
“Xu’i, Kau tahu..?”
“Tentang apa..?”
“Cayden berhasil menghancurkan otak Louise dan menyimpannya di Tabung Air Display Claya.”
“Aku tidak percaya, aku yakin itu hanyalah mitos saja.”
“Tapi aku percaya, “
“Shin’A, berhentilah membicarakan tentang novel itu lagi.”
“Xu’i, tapi Aku percaya. Cayden merancang Kapal Induk untuk Claya tetapi Claya malah jatuh Cinta kepada Louise, Padahal Cayden telah mengatur semua sistem agar bisa dikendalikan oleh Claya tetapi Loiuse berhasil menguasai kapal itu dan hanya dia lah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Kapal Induk, maka dari itu Cayden Membunuh Louise dan menghancurkan otaknya lalu menyimpannya di Tabung Air Display buatan Claya.”
“Shin’A, kau tidak lihat aku sedang sibuk,ya...?”
“ Xu’i, Suatu hari nanti jika Kapal induk Claya ditemukan, Aku akan menemukan tabung Air Display dan masuk ke dalamnya untuk mengetahui semua ingatan Louise, aku ingin tahu bagaimana perasaan Louise yang sebenarnya untuk Claya...?,dan Juga Bagaimana cara dia membuat Mesin Waktu ...?”
“Terserah kau saja.”
********
“Haaa...Shisou.”
Kwaakkk kwaaaakkk...
Kwaaaaakkkk.. waaaaakkk...
Bukkkubukkkkbuuukbuuukkkbuukkkk...
Suara burung - burung Bangau terdengar di pagi dengan sinar Matahari yang berhasil menembus beberapa bagian Sebuah Kapal besar yang memiliki ukuran sebesar sebuah Pulau.
Suara kepakan burung-burung dara juga ikut mengisi Suasana pagi hari di pertengahan Laut, Samudra Pasifik tersebut.
__ADS_1
Kerumunan burung-burung tersebut tampak berterbangan mengelilingi Kapal Induk yang baru saja muncul di atas Permukaan air laut.
Atap yang terbuat dari lapisan kaca yang begitu tebal terbuka perlahan-lahan, Satu atap kaca yang paling bawah mulai bergerak cepat, dimulai dari bagian timur kapal lalu menghilang ke bagian barat kapal, diikuti oleh atap lain yang melapisinya dalam kurun waktu beberapa detik saja, hingga atap terakhir, yang mungkin adalah Atap Paling atas yang menutupi kapal Induk dan melindunginya di dalam dasar lautan selama ini.
Cahaya matahari masuk menembus, getaran telah berhenti, semua orang yang berada di atas kapal tampak berdiri memandang langit yang dipenuhi kumpulan awan putih.
Betapa terlihat raut kebahagiaan di wajah mereka. Beberapa orang dari mereka bahkan sempat menangis terharu karena setelah sekian lama, akhirnya mereka menghirup udara segar di atas permukaan laut dan melihat Tata Surya, sumber kehidupan manusia dengan mata kepala mereka sendiri.
Di pertengahan lautan luas yang terdapat dua buah bukit tinggi gersang dan tak ditumbuhi pepohonan maupun rerumputan, tampak saling berhadapan. Kapal induk seukuran sebuah Pulau mengapung dan mulai bergerak perlahan-lahan mengarungi lautan. Meninggalkan bukit dan melewati beberapa kumpulan lumba-lumba yang terlihat berenang mengikutinya.
Di bagian dalam Kapal Induk, Pangeran Istana tampak berdiri di depan Zili yang juga tampak berdiri saat itu. Gadis itu terlihat lemah karena menahan rasa sakit di dalam hati. Rasa sakit yang lebih menyayat dibandingkan dengan luka-luka di seluruh tubuh.
Bagaimana tidak,?
Saat itu ia sungguh melihat perbedaan perilaku yang teramat jelas dari Putra Mahkota. Laki-laki yang ia cintai tidak lagi mengenalinya sebagai seorang istri ataupun murid. Laki-laki itu terlihat berubah total, pandangan matanya remeh dan penuh dengan tatapan penghinaan yang tertuju kepadanya.
Mengetahui hal tersebut, Pangeran Istana dengan sengaja menghalangi pandangan Zili dan Putra Mahkota untuk tidak saling beradu. “Pergilah!” Pangeran istana memberi perintah.
“Hah.” Sungguh, saat itu, Zili sama sekali tidak ingin berlalu pergi dari sana. “Tapi Shin’A.”
Tidak lama, Penasihat Pangeran Istana datang bersama dengan dua orang tentara Militer yang berjalan mengikutinya. Pandangan mereka tertuju kepada Putra Mahkota yang saat itu mulai duduk di Sebuah Kursi antik berkaki empat, Kursi yang mungkin adalah tempat Pembuat kapal, Cayden menghabiskan waktu selama sisa hidup di masa lalu.
Wajah pucat karena takut terlihat jelas ketika mereka yang baru saja tiba melihat tiga orang wanita transparan berdiri di belakang Putra Mahkota yang tampak tersenyum nakal sembari melipat kaki dan menopang kepala miring ke sebelah kiri dengan menggunakan kepalan tangan yang sikunya bersandar di gagang kursi.
