Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5

Greatest, Chasing After You : My Husband Is Not An Ordinary Villain - Season 5
berusaha tetap tenang


__ADS_3

Ruangan itu kini penuh dengan aliran darah di atas lantai.


Beberapa orang tampak berdiri menahan rasa sakit, beberapa lainnya tampak terduduk ketakutan, sangat berharap hidup mereka akan terselamatkan malam itu dan kebanyakan orang-orang di sana terlihat berdiri menunggu reaksi Zili.


“Pastikan dulu mereka selamat.”


Ucap Zili masih berusaha untuk tetap tenang.


“Kau kira aku bodoh, tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan seorangpun dari mereka selamat.” Jawab laki-laki itu menolak keras. “Mulut mereka yang bisa kapan saja melapor, harus dibungkam selamanya.”


Helaan nafas beratnya terdengar. “Baiklah, kalau begitu. Tapi bukankah kalian membutuhkan aku?, jika kalian membunuh mereka maka aku akan ikut mati bersama.”


Ancam Zili dengan santai mendekati salah seorang dari mereka. “Tetapi jika kalian melepaskan mereka maka aku akan bekerja sama.” Lanjut gadis itu mulai meraih pergelangan seseorang yang telah ia dekati dan mengangkat tangannya yang menggenggam pistol lalu diacungkan benda tersebut kepada dirinya sendiri. “Kalian tahu, jika aku mati, apapun usaha kalian tidak akan pernah berguna, bukan?, Putra Mahkota bahkan akan mengejar kemanapun kalian pergi hingga sampai ke ujung dunia, bukankah Putra Mahkota sangat menyayangi Istrinya?” Tambah gadis tersebut berusaha mengancam di tengah-tengah hatinya yang gusar serta rasa takut yang terus menerus menggerogoti jiwa.


“Baiklah, sekarang ikutlah denganku!” Bakkkk..


Semua orang terkejut ketika Zili memukul tangan laki-laki di depannya yang memegang pistol hingga pistol tersebut terlepas dan semua orang mulai bergerak mendekati tetapi langkah kaki mereka terpaksa berhenti bersamaan dengan mata yang mulai terbelalak ketika melihat Zili berhasil mendapatkan pistol dan menarik pelatuk benda tersebut lalu menodongkan pistol itu ke kepalanya sendiri.


“Yang Mulia,..” Teriak Kepala Pelayan penuh kecemasan.


Bagaimana mungkin di kediaman Xu yang terjaga ketat oleh puluhan tentara kuat di depan pintu gerbang mampu terbobol musuh?, pikir laki-laki tua tersebut, bergumam di dalam hati.


“Tidak, aku ingin memastikan dulu bahwa mereka selamat, barulah akan mengikutimu.” Tolak Zili masih mengacungkan pistol di salah satu dahinya sembari menghadap ke arah pemimpin musuh yang sangat kuat itu.


“Jadi kau tidak mempercayaiku?”


“Bagaimana mungkin aku mempercayai musuh?” Jawab gadis itu cepat, berusaha untuk tetap tenang dan pasrah jika ia tidak lagi memiliki kesempatan hidup. Tetapi pada hari itu, dia sangat yakin bahwa di masa depan, dia akan sangat berguna karena menurutnya manusia yang diciptakan oleh Tuhan dan berkali-kali telah selamat dari kematian, pasti masih memiliki manfaat hidup di dunia. Entah itu manfaat untuk kebaikan atau malah untuk kerusakan.


“Bawa paksa dia!”


DOooorrrrr..


“Yang Mulia...”


Tetesan darah jatuh ke atas lantai, Zili kembali mengacukan pistol setelah menembak lengan atasnya sendiri, memberi ancaman.


“Jangan paksa aku!, aku adalah orang yang selalu siap mati karena tidak tahan lagi menerima penghinaan dari rakyatku sendiri. Sementara itu, Putra Mahkota yang menyayangiku, juga sangat jarang memiliki waktu hanya sekedar untuk memperhatikanku.”

