
Pagi yang cerah, Matahari mulai terbit di bagian timur Negara. Cahayanya menyinari Sebuah bangunan rumah yang terlihat begitu kokoh padahal rumah tersebut telah berdiri dan bertahan bertahun-tahun lamanya.
Mungkin karena bangunan rumah tersebut terbuat dari Pohon kayu jati yang memang telah terbukti keawetan dan kualitasnya, sehingga membuat rumah sederhana tersebut masih tampak seperti bangunan baru.
Tak jauh dari halaman depan rumah tersebut, di bawah Pohon manggis yang rindang dan berbuah lebat. Dua orang anak laki-laki sedang duduk di sebuah bangku sembari membaca buku mereka masing-masing. Meskipun demikian, buku kedua anak laki-laki tersebut memiliki Bentuk cover dan judul buku yang sama.
"TAKE ME TO THE TIME MACHINE." Menutup buku, Salah seorang dari anak laki-laki tersebut tersenyum senang karena lebih cepat menyelesaikan bacaannya dibandingkan dengan anak laki-laki lain yang tampak sedang duduk di sampingnya. " Aku sudah menyelesaikannya, Shin'A." Ucapnya bahagia penuh kemenangan karena telah berhasil mengalahkan Anak laki-laki dengan kemampuan hebat yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain.
Menutup buku lalu menoleh ke arah anak laki-laki yang terlihat kesenangan sembari mengayun - ayunkan kaki yang mengudara di bawah bangku. "Aku mengaku kalah, " Jawab anak laki-laki tersebut terlihat kesal dengan kecepatan membacanya yang kalah jauh dengan anak laki-laki di sampingnya. "Xu'i, karena kau hebat, bagaimana kalau kau saja yang menjadi Louise dan aku menjadi Cayden...?" Ucap anak laki-laki tersebut mencoba bersepakatan dan menentukan pilihannya sendiri.
Mengerutkan dahi, anak laki-laki lain yang mungkin usianya masih 5 tahun namun telah diakui sebagai seorang anak yang sangat berbakat dan juga sangat pintar tampak tidak menyukai kesepakatan tersebut. "Kenapa harus aku yang menjadi louise...?, aku tidak ingin menjadi jahat sepertinya yang suka memanfaatkan bahkan mencelakai temannya sendiri, aku benar-benar tidak mau, Shin’A." Tolak anak laki-laki tersebut, menghentikan ayunan kaki dan mulai melompat, menapakan kaki ke atas tanah.
Terlihat sangat mengharapkan keinginannya terpenuhi karena anak laki-laki tersebut sangat menyukai Novel yang tidak sengaja mereka temukan di rumah Kenangan Raja dan Ratu Negara serta Raja Bayangan. " Bukankah kau sehebat Louise...?" Anak laki-laki tersebut mulai memaksakan kehendaknya. "Kau bahkan sangat cerdas seperti dia walaupun kau tidak memiliki kemampuan cepat mengingat seperti aku." Lanjut anak laki-laki tersebut memberi pujian meskipun anak laki-laki yang berdiri itu tidak menyukainya. "Berjanjilah Xu'i, mulai sekarang nama lainmu adalah Louise." Dia semakin memaksa lalu melompat kemudian berdiri di samping anak laki-laki yang tampak enggan menerima permintaannya.
"Tapi Shin'A...
" Xu'i, Kau tidak boleh menolaknya." Menepuk bahu Saudara laki-laki disampingnya sembari memeluk buku novel kesayangannya. "Ingat Xu'i, mulai sekarang kau adalah Louise." Anak laki-laki tersebut mulai berlari meninggalkan Saudaranya yang hanya bisa memandang punggung anak laki-laki tersebut dari jauh dan menerima keputusan sepihak darinya.
