
Hari demi hari terus berlalu, berlari di setiap pagi hari dengan mendengarkan suara kokokkan ayam, mengelilingi rumah besar hingga terlelah, siang duduk menunggu sore, ketika waktu yang ditunggu tiba. gadis malang akan Pergi kesungai lagi bersama gurunya.
Telah habis waktu selama seminggu lebih hanya untuk berlatih berlari dan berenang. Kadang suara makian terpaksa harus didengar tidak berniat untuk melawan. Gadis itu telah terbiasa dengan gurunya bahkan mereka kadang mulai bercanda. Hari demi hari dihabiskan bersama bahkan waktu bagi mereka terasa berlalu begitu cepat.
Di pertengahan sungai, tempat biasa mereka berlatih. Zili mulai belajar mengayunkan kaki. Tangannya menggenggam tangan putra mahkota, perlahan lahan laki laki remaja itu melepaskannya. Ia mundur beberapa langkah diikuti gadis itu sambil berenang.
“Shisou, berhasil” Zili memijakan kaki didasar sungai. Dengan riang gembira ia memandang wajah gurunya. Senyum tipis mengembang dipipi Putra mahkota, ia merasa senang meskipun terlalu lama namun usaha melatih muridnya telah membuahkan hasil.
“Besok aku akan kembali ke istana, ada tugas yang harus ku selesaikan,jadi berlatih lah sendiri”
“Berapa lama shisou akan pergi?”
“3 hari, selama itu jangan pernah Pergi keluar pagar hutan, mengerti?”
“Pagar hutan?”
“hm,” angguk putra mahkota “ daerah kita ini dikelilingi pagar sehingga tidak ada hewan buas yang akan masuk, “
“Baiklah, aku tidak akan kesana”
“Baguslah kalau kau sudah paham”
Mereka mulai melanjutkan kegiatan mereka lagi. Gadis malang itu terus berusaha keras demi bertahan hidup. Menjadi kuat hanyalah satu satunya pilihan bagi dia agar dapat menghindari mara bahaya yang selalu akan menimpanya.
Keesokan harinya, Sebuah mobil lamborghini berwarna putih perlahan Masuk kedalam pagar halaman rumah besar bertingkat dua. Mobil tersebut berhenti tepat dibawah pohon rindang di depan rumah tersebut. Dua orang remaja laki laki keluar dari dalam diikuti oleh seorang perempuan berambut pirang.
Ntah apa yang terjadi, tampak nya kedua remaja kembar yang telah keluar dari mobil tidak keberatan untuk membawa perempuan yang berasal dari luar negara itu bersama mereka. Mereka juga sepertinya telah terbiasa dengan sifat dan pola tingkah perempuan tersebut.
Putra mahkota keluar dari dalam rumah, dia Memandang Zili yang sedang berhenti berlari mengendalikan nafas. Gadis malang itu menunduk,tangannya ia letakan dilutut kaki. Sejenak ia menutup mata, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
Matanya memandang Mata gurunya. Dia merasa sedikit sedih karena akan ditinggalkan oleh satu satunya orang yang ia rasa paling dekat dengannya saat ini.
“Kau sudah siap” suara Shin ji mengalihkan pandangan putra mahkota. Tanpa mengatakan satu katapun kepada muridnya, laki laki remaja itu pergi menuju Tempat dimana mobil diparkir membiarkan gadis yang berharap di sapa, diam sendirian.
Gadis malang itu mulai merendahkan diri lagi, ia merasa tidak dianggap oleh siapapun. Bahkan shin ji dan shin jo yang melihatnya pun tampak tidak peduli.
Dengan segera ia melanjutkan larinya, sebenarnya saat itu ia ingin sekali mengantar kepergian Putra mahkota, namun apa daya, dia bahkan telah merasa tidak dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut.
“Kau tetap tinggal, jaga dia” Shin jo sontak terkejut mendengar perintah calon raja yang dilindunginya. Untuk kesekian kalinya, ia tidak dapat mempercayai putra mahkota memerintahkan dia yang adalah tangan kirinya secara langsung untuk menjaga Gadis yang bahkan baru beberapa bulan dinikahi oleh sahabatnya.
Dan untuk kesekian kalinya juga perempuan berambut pirang merasa kesal sepenuh hatinya mendengar perintah Putra mahkota. Dia sangat tidak menyukai Shin jo ditugaskan menjaga bangsawan biasa yang bahkan tidak terkenal dimoscow, ibukota negara ia berasal.
