
Suara ketikan keyboard telah terbiasa terdengar di salah satu ruangan Apartemen itu.
Namun kali ini, suaranya tidak terlalu ramai seperti biasa.
Hanya seorang saja yang mungkin sedang berada di depan layar laptop di sana.
Cahaya lampu masih tampak menyala,
Mungkin karena gorden yang sengaja tak dibuka.
“Sekarang Shin’A sedang berbicara padanya,” Suara Pelindung Putra Mahkota terdengar di balik headset yang dikenakan Putra Mahkota, “Shin’A bilang, dia hanya ditugaskan untuk mencari tempat yang memiliki banyak daging hewan ternak busuk dan berpenyakitan.” Lanjut jelas Pelindung Putra Mahkota mengejutkan laki-laki yang mendengarnya.
“Dimana?” Putra Mahkota yang tadinya masih menggerakan jari-jari tangannya mulai mengerutkan dahi dan menghentikan gerakan, sepertinya ia sedang berpikir berat saat itu.
“Altai.”
“Kembalilah!, kita akan pergi ke sana hari ini juga.” Perintah Putra Mahkota mulai berdiri mencari keberadaan Zili untuk menyuruh gadis itu bersiap-siap pergi ke tempat yang baru saja disebutkan Pelindungnya.
Langkah lebar dengan cepat sampai ke depan pintu lalu membukanya, setelah itu laki-laki tersebut berhenti dengan keadaan marah yang tertahankan.
Jauh di depannya, di salah satu ruangan yang pintunya terbuka, terlihat dua orang sedang berbicara hingga suara mereka terdengar sampai ke telinga laki-laki tersebut.
“Sup bayam ini telah kutambahkan perisa jagung, kalau kau tidak suka, jangan paksakan diri untuk memakannya.”
Di bola matanya, saat itu Zili sedang berjalan sembari membawa sebuah mangkuk kaca yang berada di atas sebuah piring kaca kecil ke arah seorang laki-laki lain yang saat itu terlihat tengah duduk menunggu kedatangan gadis itu.
“Aku pikir itu ide yang bagus, Aku juga menyukai campuran bayam dan jagung.” Laki-laki yang duduk itu mulai meraih sendok di dalam kotak kayu di atas meja.
“Tunggu aku, jangan dimakan dulu!” Pinta Zili yang saat itu sedang mengisi mangkuk dengan sayuran yang berada di dalam panci atas kompor.
“Hm, baiklah.” Sambil menunggu, laki-laki yang duduk itu sedikit terkejut ketika melihat kedatangan Putra Mahkota secara tiba-tiba dan langsung menarik mangkuk sup dari hadapannya ke arah depan Putra Mahkota negaranya tersebut yang telah duduk di seberangnya.
“Yang Mulia,...
“Aku lapar, jangan ganggu aku.” Ucap ketus Putra Mahkota menyela lalu mulai memakan sup sayur bayam hijau di dalam mangkuk setelah meraih sendok di atas meja.
“Shisou,” Zili yang terkejut melihat perilaku Putra Mahkota sontak duduk di samping laki-laki tersebut sembari meletakan mangkuk yang ia bawa di atas meja depannya. “Bukankah kau sudah makan?, Maafkan aku tidak membuatkan lebih untukmu.”Ucap gadis itu yang mulai berdiri kembali untuk memberikan sup miliknya kepada laki-laki yang duduk di seberang Putra Mahkota tetapi belum sempat ia berjalan, tangan Putra Mahkota telah meraih siku tangan gadis itu.
“Aku bekerja lebih keras dibandingkan kalian berdua, tentu saja aku lebih banyak membutuhkan asupan makanan. Berikan juga itu padaku!” Perintah Putra Mahkota mulai meraih piring kaca kecil di bawah mangkuk sup yang Zili pegang dan meletakan sup bayam tersebut ke depannya. “Pergilah bekerja!, aku tidak senang seseorang berada di depanku ketika aku sedang makan.” Perintah Putra Mahkota dengan nada ketus tak pernah terdengar di telinga Zili sebelumnya.
“Ah baiklah Shisou.”
“Kau tetap di sini!, aku membutuhkanmu nanti untuk mengambil air dan mengangkat kedua mangkuk ini ke wastafel.” Perintah Putra Mahkota dengan nada yang sedikit lembut, berbeda dengan perintah yang ia berikan kepada laki-laki di seberangnya.
