
“Recca recca recca, it’s my name...
“Let me take your rubbish....
“Grolle’s here, can i help you....
Tiga jenis robot berbeda saling melewati, terkadang juga berbelok kebeberapa jalur lain kemudian kembali lagi kejalanan semula.
Tidak seperti yang lainnya, bangunan Sekolah teknologi benar-benar terlihat sangat berbeda ketika mobil pangeran istana mulai memasuki gerbang sekolah tersebut.
Gedung yang berbentuk seperti Kubah tersebut berwarna Biru Langit, terbuat dari kaca tebal hingga warna juga tampak sangat mengkilat meskipun terbuat dari kaca tetapi isi didalam Gedung tersebut tidak terlihat sama sekali.
Luar biasa,
Disamping kiri gedung sekolah terdapat Jalan Paving bLock yang terbuat hanya dengan campuran Semen, air dan Pasir.
Diujung jalan tersebut terdapat Dua gedung Asrama tinggi, gedung tersebut berbentuk seperti sebuah Hotel mewah berlantai Tujuh.
Kedua asrama tersebut dipisahkan dengan sebuah Bengkel besar dan luas yang berpagar dikedua sisinya, didalamnya juga terdapat berbagai jenis peralatan rumah tangga yang mungkin telah rusak dan akan diperbaiki atau bahkan didaur ulang jika memang harus dilakukan.
Disebelah kanan Gedung sekolah, terdapat gedung bengkel lainnya, bengkel tersebut diisi oleh beberapa mobil yang mungkin juga telah rusak dan akan diperbaiki oleh murid-murid teknisi.
Disebelah bengkel terdapat sebuah rumah petak kecil, mungkin itu adalah bengkel ponsel atau sejenisnya, hal tersebut tampak jelas dengan adanya spanduk bergambar ponsel didepan rumah tersebut.
Mobil perlahan-lahan memasuki Jalanan pavling block yang disampingnya terdapat bangku-bangku duduk terbuat dari semen.
Tiiiingggggg taaaaaangggg tiiiiiiiingggg..
Suara bel sekolah telah berbunyi, tanda sekolah telah berakhir.
Ratusan murid-murid berseragam hitam berhamburan keluar menuju keasrama mereka.
Aneh,
Tidak seperti murid-murid sekolah lain yang biasanya Zili temui,
Murid-murid sekolah teknologi tampak tidak bersemangat, hampir semua dari mereka berjalan lemah menuju ke asrama.
Tidak seorangpun dari mereka pergi menuju ke pintu gerbang sekolah untuk sekedar bermain-main, padahal, diluar tembok yang mengelilingi sekolah tersebut terdapat banyak gedung-gedung tinggi lain yang mungkin, salah satu dari gedung tersebut merupakan tempat bermain.
__ADS_1
Mobil berhenti tepat didepan asrama, pangeran istana mulai turun diikuti Zili yang telah memeluk buku pemberian laki-laki tersebut.
“Itu putri mahkota...
Suara teriakan seorang murid terdengar hingga ketelinga.
Sontak Zili terkejut, para murid sekolah teknologi berhamburan lari penuh semangat mendekati Zili yang telah berdiri disamping pangeran istana.
“Astaga, cantik sekali..
Puji seorang dari mereka ketika mendekati Zili namun dihalangi oleh Pengawal pangeran istana serta Ilmuwan negara yang tampak mengisyaratkan dengan matanya agar para murid teknologi berlaku sopan kepada petinggi negara.
Tidak seorangpun yang memasuki asrama ketika Zili mulai melangkah kaki mengikuti ilmuwan negara dan pangeran istana menuju pintu masuk gedung tersebut.
Terus melangkah memasuki Asrama, lagi, pemandangan mengagumkan terus menerus bermunculan dibola mata Zili. Ruangan didalam asrama yang begitu mewah, memang sangat mirip dengan hotel bintang lima.
Koridor berkarpet merah dan juga desain Fantastik dengan gambar setangkai bunga mawar merah didinding koridor tersebut, semakin menakjubkan hati siapapun yang melihatnya. begitupula dengan banyaknya gambar-gambar pemandangan alam yang juga mengisi setiap dinding tempat tersebut.
“Grolle’s here, can i help you...
Sebuah robot bertubuh gendut dengan empat roda kaki serta telapak tangan berbentuk tangan Kodok sedang memegang Nampan yang berisi tiga gelas jus buah persik yang sudah dikelolah menjadi sebuah Sirup super nikmat oleh Para Koki berbakat Klan Sun dan dua buah piring yang berisi beberapa buah kesemek kering diatasnya.