“Baiklah”
“Aku tetap tinggal”
“Siapa juga yang mau mengajakmu kembali bersama” ucap ketus Shin ji merasa muak melihat perempuan yang selalu menempel kepada Shin jo bahkan sampai membuat saudaranya membela perempuan negara asing itu beberapa jam yang lalu sebelum berangkat menjemput putra mahkota.
“Ji, jaga ucapanmu” shin jo tidak menerima dengan perkataan Shin ji.
“Kau kira aku mau satu mobil dengan orang tidak dikenal” suara keras Xu’i mengejutkan semua orang yang berada disana, bahkan seorang pelayan yang menyapu halaman tidak jauh dari mereka pun turut menelan ludah. Ia yang sudah bekerja lama menjadi pelayan Keluarga Xu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat seorang pelayan laki laki ditendang oleh putra mahkota hingga tidak sadarkan diri. Dengan segera ia pergi mencari temannya untuk menggantikan ia menyapu halaman, menghilang dari pandangan putra mahkota yang terkenal dengan Sifat kejamnya.
“Jangan memandang.. jangan memandang” gumam perempuan berambut pirang dalam hati dengan tubuh gemetaran.
“Aku akan Menyetir” shin ji mengalihkan topik agar saudara kembarnya bisa selamat pagi itu. Dia tahu dengan jelas, sahabatnya akan menendang siapapun yang membuatnya marah, yang lebih parah, dampak tendangan putra mahkota sangatlah parah, bahkan orang yang terbiasa dengan latihan fisik juga akan sedikit terluka walaupun hanya tersentuh oleh lutut kakinya.
Shin jo menundukan kepala terpaku diam berdiri disebelah putra mahkota yang sedang melirik tajam kearahnya. Dia mengingat perkataan ayahnya bahwa menjadi pelindung keluarga Xu bukanlah mudah karena semua Klan Xu yang tersisa rata rata memiliki sifat kejam serta sanggup menyiksa siapapun yang mereka anggap musuh secara membabi buta termasuk juga ratu negara.
Dia juga pernah mendengar bahwa dimasa lalu keluarga ratu negara lah satu satunya keluarga yang melakukan pembantaian terhadap semua orang yang berasal dari klan Xu dinegara tersebut sampai tidak tersisa satupun kecuali keluarga mereka sendiri. Hanya mengingat cerita saja sudah membuat bulu kudu lehernya berdiri merinding apalagi saat itu ia sedang berada tepat di sebelah putra mahkota yang memiliki benih dari darah klan Xu asli.
Karena mengetahui Shin jo tidak mungkin membangkang perintahnya, Xu’i membuka pintu mobil belakang setelah mengalihkan lirikannya. Wajah dingin dengan tatapan mata tajam terlihat sangat jelas.
Shin ji memerintahkan Supir yang membawa mereka tadi keluar dari mobil. Dia mengetahui dengan pasti suasana hati Xu’i sedang tidak baik melihat dari ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin melihat Supir nya kabur lagi untuk kesekian kalinya karena Tatapan tajam remaja laki laki yang saat ini telah duduk dikursi belakang dekat dengan kaca jendela mobil.
__ADS_1
Shin ji telah mengambil alih kendali mobil. Ia yang telah memiliki SIM mobil meskipun masih diusia muda melihat sekilas kearah Xu’i melalui kaca depan mobil. Pandangannya lalu ia alihkan keluar jendela. Ia melihat Zili sedang berdiri tepat didepan rumah memandang kearah kaca mobil yang berwarna hitam.
Ia kembali melirik kearah Xu’i, sontak ia terkejut, ia melihat sahabatnya sedang memandang kearah gadis itu dengan tatapan sedih yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dengan segera ia menyalakan mobil dan menjalankannya agar kesedihan Xu’i segera berlalu. Didalam hati remaja laki laki itu bertanya tanya tentang bagaimana perasaan putra mahkota saat itu. namun penasaran hanya akan tetap menjadi penasaran. Ia sama sekali tidak berani untuk bertanya karena sangat mengenal sifat sahabatnya yang tidak suka mendapatkan pertanyaan dari orang.
Zili tersenyum sedih melihat kepergian putra mahkota. Hatinya terasa hampa, ia merasa telah kehilangan seseorang hari itu.
