Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
100. Menculik Putri


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Sosok Putri Tutsi Ling Mei sedang tumbuh ranum-ranumnya sebagai seorang gadis dalam usia 17 tahun. Ia sudah mulai begitu memperhatikan tentang kecantikan dirinya, tidak hanya fisiknya, tetapi juga dalam hal penampilan. Karenanya, pagi ini ia berdandan secantik mungkin dan berhias seindah mungkin dalam balutan pakaian serba kuning.


Agenda pagi ini sudah ia rencanakan sejak beberapa hari lalu, yaitu melukis di taman istana dengan obyek sebatang pohon permaisuri atau nama lainnya pohon putri. Saat itu, bunga-bunga pohon permaisuri yang berwarna keunguan sedang mekar, memberi pemandangan yang indah.


Di Taman Selatan itu ada lima pohon permaisuri yang tumbuh cukup tinggi. Posisinya cukup berjauhan antara satu pohon dengan yang lainnya.


Putri Ling Mei sengaja memilih pagi hari, karena ia ingin memasukkan keceriaan burung-burung yang sering datang bertengger dan berkicau di dahannya.


Ada dua prajurit berzirah lengkap dengan helmnya yang berdiri agak jauh dari Putri Ling Mei. Mereka berbekal pedang yang tersarung di pinggangnya.


Ada dua pelayan yang mendampingi Putri Ling Mei di gazebo. Putri sudah duduk menghadap ke kertas kanvasnya. Cat berbagai warna tersedia dan sudah dihaluskan oleh pelayan. Sesekali pandangan Putri dilempar ke pohon permaisuri yang memang indah, lalu kembali beralih ke kanvas sambil kuasnya bermain lembut.


Melukis adalah salah satu kegemaran Putri Ling Mei.


Namun, dalam keriangan hati yang damai, Putri Ling Mei dan kedua pelayannya tidak menyadari akan adanya bahaya yang mengintai.


Seorang wanita berpakaian pelayan warnah hijau muda berjalan sendirian masuk ke dalam taman, tempat Putri Ling Mei berada. Langkahnya cepat dengan kepala menunduk, tetapi sepasang matanya tajam memandang, seolah memiliki niatan yang buruk.


Pelayan itu menyusuri jalan taman lalu menuju ke gazebo tempat Putri Ling Mei berada. Namun, langkahnya segera dihadang oleh seorang prajurit.


“Berhenti! Kau mau ke mana, Pelayan?” tanya si prajurit.


Pelayan itu hanya memandang kepada si prajurit dengan senyum kecil menyeringai seram.


Tep tep!


Selanjutnya, tiba-tiba si pelayan bergerak cepat tidak terduga. Tangannya bergerak cepat dan lihai menusukkan tusuk konde sebanyak dua kali ke leher si prajurit. Si prajurit hanya bisa mendelik kejang tanpa sempat berteriak lagi. Darah segar memancur deras keluar dari dua lubang di leher prajurit. Ia kemudian tumbang.


Melihat rekannya mendapat serangan, prajurit satunya terkejut. Ia langsung cabut pedangnya.


“Ada pembunuh!” teriak si prajurit sambil berlari kepada pelayan pembunuh.


Teriakan si prajurit mengejutkan Putri Ling Mei dan kedua pelayannya. Mereka cepat melihat apa yang terjadi.


Bukr!


Ternyata pelayan pembunuh sudah melompat jauh di udara yang langsung melancarkan satu pukulannya ke dada prajurit yang dilapisi zirah logam. Kecepatan serang pelayan pembunuh itu membuat si prajurit tidak lebih cepat dalam mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Prajurit roboh dengan dada zirah yang jebol, menunjukkan pukulan pelayan pembunuh luar biasa kuatnya. Prajurit roboh dalam kondisi sudah tidak bernyawa dengan mulut yang penuh darah kental.


“Aaa!” jerit pelayan Putri Ling Mei melihat kejadian itu.


“Yang Mulia Putri, cepat lari!” pekik satu pelayan panik dan ketakutan.


