
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Wusss!
Seketika area di depan Joko Tenang dan Kembang Buangi bersih dari prajurit Tarumasaga yang barusan datang bergelombang, menyambut kedatangan mereka berdua. Angin dahsyat Badai Malam Dari Selatan yang dilepaskan oleh Joko menerbangkan seluruh prajurit sampai jauh. Bukan hanya itu, pohon-pohon, bangunan dan apa pun yang terkena angin berkekuatan dahsyat itu, bertumbangan dan ikut terseret angin.
Bagian depan Istana Tarumasaga benar-benar dibuat berantakan seperti baru saja terhempas badai terdahsyat. Para prajurit bergelimpangan menderita luka-luka karena dibanting oleh angin ke tanah dan tembok-tembok yang ada.
Ratusan prajurit yang baru keluar dari sisi dalam kerajaan, terperangah terkejut menyaksikan kondisi yang berantakan dan teman-teman mereka yang bergelimpangan.
“Siapa yang berani mengacau di Tarumasaga?!” teriak Patih Segoro Mukti lantang sambil tubuhnya berkelebat cepat di udara.
Wusss!
Lagi-lagi Joko Tenang melepaskan angin dahsyat Badai Malam Dari Selatan. Tak ayal, Patih Segoro Mukti yang sedang gagah-gagahnya di udara, terhempas seperti bulu burung tertiup badai laut. Bukan hanya dia, ratusan prajurit yang baru berdatangan, porak-poranda seperti sampah ringan tertiup angin kencang. Ada yang terbang, ada yang terseret, ada yang berguling-gulingan, dan ada yang tersangkut pula.
Bdakr!
Tubuh gagah Patih Segoro Mukti menghantam dinding gapura hingga rompal. Meski demikian, Patih Segoro Mukti segera bangkit dalam kondisi kepala bocor berdarah dan kulit tubuhnya juga ada yang berdarah.
Joko Tenang memberi kode tangan kepada Kembang Buangi yang ada di depannya. Gadis cantik itu berlari cepat maju semakin jauh ke dalam kerajaan.
Bruss!
Patih Segoro Mukti berdiri mengerahkan ilmu tertingginya. Seluruh tubuhnya kini berselimut sinar kuning yang tampak bergerak mengalir memutari tubuh tuannya berulang-ulang.
Patih Segoro Mukti terkejut saat melihat sosok tubuh Joko juga diliputi sinar putih. Tubuh Joko datang begitu cepat dan menabrak tubuh Patih Segoro Mukti begitu saja.
Bdak!
Tubuh Patih Segoro Mukti terpental beberapa tombak lalu jatuh berguling-guling di tanah lapang. Sinar kuning yang menyelimuti tubuhnya padam. Sambil merasakan sakit yang luar biasa, Patih Segoro Mukti kembali bangkit.
“Siapa orang itu?” tanya Pangeran Zulkar Nain dari tempat persembunyiannya, mengintip dari jauh kejadian di area depan Kerajaan Tarumasaga.
“Gila, dia membuat kerajaan ini porak-poranda,” ucap Putri Alifa Homar terperangah di sisi kakaknya.
“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?! Kanapa kesaktianku hilang?!” teriak Patih Segoro Mukti panik dalam keheranannya.
Patih Segoro Mukti tidak bisa mengerahkan tenaga dalam sedikit pun, apalagi sampai mengeluarkan ilmu ajiannya. Dia telah menjadi korban pertama dari ilmu Raga Putih milik Joko Tenang.
“Apa yang kau lakukan kepadaku, Penjahat?!” teriak Patih Segoro Mukti kepada Joko yang hendak melewatinya.
Tak! Das!
Joko Tenang hanya menendang sebutir batu sebesar jempol yang melesat menghantam jidat Patih Segoro Mukti. Perwira itu terjengkang dengan dahi bocor, sekaligus tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Sementara itu, Kembang Buangi juga mengamuk menghabisi para prajurit yang sudah kehilangan mental bertempurnya. Dengan memungut satu pedang, maka lebih mudah bagi gadis itu menghabis prajurit yang dijumpainya.
