
Dua hari telah berlalu sejak usai pertandingan lari dilakukan. Dan selama itu pula lah Zili tidak pernah bertemu dengan gurunya bahkan untuk sekedar mengetahui kabar.
Tidak ada seorangpun yang berani ia tanyai meskipun sikap dan perilaku para petinggi klan telah berubah menjadi sedikit lebih baik terhadapnya.
Selama dua hari, Zili menghabiskan waktu belajar dikelas. Terkadang putri latih tiada tanding datang menemuinya.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa saat itu tuan putri klan shen yang sangat terkenal telah menjadi bawahannya.
Ia bahkan mampu membuat dewi perang untuk berlutut meminta maaf kepada Zili yang semakin membuat Gadis tersebut merasa tidak enak untuk menerima permintaan maafnya.
Luka kaki telah mengering dan hampir pulih karena obat Yang diracik putra mahkota sangatlah mujarab.
Dalam dua hari belajar teori. Zili yang telah mengingat pelajaran hari itu langsung dipindah latihkan menuju kemarkas pelatihan kemiliteran dibimbing secara langsung oleh putri latih tiada tanding.
Sayang, tampaknya kepergian Zili dari sekolah dan Asrama tidak memberikannya seorang sahabat sedikitpun kecuali hanya tuan putri klan Shen yang dibanggakan.
Hati Zili terlihat menyedihkan mengingat banyaknya siswa siswi memberi hormat namun tidak satupun dari mereka yang mau mengajaknya berteman bahkan untuk sekedar tersenyum kepadanya.
Zili sadar dia bukanlah apa apa. Melainkan hanyalah sebagai putri mahkota yang tidak dianggap. Kesadaran gadis tersebut telah membuatnya paham bahwa memang takdir dia tidak mungkin mudah berubah meskipun ia telah berusaha keras untuk merubahnya.
Sepoi sepoi angin Kencang menghembus tubuh Zili dan Shi ra yang berdiri didepan pintu gerbang besar dengan Dinding yang membatasinya.
Tampak dari gerbang yang terbuat dari besi terhubung dengan banyaknya besi lain, sebuah halaman sangat luas penuh dengan orang orang yang sedang berlatih.
Perkemahan yang terletak ditengah tengah hutan. Dengan satu buah gedung berwarna hijau lumut menjulang tinggi empat tingkatan.
Dinding yang terbuat dari batu bata terlihat dilumuri semen dengan cat hijau lumut dan jendela Papan dibagian bagian gedungnya.
Dibagian depan terlihat banyak sekali Berdiri kemah kemah dipinggir Satu jalan besar menuju gedung tersebut.
Gerbang terbuka, Zili dan Shi ra menyingkir dari posisi mereka.
“HU ha hu ha” suara ramai orang sedang berlari pelan bersamaan keluar gerbang.
Zili tersenyum senang akhirnya ia bisa secara langsung melihat pelatihan klan Shen dengan mata kepalanya sendiri.
“Tuan Putri, saya telah mendengar kedatangan anda ke Barak ini”
“Haa.. kok aku yang disambut,” shi ra memandang tidak suka kearah seorang pelatih laki laki yang sedang menyambut dia “sambut yang ini bodoh” makinya.
Ia lalu menarik kedua bahu zili menyodorkannya kehadapan pelatih pasukan militer.
“Siapa?”
Laki laki itu kebingungan.
“He begok. Ini putri mahkota”
Sontak ia terkejut mendengar perkataan tuannya. Dengan segera ia menundukan kepala memberi rasa hormat sedalam dalamnya.
Ia yang belum pernah keluar dari barak selama beberapa tahun telah mendengar rumor yang beredar bahwa putri mahkota sangat licik dan harus berhati hati dalam menghadapinya mengingat dia mampu memanipulasi otak para bangsawan anggota keluarga kerajaan.
“Selamat datang dibarak kemiliteran shen 2 yang mulia putri mahkota. Mohon Maafkanlah kami yang tidak bisa menyambut anda dengan baik, para pelatih sangat sibuk hari ini bahkan banyak yang terpanggil kembali kedesa atas perintah ketua klan”
“Ah, itu, tidak masalah”
Zili mengulurkan kedua telapak tangan kedepan merasa tidak enak dengan sambutan yang diterima. Ditambah lagi tampaknya pelatih Pasukan sangat ingin meyakinkannya untuk menerima sambutan yang mula mulanya dilakukan untuk putri latih tiada tanding.
