
Perasaan bersalah kian datang menghampirinya.
Terus menerus masuk kedalam hati hingga membuat zili memeluk tubuh merasakan gigilan yang semakin lama semakin mengencang.
Didepan matanya sendiri, putra mahkota telah berhasil memukul jatuh pangeran istana sampai bibirnya terluka dan berdarah.
“Semakin lama kau semakin memuakan”
Ucap keras putra mahkota sangat marah hingga matanya memerah dan berapi-api.
Pangeran istana berdiri, “kau membela wanita murahanmu itu” ucap nya yang telah menegakan tubuh “menghubungiku dan mengatakan akan menjual rancangan gaun yang sudah susah payah kubuat hanya demi uang 1 juta neceri” lanjutnya lagi sembari membersihkan darah dibibirnya. “hmmm...” tersenyum remeh “setelah kucium lalu kulemparkan uangpun dia masih bisa bilang terima kasih” tambahnya menyakiti hati Zili dan memperparah amarah putra mahkota.
“Kau memberikannya itu artinya dia berhak melakukan apapun terhadap barang yang telah menjadi miliknya.” jawab putra mahkota memandang tajam pangeran istana “atau kau memberikannya dengan maksud tertentu hingga ingin barang pemberianmu itu menjadi berharga untuknya..?” lanjut laki-laki itu mulai menebak “kau....” dia mengepalkan kedua tangan geram “berhentilah menganggap barang yang telah kau berikan masih menjadi barang milikmu sendiri” tambah putra mahkota mulai bergerak cepat mendekati pangeran istana lalu menendangnya.
Pangeran istana berhasil menahannya tetapi tetap saja ia harus bergeser beberapa langkah karena kuatnya tenaga putra mahkota.
Berputar,
Putra mahkota bahkan tidak ragu-ragu lagi menyerang pangeran istana hingga laki-laki itu terpental jatuh menghantam gerbang gedung asrama putri sampai pintu gerbang tersebut patah.
Pangeran istana masih bisa berdiri, ia balik menyerang putra mahkota, memukul dan menendaang tapi tak satupun serangannya mengenai laki-laki itu,
“Xu’i...”
Geram, dia bahkan mengeluarkan seluruh tenaga memukul putra mahkota dengan tangannya tapi berhasil ditangkap laki-laki tersebut.
“Berhentilah berpikir kau bisa mengalahkanku” bentak putra mahkota mulai menghempaskan tubuh pangeran istana tetapi laki-laki yang memang sudah sangat kuat tersebut berhasil berdiri dan tidak jatuh.
Terus saling menyeraang, hingga membuat putra mahkota geram dan mulai mengeluarkan semua tenaganya.
“Kubilang padamu...”
Baaaaaakkk...
Uhuk uhukkkk...
Pangeran istana tersenyum kecut ketika darahnya menyembur keluar karena putra mahkota berhasil menendang perutnya “berhentilah mendekati istriku”
bAaaaakkkk.... menerima tendangan lagi,
Pangeran istana terhempas jauh menabrak dinding Pos penjaga.
Masih sanggup berdiri menerima tendangan sekuat tenaga dari putra mahkota, laki-laki tersebut bahkan sampai mampu menyerang kembali.
Melangkah diatas beberapa tumpukan uang yang masih berada diatas lantai semen didepan gedung asrama putih lalu mulai menyerang kembali putra mahkota yang berdiri dihalaman gedung.
“P-Texchi”
__ADS_1
Memanggil Texchi senjata,
dari balik pinggang seragam kerja pangeran istana, dua buah Pistol mulai muncul dan terbang dikedua sisi kepala laki-laki tersebut.
“Kau menggunakan texchi” geram, tidak lagi ragu-ragu berniat membunuh, kedua laki-laki tersebut mulai saling menyerang penuh amarah. “K-texchi” puluhan pisau mulai berdatangan menghampiri dan terbang dibelakang Putra mahkota.
Mengerikan,
Suasana saling membunuh menegangkan Zili yang masih tidak kuasa berdiri saking takutnya ia melihat pertengkaran didepan matanya.
Bahkan penasihat putra mahkota, zin ziruan sekalipun telah pergi karena tidak ingin terkena masalah.
Memandang halaman gedung dari depan pintu masuk gedung, mata gadis itu membelalak lebar menyaksikan Pisau dan pistol saling beradu.
Doooooor....
Berkali-kali peluru berhasil ditepis pisau milik putra mahkota.
Mulai saling berdekatan...
Baaaaakkkk...
Baaaaaakkk...
Dua orang laki-laki dewasa menendang punggung putra mahkota dan pangeran istana secara bersamaan.
Paaaaaaaakkkk..
Cepat,
Tangan Raja bayangan berhasil memukul pipi putra mahkota hingga berdarah, sementara pangeran istana yang telah lelah menghadapi putra mahkota dan meraih tendangan punggung dari raja negara tak lagi kuasa membuka mata.
Dengan cepat penasihatnya datang menolong dan segera membawa laki-laki tersebut keklinik terdekat.
