
Dihalaman sebuah rumah yang dipenuhi rerumputan hias, berdiri beberapa Pengawal yang tengah menjaga junjungan mereka.
Pagi yang cerah, cahaya matahari menyinari Atap rumah dengan warna Kuningnya. Pepohonan disamping dan depan rumah terlihat bergoyang-goyang pelan. Mungkin karena angin pagi yang menyegarkan sedang berhembus mengenai mereka.
Pintu terbuka,
Seseorang telah berjalan mendekati pintu rumah.
Dengan kaos seragam dan celana training biasa, zili melangkah keluar rumah.Tidak ingin lagi mengenakan gaun karena merasa sangat merepotkan baginya.
Seseorang menyambutnya dengan senyuman, dibalas oleh gadis tersebut dengan senyuman juga.
Zili bergerak mendekati, ia mendongakkan wajah menatap mata Pelindungnya yang tinggi “maafkan aku,” ucapnya penuh penyesalan “kau pasti sangat kebingungan malam itu bukan?” lanjutnya lagi.
Pelindung putri mahkota menggelengkan kepala sekali masih dengan senyuman menghiasi bibirnya “jadi kau menemukannya ya?”
Zili masih memandang pelindung putri mahkota, kali ini matanya mulai berkaca-kaca “dia meninggalkanku lagi” jawabnya langsung menundukan wajah. Tetesan air mata jatuh keatas rerumputan yang ada dibawahnya.
Pelindung putri mahkota memegang kepala zili lalu mengelusnya.”tenang saja, kita pasti akan menemukannya kembali” ucapnya menenangkan Zili.
HIks.. hiks...
Kali ini semakin terdengar tangisan gadis itu “aku sungguh merindukannya”
Terasa sayatan benda tajam didalam hati pelindung putri mahkota.
AHH iya.
Dia terlambat, gadis itu telah memiliki laki-laki dambaan hatinya. Masih dengan tersenyum, ia mengulurkan tangan dihadapan wajah Zili “ayo kita pergi” ajaknya.
Zili menghapus air mata dipipinya, ia mengangkat tangan, memberikannya kepada pelindung putri mahkota.
Akhhhh.
Lagi, selalu saja bahkan telah menjadi kebiasaan.
“Apa mungkin seorang pelindung menggenggam tangan tuannya?” dengan mata tajam, pangeran istana meraih pergelangan tangan Zili dan menjauhkan gadis itu dari pelindungnya.
Zili yang geram, menghempaskan tangannya tapi sia-sia.
Pelindung Putri mahkota membalas tatapan pangeran istana “apa mungkin hanya sebagai saudara berhak mengatur kehidupannya, terlebih lagi saudara dari pihak Suaminya?” Balas pelindung putri mahkota menarik lengan tuannya.
Pandangan saling beradu tidak suka, Zili bahkan mampu merasakan suasana ketegangan yang luar biasa.
“kau dilarang pergi jika bersamanya” ucap pangeran istana melarang.
“Dari mana dasarnya seorang pelindung dilarang melindungi tuannya” balas pelindung putri mahkota tidak terima.
Zili menghempaskan tangan pangeran istana “Shin’A, kau menyukaiku ya?” tanya Zili sengaja, karena teringat malam Dipuncak bukit desa Ann. Terlihat jelas bahwa ketika Putri Kecantikan menanyakan hal tersebut, pangeran istana kembali normal seperti ia yang biasa.
Senyuman getir terlihat diwajah laki-laki yang ditanya, ia segera melepaskan tangan Zili “kau” ucapnya geram “berhentilah berpikir bahwa aku menyukaimu”lanjutnya lagi “menjijikkan” tambahnya membuat Zili lega karena pangeran istana telah kembali seperti biasa.
__ADS_1
Pangeran istana berbalik, lalu melangkah kaki masuk kedalam rumah. Sementara hati zili mulai tenang, ia menoleh kepala kearah Pelindung putri mahkota yang terlihat sangat marah mendengar ucapan pangeran istana. “Ayo kita pergi” ajak Zili menggenggam salah satu tangan Pelindungnya.
Zili mengira saat itu mungkin pelindung putri mahkota marah karena Pangeran istana menghambat waktunya “Sa’i” dia mulai menggenggam tangan Pelindungnya dengan kedua tangan. “Jangan marah lagi” tenangkan nya.
“Kau...
Pelindung putri Mahkota menatap mata Zili “tidak masalah dihina seperti itu?” tanya nya keheranan melihat reaksi Zili yang biasa saja.
“Kenapa harus marah?, aku tidak menyukainya, dia juga bukan temanku, aku juga tidak menganggapnya sebagai saudara dan juga aku...
Zili tersenyum getir “sudah biasa diperlakukan seperti itu” lanjutnya lagi menundukan kepala sedih.
*******
Senyuman menghiasi bibir seorang laki-laki yang sedang duduk bersandar dibatang pohon sembari membaca buku dan melipat satu kaki yang digunakan untuk menyandarkan tangannya yang lain.