“Ah sudahlah, bawa sana barang barang kami” Shi ra terlihat tidak senang dengan sikap laki laki tersebut “ ayo Zili, kita masuk” Dia menarik tangan Zili yang masih kebingungan dengan sikap tidak sopan remaja itu kepada orang yang lebih dewasa dibandingkan dengannya.
*****
“ Yo Shi ra”
“Huan” mata Shi ra terbelalak memandang seorang laki laki remaja dengan sebuah Pin terletak di bagian dada kanan seragam militer angkatan darat miliknya.
Pin yang baru pertama kali dilihat oleh Shi ra saat itu. Pin berlambangkan dua pisau menyilang dengan jahitan berwarna kuning dan gambar buku kecil diatas pertengahan silangan gambar pisau tersebut menandakan bahwa shi Huan telah mendapatkan gelar baru saat itu.
Shen shi huan merupakan seorang putra dari salah seorang bangsawan Klan shen. Ayahnya berasal dari klan Shen 1 yang telah menghilang tidak diketahui keberadaannya setelah sembuh dari kegilaan yang disebabkan oleh obat terlarang klan Xu.
Ibunya adalah putri dari Ketua klan shen. Sebelumnya ia telah memperoleh gelar dari Raja Negara yang telah diambil paksa oleh putra mahkota karena kekalahannya melawan remaja laki laki tersebut dipertandingan Antar klan setahun lebih yang lalu.
Suara gemericik air terdengar ketika ikan besar melompat menangkap mangsa yang terbang diudara.
Dedauanan kering mulai berjatuhan dari atas pohon tertiup hembusan angin kencang ditengah hutan.
Angin tersebut sesekali menyerakan poni rambut Zili serta rambut Shi ra yang sama sama diikat satu kebelakang oleh mereka.
Kedatangan Shen shi huan secara tiba tiba membuat kedua remaja perempuan tersebut membelalak mata tidak menyangka seorang Petinggi Klan datang mengunjungi mereka yang tengah berlatih menggunakan tali arloji yang biasa digunakan para militer klan shen untuk berpindah tempat dengan mudah.
“Salam saya yang terhormat putri mahkota”
Huan melangkah mendekati Zili dan Shi ra yang saat itu sedang berada ditepi sungai.
“Kau sudah baikan?”
__ADS_1
Tanya shi ra ketika Huan telah datang mendekat.
“Tentu saja, bahkan sekarang aku mulai lebih bersemangat apalagi setelah mendapatkan gelar pelindung putri mahkota.”
“Haah” sontak Zili dan Shi ra terkejut mendengar perkataan huan. Zili bahkan sampai menutup mulut dengan kedua tangannya yang salah satunya telah terpasang tali arloji buatan Klan Co.
“Tidak perlu huan, biar aku saja yang menjaga tuanku”
“SHi ra, jangan lupa tugasmu sebagai tuan putri klan shen”
“Aku mengundurkan diri dari jabatanku, lagian aku juga sudah kalah dan harus mempertanggung jawabkan kekalahanku”
“Aku yang akan menggantikanmu, perintah ini langsung diturunkan oleh raja shin. Dia juga tahu klan shen tidak mungkin tanpamu”
“omong kosong, aku tidak akan meninggalkan tuanku dan lagi nyawaku juga sudah menjadi miliknya”
“Heh ya sudah kalau memaksa. Lihat saja cepat atau lambat kakek juga akan memanggilmu kembali”
Huan mengulurkan tangannya keatas dahan pohon. Sebuah tali melesat berputar diatas batang tersebut. Dengan segera huan menarik tubuhnya naik keatas dahan tersebut.
Ia mengangkat kedua tangan dibawah kepala lalu mengangkat salah satu kakinya keatas lutut kaki lain yang sudah ditekuknya. Bersandar diatas dahan tersebut sambil mengawasi Zili.
“Aku menjaga dari atas ya yang mulia”
“Em”
aNgguk Zili lalu melanjutkan latihannya kembali setelah ia meminum air Sungai sore itu.
******
Hari telah berganti hari, tiga hari telah berlalu, tidak terasa pelatihan Zili dalam menggunakan Tali arloji telah membuah kan hasil.
Shi ra yang biasanya melatih Zili telah mendapatkan panggilan kembali pagi itu. Ia yang biasanya tidur satu tenda dengan Zili merasa khawatir akan terjadi masalah dengan tuannya jika ia tidak berada disampingnya.
Terlebih lagi, kebanyakan peserta pelatihan adalah para laki laki. Terkadang ada juga yang perempuan namun hanya singgah sementara setelah itu akan ditempatkan di markas pelatihan angkatan laut ditepi lautan yang tidak jauh dari sana.