Kejadian itu juga membuat Putri Ling Mei jadi panik. Buru-buru ia meninggalkan kursi dan alat lukisnya. Ketiga wanita itu semakin ketakutan ketika melihat pelayan pembunuh bisa berkelebat terbang di udara, mengejar mereka.


Set set!


Dalam terbangnya itu, pelayan pembunuh melesatkan sesuatu yang tidak terlihat. Tahu-tahu kedua pelayan Putri Ling Mei berhenti bergerak dan kejang, lalu tumbang dalam kondisi sudah mati. Pelayan pembunuh melesatkan beberapa jarum beracun yang membunuh kedua pelayan itu.


“Aaa!” jerit Putri Ling Mei semakin ketakutan mendapati kedua pelayannya telah tumbang. Ia segera berlari sekencangnya.


Namun, pelayan pembunuh telah mendarat tidak jauh darinya. Sekali lompat lagi, pelayan pembunuh sudah menjangkau sang putri.


Dak!


Pelayan pembunuh memukul belakang leher Putri Ling Mei. Gadis cantik itu pun jatuh terkulai tidak sadarkan diri. Pelayan pembunuh segera menahan tubuh Putri Ling Mei. Ia kemudian memanggulnya.


“Berhenti!”


Cuss! Ctar!


Sambil berlari, seorang prajurit melepaskan satu suar berwarna biru ke angkasa yang kemudian meledak di udara tinggi seperti kembang api dengan suara nyaring. Itu adalah tanda isyarat.


Pelayan pembunuh tidak mau menunggu. Ia memilih berkelebat pergi masuk ke area taman lebih dalam. Ia membawa tubuh Putri Ling Mei di bahunya.


“Jangan lari!” teriak prajurit yang mengejar.


Tanda suar yang tadi dilepaskan oleh prajurit yang mengejar segera diketahui oleh para prajurit yang ada di sekitar. Maka dalam waktu singkat, beberapa kelompok prajurit istana berseragam merah bermunculan masuk ke dalam taman. Jumlah mereka yang lebih dua puluh prajurit segera menyusul enam prajurit yang sudah jauh mengejar.


Suar yang tadi dilepaskan ke angkasa juga ditangkap oleh penglihatan prajurit yang berjaga di menara. Prajurit penjaga menara terdekat segera membuat pesan sandi yang menghadap ke menara pusat istana.


“Ada penyusup di Taman Selatan!” teriak prajurit penjaga menara pusat istana setelah membaca pesan dari menara pemantau di sisi selatan. Setelah itu, prajurit tersebut melompat menuruni tangga menara dengan cara instan.


Posisinya segera digantikan oleh temannya yang memang sudah disiapkan.


Cuss! Ctar!

__ADS_1


Satu suar kembali dilepaskan oleh prajurit di taman, tetapi kali ini suar itu berwarna merah. Tanda itu dilepaskan setelah para prajurit mendapati ada dua prajurit dan dua pelayan yang tewas.


Menara pemantau di selatan istana segera bereaksi dengan menulis pesan sandi di dinding sisi utara menara, yang kemudian dibaca oleh menara pusat dari jauh.


“Ada pembunuh di Taman Selatan!” teriak prajurit penjaga menara pusat setelah membaca pesan itu. Setelah itu dia melompat menuruni tangga menara untuk pergi melapor menyusul temannya.


Prajurit baru segera mengganti posisi berjaga di menara pusat. Ia memprioritaskan mengamati menara pemantau di sisi selatan.


Dua prajurit pembawa pesan dari menara pemantau pusat melajukan kudanya dengan kencang di jalan-jalan lingkungan istana. Para prajurit penjaga dan orang-orang yang beraktivitas di lingkungan istana sudah mengerti bahwa ada hal genting yang harus cepat dilaporkan ke Kaisar. Jadi mereka akan cepat menyingkir memberi jalan jika sudah mendengar suara lari kuda mendekat.