__ADS_1
Laki-laki di seberangnya hanya bisa tersenyum tipis, sepertinya ia menyadari perasaan yang saat ini sedang dialami Putra Mahkota hingga ia hanya bisa menghela nafas lalu segera beranjak dari tempat tersebut padahal perutnya sedang kelaparan.
“Suho, aku akan membuatkan..
“Ketika aku sedang makan, aku tidak suka mendengar suara berisik masakan dan juga tidak suka mencium aroma masakan lainnya, kalau dia lapar, suruh saja dia beli makanan di luar sana. Aku akan memerintahkan bawahanku untuk mengganti uang makannya nanti.” Putra Mahkota kembali menyela kalimat yang akan diucapkan penghuni ruang makan di sana. Dengan terpaksa Zili hanya duduk di samping laki-laki tersebut menunggu perintah, sementara laki-laki lain yang telah berdiri hanya bisa menahan geli karena merasa lucu melihat perilaku berbeda dari Putra Mahkota negaranya.
“Tenang saja, aku akan beli di luar nanti setelah menyelesaikan satu putaran video CCTV. Kau mau aku membelikanmu sesuatu untukmu?” Tanya laki-laki tersebut kepada Zili yang masih duduk dengan perasaan anehnya melihat sikap laki-laki yang ia cintai.
“Tidak perlu, aku dan dia akan menghirup udara bersama nanti. Beli saja untukmu sendiri dan jangan membawa apapun kembali ke sini.” Jawab Putra Mahkota sebelum Zili berucap kata.
Segera laki-laki yang berdiri melangkahkan kakinya untuk melepas tawa, walaubagaimanapun dia sendiri sangat mengagumi Putra Mahkota negaranya maka dari itu, segala ucapan ketus maupun kasar dari laki-laki yang ia kagumi sedikitpun tidak menyakiti hatinya.
**********
Pada abad 2000an, Altai merupakan salah satu bagian Barat negara Mongolia yang berada pada ketinggian hingga 4000 meter lebih dari Permukaan air laut, namun akibat gempa yang mengguncang bumi di masa lalu, ketinggian tempat di sana mulai menurun.
Ditambah lagi, di masa lalu dunia sangat membutuhkan tanah dari daerah tersebut untuk menutupi lubang-lubang bumi yang dulunya terbentuk akibat getaran dahsyat, maka dari itu ketinggian wilayah tersebut mulai berkurang pada masa itu.
Sama halnya dengan perubahan turunnya salju di kota Ulan Bator yang semakin lama semakin berkurang karena pergeseran bumi yang mungkin pernah terjadi pada masa lalu di negara tersebut.
Semua orang kini mulai keluar dari dalam mobil. Mereka datang ke sebuah desa terpencil dengan membawa seorang penduduk kota yang bisa berbahasa suku di daerah sana.
Walaubagaimanapun, sejak dari dahulu, negara Mongolia dikenal dengan keragaman suku bangsa yang berbeda-beda.
Sarung tangan tebal serta kaus kaki yang juga tebal menutupi seluruh bagian tubuh dan hanya menyisahkan bagian kepala saja.
Syal yang melingkar di leher Zili dan Putri Keagungan juga menambah kehangatan tubuh di sebuah desa yang dipenuhi salju di sana.
Perjalanan dengan menggunakan mobil yang cukup jauh menyebabkan mereka sampai di desa kecil yang hanya terisi sekitar 20an rumah saja, pada malam hari.
Malam yang gelap semakin menambah kedinginan udara. Penghangat berbaterai perlahan-lahan mulai mengurangi kedinginan yang masih terasa meskipun menggunakan pakaian tebal.
Seorang penduduk kota yang di bawa oleh Pangeran Istana telah mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah kepala suku di desa tersebut.
Dan kini, mereka telah duduk bersila di lantai rumah yang masih terbuat dari kayu.
“Tüünd övchtei fyermiin amitdyg khudaldsan uu?”
Putra Mahkota mulai memerintahkan penterjemah bahasa suku untuk bertanya tentang aktivitas jual-beli hewan berpenyakitan di desa tersebut.
Dengan segera, Penterjemah menanyakan hal tersebut kepada kepala suku di sana.
“gej ter zöv khariulav, kheden saryn ömnö sudalgaany matyerialaar guluuz, övchtei mal khudaldaj avsan khümüüs baisan?”
