Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
Sindiran


__ADS_3

Langkah kaki yang terdengar menggema mulai terhenti bersamaan dengan pintu ruangan kedap suara yang ditutup oleh salah seorang penjaga pintu ruangan Putra Mahkota di rumah sakit terbesar negara NC.


Seorang laki-laki tersenyum remeh sembari menghempaskan tubuh sesukanya di atas kursi sofa dan melipat kaki kemudian memperlihatkan selembar kertas yang tampak telah dibubuhi tanda tangan serta sebuah cap di atasnya.


Putra Mahkota tersenyum kecut. “Dia akan melanjutkan misinya.” Perintahnya tiba-tiba setelah melihat kertas yang tergantung di tangan laki-laki di dalam ruangannya tersebut. “Dia adalah pelayanku, Para pejabat tinggi yang bertugas adalah para pelayanku, maka tidak seorangpun dari mereka berhak melanggar perintah saat aku bersuara,” lanjut laki-laki tersebut setelah beberapa saat diam dan mendengar suara dari balik headset miliknya, “Zili, kau bilang kau akan bertugas, bukan?, aku memberimu pilihan, pergi bersama ayahmu atau tetap menjalankan tugasmu hingga selesai?” kemudian memberikan pilihan kepada Putri Mahkota negara NC.


Seruannya sontak membuat laki-laki di dalam ruangan pribadi Putra Mahkota tersenyum kecut dan mengira bahwa Putra Mahkota negara NC begitu sombong dengan keputusannya.


“Hm, konyol.”


Ucap laki-laki yang tadinya duduk dengan santai, lalu kini telah menegakan tubuh memandang ke arah wajah Putra Mahkota yang berada di depan layar komputer dengan kepala yang terlihat lebih tinggi dari komputer di depannya.


Putra Mahkota tersenyum remeh, ia menghempaskan tubuh begitu santai di kursi putarnya lalu menggeser benda yang ia tempati tersebut sedikit ke samping meja agar matanya dapat dengan leluasa memandang ke arah Pangeran Istana, laki-laki yang duduk di sofa samping kiri ruangan tersebut.


“Hm.” Tangan Putra Mahkota memegang punggung headset di salah satu telinga, lalu menekan tombol yang berada di sana, tombol yang berfungsi untuk memutuskan komunikasi yang sedang berlangsung saat itu kemudian menekan lagi tombol pada headset di telinga yang lain. “Hebat sekali,” pujian yang mengandung sindiran sepertinya sedang dilontarkan oleh Putra Mahkota yang kini telah bertatapan mata dengan Pangeran Istana. “Meskipun hebat tetapi begitu aneh, sejak kapan seorang putra raja mulai ikut campur dengan urusan orang lain?” tanya Putra Mahkota dengan tatapan hina karena sungguh, ia benar-benar tidak menyukai Pangeran Istana negara NC.


“Bukankah ini juga menyangkut perihal tentangku di ma sa la lu?” Pangeran Istana berdiri, lalu mengantungi kedua tangan setelah meremas kertas di salah tangannya dan melempar benda tersebut tepat di lubang tempat sampah samping pintu.


Masih saling memandang dengan tatapan tajam, “Hm,” Putra Mahkota tersenyum semakin lebar, “bukankah sekarang dia adalah istriku? Aku yang memulainya maka tentu saja aku yang akan bertanggung jawab atas perbuatanku di ma sa la lu.” Putra Mahkota meletakan siku tangan pada gagang kursi miliknya lalu menutupi salah satu mata dengan telapak tangan dengan senyuman sinis, meremehkan Pangeran Istana yang juga mulai tersenyum remeh kemudian berbalik badan dan mengeluarkan kedua tangan dari kantung celana limited edition berwarna hitam yang ia kenakan.


“Cepat atau lambat, dia akan membencimu seumur hidupnya. Salahkan dirimu sendiri yang tidak mampu menutup mulut mantan penjaga perpustakaan sekolah dan juga, aku..” Mulai melangkahkan kaki, Pangeran Istana mengangkat kedua tangan lalu meletakan di kepala belakang dengan begitu santai. “ Memiliki banyak cara untuk menghancurkan hidupmu sampai kau menangis dan memohon maaf atas semua perbuatanmu padaku selama ini.”


“Hahahaha,” tawa Putra Mahkota menggelega, menghentikan langkah Pangeran Istana sebelum tangan laki-laki tersebut menyentuh gagang pintu sementara tangan yang lain telah masuk kembali ke dalam kantung. “Kau.. sungguh tidak mengenali Zin Zili’A, padahal kau telah menjadi tunangan wanitaku selama bertahun-tahun lamanya.” Putra Mahkota terlihat bergerak, ia berdiri lalu melangkah dengan cepat menuju ke arah Pangeran Istana.”Kukatakan padamu,” tangannya tampak terangkat lalu mendarat di bahu Pangeran Istana negara NC, “Aku,.. Memiliki banyak cara untuk menghancurkan mimpi tingkat tinggimu itu secepatnya.” Bisik Putra Mahkota lalu memegang gagang pintu dan membukakan benda tersebut untuk Pangeran Istana yang terlihat tersenyum tipis mendengar ucapan kepercayaan diri dari saudaranya itu. “Hm, Silahkan keluar Yang Mulia, Putra Raja Negaraku!, kau hanya membuang-buang waktu menemui raja masa depan Negaramu ini.” Ucap Putra Mahkota begitu remehnya sembari bergerak cepat, menyandarkan punggung di dinding pintu lalu melipat kedua tangan, menunggu kepergian saudaranya yang sedang melirik tajam ke arah Putra Mahkota lalu melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut, mengabaikan setiap penghormatan para pekerja dan juga para pasien rumah sakit yang melihatnya.