*********
"Aku sangat terobsesi dengan novel itu." Suaranya terdengar begitu menyedihkan. "Kau pasti pernah mendengar tentang kisahku yang sangat mencintai Ayya di masa lalu dari mulut Rehan, bukan...?" Tebaknya mengejutkan Zili yang masih berdiri menyentuh tabung tempat tidur neneknya. "Dulu aku sangat ingin menjadi Cayden yang bisa menyelamatkan Claya dari siksaan Louise." Laki-laki yang tak lain adalah Pangeran istana mulai bercerita. " Ayya sangat mencintai Xu'i begitupula dengan Claya yang sangat mencintai Louise tetapi Louise hanya memanfaatkan Claya untuk mendapatkan keuntungan dari Cayden, teman masa kecil wanita itu." Lanjut laki-laki tersebut menceritakan sebagian isi dari novelnya." Karena itu aku mulai bertanggung jawab dan tidak ingin gagal membuat Xu'i dan Ayya menikah, agar Ayya tidak berakhir mati mengenaskan seperti kematian Claya." Dia terdengar menghela nafas berat. "Dan sekarang, Aku tidak menyangka bahwa wajah Cayden ternyata sangat mirip denganku, " Terdengar sedang berjalan di luar rumah dari suara angin yang berhembus kencang di balik headset milik Zili. "Aku sangat penasaran, Mungkinkah jika aku pergi ke sana nanti, aku bisa melihat Tokoh Claya dan juga Tokoh Louise di Novel favoriteku..? jadi,..." Baaakkk .. Suara pintu mobil terdengar tertutup, Buuummm,, Mesin mobil juga terdengar menyala. "Zili, Tunggu aku, aku akan segera menemuimu di Kapal Induk Claya." Panggilan terputus, menegunkan Zili yang terlihat penasaran dengan alur cerita novel kesayangan Pangeran istana.
Gadis tersebut mulai memandang lekat Foto Laki-laki dewasa yang sangat mirip dengan Pangeran Istana. "Cayden." Gumamnya pelan memandang sayu pada foto tersebut.
Tuk tuk tuk..
Suara Langkah sepatu terdengar mengejutkan Zili hingga gadis tersebut segera berbalik.
"Tertangkap." Matanya terbelalak ketika melihat seorang laki-laki tua dan laki-laki dewasa yang pernah ia lihat wajahnya berada di depan mata.
"Tuan Sien." Panggil gadis itu berusaha melindung tabung neneknya.
Tersenyum senang, mendengar Zili menyebut namanya. "Hm, Jadi Putri Mahkota mengenali namaku juga, ya...?" Laki-laki dewasa tersebut mulai berjalan mendekat.
Tuk..
Suara satu langkah sepatu terdengar menggema di ruangan yang lumayan berisik karena suara mesin di sana.
Tuk..
Melangkah perlahan-lahan mendekati Zili.
Menghela nafas, "Maaf nenek." Gumam gadis tersebut lalu berlari kencang.
Membelalak mata, kedua laki-laki di sana terkejut karena tidak mampu untuk melihat gerakan cepat Zili.
Bakkkk...
Bukkkk..
uhuk .. uhuk..
__ADS_1
Musuh negara membungkuk maju, menerima serangan tendangan kaki Zili dari arah belakang.
" Kurang ajar. "Laki-laki tua yang tak lain adalah Ayah dari nenek gadis itu mulai bergerak cepat mendekati Zili yang terus bergerak lebih cepat menyerang Musuh negara.
Baaaakkkk....
Aakkhhh terpental...
Zili dengan Sigap melompati laki-laki tua lalu mendorong keras punggung laki-laki tersebut dengan kedua telapak sepatunya kemudian berhasil mendarat ke atas lantai secara sempurna.
Gadis itu semakin kuat karena memiliki seseorang yang harus ia lindungi.
Bakkk
BuKKKK..
Dua serangan datang secara bersamaan.
Berhasil menghindar dengan melompat.
Baakkk..
"Brengsek.." Maki Musuh Negara yang tiba-tiba hampir terjatuh ketika menerima pukulan kepalan tangan Zili di perutnya.
Melompat, "Padahal darahmu mengalir di tubuhku..."
Berbalik lalu membelalak mata ketika melihat tubuh Zili tampak berada di udara dan berputar lalu mengangkat kaki. "Kau..." Teriak laki-laki tua mulai marah.
Baaaakkkk....
Hingga tubuh laki-laki tua tersebut melayang jauh,
Akkhhhh..
uhuk .. uhuk..
Dan semburan darah keluar dari mulutnya bersamaan dengan tubuh yang telah menabrak sisi dinding di ruangan tersebut.
" Kuat.." Musuh Negara begitu senang melihat Kehebatan serta kelincahan Zili dalam menguasai keahlian seni bela diri, Klan Shen. " Tapi sayang, Kau hanya sendirian." Lanjut laki-laki tersebut menegunkan Zili yang tampak terbelalak ketika melihat sebuah remote digenggaman tangan laki-laki tersebut.
