Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
99. Tawa Putri Yuo Kai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Pedang yang mengambang mulai bergerak merebahkan dirinya di udara, seakan siap diterbangkan. Selanjutnya pedang itu melesat terbang memutari tubuh Bo Fei. Terbang dengan cepat. Selanjutnya terbang menjauh ke sana dan ke sini, mengikuti arahan gerak tangan Bo Fei.


Set! Ses! Ctar!


Pedang yang terbang ke sana ke mari seperti lebah itu, tiba-tiba melesat cepat ke arah Joko. Dengan tersenyum manis, Joko melompat mundur sambil satu tangannya menghentak kecil. Seberkas sinar merah berbentuk pisau melesat sekejap menghadang pedang Bo Fei. Hasilnya, pedang Boi Fei hancur berkeping-keping di udara, seiring hancur pula sinar merah ilmu Pukulan Pisau Neraka.


Terkejut semua gadis itu melihat kehancuran pedang kesayangan Bo Fei. Rasa terpukul sangat dirasakan oleh Bo Fei. Baginya pedang itu sangat berharga. Namun ia cepat sadar diri, pedangnya mengancam nyawa Joko.


“Cukup!” seru Putri Yuo Kai.


Bo Fei pun patuh dengan menjura hormat kepada sang putri.


Putri Yuo Kai melangkah mendekati Joko. Tidak muncul kekhawatiran dalam dirinya meski Joko menunjukkan bahwa ia lelaki yang berbahaya.


Ketika jarak mendekatnya Putri Yuo Kai empat langkah, Joko segera mundur dua langkah. Gerakan Joko itu membuat Putri Yuo Kai berhenti sejenak. Ia menatap Joko yang juga menatapnya. Saling tatap pun terjadi untuk beberapa tarikan napas.


Ada rasa aneh yang menjalar liar di dalam hati Putri Yuo Kai saat itu. Rasa itu bahkan mengalir ke tengkuk sang putri, membuatnya merasa merinding indah. Namun rasa itu ia pendam dalam kedinginan raut wajahnya, sehingga hanya ia yang tahu tentang rasa itu.


Putri Yuo Kai kembali maju mendekat dua langkah. Joko pun mundur dua langkah. Setelah berhenti sejenak, Putri Yuo Kai menjadi senang melakukannya. Ia senang melihat respon Joko atas tindakannya. Karenanya, Putri Yuo Kai kembali maju dua langkah, membuat si pemuda mundur pula dua langkah.


Putri Yuo Kai tersenyum lebar. Tingkat senyumnya itu sangat jarang terjadi.


Mai Cui dan Yi Liun juga tersenyum melihat permainan putrinya dengan Joko. Sementara Bo Fei tetap diam dengan ekspresi yang dingin.


Joko tersenyum kecil kepada Putri Yuo Kai. Joko sengaja membiarkan wanita cantik dan mewah itu menikmati permainan langkah itu. Joko bermaksud membiarkan Putri Yuo Kai mengerti bahwa ia tidak boleh didekati kurang dari empat langkah.


Lima kali Putri Yuo Kai maju dan berhenti. Lima kali pula Joko mundur dan berhenti.


“Hahaha!”


Akhirnya meledaklah tawa Putri Yuo Kai. Hal yang lebih jarang terjadi dan hampir tidak pernah dilihat atau didengar oleh Bo Fei dan kedua pelayan itu.


Joko hanya berdiri tersenyum melihat Putri di depannya tertawa kencang. Memang, Joko terlihat lucu jika berulang kali didekati dan berulang kali pula menjauh.


Setelah tawa sang putri mereda, Joko Tenang pun berkata sambil memberi bahasa tangan dan kaki.


“Aku dan Yang Mulia Ratu...” Joko Tenang menunjuk dadanya lalu menunjuk Putri Yuo Kai. “Tidak boleh berdekatan satu langkah.”


Joko mengacungkan satu jari telunjuknya lalu melangkah mundur kemudian menggelengkan telapak tangan kanannya tanda “tidak boleh”. Joko kemudian menegakkan dua jarinya, jari telunjuk dan tengah. Lalu menggelengkan lagi telapak tangannya.


“Dua langkah. Tidak boleh!”


Joko kembali mengangkat tegak tiga jari tangannya. Disusul gelengan telapak tangannya.


“Tiga langkah, tidak boleh!” katanya, lalu kembali menegakkan keempat jarinya dan katanya sambil mengangguk-angguk, “Empat langkah, boleh!”


Joko kemudian diam, berarti penjelasannya selesai.


“Bo Fei!” panggil Putri Yuo Kai.