Jubah hitamnya bergerak terhembus angin sementara ditelinganya terdapat sebuah headset berwarna putih.
Tampaknya laki-laki tersebut telah mendengar percakapan Zili dan kedua laki-laki yang sangat ia kenal dari jauh. Ia bahkan sampai tidak berhenti tersenyum.
“Kemana?”
Tanya Seorang laki-laki lain yang sudah turun dari atas pohon kepada laki-laki tersebut.
“Disini saja” jawabnya.
Seorang lainnya datang menghampiri laki-laki tersebut. “kau tidak ingin pulang juga ya?”
Laki-laki berjubah hitam memandang menusuk, membuat laki-laki yang bertanya tertegun takut “perlukah aku ulangi perkataanku?”
“Aaahh.. baiklah, tetapi aku akan tetap bersamamu”
“Terserah padamu” laki-laki berjubah hitam mulai mengembangkan senyumannya kembali ketika mendengarkan suara dari balik headset.
*******
Mobil berhenti tepat didepan sebuah gerbang berpagar yang bertembok panjang dan tinggi serta mengelilingi sebuah tempat.
Luas, bahkan jauh dipandang mata tembok tersebut masih berdiri, seolah-olah tembok tersebut memang dibangun untuk menyembunyikan diri.
Gerbang tertutup rapat, tidak seorang pun berjaga disana. “pintu darah” ucap Pelindung putri mahkota memandang pintu gerbang didepannya.
Ucapannya membuat Zili sontak terkejut “kalau begitu, kita bisa menggunakan darah seorang klan ann untuk memasukinya” zili mulai mengira-ngira.
Pelindungnya mendesah, “tetap saja tidak bisa, mereka pasti mengunci pintu dari dalam” jawaban Pelindung putri mahkota mengecewakan Zili yang tadinya memiliki sepercik harapan.
“Aaaaaahhhhh
Suara jeritan terdengar Mengejutkan mereka berdua.
Terlihat dari bawah, Seorang laki-laki berjubah hitam berada diatas tembok yang sangat tinggi sedang membawa seorang anak laki-laki yang sedang menangis“selamatkan putraku,” teriak Seorang wanita disertai tangisan memohon.
__ADS_1
“Panggil bantuan” teriak pemimpin desa terdengar hingga keluar.
Pelindung putri mahkota mulai bergerak cepat, ia mengulurkan tangannya hendak Mengeluarkan tali Dari jam tangan yang ia kenakan “ sial “ ucapnya kesal ketika mengetahui panjang talinya tidak mampu menyaingi tinggi Tembok.
Pintu terbuka, “ dewa kemenangan” panggil Seorang penduduk desa.
Semua orang mulai sedikit lega “Tolong selamatkan putraku, aku mohon...
Pinta seorang wanita separuh baya yang langsung menjatuhkan diri, memohon kepada pelindung putri mahkota.
Dengan Cepat Pelindung putri mahkota mengeluarkan pistol berwarna silver miliknya.
Ia melemparkan Jarum-jarum panjang kearah laki-laki yang masih berdiri tersebut. Lemparan jarum bahkan mampu ditangkap saking kuatnya laki-laki yang sudah bergerak lari diatas tembok ketika pelindung putri mahkota menembakinya.
Kuat
Cepat.
Gumam Pelindung putri mahkota tidak mampu mengimbangi lari laki-laki yang masih berada diatas tembok.
Zili tertegun, dikeadaan yang menegangkan seperti itu, gadis itupun masih bisa-bisanya memandang terkagum-kagum kearah laki-laki yang berlari diatas tembok tersebut.
Cuucucucucuuuuccccuuuuuupppp.....
Suara kembang api sontak mengejutkan semua orang. Cccucucuuuucccuuuuppp....
Ternyata bukan kembang api.
Butiran debu berwarna abu-abu telah melayang-layang diatas udara.
“Debu streptococcus” teriak seorang penduduk, semua orang sontak berlarian untuk berteduh karena tidak ingin terkena debu yang berisi bakteri penggatal kulit tersebut.
Haaaaa....
Zili mulai gemetaran, ia yang tidak mengerti maksud teriakan tersebut hanya bisa melihat seluruh warga berlarian.
“Putraku....
Teriak Wanita lagi setelah melihat putranya sedang melayang diudara. Terlihat jelas laki-laki berjubah hitam telah melemparkan anak laki-laki tersebut dari atas.
Dengan Segera, pelindung putri mahkota bergerak menangkap anak tersebut agar tidak jatuh keatas tanah.
Tegang, bahkan tubuh Zili sampai menggigil melihat pemandangan mengerikan didepan matanya.
Sebuah payung tiba-tiba terbuka, debu bakteri yang hampir saja mengenai Zili telah berjatuhan keatas payung hitam yang telah mengembang.
“Hey baby...
Suara seseorang mengejutkan Zili.
Zili membelalakan mata. Laki-laki berbaju hitam telah berada didepannya sembari memegang gagang payung ditangan dan tersenyum tipis menggetarkan hati gadis itu seketika.
__ADS_1