Kabel-kabel panjang yang mengeluarkan sengatan listrik di bagian ujungnya terlihat berdiri di samping ketiga wanita yang mirip tersebut. Mungkin, Kabel-kabel tersebut memang telah di desain khusus untuk menerima perintah layaknya sebuah robot di kapal itu.
Walaubagaimanapun, Kecerdasan orang-orang pada abad kecanggihan begitu luar biasa, bahkan sebuah Layar Transparan berbentuk manusia sekalipun mampu mereka ciptakan.
“Saya datang memenuhi panggilan, Yang Mulia.” Masih dengan ketakutan yang ia tahan, Penasihat Pangeran Istana terlihat menundukan kepala berada di belakang Pengaran Istana, Tepat di samping Zili yang masih menahan sayatan Luka hati dan hanya memandang Punggung Pangeran Istana dengan keterkejutan yang masih menyelimuti.
“Pergilah!” Perintah Ulang Pangeran Istana.
“Shin’A.”
__ADS_1
Zili terlihat menolak keras, dia bahkan mulai maju satu langkah ke depan dan hendak memegang bahu Pangeran Istana, berharap laki-laki tersebut berbalik badan dan membiarkannya untuk tetap berada di tempat.
Mengerti Perintah yang diberikan Junjungannya, Penasihat Pangeran Istana menghentikan tangan Zili. “ Lihatlah kondisimu!.” Ucap Laki-laki itu mulai menarik tangan Zili dan membawa paksa gadis itu pergi menjauh. “Kau akan menyusahkan Pangeran Istana saja jika tetap berada di sini.” Lanjutnya menasihati sembari terus memaksa Zili untuk menjauhi tempat yang tampak remang-remang dan dipenuhi dengan robot-robot manusia yang bergelempangan di atas lantainya.
Menghentikan Langkah, Memandang sejenak ke arah dua orang Tentara Militer yang mengangkat Tabung tempat neneknya terbaring. “ Berjanjilah Shin’A.” Saat itu, Zili terlihat begitu berharap dengan membelakangi tubuh Pangeran Istana. “Bawalah Putra Mahkota kembali ke NC.” Lanjut Zili mulai melangkah kaki kembali, kali ini dengan melepaskan tangan Penasihat Pangeran Istana.
“ Maaf.” Sepertinya Pangeran Istana mengetahui dengan pasti bahwa situasi saat itu tidak mendukungnya.
“Hmm..” Suara Putra Mahkota mulai terdengar kembali. “Lagi-lagi kau menyelamatkan Claya.” Ucapnya tidak mengenali Zili dan malah menganggapnya sebagai orang lain dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Tapi dia akan datang lagi kepadaku nanti dan mengkhianatimu kembali, bukankah begitu Claya?”
“Aku..” Menggertakan gigi setelah menghentikan langkah kaki, sepertinya Zili sedikit mengetahui bahasa negara tersebut. “ Bukan Claya.” Zili berbalik lalu menatap tajam mata Putra Mahkota bersamaan dengan suara teriakannya yang menggema. “Aku percaya pasti Shisou punya alasan tersendiri membiarkanmu menguasainya, aku yakin kalau itu Shisou hiks..” Menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir. “ Dia pasti akan kembali lagi kepada kami.” Lanjut gadis itu, berbalik lagi dan mulai berjalan Pincang meninggalkan tempat tersebut.
“Kau kira bisa pergi dariku.”
“Kau kira bisa melewatiku.”
Putra Mahkota mengalihkan pandangan ke arah Pangeran Istana atas ucapan laki-laki tersebut setelah sebelumnya memandang punggung Zili.
“ Ohh..” Dia tampak mengangkat kepala lalu meletakan kedua tangan di sandaran kedua kursi. “ Mati.”
“Attack!” Wanita Transparan memberi Perintah. Sebenarnya wanita itu hanyalah sebuah Layar Transparan yang terhubung dengan Sistem Teknologi kecanggihan Kapal Induk. Namun tetap saja Sistem tersebut berisi ingatan-ingatan Claya yang diciptakan wanita tersebut sebagai Seorang Ilmuwan di masa lalu.
Kabel panjang mulai bergerak mendekati Zili dan Penasihat Putra Mahkota. “ Cancel.” Sistem dan data yang telah berhasil diterima dari Putra Mahkota, mempermudahkan Pangeran istana untuk menghentikan gerakan kabel mendekat.
“Attack!” Kini perintah datang bersamaan dari dua orang wanita.
“Cancel.”
“Cancel.”
Suara Pangeran Istana terdengar menggema bersamaan dengan suara lain yang tiba-tiba muncul di ruangan tersebut.
“Yang Mulia.” Seorang laki-laki kecil tiba-tiba masuk keruangan dengan nafas terengah-engah. Dia adalah Hacker berbakat kebanggaan Putra Mahkota, Zin Zilua.
__ADS_1
Dengan membawa Laptop milik Putra Mahkota, dia muncul bersama dengan Seseorang yang mampu membuat Zili semakin memperpecah aliran air matanya.
“Tuan.”