“Saya, Yang Mulia,” sahut Bo Fei.


“Apa yang kau tangkap dari penjelasannya?”


“Menurutku, Tuan Joko mengatakan, dia dan Yang Mulia Putri jangan berjalan mundur satu langkah, dua atau tiga langkah, tetapi berjalan mundurlah empat langkah,” jawab Bo Fei.


“Pergilah kau memberi pesan kepada Ular Buta!” perintah Putri Yuo Kai setelah mendengar penafsiran Bo Fei yang menurutnya jauh dari benar. Ia memerintahkan agar Ular Buta mencari info tentang Negeri Jawa di selatan.

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan Tuan Joko?” tanya Bo Fei lagi, mengulang pertanyaannya yang beberapa waktu lalu.


“Tuan Joko tidak berbahaya bagiku, meski ia mudah menaklukkan Tarian Pedang Gurun. Lagi pula di sini ada Pengawal Angsa Merah.”


“Baik, Yang Mulia Putri,” ucap Bo Fei patuh seraya menghormat, lalu bergerak mundur dan kemudian berbalik pergi.


“Yi Liun!” panggil Putri Yuo Kai.


“Hamba, Yang Mulia,” sahut pelayan Yi Liun.


“Apa tafsirmu atas penjelasan Tuan Joko?” tanya Putri Yuo Kai.


“Hamba tidak mengerti, Yang Mulia,” jawab Yi Liun.


“Mai Cui?” tanya Putri Yuo Kai kepada pelayan satunya.


“Aku menduga, Tuan Joko mengatakan, dia dan Yang Mulia tidak boleh berdekatan satu, dua, dan tiga langkah. Hanya boleh empat langkah,” jawab Mai Cui.


“Coba kau dekati dia, sebab dia pun tidak mau didekati oleh Bo Fei!,” perintah Putri Yuo Kai.


Mendadak Mai Cui berlari mendekat kepada Joko Tenang. Pemuda berbibir merah itu agak terkejut. Ia yang tidak mengerti dialog Putri Yuo Kai dengan kedua pelayannya, tidak menyangka Mai Cui akan melakukan gerakan cepat seperti itu. Spontan Joko melesat menjauh ke samping tanpa menjejak lantai, seperti burung terbang rendah.


Penghindaran Joko itu membuat Mai Cui berhenti. Joko pun berhenti agak jauh di sudut ruangan.


“Bukan hanya aku, tetapi aku simpulkan untuk setiap wanita. Ia tadi tidak masalah berdekatan dengan Sun Ming,” kata Putri Yuo Kai.


“Tapi kenapa Tuan Joko tidak mau didekati oleh wanita?” tanya Yi Liun.


“Mungkin di negerinya, berdekatan lelaki dan wanita adalah hal yang terlarang,” jawab Mai Cui.


“Tuan Joko!” panggil Putri Yuo Kai. Ia lalu melambai memanggil, “Kemarilah!”


Putri Yuo Kai lebih dulu duduk.


“Silakan,” kata Putri Yuo Kai santun sambil tangannya mempersilakan Joko untuk duduk di bantal seberang meja kecil itu.


Joko Tenang hanya tersenyum, berdiri agak jauh dari meja.


“Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Aku lebih baik di sini,” kata Joko lalu memilih duduk di lantai, empat langkah jaraknya dari meja.


“Jika Tuan Joko duduk di sana, bagaimana aku bisa menyuguhkan teh ini?” kata Putri Yuo Kai sambil menuangkan teh dari teko keramik dengan gerakan yang lembut dan anggun.


“Baru kali ini aku melihat cara penuangan minuman begitu lembut dan sangat menjiwai,” kata Joko.


“Kemarilah, Tuan Joko,” panggil Putri Yuo Kai setelah menuangkan teh secangkir kecil untuk Joko. Ia memanggil pula dengan isyarat tangan.


Joko tertawa sama seperti bergumam yang enak didengar, lalu katanya, “Aku lebih nyaman di sini.”


“Baiklah jika Tuan Joko tetap ingin di sana, tetapi maafkan aku,” kata Putri Yuo Kai.


Wanita cantik itu lalu mengibaskan jari tangannya dengan pelan pada cangkir kecil untuk Joko. Cangkir yang berisi air teh itu melesat di udara kepada Joko. Pemuda itu dengan mudah menangkapnya.


“Teh yang harum,” kata Joko seraya manggut-manggut. Ia langsung meminumnya sekali teguk.


“Bagaimana rasanya?” tanya Putri Yuo Kai.


“Terlalu sedikit,” jawab Joko, lalu melesatkan cangkirnya kepada Putri Yuo Kai yang dengan mudah menangkapnya.