__ADS_1


********


“Kau datang sangat cepat, terima kasih.” Semua orang tampak sedang bersiap-siap, sebagian dari mereka akan menjalankan misi yang diperintahkan, sebagian lainnya akan kembali dan berhenti melanjutkan misi yang ditugaskan.


“Shin Ji.” Suara Putri Istana terdengar.


“AHHH, syukurlah kau baik-baik saja.” Begitupula dengan Pelindung Putra Mahkota Shin Jo yang telah memasuki ruangan dan mengikuti langkah kaki Putri Istana menghampiri saudara kembarnya tersebut.


“ Syukurlah, syukurlah, syukurlah.” Suara kelegaan terdengar setelah Putri Istana mendekat dan memeluk tubuh Pelindung Putra Mahkota Shin Ji.


Perilakunya tersebut semakin membuat Putri Keagungan merasa tersakiti, gadis yang telah melepaskan pelukan kakaknya mulai berjalan mendekati seorang dokter kejiwaan yang sedang memeriksa keadaan Zili dan Penasihat Putra Mahkota, Ann Sandi yang berada tak jauh dari tempatnya berada.


“Tidak masalah, aku juga sangat khawatir dengan keadaan kalian maka dari itu mempercepat laju mobilku.” Jawab Pengusaha Kebanggaan Negara atas pertanyaan yang dilontarkan Penasihat Putra Mahkota beberapa saat yang lalu.


“Aura, huh, aku sangat lega, Bagus datang lebih cepat dan membantumu setelah tubuhkan terasa lemas. Kakiku bahkan masih gemetaran saat ini.” Ucap Penasihat Putra Mahkota yang terlihat sedang duduk sembari menerima obat penenang dari tangan dokter kejiwaan dan menerima sebotol air mineral dari adiknya, Ann Soni lalu menelan dua buah pil di telapak tangannya tersebut.


“Maaf, aku,..”


“Jangan bilang begitu!, kalau itu aku, mungkin aku tidak akan bisa sadar dari Jebakan Klan Lu secepat dirimu.” Larang Lord Breeder yang tampak berjongkok menghadap ke arah saudaranya tersebut tepat di samping Zili yang sedang menerima pemeriksaan dari dokter di sana.


“Kau begitu hebat, jadi jangan merasa bersalah lagi. Jika kau merasa bersalah maka semua orang juga akan ikut merasa bersalah.” Ucap Ou Nura yang telah datang menghampiri mereka sembari melirik sedikit ke arah Zili yang tampak telah berdiri lalu memandang ayahnya.


“Maaf ayah, aku harus tetap menjalankan tugas dari Putra Mahkota.” Ucap Zili setelah menerima pemeriksaan dan meminum obat penenang.

__ADS_1


Ucapannya terdengar hingga ke telinga beberapa orang di dekatnya.


“Tidak masalah, kau tidak perlu takut dengan Xu’i, lebih baik kau ikut pulang ke rumah kakek bersama ayah saja. Ayah mohon Zili!” kedua tangan Menteri Keuangan mendarat di bahu putrinya, sungguh, terlihat sekali perasaan khawatir pada wajahnya saat itu.


“Maafkan aku ayah.” Zili menundukan kepala, ia begitu teguh dengan pendiriannya untuk mematuhi perintah Putra Mahkota negara NC.


“Zili!”


“Sebagai Putri Mahkota, bukankah sudah menjadi hal yang sangat wajar jika ia membantu kami? atau,” suara Pengusaha kebanggaan negara terdengar menyela. “ Benarkah yang kudengar selama ini bahwa Putri Mahkota negaraku ini sangat tidak berguna.”


“Sepertinya ucapanmu terlalu sopan, terlalu sopan hingga aku sangat ingin memukul wajahmu yang tak mengenal kata santun itu.”


“Sensei!”


Dokter hewan mendekat, ia berdiri tepat di depan Pengusaha berbakat yang telah mengantungi tangan dengan santai padahal kerah kemejanya sedang digenggam oleh Dokter hewan kebanggaan negara secara paksa.


“Kalian, berhentilah bertengkar!,” Seorang laki-laki yang mendengar keributan mulai datang lalu melepaskan tangan dokter hewan dari kerah kemeja pengusaha berbakat.


“Yo Rein, bukankah sebagai pejabat tertinggi sudah sepantasnya Putri Mahkota negara kita masuk ke dalam regu Zero?” Pengusaha Kebanggaan berbalik tubuh, menghadap ke arah Ilmuwan kebanggaan negara Co Rein sembari menyentuh bahu laki-laki tersebut sebelum ia berlalu pergi dari sana.


“Selamat datang di regu Zero, Yang Mulia.” Ou Nura tersenyum lembut, namun senyumannya terlihat aneh menurut pemikiran Zili.


“Maaf So’A, sebagai ketua, aku terpaksa harus mematuhi perintah Xu’i.” Ucap Ilmuwan kebanggaan negara menyetujui ucapan Pengusaha kebanggaan negara NC lalu berbalik dan meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah Mantan Presiden Sekolah Teknologi yang tampak sedang sibuk dengan laptop di atas pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2