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban dari kepala suku, Penterjemah memberitahukannya kepada Putra Mahkota,
Kepala suku mengatakan bahwa telah terjadi aktivitas jual-beli bangkai dan hewan ternak berpenyakitan di desa mereka.
“ted amitdyg khaash ni avch yavdag ve?”
Putra Mahkota meminta penterjemah bahasa suku untuk bertanya tentang tempat hewan-hewan ternak tersebut di bawa oleh para pembeli.
“Ter itgelgüi baisan, ükher zöökh usan ongotsny tukhai tednii yariag l sonsson”
Penterjemah mulai bertanya kembali kepada kepala suku, lalu setelah mendapatkan jawaban, ia mulai mengatakannya kepada Putra Mahkota bahwa kepala suku tidak mengetahui dengan pasti ke tempat mana hewan-hewan tersebut di bawa, tetapi kepala suku tersebut berkata bahwa dia pernah mendengar percakapan pembeli yang akan membawa ternak-ternak tersebut ke sebuah kapal.
Sontak Putra Mahkota dan Pangeran Istana terkejut saat itu, mengingat negara Mongolia sendiri tidak memiliki lautan sama sekali.
“Gunakan Aplikasi penarik jaringan!” Perintah Putra Mahkota kepada Mantan Presiden Sekolah Teknologi untuk mengaktifkan Aplikasi yang berfungsi untuk menarik jaringan dari Satelit Luar Angkasa di tempat terpencil yang kemungkinan besar tidak memiliki jaringan.
Segera laki-laki tersebut bergerak menuju ke tempat mobil mereka di parkirkan, lalu membuka bagasi mobil dan mengambil laptop di sana.
Setelahnya ia mulai masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menyalakan laptop lalu membuka sebuah Aplikasi Offline.
“No Signal.” Ungkapnya terus memainkan jari-jari tangan dengan cepat untuk mencari sedikit saja jaringan agar dapat memulai penarikan jaringan di sana.
“Coba diluar!” Perintah Putra Mahkota lagi yang langsung dilaksanakan laki-laki tersebut.
Sangat sulit, telah bermenit-menit lamanya, ia tak kunjung mampu menarik jaringan karena memang tempat tersebut sangat terpencil, hingga akhirnya Putra Mahkota sendiri yang ikut turun secara langsung membantunya mencari jaringan dengan menggunakan laptop berbeda.
Di bawah salju yang terus menerus turun hingga mengotori keyboard dan layar laptop, Putra Mahkota terlihat duduk di atas tumpukan salju dengan menggunakan sebuah alas yang terbuat dari bambu bersama dengan Pangeran Istana yang turut ikut membantu dan juga Mantan Presiden Sekolah Teknologi.
“Huh.” Nafas yang berhembus membentuk sebuah udara yang terlihat keluar dari mulut Putra Mahkota saking dinginnya tempat tersebut, setelah berhasil menarik jaringan datang ke tempat tersebut, laki-laki itu mulai meraih ponsel di dalam kantung jaket lalu menghubungi seseorang di kontak nama yang tertera.
“Paman!”
Panggilan terhubung,
“Kau menghubungi di tengah malam seperti ini, Mungkinkah ada sesuatu hal yang mendesak?” Tanya Penasihat Raja yang berada di Negara NC.
Walaubagaimanapun Jarak perbedaan waktu antara negara NC dan negara Mongolia tidak terlalu jauh. Mongolia lebih cepat 2 jam dari NC, sementara waktu di sana telah menunjukan angka 4 dini hari, maka dari itu di negara NC tentulah masih berada pada pukul 2 malam.
“Virus, Apakah ada banyak penduduk yang terinfeksi Virus?” Tanya Putra Mahkota sedikit khawatir kepada Penasihat Raja saat itu.
“Aku belum menerima laporan apapun dari para ketua Klan, Tapi jika terkena Virus sekalipun, bukankah masih ada perusahaan Xu yang mampu membuat obat untuk masyarakat kita?” Jawab Penasihat Raja dari balik ponsel Putra Mahkota.
“Tetapi semakin banyak yang terinfeksi, semakin banyak juga obat yang harus diproduksi. Bukankah jumlah karyawan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan seluruh masyarakat NC jika mereka semua terserang Virus?, Segera cari tahu malam ini juga, Paman!” Perintah tegas Putra Mahkota lalu menutup panggilan.
__ADS_1