Kembang Buangi terus merangsek masuk lebih dalam.
“Raja Tarumasaga!” teriak Joko Tenang bertenaga dalam tinggi, sehingga teriakannya terdengar ke seluruh sudut istana yang luas.
Mendengar namanya dipanggil, terkejutlah Prabu Cokro Ningrat. Demikian pula dengan para pejabatnya yang sedang menunggu di balairung istana.
“Joko,” ucap Ratu Getara Cinta sumringah ketika mendengar teriakan bertenaga dalam itu. Ada senyum tipis di wajah pucatnya dan sepasang matanya yang sayu berubah berbinar mendapat energi dari harapannya.
“Serahkan calon istriku Ratu Getara Cinta!” teriak Joko Tenang lagi.
Teriakan Joko kali ini lebih mengejutkan para penghuni Kerajaan Tarumasaga, terkhusus Prabu Cokro Ningrat. Pangeran Zulkar Nain dan adiknya juga terkejut.
“Bencana,” ucap Putri Alifa Homar.
“Orang ini sangat mengerikan!” desis Pangeran Zulkar Nain.
Namun, ada orang yang tersenyum mendengar teriakan terakhir Joko, yaitu Tirana dan Ratu Getara Cinta.
“Kakang Joko sudah mengakui Ratu sebagai calon istrinya,” membatin Tirana seraya tersenyum, sambil berjalan di koridor dengan tubuh yang menebarkan angin.
Semua prajurit yang dijumpainya seketika mematung di tempat terkena ilmu Pemutus Waktu.
Plak!
“Di mana kediaman rajamu?” tanya Tirana kepada prajurit itu.
“Di sana!” jawab prajurit itu cepat sambil menunjuk arah menggunakan lirikan matanya karena ia tidak bisa bergerak.
Tirana melihat ke arah satu bangunan besar yang lebih menonjol kebagusannya dibanding bangunan lainnya.
Tirana segera melesat pergi ke sana. Prajurit yang sudah berjaga dalam barisan yang ketat, berpentalan ketika Tirana mengirimkan satu angin pukulan jarak jauh.
Tanpa mau membuang banyak waktu, Tirana cukup mengerahkan ilmu Pemutus Waktu-nya, membuat para prajurit yang ada di sekitarnya tidak berdaya karena mematung.
Tirana dengan mudahnya masuk ke dalam istana, kompleks tempat raja dan ratu tinggal. Tidak ada yang bisa menghalanginya. Hingga akhirnya Tirana menerobos masuk ke dalam kamar tempat Ratu Getara Cinta berada.
Para dayang di kamar itu tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bersujud ketakutan, tidak berani mengangkat kepalanya dari lantai.
“Hormat hamba, Yang Mulia Ratu!” ucap Tirana sambil turun berlutut menghormat kepada sang ratu yang tidak bisa bangun.
“Tirana,” sebut Ratu Getara Cinta seraya tersenyum senang. “Bangunlah!”
“Biarkan aku menggendongmu, Yang Mulia. Calon suami kita sudah menunggu Yang Mulia,” kata Tirana seraya tersenyum manis lagi lembut kepada Ratu Getara.
__ADS_1
Ratu Getara Cinta tersenyum lebar mendengar kalimat “calon suami kita”.
Fisik Ratu Getara Cinta sebenarnya lebih besar dibandingkan oleh Tirana, tetapi itu bukan kendala bagi Gadis Penjaga untuk mengangkat dan membawa Ratu dengan kedua tangannya.
Satu pemandangan yang begitu indah, sesama calon suami Joko Tenang saling mengasihi dalam kebersamaan.