“Aku tidak akan menjagamu, enak sekali orang biasa seperti mu dijaga oleh putra pelindung raja” suara shin jo dari kejauhan membangunkan Zili dari lamunannya mengingat tentang hari hari bersamanya dengan putra mahkota.
“Aku juga tidak berharap kau jaga” gumam gadis malang yang selalu merasa tidak pernah dihargai itu didalam hati.
“Jo, ayo kita pergi jalan jalan saja, aku ingin keliling hutan”
“Kau tidak takut”
“Kenapa harus takut, kan kau bersama denganku”
“Baiklah, ayo kita pergi”
“Tapi aku haus, aku ingin minum tapi tidak ingin menjauh dari mu” perempuan berambut pirang memeluk manja lengan shin jo.
“Hei kau, ambilkan botol air mineral sana didapur” perintahnya menatap zili.
“Aku?”
“Iyalah.. siapa lagi”
“Hah.. begitu banyak pelayan kenapa harus aku” keluh zili dalam hati sembari bergegas masuk kedalam rumah menuju dapur untuk mengambil botol air mineral. Dia tidak ingin melawan mengingat tidak ada putra mahkota lagi ditambah ketidakmunculan yatto selama seminggu lebih ini ketika Xu’i menolak laki laki tua itu untuk mengajar muridnya.
Pagi dan siang pun berlalu terasa begitu lambat bagi Zili yang masih merasa sedih telah ditinggalkan oleh putra mahkota, pasangan kekasih belum terlihat kembali kerumah. Dia yang ingin berlatih sendiri akhirnya pergi kesungai dengan memberi pesan kepada salah satu pelayannya bahwa ia berada ditempat biasa ia berlatih karena merasa khawatir jika pelindung putra mahkota tersebut akan mencarinya.
Berada ditengah tengah sungai mengenakan kaos biasa dan celana pendek longgar selutut. Zili mulai mengayunkan kaki dan tangannya mencelupkan seluruh tubuhnya kedalam sungai bolak balik dari hilir ke hulu dan dari hulu ke hilir.
“Kau disini” suara yang mulai tidak asing terdengar ditelinga gadis malang yang masih berlatih berenang, ia menghentikan ayunan kakinya kemudian memijak dasar sungai yang berada di tepi sungai tempat sumber suara berada.
“Diam, heeee.. diam saja yang bisa kau lakukan”
“Maaf, ada perlu apa ya”
“Aku hanya ingin melihatmu berenang saja”
“Ya sudah, kalau begitu aku berenang lagi ya”
“Tunggu” pintanya ketika melihat zili akan memasukan seluruh tubuhnya lagi kedalam sungai.
“Apa”
“Aku mau bertanya”
“Tanya apa!”
“Kau menyukai Shin jo ya”
“Haaah.. mana mungkin” jawab Zili merasa aneh dengan pertanyaan tiba tiba .
“Berarti kau membencinya”
“Aku juga tidak membencinya”
“Alah jangan bohonglah, kalau tidak suka berarti benci kan”
“Apaan sih, aku tidak menyukainya dan tidak juga benci” sontak zili terkejut melihat perempuan berambut pirang masuk kedalam sungai mendekatinya. “Kau mau apa?”
“Mau dekat donk”
__ADS_1
“Apaan sih kau ini,, aneh sekali”
“Aku akan memberikan Shin jo untukmu, tapi Bantu lah aku menjadi selir putra mahkota”
“Kau ini ngomong apa sih”
“Kalau kau lakukan,, aku akan pastikan kau bisa bahagia dengan shin jo”
“Aku tidak mau” tolak Zili sembari berjalan ketepi sungai menghindari Perempuan berambut pirang tersebut, tapi sayang tangan perempuan itu telah menarik lengan Zili.
“Kau berani menolakku”
“Apaan sih” Zili menghempaskan tangan menghentikan Perempuan berambut pirang menarik lengannya namun sontak ia terkejut ketika melihat perempuan itu jatuh masuk kedalam air membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan.
“Natali” suara remaja laki laki terdengar dari belakang, zili lalu membalikan tubuhnya dan melihat Shin jo berdiri dengan wajah marah.
“Shin jo, dia mendorongku masuk karena tidak terima kau suruh mengambil botol air mineral tadi pagi” natali berdiri menangis memandang Shin jo yang telah bergegas Menghampirinya.
“paaaaak” tamparan mendarat dipipi Zili, gadis malang yang tidak tahu apa apa jatuh tersungkur didalam sungai, wajahnya merah dengan darah ditepi kedua bibirnya, tetesan darah menghilang bercampur dengan air.
