
Melompat,
Menuruni Texchi,
Menapakan kaki diatas atap lantai Sebuah gedung bertingkat.
Uhukkk.. uhuukkkk..
Tubuh seseorang terbang terhempas.
Membelalak mata, bergerak cepat meraih tubuh yang terbang tersebut.
“Berani sekali kau melukai Tunanganku..” bentak marah pelindung putra mahkota Shin Ji kepada Polisi inteligen negara yang terlihat terkejut memandang kearahnya.
Memandang wajah Putra mahkota shin ji, “shin ji..” panggil Putri keagungan “biarkan aku tidur sebentar saja..” ucap gadis itu yang telah berada dikedua tangan Pelindung putra mahkota “aku lelah sekali”
Tersenyum lembut “tidurlah,” jawab Pelindung putra mahkota menyetujui “aku akan membawamu pulang bersama” tambahnya lagi bersamaan dengan mata putri keagungan yang telah tertutup.
Menghela nafas berat, tertegun “ Tuan perwira Yang terhormat ..” mulai membuka suara “mohon kendalikan Tunangan anda untuk tidak membela Musuh negara,”
Tersenyum kecut, membawa Tubuh putri keagungan bersamanya “Membela musuh negara...?” tanyanya keheranan yang bercampur amarah. “sejak kapan negara mengeluarkan surat perintah penangkapan musuh negara..?” lanjutnya lagi menanya karena memang ia mengetahui bahwa Ayahnya, Pelindung raja, yang biasanya mengeluarkan Surat Perintah, sedikitpun tidak memberikan Surat perintah kepadanya.
Meraih lipat kertas dari kantung celana. “Bukankah wanita ini ..”menunjukan Sebuah poster yang mengejutkan pelindung putra mahkota “pembunuh Putri mahkota.” Membelalak mata geram.
“Dia adalah putri mahkota bodoh..” maki Geram pelindung putra mahkota mulai panik,
Membelalak mata “putri mahko...
“Antarkan dia kembali kerumahnya..” perintah pelindung putra mahkota shin ji bergegas pergi mencari Zili “kemana arah dia lari..?” tanya keras Laki-laki tersebut menakuti polisi inteligen yang telah mengangkat tubuh putri keagungan ditangannya.
“Utara.” Jawab Polisi inteligen merasa bersalah. “Syukurlah..” gumamnya dalam hati ketika pelindung putra mahkota berlalu pergi dengan cepat menaiki texchinya, mencari keberadaan Zili menggunakan benda terbang tersebut. “Aku kira kau telah mati, Zili.” Ucapnya dengan senyuman lega menghiasi bibir, lalu melangkah kaki menuju pintu masuk diatap gedung.
*********
Angin kencang menerpa tubuh yang berdiri menggigil karena mulai melemah, pandangan mulai samar-samar, darah terlihat mengalir keluar dari Hidungnya.
Berada jauh dari Tempat putri keagungan berada, dibawah gedung yang disaksikan ratusan penduduk NC didalam bangunan, putri kelincahan menatap sayu kearah Dewa kemenangan yang tak terlihat sedikitpun goresan luka ditubuhnya.
Memandaang tajam “berhentilah mencari masalah terus menerus, anna..” maki dewa kemenangan yang mungkin tidak lagi dapat menahan kekesalannya.
__ADS_1
Tersenyum getir “tidak mau..” Tolak putri kelincahan disela-sela rasa sakitnya “aku akan selalu mencari masalah agar nenek dan kakek terus memarahiku ” lanjut jawab gadis itu.
“Anna..”
“Kau tidak pernah tahu rasanya jadi aku.” ucap gadis itu mulai membersihkan hidungnya yang berdarah “aku sendiri yang tidak memiliki orang tua, jadi tentu saja aku membutuhkan kakek dan nenek untuk selalu memperhatikanku.” Ungkapnya Terang-terangan,
Telah berkali-kali diucapkan, sepertinya dewa kemenangan tidak pernah memahami perasaan Gadis dihadapannya “ kau ini benar-benar tidak pernah tahu rasa bersyukur ya..” Lanjut laki-laki itu geram“selalu saja merasa yang paling benar sendiri..” mulai berbalik, menghadapkan diri kegedung untuk naik keatasnya.
Mencari keberadaan Zili yang mungkin telah jauh melarikan diri.
Jatuh,
Tubuh putri kelincahan Terbaring lemah diatas halaman gedung,
Tak seorangpun berani mendekat karena masih melihat dewa kemenangan disana.
“Sa’i.. “ panggil seseorang menghentikan gerakan tangan dewa kemenangan mengeluarkan tali dijam tangannya,
Berbalik arah menghadap kesumber suara “ Sandi..?” Laki-laki itu melihat raut wajah pucat penasihat putra mahkota yang telah menuruni texchi dan bergerak cepat meraih tubuh putri kelincahan.