Joko Tenang dan Kembang Buangi kini telah berdiri di depan balairung kerajaan. Keduanya dalam posisi dikepung rapat oleh pasukan prajurit Tarumasaga bersenjata tombak. Namun, keduanya berdiri dengan tenang, menghadap ke dalam balairung, tepatnya kepada Prabu Cokro Ningrat. Meski berada di dalam kepungan, jarak fisik Joko dan Kembang Buangi tetap terjaga.
Balairung sendiri telah dipagar dua lapis oleh pasukan berpedang dan bertameng. Para prajurit itu bersiaga penuh menghadap ke luar. Di dalam balairung, Prabu Cokro Ningrat dikelilingi oleh para pejabatnya yang bertindak sebagai benteng terakhir. Masih ada dua lapis prajurit pelindung raja yang menjadi benteng.
“Siapa kalian?!” tanya Prabu Cokro Ningrat dengan berteriak kepada Joko Tenang.
“Kau sudah mendengarnya. Aku adalah Joko Tenang, calon suami Ratu Getara Cinta. Kau telah mencuri milikku dan kau telah membantai rakyat Tabir Angin. Tidak ada hukuman yang layak bagimu selain kematian!” seru Joko, tapi tidak menggunakan tenaga dalam seperti di awal.
“Menyerahlah kalian berdua atau mati!” seru Prabu Cokro Ningrat.
Press! Press!
“Mundur kalian semua! Biarkan raja kalian yang membayar kejahatannya seorang diri! Jika tidak, maka kematian yang akan kalian jumpai saat berikutnya!” seru Joko Tenang secara umum.
Dua sinar hijau menyilaukan mata telah bercokol di kedua tangan Joko. Kemunculan kedua sinar dari ilmu Surya Langit Jagad itu memberi suasana yang menyeramkan dan menegangkan. Para prajurit yang mengepung Joko dan Kembang Buangi terlihat berubah resah.
“Tahan!” teriak seseorang dari sisi lain.
Semua orang segera memandang ke arah sumber suara yang datang dari sisi barat, kecuali para prajurit yang berdiri menghadap ke arah timur.
Orang yang berseru tadi adalah Pangeran Zulkar Nain. Ia berdiri agak jauh dari kepungan dan dari balairung. Tidak terlihat keberadaan Putri Alifa Homar, karena ia bersembunyi di tempat yang cukup aman.
“Semua prajurit, mundurlah! Atau kalian akan mati oleh pendekar itu. Ini adalah urusan dua orang lelaki, biarkan Yang Mulia Prabu menyelesaikan sendiri urusannya dengan pendekar itu!” seru Pangeran Zulkar Nain, membuat Prabu Cokro Ningrat dan para pejabatnya mendelik terkejut.
“Apa yang kau katakan, Pangeran?!” teriak seorang pejabat senior.
“Ini adalah permasalahan dua orang lelaki yang memperebutkan seorang perempuan. Biarkan kedua lelaki itu menyelesaikan masalahnya. Ratusan prajurit kita sudah meregang nyawa, jangan sampai seluruh pasukan Tarumasaja habis!” kata Pangeran Zulkar Nain.
“Mundur!” teriak seorang komandan prajurit kepada pasukan yang dipimpinnya.
“Hihihi...! Mau mundur ke mana, monyet-monyet bau?!”
Tiba-tiba suara tawa perempuan yang sangat akrab di telinga Joko, terdengar datang dari atas langit.
“Puspa,” ucap Joko lirih yang didengar oleh Kembang Buangi.
Sontak mereka semua melihat ke atas langit, kecuali yang ada di dalam balairung. Sesosok tubuh wanita meluncur turun dari angkasa.
Sweerrss!
__ADS_1
Puluhan sinar-sinar hijau berpola daun berlesatan mendahului jatuh tubuh wanita yang tidak lain adalah Puspa. Dia langsung melepaskan ilmu ganasnya, Gerimis Hijau. (RH)