Istimewanya kuda pembawa pesan, mereka bisa masuk sampai ke depan tangga Istana Naga Langit, istana tempat Kaisar memimpin sidang pagi yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan. Jadi, prajurit pembawa pesan harus hafal jadwal harian sang kaisar agar tidak salah alamat dalam membawa pesan.


Setibanya di depan tangga Istana Naga Langit, prajurit pembawa pesan pertama langsung melompat dari kudanya dan berlari menaiki tangga yang jumlahnya 77 undak anak tangga. Dan kekhususan prajurit pembawa pesan, mereka tidak diwajibkan menghormat kepada siapa pun dalam perjalanannya, kecuali kepada Kaisar atau pejabat yang ditujunya. Karenanya, ia bebas berlari langsung masuk ke dalam aula utama dan lewat di antara barisan para pejabat yang sedang berdiri di depan kebesaran singgasana yang di duduki oleh Kaisar Tutsi Long Tsaw.


Saat itu, Kaisar Long Tsaw sedang memarahi Jenderal Mok Jueng, Kepala Pasukan Naga Merah yang bertanggung jawab atas keamanan kota He sebagai Ibu Kota. Ia dimarahi di depan para pejabat tinggi lainnya terkait kasus penyerangan besar terhadap Putri Tutsi Yuo Kai sore kemarin. Meski ia sudah memiliki sejumlah informasi sebagai bekal untuk bisa melacak kelompok penyerang, tetapi Kaisar Long Tsaw menilai itu hasil yang sangat buruk.


“Lapooor...!” teriak prajurit pembawa pesan sambil berlari datang dan langsung berlutut kepada Kaisar.


Kedatangan prajurit pembawa pesan selalu menciptakan ketegangan, karena berita yang dibawanya selalu genting.


“Sampaikan!” perintah Kaisar Long Tsaw.


Prajurit pembawa pesan mengangkat kepalanya memandang wajah Kaisar yang ada di atas sana, yang lantai singgasananya berada lebih tinggi dari kepala para pejabat.


“Ada penyusup di Taman Selatan, Yang Mulia!” lapor prajurit dengan wajah tegang dan tangan tetap dalam posisi menghormat di depan dada.


“Di Taman Selatan,” ucap Kaisar Long Tsaw lirih seraya kerutkan dahi yang nyaris tertutup penuh oleh mahkota megahnya.


Sepasang mata sang kaisar mendadak melebar. Ia teringat, putrinya Putri Ling Mei punya kegiatan di Taman Selatan.


“Lapooor...!” teriak tiba-tiba satu prajurit pembawa pesan lagi, yang datang berlari dari luar aula sidang. Setelah berlutut menghormat, tanpa diperintah lagi dia langsung menyampaikan laporannya, “Ada pembunuh di Taman Selatan!”


“Apa?!” Semakin terkejut Kaisar Long Tsaw. Kecemasan terhadap putrinya langsung memenuhi pikirannya.


Belum lagi ada komentar dari sang kaisar, seorang prajurit pembawa pesan lain sudah muncul di ambang pintu utama. Para pejabat pun menengok melihat kemunculan prajurit pembawa pessan itu. Namun, itu buka prajurit penjaga menara, dapat dibedakan dari model seragamnya.


“Lapooor...!” teriak prajurit yang baru datang. Lalu teriaknya lagi sambil menghormat, “Yang Mulia Putri Ling Mei diculik di Taman Selatan!”


“Wae Yieee!” teriak Kaisar Long Tsaw sangat murka. Wajahnya sampai memerah dan sepasang matanya juga memerah memendam kemarahan yang tinggi. Nama yang disebutnya adalah Kepala Pasukan Naga Hitam yang bertanggung jawab atas keamanan istana, yaitu Jenderal Wae Yie.

__ADS_1


“Ampuni hamba, Yang Mulia!” teriak Jenderal Wae Yie sambil turun berlutut dan menunduk. Saat laporan pertama ia dengar, ia sudah yakin bahwa ia akan disalahkan, sama seperti nasib Jenderal Mok Jueng yang juga masih berlutut. (RH)


__ADS_2