“Kenapa kau melukai tubuh Keponakanmu sendiri..?” tanya penasihat putra mahkota kebingungan bersamaan dengan tubuh lemah putri kelincahan yang telah berada diatas kedua tangannya.
“Pembunuh Zili...?” tanya penasihat putra mahkota terkejut, “sa’i, “ panggilnya mulai merasa khawatir “Zili masih hidup..” lanjutnya mengejutkan dewa kemenangan.
Antara bahagia dan rasa kesal mulai menghampiri hatinya,
Bahagia karena wanita yang selama ini dia sukai masih hidup dan kesal pada dirinya sendiri yang tidak pernah mencari tahu penyebab kematian wanita tersebut disela-sela waktu luangnya. “jadi ini...” menunjukan Sebuah poster yang mengejutkan penasihat putra mahkota lagi.
“Kenapa Zili ada didalam poster itu..?” pertanyaan Penasihat putra mahkota sontak semakin mengejutkan dewa kemenangan, memperparah perasaan kesal yang tiba-tiba berubah menjadi benci ketika mengingat apa yang dia lakukan kepada gadis itu selama ini.
Meneteskan air mata “Dia Zili..?” tanya dewa kemenangan memastikan.
“Kau ini bodoh sekali..” hina penasihat raja, “ahh sudahlah..” berjalan cepat kearah dewa kemenangan lalu memberikan tubuh gadis ditangannya “bawa pulang keponakanmu....”
“Tidak bisa” tolak cepat dewa kemenangan “aku harus mencari Zili..” ungkapnya mulai mengkhawatirkan gadis itu.
“Sa’i..” teriak penasihat putra mahkota, memanggil dewa kemenangan yang telah bergerak cepat menaiki atap gedung, menghilang dari pandangan mata.
“Tanpa nama.. “ Gumam putri kelincahan didalam tidurnya.
__ADS_1
Tersenyum pahit, lalu bergerak menuju mobil Polisi dijalanan kota “dia zili..” jawab penasihat putra mahkota, terlihat jelas raut wajah sedih ketika mengingat keadaan temannya yang saat ini kehilangan gadis itu “bukan tanpa nama..” ucapnya mulai memasukan tubuh putri kelincahan dikursi duduk mobil polisi yang ada disana.
“Kunci mobil” teriak Penasihat putra mahkota meminta Kunci mobil kepada Polisi Lintas yang berada didalam bangunan.
Tidak lama, seorang polisi mulai datang menghampiri. Memberikan kunci “ini Tuan...”
“Bawa dia kekediaman Sun.” Perintah penasihat putra mahkota lalu bergerak cepat menuju texchinya, mencari keberadaan Zili untuk mengembalikannya kepada Putra mahkota.
“Siap..” suara polisi Lintas terdengar bersamaan dengan texchi Penasihat putra mahkota yang telah bergerak menghampiri laki-laki tersebut.
*******
Rambut yang terikat satu kebelakang, mulai bergerak terhembus kencangnya angin Pagi menjelang Siang hari.
Hembusan nafas lelah, terdengar terengah-engah.
Kesedihan yang memiluhkan hati, menyayat menusuk hingga harus menahan karena tidak memiliki bukti yang memadai.
Rombongan Tentara mulai mengelilingi Zili,
Ya,,
Tentara Intel yang berada dibawah pimpinan pangeran istana,
Walaubagaimanapun, pangeran istana yang telah memasuki tingkat SMA, telah pantas diberikan kekuasaan untuk memegang satu pasukan militer negara NC.
Menggantikan pemimpin sebelumnya untuk sementara waktu.
Memang,
para pejabat tinggi muda yang akan bekerja untuk putra mahkota selalu diberikan kekuasaan sementara waktu agar mereka terbiasa melakukan tugas mereka nantinya dimasa depan.
Para pejabat tinggi muda biasanya dipilih pada pertandingan antarKlan dan juga saat mereka mulai memasuki jenjang SMA.
“Kau kira aku akan mempercayai ucapanmu..?” pangeran istana terlihat begitu kecewa dengan Zili yang ia kira telah membunuh Putri mahkota tetapi masih tidak ingin mengakui kesalahannya dan bahkan mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah Zili.
Meneteskan air mata sedih “aku Zili, percayalah padaku Shin’A “ pinta Zili masih memandang lekat mata pangeran istana “kita pernah tinggal bersama Dirumah nenekmu desa Ann, bagaimana dengan ponsel yang kau berikan..” ucapnya berusaha menjelaskan “buku yang kau berikan padaku...
“Jadi kau mencuri semua barang yang kuberikan pada Zili..” sela pangeran istana, sungguh tidak ingin mempercayai gadis dihadapannya.
__ADS_1
“Aku sungguh Zili.” Ucap Zili lagi menangis sesunggukan.