
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Semangat cinta yang meletup-letup di hati membuat mereka dengan bahagia memacu kuda masing-masing. Perjalanan berkuda itu terasa begitu menyenangkan bagi Joko Tenang, Tirana, dan Putri Sri Rahayu. Suasana bahagia tergambar dari senyum-senyum dan tawa-tawa mereka yang mengembang saat mereka berpacu.
Sementara itu, Ki Ranggasewa agak keteteran mengikuti semangat para pemuda yang sedang diselimuti kasmaran tersebut. Ki Ranggasewa dan kudanya agak tertinggal di belakang. Jika masih memiliki kesaktian, itu tidak akan masalah.
Joko dan Tirana seolah sudah tidak sabaran untuk segera tiba di Perguruan Tiga Tapak lalu menikah dan menggelar prosesi perdana malam pertama. Bagi Joko Tenang, itu akan menjadi malam pertama perdana yang wajib ada penyatuan anggota intimnya dengan pasangannya.
Dikatakan “perdana” karena menurut agenda cinta proyek Delapan Dewi Bunga, akan ada malam pertama kedua Joko Tenang dengan Getara Cinta dan malam pertama ketiga dengan Kerling Sukma. Jika itu terlaksana dengan lancar dan sukses, berarti misi menuju Delapan Dewi Bunga sudah mencapai setengah perjalanan.
“Hihihi…!” Tirana dan Putri Sri Rahayu tertawa kencang bersamaan, membuat telinga lelaki akan jatuh hati untuk terus mendengarnya. Menurut guru ahli cinta, suara tawa wanita adalah salah faktor penting untuk memikat calon pasangan.
Tawa mereka berdua tercipta bermula ketika Tirana bertanya kepada Putri Sri Rahayu. Kuda keduanya memang berlari berdampingan, sehingga mudah untuk berkomunikasi.
“Putri! Sebenarnya kau cinta Kakang Joko atau burungnya?”
“Awalnya aku cinta burungnya. Namun masalahnya, aku tidak bisa menaiki burungnya kalau tidak menikahi pemiliknya!” jawab Putri Sri Rahayu setengah berteriak.
“Seharusnya kau mencintai dulu pemilik burungnya, seperti yang aku lakukan. Jadi tidak perlu menunggu menikah untuk bisa menaiki burung Kakang Joko!” kata Tirana, agak berteriak pula.
“Kau beruntung!”
“Tapi kalau kau menaiki burung Kakang Joko, kau harus di atas dan Kakang Joko di bawah!” kata Tirana lagi.
“Kenapa?” tanya Putri Sri Rahayu, serius.
“Karena kalau Kakang Joko di atas, dia akan lemas. Biasanya Kakang Joko akan duduk di ceker burungnya. Lagipula, kalau Kakang Joko di atas, namanya bukan kau yang menaiki burung Kakang Joko, tetapi burung Kakang yang mematukmu! Hihihi…!” kata Tirana lalu tertawa kencang.
“Hihihi…!” Putri Sri Rahayu pun langsung tertawa kencang setelah paham maksud perkataan terakhir Tirana.
Joko Tenang yang bisa mendengar obrolan mereka, hanya tersenyum lebar sambil terus memacu kudanya di posisi paling depan.
Cring!
Tiba-tiba terdengar suara gelang lonceng yang keras, seperti gelang lonceng raksasa saja.
Hihihikh!
__ADS_1
Seiring munculnya penampakan mengejutkan di depan sana, keempat kuda yang mereka tunggangi kompak mengerem mendadak lalu mengangkat tinggi-tinggi kedua kaki depannya.
Liarnya keempat kuda itu dalam meringkik membuat keempat penunggangnya pun terlempar. Joko Tenang, Tirana, dan Putri Sri Rahayu mampu mendarat dengan baik di tanah, lalu cepat mendapatkan tali kekang kudanya dan menenangkan sang kuda. Berbeda dengan Ki Ranggasewa yang terlempar dan jatuh tak sedap.
Kuda tunggangan Ki Ranggasewa berlari liar tanpa kendali, tetapi Joko Tenang cepat melesat dan menyambar tali kekang kuda tersebut. Joko Tenang berhasil menenangkan sang kuda.
Ki Ranggasewa bangkit dengan meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Namun, ia segera terkesiap melihat keberadaan lima hewan serigala besar yang telah berdiri gagah mengerikan menutupi jalan mereka.
Seorang gadis jelita bertubuh mungil tapi berambut keriting lebat, bergerak turun dari punggung serigala berbulu hitam. Gadis buta bertongkat biru kecil itu tidak lain adalah Sandaria.
Melihat Sandaria adalah seorang gadis yang buta, Tirana segera datang menghampiri Sandaria yang berjalan ke arah mereka. Tirana tetap menuntun kudanya.
Sandaria yang merasakan ada orang dan kuda yang mendekatinya, ia segera tersenyum ramah.
“Maafkan aku karena menghadang tiba-tiba dan membuat kuda-kuda kalian ketakutan,” ucap Sandaria dengan mimik merasah bersalah. “Harap dimaklumi karena aku membawa keluargaku.”
Joko Tenang, Putri Sri Rahayu dan Ki Ranggasewa juga ikut mendekat.