“Kau memukulku tanpa penjelasan” gadis malang itu merasa sangat sakit hati sembari memegang pipi wajah dengan kedua telapak tangan.
“Shin jo, dia menyukaimu, kenapa kau memukulnya”
“Kau berani menyukai ku” Shin jo memainkan tangan nya lagi, kali ini mencekik leher Gadis malang tersebut “aku tidak ingin melihat wajahmu muncul didepanku lagi, “ remaja laki laki itu menghempaskan tubuh Kurus zili kedalam sungai lalu bergegas mengangkat tubuh natali dari depan meninggalkan Zili yang sedang menyentuh lehernya.
Piluh,sedih,sakit dan perih itu lah yang dirasakan Gadis malang yang masih terduduk ditepi sungai menatap kepergian remaja laki laki yang telah memukul wajahnya. Tubuhnya menggigil kedinginan karena tidak membawa pakaian ganti. Berkali kali dia mengusap air mata dan darah yang masih mengalir dari bibir gadis malang itu.
Didalam Ingatannya, Shin’A kembali muncul dalam benaknya, ini bukan untuk yang pertama kalinya ia mendapatkan tamparan wajah. Sebelumnya Shin’A juga pernah melakukan hal yang sama bahkan didepan banyak siswa sekolah.
Sesekali ia menarik nafas melalui mulut karena hidungnya telah tersumbat dengan tangisannya.
Matanya memerah penuh amarah tertahankan, tapi dia sadar, dia hanyalah orang biasa yang tidak mungkin sanggup melawan tindakan kasar pelindung putra mahkota.
Sore berganti petang, langkah kaki zili terhenti didepan gerbang rumah. Tidak ada seorang pelayanpun berdiri disana bahkan ia telah berkali kali berteriak tapi tidak satupun orang yang menjawab panggilannya.
Dia duduk menyandarkan tubuh didepan gerbang sembari memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan. Suara alunan Musik barat terdengar nyaring dari dalam rumah, tampaknya penghuni rumah sengaja memutar musik keras agar tidak ada seorangpun yang mendengar teriakan darinya.
Air mata tidak berhenti mengalir di atas pipi gadis malang tersebut. Dingin malam mulai kembali menusuk hingga ketulang. Hanya bulan lah yang ia pandang. Dia mengasihani nasibnya sendiri yang tidak pernah merasa kan apa itu yang namanya bahagia.
Mata gadis malang itu membulat, jantungnya berdebar tidak terkendali. Tubuh nya yang kedinginan mulai berkeringat dingin.. suara alunan musik Masih terdengar nyaring.
“Tolong.. tolong.. tolong.. ada srigala” teriak gadis malang itu berdiri menggoyang goyang pintu gerbang. Kakinya gemetaran melihat sekumpulan Srigala menuju kearahnya.. ia tidak menyangka kumpulan srigala bisa muncul dihadapannya mengingat kata putra mahkota bahwa wilayah yang ia tempati telah terlindungi dari binatang buas.
Lari, terus berlari.. setelah berlatih selama seminggu lebih berlari, gadis malang itu merasa hal tersebut telah membuah kan hasil. Kecepatan larinya bahkan bisa menghindarinya dari kejaran Srigala.
Gadis malang bersembunyi disemak semak, hanya cahaya bulan yang menemani. Tapi sayang sungguh sayang.. indera penciuman srigala sangatlah tajam.mereka semua berhasil menemukan Zili yang telah kelelahan duduk pasrah akan kematian.
“Dooooooor, dooodr,,dorrr,,doooor” suara tembakan berkali kali.
“eeeeeh.. siapa yang membuka pintu pagar” suara tembakan dan laki laki mengejutkan Zili yang telah menutup mata mengikhlaskan kematian.
Perlahan ia membuka mata dan melihat Semua Srigala tergeletak mati tidak berdaya.
“Yahooooo... wanita dambaan putra mahkota” gadis malang itu terkejut memandang remaja laki laki yang tiba tiba muncul dihadapannya.
Bola mata Coklat, dagu runcing dengan Poni menyamping keatas serta bulu mata lentik yang ia rasa mirip dengan seseorang yang ia kenal.
Berkali kali gadis malang itu mengedipkan mata tidak percaya ada orang lain ditengah hutan malam.
“Siapa”
“Tentu saja orang yang telah menyelamatkanmu”
__ADS_1