Berlari kencang, berusaha keras agar laki-laki dewasa di hadapannya tidak menekan tombol remote.
krkrk krkrr krrk..
pakkk.. pakkk....pakkk
Begitu banyak suara kaki tak beralas masuk ke dalam ruangan tersebut.
" Human Machines." Gumam Zili menggigit bibir bawah menahan rasa gelisah karena dia hanya sendirian berada disana sementara gadis tersebut juga harus melindungi neneknya.
"Keterlaluaaann." Maki gadis yang mulai mendekati Musuh negara dengan segera agar dapat meraih Remote dari tangan laki-laki tersebut.
__ADS_1
Baaaakkk...
Akkhhh...
Seorang laki-laki lain tiba-tiba datang dan menendang tubuh Zili. " Ternyata kau pengkhianat." Ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah pengendali Kapal Roll-V, laki-laki yang mengemudikan kapal untuknya saat pertama kali ia memasuki Kapal induk tersebut.
Mundur kebelakang,
"Kenapa kau mengkhianati negara...?" Tanya Zili keras, begitu sedih sembari memegang perutnya yang sakit akibat tendangan yang menghantamnya.
Bergerak cepat mendekati Zili. Bakkkk..
Buuukkk..
Serangannya berhasil di tepis gadis itu, Tendangannya juga berhasil di hindari bahkan ketika laki-laki tersebut mulai melompat dan menendang berputar, Zili masih sanggup untuk menahan serangannya dan tetap berdiri tegak dengan kedua tangan yang menyilang ke depan. "Haruskah aku katakan alasannya kepada pengkhianat sepertimu...?" Kesal, Laki-laki tersebut mundur ke belakang karena gagal menjatuhkan Zili yang saat itu mulai bergerak cepat menyerang ke arahnya.
Tapi hanya sebagai pengecoh,
Ternyata gadis itu mengarahkan Jam tangannya ke samping, ke arah laki-lak tua yang tampak sedang mendorong tabung neneknya lalu mengeluarkan tali benang pancing yang begitu kuat dari benda tersebut, Tali benang pancing Penemuan abad kecanggihan di masa lalu, dan mulai menarik sekuat tenaga tali benang pancing yang telah mengikat lengan atas laki-laki tua itu.
Mengingat cara yang pernah dilakukan Putri dari Mantan Presiden ketika melawan Putra Mahkota di desa Ann pada masa lalu.
laki-laki tua mulai berjalan maju beberapa langkah, kemudian..
Baaaaaak..
uhuk.. uhuk.. Bergerak cepat, lalu menendang perut laki-laki tua yang berani menyentuh tabung neneknya dengan Lutut kaki.
AAkkkkhhh...
Gadis tersebut telah berhasil melumpuhkan Kakek dari Ayahnya hingga laki-laki tua tersebut jatuh tersungkur lalu tak sadarkan diri lagi, menerima tendangan kuat Putri dari Cucunya tersebut. "Pengkhianat memang harus dikhiananti, bukankah itu adalah balasan yang setara..?" Jawab Zili mulai bergerak menyerang pengendali kapal Roll- V kembali, tetapi sayang, Puluhan robot manusia mulai berdatangan menyerang gadis itu dan juga tabung neneknya.
Hal tersebut sontak membuat Zili kesulitan untuk mendekati musuh karena harus melindungi Neneknya.
Bakkkkk..
Bukkkk...
Menendang, memukul, berputar.
Robot-robot manusia terhempas jatuh hingga menabrak robot-robot lain yang mendekat.
Baaaakkk...
Akhhh..
Erang Zili kesakitan karena tendangan tiba-tiba muncul dan mendarat dari belakang punggungnya hingga membuatnya jatuh terbaring miring di atas lantai ketika ia sedang menyerang puluhan robot manusia di depannya.
" Hm, kena kau." Ucap Musuh negara tampak begitu senang melihat Zili yang mulai kesulitan berdiri.
" Aaaaakkhhh.."Tetapi sayang, salah satu tangannya diinjak laki-laki pengendali kapal hingga membuat gadis tersebut berteriak, mengerang kesakitan.
__ADS_1
“ Keterlaluan.”Bentak gadis itu terdengar amat marah. “ Kalian semua Pengecut, berani bersembunyi dan juga main keroyokan.” Lanjut marah gadis tersebut dengan mata merah berapi-api.