__ADS_1


Ucap gadis itu berusaha meyakinkan, masih dengan berdiri tenang tanpa terlihat sedikitpun getaran di tubuh padahal saat itu hatinya dipenuhi dengan rasa takut.


“Bagaimana?, Bagaimana agar kau yakin mereka selamat?” Bentak Pemimpin kelompok itu sedikit khawatir melihat keadaan Zili yang terluka.


“Bawa mereka ikut bersama, lalu lepaskan mereka di tempat yang ramai. Bukankah kau juga akan memberitahukan kepada Putra Mahkota bahwa istrinya telah diculik?, jadi biarkan saja mereka melakukannya setelah mereka sadar dari pukulan belakangmu nanti.” Tawar Zili memberikan ide agar para pelayan di sana selamat dari kematian yang bisa kapan saja terjadi setelah ia berlalu dari tempat tersebut.


“Baiklah, sekarang berjalanlah!”


Bentak keras Pemimpin Kelompok sangat emosi.


“Tidak,”


“Sekarang apa lagi?” Emosinya semakin menjadi-jadi karena perbuatan Zili yang lagi dan lagi menolak untuk ikut bersama.


“Mobil yang membawa mereka, biarkan aku menyaksikan mobil itu berhenti di keramaian dan menurunkan mereka dengan selamat.” Pinta Zili bernegosiasi kembali.


“Yang Mulia..” Teriak keras Kepala Pelayan tidak menerima.


“Patuhilah perintahku, Bukankah aku adalah istri dari tuan kalian?” Ucap Zili tegas tanpa memandang mereka yang hanya pasrah menerima perintah dari Putri Mahkota.


Baaaakkk...


Bukkk...


Setelah berhasil membuat seluruh pelayan rumah tersebut pingsan dan para kelompok musuh membawa mereka masuk ke dalam mobil satu persatu. “Berikan Pistol itu!”


“Tidak,” Tolak Zili lagi, begitu keras kepala, sungguh laki-laki tersebut semakin geram hingga ingin sekali memukul gadis itu, jika saja tidak mengingat perintah yang harus dilaksanakannya.


“Aku akan mengikat tanganmu.”


“Aku ingin memastikan dulu, setelah itu pistol ini akan kuberikan kepadamu.” Tawar gadis itu lagi dengan ketenangan yang masih dipertahankan sedari tadi agar otaknya tetap dapat berpikir secara optimal.


“Kau..”


“Bukankah aku akan dikelilingi oleh kalian semua di dalam mobil nanti? Depan, samping, belakang, Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan kalian semua, aku hanyalah wanita yang lemah bahkan menikah dengan Putra Mahkota saja atas paksaan Ratu Negara?, dan juga, sekalipun aku belum pernah terlihat mengalahkan pejabat tinggi militer manapun, bukan?, Aku hanya bisa pasrah, biarlah kalian memanfaatkanku agar aku tahu bahwa Putra Mahkota memang benar-benar khawatir padaku.” Ucap gadis itu mulai berpikir untuk bermain peran di sela-sela suasana yang mencengkamkan saat itu.


“Jalan!” Bentak keras pemimpin kelompok terlihat tak tahan lagi dengan permintaan yang terus menerus diajukan oleh Zili.

__ADS_1


Langkahnya mulai digerakan, dengan masih memegang pistol dan mengarahkan benda tersebut di kepala, Zili terus berjalan mengikuti Pemimpin Kelompok Penculikan hingga masuk ke dalam mobil pada malam itu setelah beberapa orang masuk terlebih dahulu ke bagian kursi paling belakang di dalam sebuah mobil sedan berwarna putih dan gadis itu kini telah duduk di pertengahan para anggota kelompok penculik yang terlihat bersiaga menjaganya dengan sangat ketat.