Memang kecepatan terbang pesawat tempur negara NC tidak diragukan lagi, bahkan hanya beberapa menit saja, kedua pemimpin besar negara NC yang berada disebrang wilayah bisa dengan Cepat datang tepat waktu.
“Berani sekali kau melukai saudaramu sendiri” bentak raja bayangan memaki putra mahkota yang terpaksa diam menerima amarah ayahnya. “tidak bisa kau berpikir bahwa kekuatan kalian jauh berbeda” lanjut laki-laki separuh baya tersebut ketika raja negara berhasil mendekat dan berdiri dibelakangnya.
“Tenanglah idris” ucap raja negara “Xu’i pasti punya alasan sendiri melakukannya”lanjut laki-laki itu lagi mencoba menenangkan hati raja bayangan.
“paman, ...” putra mahkota mulai membuka suara “Bagaimana rasanya kalau aku mencium yuanna didepan matamu?” tanya laki-laki tersebut melanjutkan ucapannya tetapi tidak memandang satupun mata kedua laki-laki dewasa dihadapannya.
“Xu’i....” ucap raja negara memahami perasaan putra mahkota.
“Begitulah perasaanku ketika putramu mencium wanita milikku” lanjut putra mahkota mulai melangkah pergi meninggalkan Ayahnya begitu saja.
“Xu’i...”
__ADS_1
Bentak raja bayangan marah, menghentikan langkah kaki putra mahkota sejenak.
Tidak ingin berbalik “aku ingin menemui istriku” ucap putra mahkota pelan mulai melangkah kaki kembali.
Raja bayangan yang belum puas dengan penjelasan putra mahkota mulai melangkah kaki untuk menghampirinya, tetapi langkah kaki laki-laki dewasa tersebut dihentikan oleh raja Negara yang telah memegang bahunya “biarkan saja dia, aku sangat mengerti perasaannya” ucap raja negara kepada temannya.
*******
Terus berjalan, melangkah cepat mendekati Zili yang masih terduduk lemah menangis memeluk tubuhnya sendiri memandang kedatangan laki-laki yang dia cinta.
“Kau baik-baik saja..?” tanya putra mahkota lembut memandang perih wanita miliknya yang mulai menunduk merasa bersalah.
Tubuhnya yang gemetaran membuat putra mahkota langsung meraihnya, mengangkat dia dari depan lalu membawanya masuk kedalam gedung asrama putri.
Piluh menyelimuti,
Hatinya bahkan tak kuat lagi menahan perih.
Tidak lagi mampu menguatkan hati, air matapun terus mengalir tiada henti.
Berada diatas tangan putra mahkota, membuat Zili serba salah.
Pikirnya,
Tidak tahu malu jika ia berani membuka suara tetapi ia juga merasa tidak tahu malu berada diatas kedua tangan putra mahkota.
Memejamkan mata salah, membuka mata juga salah.
Menundukan kepala terus menundukan kepala, tidak berani menatap wajah putra mahkota yang telah membawanya masuk kedalam lift gedung asrama.
Putra mahkota menurunkan Zili dari tangannya.
“Maaf...”
Ucap laki-laki tersebut memeluk cepat tubuh Zili yang masih gemetaran.
Ucapan maafnya semakin melukai hati Zili yang merasa bersalah tapi sayangnya gadis itu hanya menangis dan tidak berani membuka suara. “Kalau tahu 3 juta neceri sebulan tidak cukup untukmu....”ucap putra mahkota mengeratkan pelukannya untuk Zili yang tampak sangat terkejut mendengar ucapan laki-laki tersebut. “aku pasti akan menambahkan lebih banyak lagi agar kau tidak perlu kekurangan uang”.
Sungguh,
Baru gadis itu sadari, ternyata uang yang begitu banyak didalam rekening pribadinya selama ini adalah pemberian dari putra mahkota dan hanya beberapa juta saja yang ia dapatkan dari pemerintah.
Pantas saja, putra mahkota mengetahui nomor rekening gadis itu, dan juga pantas saja jika gaji pokok pejabat negara hanyalah 700 neceri, sudah dipastikan, uang bulanannya sebagai putri mahkota mungkin juga hanya beberapa ratus ribu saja dan tidak sampai hingga jutaan neceri.
“Maafkan aku...” gadis itu mulai membuka suara, membalas pelukan erat putra mahkota yang sangat dicintainya “maafkan aku shisou” ucapnya terus berkali-kali “maafkan aku..”
“Kau hanya perlu mencariku jika kau membutuhkan uang” ucap putra mahkota menyela perkataan Zili yang berkali-kali mengucapkan kata maaf “bukankah kau tahu sendiri aku adalah suamimu?” Lanjutnya lagi mulai tersenyum lega mendengar suara gadis didalam pelukannya. “Karena aku adalah suamimu, maka kau berhak meminta apapun kepadaku” tambahnya lagi membuat tangisan Zili semakin menjadi-jadi.
__ADS_1