Ilmuwan negara mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya “kartu identitas anda yang mulia” dia memberikan sebuah kartu identitas yang terdapat gambar Zili mengenakan seragam sekolah high raise serta sembilan angka dibawah nama tersebut yang diikat menggunakan Tali polyster pipih dan sedikit lebar.
Tali tersebut mungkin digunakan untuk mempermudahkan Zili membawa Kartu identitasnya hanya dengan mengalungkan dileher ketika ia tidak ingin menyimpan barang tersebut dikantungnya.
Zili menerima Kartu identitasnya, meletakan kartu tersebut tepat di kunci pembuka pintu otomatis disamping Robot Grolle berdiri.
Pintu terbuka.
Robot Grolle masuk dengan cepat lalu meletakan barang bawaannya diatas sebuah meja yang berada dipertengahn empat sofa kemudian berlalu pergi lagi melewati Zili serta dua orang laki-laki yang baru saja melangkah masuk ruangan tersebut.
Menakjubkan.
Kamar asramanya bahkan terlihat seperti sebuah apartemen.
Terdapat Ruang tamu serta dapur dibagian depannya, serta Lobi yang bisa diakses melalui pintu kaca dengan gorden hitam bergambar setangkai Bunga lili Putih berdaun, yang saat itu sedang terbuka.
Mungkin Para pelayan pembersih Kamar yang membukanya sebelum Kedatangan Zili keruangan tersebut.
__ADS_1
Dibelakang ruang tamu, tampak sebuah pintu masuk keruangan kamar, karena mengingat masih ada dua laki-laki berada didalam ruangannya, zili mengurungkan niat untuk segera masuk kedalam kamar pribadinya diasrama Sekolah teknologi. Dia duduk diatas sofa, tepat setelah itu, pangeran istana juga tampak duduk disampingnya.
“semua telah disiapkan, yang mulia putri mahkota dapat mencari seragam serta seluruh buku mata pelajaran sekolah teknologi di kamar anda” jelas ilmuwan berbakat mengejutkan Zili karena ia bisa dengan begitu mudahnya masuk serta bahkan mendapatkan buku pelajaran dari Sekolah tersebut.
Zili tersenyum bahagia “terima kasih” lagi, ucapannya mampu membuat pangeran istana juga ikut bahagia.
Pangeran istana mengeluarkan sesuatu dari seragam Militer berwarna Hitam miliknya, seragam dengan motif sama yang pernah dikenakan putra mahkota.
Diseragam tersebut juga diselipkan sejenis jubah berkerah, terjahit menjadi satu dibagian belakangnya serta terdapat juga rantai emas kecil disatu sisi kerah seragam tersebut.
Dia terlihat mengeluarkan sebuah ponsel dari jubah belakang seragamnya, tampak didalam Jubah tersebut terdapat beberapa kantung yang berseleting hingga mampu menyimpan sebuah ponsel Tipe android dari sana.
“Gunakan ini jika kau kesulitan sesuatu” Laki-laki tersebut meletakan ponsel yang ia pegang diatas meja depan Zili “kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau memerlukan bantuan” lanjut laki-laki tersebut mulai menyentuh jam tangan miliknya.
Sttiiiiinnggg your phone’s ringing, your phone’s ringing,
SHin’A is calling ......
Pangeran istana memutuskan panggilannya “hubungi nomor tersebut untuk menghubungiku” lanjut pangeran istana lalu berdiri diikuti ilmuwan berbakat ketika Zili mulai meraih ponsel Berwarna Rose Golden miliknya.
Zili mulai ikut berdiri, ia menghadapkan diri kearah pangeran istana “shin’A...
Panggilnya mendongakkan wajah “terima kasih banyak” lanjut gadis itu mulai menundukkan kepala.
“Hm...
Angguk pangeran istana, memegang bahu Zili sejenak “sekarang istirahatlah” perintah laki-laki tersebut lembut lalu menarik kembali tangannya dari bahu Zili.
ZIli mulai menganggukkan kepala mengiyakan perintah darinya. Lalu menegakan kepala memandang punggung pangeran istana yang telah berbalik “Ingat, jangan lupa menghubungiku ketika kau bangun nanti”
“Haaa...
Zili mengernyitkan dahi, ia merasa bingung dengan perintah Pangeran istana untuk menghubunginya dihari yang sama padahal mereka baru saja bertemu.
“Kau dengar tidak?” Pangeran istana mulai menoleh kepala kembali sebelum melangkah pergi.
“Baiklah..
Jawab Zili menyenangkan hati pangeran istana yang langsung tersenyum memandang kedepan dan melangkah mengikuti Ilmuwan negara yang sudah pergi terlebih dahulu.
__ADS_1