“Jangan coba-coba mengambilnya!” Larang Zili dengan nada yang tetap tenang ketika seorang anggota kelompok diam-diam mencoba meraih pistol dari belakang tubuh gadis itu. “Sebagai Mantan Pemimpin Tentara Militer Negara, aku dibekali kepekaan penuh yang dapat merasakan tanda-tanda pergerakan Orang.” Jelas gadis itu masih tetap fokus memandang ke arah depan, memperhatikan beberapa mobil yang membawa para pelayan menuju ke Taman Kota pada malam itu.


Matanya sedikit membesar ketika melihat para Tentara Militer Penjaga gerbang kediaman Xu bergelatakan lemah di atas jalanan Paving Blok, “Sun, ya?” Tebak gadis itu ketika melihat ada begitu banyak makanan mewah berceceran di sana. “Bagaimana mungkin Tentara Militer bisa sebodoh ini memakan makanan begitu saja?” Gumam Zili sedikit keras agar Pemimpin Kelompok yang duduk di kursi bagian depan dan di samping Pengemudi mobil, mendengarnya berbicara.


“Hm, Acara Penyambutan Putra Mahkota. Hanya dengan mengatakan itu saja, para penjagamu bisa dengan mudah tertipu dan memakan semua makanan mewah itu , bukankah mereka sangat bodoh?” jelas Pemimpin Kelompok meremehkan, memandang Zili dari kaca depan mobil yang masih terlihat memegang pistol dan mengacungkannya di kepala.


“Tidak,” Jawab Zili dengan cepat, “Beberapa pelayan kerajaan pasti telah berkhianat, kalau dipikir-pikir, bukankah kebanyakan dari mereka berasal dari Klan Sun?, Aku kira tadinya kalian adalah Musuh Negara selama ini, ternyata tebakanku salah.” Ungkap gadis itu menuangkan pemikirannya, mengingat bahwa Klan Sun sangat ahli dalam membuat makanan dan mampu membedakan bahan-bahan yang mengandung racun dan bakteri meskipun mereka tidak ahli dalam pembuatannya.


“Yuan akan segera mati, jadi waktu Sun berjaya akan segera kembali,” Ucap laki-laki tersebut terlihat sekali raut kebahagiaan di wajahnya.


Mobil-mobil yang berjalan di depan mobil tempat Zili berada mulai berhenti. Di malam hari yang lumayan sepi, satu persatu para pelayan mulai dikeluarkan dari sana, hingga para penduduk NC yang melihat, tidak seorangpun yang berani membuka suara karena para anggota kelompok penculik menodongkan pistol ke siapapun yang berani mendekat dan melihat.


Setelah selesai menurunkan semua Pelayan, Zili melemparkan pistol yang tadinya ia genggam lalu tangannya mulai diikat ke depan dengan menggunakan tali tambang bersamaan mobil yang telah berjalan kembali menuju markas mereka.


Hati gadis itu mulai lega, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Semua pelayan rumah telah selamat dan kini ia harus memikirkan rencana agar bisa lolos dari penculikan yang saat ini sedang berlangsung.


Suasana kota perlahan-lahan menghilang, mobil terus melaju memasuki hutan belantara yang gelap dan hanya bercahayakan lampu mobil saja.


Gerakan tangan di kegelapan mobil tak mampu di sadari, untuk berjaga-jaga, Zili memang selalu mengantungi bubuk bakteri ataupun cairan virus di celana yang ia kenakan.


Perlahan-lahan ia meraih botol cairan virus yang berminyak lalu membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke kedua pergelangan tangan yang terikat kemudian mulai menggerakan tangannya berkali-kali.


Cairan yang licin itu sedikit menyakitinya, hingga rasa sakit virus terasa lebih menyakitkan dibanding dengan rasa sakit karena memaksa tangan lepas dari tali yang mengikat.


Baaaakkkkk.


BUukkkkk...


Ciirrrrrttttt...


DOOOOOR...


“Kau,”


“ Mati.”

__ADS_1


__ADS_2