Shis.. haaa..” hingga membuat tubuh Zili gemetaran dan rasa hangat, memenuhi tubuhnya. “Emmm..” lalu menerima ciuman liar Putra Mahkota kembali dan dia membalasnya. Berkali-kali mereka melakukan hal yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama.
__ADS_1