“Apakah kau ada hubungannya dengan Serigala Perak, Nak?” tanya Ki Ranggasewa.
Terkesiap Sandaria mendengar pertanyaan itu, terlihat dari gerak wajahnya yang cepat dihadapkan kepada sumber suara. Ia kemudian tersenyum lebar.
“Kenal. Satu-satunya orang sakti yang memiliki serigala di Tanah Jawi ini,” jawab Ki Ranggasewa.
“Syukurlah aku bertemu dengan orang yang mengenal nenekku. Jika diizinkan, bolehkah aku tahu nama Kakek dan kakak-kakak sekalian?” kata Sandaria dengan suara seraknya yang “sesuatu” sekali untuk didengar, memberi rasa candu bagi orang yang suka menikmati suara-suara merdu.
“Sampaikan salamku untuk nenekmu, sebut saja dari Setan Genggam Jiwa,” kata Ki Ranggasewa.
“Oh, yayaya, Nenek pernah menyebut nama Kakek, pemuda tampan yang baik hati. Hihihi!” kata Sandaria lalu tertawa kecil.
“Hahaha!” tawa Ki Ranggasewa.
“Lalu siapa namamu, Gadis Mungil?” tanya Tirana lembut.
“Sandaria, Kakak,” jawab Sandaria seraya tersenyum tersipu, karena disebut “Gadis Mungil”.
“Aku Tirana. Di sebelahku ada Putri Sri Rahayu. Dan di belakang ada yang paling tampan sendiri, Kakang Joko Tenang,” kata Tirana memperkenalkan satu per satu.
Jleger!
__ADS_1
Laksana mendengar suara petir di dalam kelambu ketika Sandaria mendengar nama terakhir disebut. Senyumnya seketika hilang.
Perubahan ekspresi Sandaria jelas membuat keempat orang yang ada di hadapannya dihinggapi keheranan.
“Ada apa, Sandaria?” tanya Tirana lembut.
“Itu… itu apakah… apakah Kakang Joko yang bibirnya merah seperti memakai gincu?” tanya Sandaria terbata-bata.
“Benar.”
“Apakah… Kakang Joko itu adalah Kakang Joko calon suami Kakak Getara dan Kerling Sukma?” tanya Sandaria terbata-bata.
“Oh, kau sudah pernah bertemu dengan Ratu dan Sukma?” tanya Tirana cepat seraya tersenyum.
“Hah! Ratu? Kok Kakak Getara tidak memberi tahuku jika dirinya seorang ratu?” keluh Sandaria seraya merengut menggemaskan.
“Hihihi!” Tirana tertawa melihat ekspresi gadis mungil menggemaskan tersebut.
“Apakah… apakah Kakak Tirana dan Kakak Putri calon istri Kakang Joko yang lain?” tanya Sandaria ragu-ragu.
“Kau sudah tahu?” Tirana jadi terkejut, tapi senang.
“Aku punya masalah, Kakak,” ujar Sandaria bernada sedih.
“Katakan saja, jika kami bisa membantumu, pasti akan kami bantu,” kata Tirana lembut menyejukkan.
“Ternyata, semua calon istri Kakang Joko baik-baik,” ucap Sandaria seraya berubah tersenyum.
Tirana dan Putri Sri Rahayu juga jadi turut tersenyum. Menghadapi Sandaria sangat seperti menghadapi seorang adik yang begitu menggemaskan dengan kebutaannya yang membuatnya wajib disayangi.
“Aku mencari pemuda sakti yang akan menjadi calon suamiku. Kami belum pernah bertemu. Namun, ada hal yang membuatku gelisah dan tidak tenang, Kakak. Kata Kakak Getara, lelaki yang aku cari adalah Kakang Joko, karena ciri-ciri lelaki yang aku cari sangat mirip dengan Kakang Joko, yaitu bibirnya merah,” ujar Sandaria seraya tertunduk sedih.
Mendeliklah Tirana mendengar cerita tersebut. Ia terkejut bukan karena merasa buruk, tetapi bagi Tirana, setiap gadis cantik nan sakti adalah potensi untuk dijadikan calon madunya. Karenanya, ia pun langsung tertawa senang.
“Kenapa kau harus merasa gelisah dan sedih, Sandaria? Kehadiranmu sebagai calon istri Kakang Joko justru akan membuat Kakang Joko dan istri-istrinya senang dan bahagia,” kata Tirana. Ia lalu meraih tangan Sandaria. “Mari, mari! Aku kenalkan kau dengan Kakang Joko!”
Tirana menuntun Sandaria dengan lembut, berjalan ke depan Joko Tenang. Sandaria tidak bisa menolak. Namun tiba-tiba, jantungnya berdebar tidak wajar. Rasa aneh pada aliran darahnya membuatnya dag dig dug, tetapi terasa ada indah-indahnya.
“Kakang, perkenalkan, ini Sandaria, calon istri Kakang selanjutnya!” kata Tirana kepada Joko.
__ADS_1
Diperkenalkan seperti itu, Sandaria jadi bingung. Ia hanya tersenyum kaku kepada pemuda yang katanya tampan dan berbibir merah itu. (RH)