Berhubung Zili telah menguasai keahlian renang. Ia tidak lagi ditempatkan kemarkas tersebut. Tampaknya ketua klan yang diutus mengajarkan zili latihan fisik membiarkan zili untuk tetap berlatih di barak angkatan Darat sementara waktu sampai ia menguasai tekhnik latih fisik secara umum.
Dengan hati sedih, zili melambaikan tangan memandang kepergian mobil jeep Militer yang membawa Shi ra pergi dari barak.
Ia tertinggal sendiri, adapun wanita lain namun tidak ingin mendekatinya bahkan ia yang mencoba tersenyum tetap diabaikan oleh mereka.
“Yang mulia”
“Zili, panggil zili”
“Heeeh.. mana mungkin aku memanggil anda seperti itu tuanku”
“Panggil aku Zili, meskipun mungkin kau tidak mau menjadi temanku, tetap saja aku sudah menganggapmu teman. Jadi panggil saja aku Zili”
Zili melangkah kaki menuju tendanya untuk bersiap siap mengganti pakaian dan menyiapkan perlengkapan berlatih.
Hari itu, Ketua klan secara langsung telah menyiapkan seorang pelatih untuk zili.
“Oke, kalau begitu, zili.. biarkan aku saja yang melatihmu”
“kenapa harus?”
“Karena aku tidak yakin utusan kakekku akan melatihmu dengan serius”
“Aku juga punya pemikiran yang sama, tapi apa mungkin kau mengkhianati kakekmu sendiri, dilihat darimana pun dia tidak suka denganku”
“Tentu saja, asalkan kau bilang ingin berlatih sendiri, dia pasti akan membiarkanmu pergi. Dan lagi, tidak ada satupun petinggi klan Shen yang mengetahui bahwa aku ditugaskan untuk menjagamu kecuali Shi ra”
“Kau yakin mau membantuku?”
“Tentu saja, aku ini kan penjagamu”
“Jadi dimana aku harus berlatih denganmu?”
“Di Desa Shen 15”
“Apa kau gila. Mana mungkin aku meninggal kan barak begitu saja. Maaf aku tidak mau”
“Siapa juga yang peduli denganmu, satu orang pun tidak menyadari keberadaanmu. Malahan mereka akan senang kalau kau cepat cepat pergi dari sini. Karena dapat mengurangi beban makanan mereka”
“Haah, maksudmu”
“Ya ya. Tuanku, kau sadar tidak makanan mewah yang kau makan selama ini sangat berarti bagi para peserta latihan. Mereka terpaksa mengurangi jatah makanan hanya untuk berbagi denganmu”
“Kalau begitu aku pulang saja”
“Ya sudah . Itu artinya kau mengecewakan putra mahkota”
Zili menggigit bibir bawah. Menahan rasa kepahitan yang mendalam. Ia seolah olah tidak pernah memiliki pilihan untuk melakukan apapun yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
Didalam gerbang terlihat banyak peserta sedang berlatih disamping kemah masing masing. Ada yang mulai mempersiapkan aba aba lari ditempat, ada yang sit up, pull up, push up ataupun lainnya.
Sesekali beberapa dari mereka melirik sekilas tidak senang kearah Zili. Dan ada juga dari beberapa orang yang baru keluar dari kemah mulai berbisik bisik.
“Tuanku, tahukah anda apa yang sedang dibicarakan mereka”
Suara Huan menambah rasa hati tidak enak didalam hati Zili “kenapa dia tidak ikut pergi juga itu lah kata mereka”
“Aku ingin pulang saja”
“Mau naik apa? Siapa juga yang mau mengantar anda pulang”
Rasa takut tiba tiba menghampiri Zili. Ia merasa serba salah tidak tahu harus berbuat apa. Dan lagi didalam hatinya masih belum merasa percaya dengan Huan yang selalu saja menakut nakuti gadis yang sedang lemah dan tidak berdaya.
“Aku ingin menghubungi ayahku”
“Bagaimana cara menghubunginya. Ponsel saja tidak punya, kalau mau anda pergilah kedalam gedung meminta bantuan. Itupun kalau mereka mempedulikan anda”
Ingatan perih ketika pertama kali datang kedesa Shen 2 muncul kembali, saat itu Zili yang sedang kelaparan selalu diabaikan bahkan ia pun sempat sengaja ditabrak begitu saja. Itupun karena ada putra mahkota yang membantunya maka ia bisa terlepas dari kesengsaraan.
Dalam hati zili sangat sedih. Membayangkan bahwa putra mahkota begitu saja pergi meninggalkan dia tanpa mengucap satu kata sekalipun.