“Jika Tuan Joko suka, maka dengan senang hati aku akan menuangkannya lagi,” kata Putri Yuo Kai.

__ADS_1


“Di negeriku tidak ada yang seperti ini,” kata Joko.


Putri Yuo Kai kembali menuangkan teh ke cangkir Joko. Pemuda itu kembali tersenyum melihat cara Putri Yuo Kai menuang teh, tangan kanannya menuang sementara tangan kirinya memegangi kain lengan bajunya yang gombrong agar tidak mengganggu. Gerakannya pun pelan, seolah menghayati dan meresapi.


Setelah meletakkan kembali teko ke meja, jari Putri Yuo Kai kembali menyentil cangkir yang penuh oleh teh. Cangkir kecil itu kembali melesat dari atas meja kepada Joko. Joko dengan ringannya menangkap dan langsung meminumnya sekali tuang ke dalam tenggorokannya.


“Apakah tidak ada gelas yang lebih besar?” tanya Joko setelah meminum teh itu.


“Teh jenis ini sangat langka, saat ini hanya dimiliki dan boleh dinikmati oleh keluarga kerajaan dan tamu-tamunya,” kata Putri Yuo Kai menanggapi pertanyaan Joko.


Ketidakmengertian membuat pertanyaan Joko dan jawaban Putri Yuo Kai tidak terhubung.


“Teh ini ditanam khusus di Gunung Lima Lembah dan harganya sepuluh kali lipat dari teh terbaik di pasaran,” kata Putri Yuo Kai.


Joko manggut-manggut, seolah-olah ia mengerti.


“Jadi budaya kalian sangat irit dalam meminum sesuatu,” kata Joko.


“Tidak hanya itu, teh ini pun berkhasiat menyehatkan tubuh dan meremajakan kulit jika rutin diminum,” kata Putri Yuo Kai seraya tersenyum samar, tapi cantik.


Joko Tenang kembali melemparkan cangkir di jarinya dan mendarat lembut di atas meja seolah memiliki rem dan lem dalam mendarat.


“Bolehkah aku keluar?” tanya Joko sambil memandang pintu keluar.


Kali ini Putri Yuo Kai memahami maksud perkataan Joko.


“Kau tidak bisa keluar tanpa didampingi oleh aku. Jika kau keluar sendiri, maka prajurit akan menangkapmu,” kata Putri Yuo Kai.


“Oh, benar sekali, aku memang merasa lapar. Mungkin pengaruh perjalanan jauh,” kata Joko seraya tersenyum kecil.


“Kau orang asing di istana ini, hanya berjalan bersamaku kau bisa aman,” kata Putri Yuo Kai.


“Jelas aku sangat penasaran dengan seperti apa makanan di negeri ini,” kata Joko.


Kedua pelayan Putri Yuo Kai hanya bisa bingung mendengar percakapan itu. Bagaimana mungkin keduanya merasa saling mengerti yang diucapkan oleh lawan bicaranya.


“Lapor, Yang Mulia Putri!” seru seorang prajurit wanita yang tiba-tiba muncul berlutut di dekat pintu masuk ruangan itu.


“Katakan!” perintah Putri Yuo Kai.


“Ada pesan yang sampai kepada Yang Mulia Kaisar bahwa Putri Ling Mei diculik seseorang!” lapor prajurit wanita itu.


Tergurat seketika keterkejutan pada wajah cantik Putri Yuo Kai dan kedua pelayannya.


Prak!


Tangan kanan halus Putri Yuo Kai menggebrak meja melampiaskan kemarahannya. Cangkir-cangkir dan teko keramik yang ada di atas meja berlompatan secara serentak lalu mendarat kembali dengan baik dan utuh di tempatnya semula.


Putri Yuo Kai berdiri cepat dari duduknya. Ia berjalan pergi menuju pintu keluar. Namun, ia berhenti dan memandang kepada Joko yang masih duduk memandangi kemarahan Putri Yuo Kai. Joko hanya bisa menebak bahwa telah terjadi sesuatu yang salah sehingga membuat Putri Yuo Kai marah.


Joko Tenang menepuk-tepuk perutnya.


“Yi Liun, Mai Cui!” panggil Putri Yuo Kai.


“Hamba, Yang Mulia Putri!” sahut keduanya yang berada di belakangnya.


“Beri Joko makan dan layani kebutuhannya. Jangan biarkan dia keluar!” perintah Putri Yuo Kai.


“Baik, Yang Mulia Putri,” ucap keduanya patuh.

__ADS_1


Setelah itu, Putri Yuo Kai melanjutkan langkahnya. (RH)


__ADS_2