Ia bahkan tidak menerima perintah apapun darinya bahkan sedikit kabarpun tentangnya.
Hati zili kembali melemah, ia mulai merasa tidak percaya diri lagi mengingat dia bukan siapa siapa bagi putra mahkota.
Anggapan seorang murid bukan lah berarti apa apa. Dia bahkan merasa mungkin gurunya tidak pernah mengingatnya menimbang sudah 5 hari berlalu tanpa kabar darinya.
Zili ingin sekali pulang, dia tidak memiliki siapapun disana. Yang sangat dekat dengannya hanyalah huan yang selama tiga hari ini menemaninya dan menjaga ia dari jauh.
“Bagaimana?”
“Kau bisa membawaku pergi ke desa shen 15, tetapi mengapa kau tidak bisa membawaku kembali ke desa Shen 2?”
“Haaah, itu karena aku belum boleh melangkah kaki kesana mengingat aku telah kehilangan gelar singa perang tak terkalahkan”
“Kalau begitu, perintahkan saja salah satu pelatih untuk mengantarku kembali kedesa shen 2”
“Haa. Mana ada yang mau mendengarkan perintahku, jabatan petinggi klan saja aku tidak punya lagi, sebaiknya tuanku saja yang bilang sana. Itupun kalau mereka mau mendengarkan perkataanmu”
“Jadi setelah aku berlatih dengan mu didesa Shen 15, bagaimana aku bisa kembali kerumah?”
“Setelah masa perjanjian pelatihanmu selama 1 bulan selesai mereka pasti akan menjemputmu, dan aku akan mengantarkan kau kembali kesini”
Zili mengepalkan tangan tanda ia kesal dengan nasib dirinya sendiri. Jika ia menetap dibarak, dia sangat yakin bahwa tidak akan ada perkembangan yaang ia dapatkan mengingat Huan tidak mungkin bisa mengambil tempat tempat biasa untuk berlatih.
Dia juga merasa, jika menetap sendirian akan sangat bahaya baginya yang tidak memilik orang terdekat. Terlebih lagi ia juga wanita satu satunya yang menetap lama di sana.
Dia juga sadar bahwa pasokan makanan tidak begitu banyak dan harus rela menjadi bahan kebencian banyak orang hanya karena ia disajikan makanan yang berlebihan dan tidak ada seorangpun yang mungkin mau untuk makan bersamanya.
“Bagaimana?”
“Benarkah kau akan melatihku?”
“Tentu saja, desa shen 15 adalah wilayah kekuasaan yang diberikan raja untukku sebgai hadiah gelarku dimasa lalu”
“Baiklah. Aku akan pergi bersama mu”
Huan tersenyum senang dengan jawaban Zili yang memuaskan hatinya.
*****
Perjalanan selama 6 jam telah berlalu. Zili yang telah pergi berpamitan namun hanya dianggukan oleh beberapa pelatih Barak terpaksa mengikuti Huan pergi ke desa Shen 15 demi berlatih menghindari kekejaman Shin’A yang akan segera datang kembali.
Mobil jeep hijau lumut berhenti tepat dihalaman sebuah rumah papan tanpa tingkatan. Didepan rumah tersebut seorang pelayan laki laki tengah berdiri didepan rumah yang Depannya terdapat pohon Jambu jamaika.
Seorang gadis terlihat membukakan Pintu mobil. Gadis dengan wajah Bulat dan bibir sedikit lebar tersenyum memandang kearah Zili.
“Selamat datang yang mulia putri mahkota” sapanya saat Zili telah menapakan kaki dihalaman rumah.
“Ahh iya”
“ Saya adalah pelayan anda disini yang muliaku, nama saya Co hai win”
“Zili. Panggil saya zili saja”
Zili merasa lega karena dia bukan satu satunya perempuan disana.
“Ketemu lagi sayangku”
Suara seseorang mengagetkan Zili setengah mati. Tubuh gadis itu gemetaran seketika. Kakinya tak tertahankan. Ia jatuh terduduk di atas rerumputan halaman rumah.
Semua mata memandang kebingungan kecuali pria yang menyebutnya sayang.
Zili menahan mual diperutnya. Keringat basah mengguyur tubuhnya bahkan ia berkali kali tertegun menatap laki laki yang masih merasa aneh dengan perilaku ketakutan Zili kepadanya.
__ADS_1
“Yang mulia, pangeran Shin’A, apa yang menyebabkan anda datang kemari?”
Huan sangat terkejut tidak menyangka akan kedatangan anggota tinggi dari keluarga kerajaan yang tidak ia undang sama sekali mengunjungi salah satu rumahnya.