
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Pada hari yang sama, Desa Atuluncur kembali kedatangan tamu yang banyak. Cara datang mereka membuat para warga desa ternganga terpukau.
Sebanyak dua puluh lima orang berlari serempak di angkasa dengan formasi yang rapi. Mereka terdiri dari sepuluh wanita dan lima belas lelaki. Mereka berlari di udara laksana sekawanan burung berbulu putih, terlihat indah.
Mereka semua kemudian mendarat di sebuah tanah lapang yang ada di tengah desa itu. Mereka mendarat di hadapan seorang lelaki tua tapi berambut hitam. Meski demikian, alis dan kumisnya total berwarna putih. Lelaki berpakaian bagus dan rapi itu adalah Suginowo, Ketua Kelompok Kaki Awan.
“Murid menghormat kepada Guru!” ucap kedua puluh lima orang itu serentak, sehingga menggema membuat jiwa-jiwa yang mendengarnya jadi bergetar. Mereka berlutut serentak kepada guru mereka.
“Wah, tambah ramai,” ucap Cukik Aking yang berdiri bersebelahan dengan Swara Sesat. Mereka menyaksikan dari jauh.
“Mereka bukan musuh, tapi mereka murid orang tua aneh itu,” kata Swara Sesat pula kepada sahabatnya itu.
“Yang berkata mereka musuh siapa?” tanya Cukik Aking tanpa mengalihkan pandangannya dari keramaian itu.
“Bagiku tetap Garis Mekar yang tercantik. Manis wajahnya membuat aku bisa melupakan rasa asinnya air laut,” kata Swara Sesat.
“Aku setuju bahwa Garis Mekar adalah yang tercantik. Wanita yang terbaik bagi seorang bajak laut adalah gadis yang berkulit merah, bukan yang berkulit kuning pisang,” timpal Cukik Aking yang bersuara cempreng.
“Kau salah, Cukik. Wanita yang terbaik bagi seorang bajak laut adalah gadis yang berkulit merah, seperti Garis Merak,” kata Swara Sesat.
“Aku tadi mengatakan seperti itu!” sentak Cukik Aking sambil mendelik kepada Swara Sesat di sisinya. Ia agak kesal, meski sudah terbiasa situasi seperti itu terjadi.
“Kalian membicarakan aku?” tanya Garis Merak yang muncul dari belakang sambil merangkul pundak kedua lelaki itu. Sementara pandangannya ikut memandang kepada keramaian.
“Nih si Cukik, aku mengatakan Garis Merak itu cantik, tapi dia tidak terima, malah dia marah kepadaku!” kata Swara Sesat.
__ADS_1
“Aku tidak marah karena kau mengatakan Garis Merak cantik, tapi aku marah karena kau mengambil omonganku!” bentak Cukik Aking sewot.
“Coba kau panggil Garis Merak, tanyakan kepadanya, siapa yang lebih tampan, aku atau kau!” debat Swara Sesat.
Garis Merak yang sedang merangkul mereka lalu menepuk-nepuk bahu Swara Sesat. Setelah pemuda gemuk itu menengok kepadanya, Garis Merak lalu menunjuk wajahnya sendiri.
“Eh, Merak,” ucap Swara Sesat sambil tertawa cengengesan. “Sejak kapan kau di sini?”
“Sejak kemarin!” teriak Cukik Aking menyela, kesal.
“Kau pikir aku bodoh?!” bentak Swara Sesat sambil hendak memukul kepala Cukik Aking, tetapi sahabatnya itu lebih dulu bergerak mundur menjauh. “Aku tidak akan bertindak bodoh dengan berpaling kepada wanita lain!”
“Hihihi…!” tawa Garis Merak mendengar pertengkaran yang tidak bertemu benang birunya itu.
“Kami, Kelompok Kaki Awan berjanji setia mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” seru Suginowo sambil turun bersujud kepada Ginari yang berdiri mengambang di udara, menunjukkan ilmu peringan tubuhnya jauh lebih tinggi dari Suginowo sebagai guru dari Kelompok Kaki Awan.
“Kami, Kelompok Kaki Awan berjanji setia mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” seru semua murid Suginowo serentak sambil turun bersujud semua.
“Dari pakaiannya yang sama sudah pasti mereka dari satu perguruan yang sama,” kata Swara Sesat.
“Kita tidak mengenal siapa sebenarnya Ketua Tujuh Roh, tetapi kita semua diperintahkan bersujud dan mengabdi setia. Jika kita mengabdi kepada Biru Segara, masih wajar karena kita sangat tahu bahwa kita memiliki catatan perjalanan hidup bersamanya. Tapi aku tidak terima jika diminta mengabdi kepada orang yang tidak aku kenal dan dia pun tidak mengenalku,” ujar Garis Merak.
“Aku setuju denganmu, Ketua Tujuh Roh itu pasti adalah wanita yang sangat cantik,” kata Swara Sesat.
Jreg jreg jreg!
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara ramai langkah kaki. Mereka semua segera memandang kepada suara keramaian itu.
Tidak hanya warga desa yang terkejut, termasuk para pendekar yang telah berjanji setia kepada Ginari, terkejut melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Ada ribuan orang prajurit berseragam kuning hitam, baik berkuda dan berjalan kaki yang memasuki desa. Dalam waktu singkat, desa itu penuh sesak oleh manusia berseragam dan bersenjata. Anggap saja jumlah mereka ada sepuluh ribu orang.
“Raja Galang Madra, penguasa Kerajaan Balilitan menghadap Ketua Tujuh Roh!” teriak seseorang dengan lantang.
Setelah teriakan itu, sesosok tubuh berpakaian mewah warna merah berkelebat di udara. Sosok lelaki bermahkota emas itu berlari di udara, di atas kepala-kepala para murid Suginowo. Ia kemudian mendarat di sisi Suginowo.
“Hamba Raja Galang Madra bersujud dan berjanji akan mengabdi kepada Ketua Tujuh Roh!” seru lelaki berkumis tebal dan bermahkota itu, sambil turun bersujud dengan kedua tangan lurus ke depan rata ke tanah. Ia kembali berseru, “Aku dan seluruh pasukan Kerajaan Balilitan berserah diri menjadi milik Ketua Tujuh Roh!”
Terkejutlah para perwira Kerajaan Balilitan dan seluruh pasukan yang ada di belakang mereka. Mereka sedikit pun tidak tahu-menahu perihal penyerahan besar itu.
“Jika demikian, sekarang aku adalah Ratu Kerajaan Balilitan. Sebut aku Ratu Ginari!” teriak Ginari yang mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga suaranya terdengar keras hingga jauh ke luar Desa Atuluncur.
“Sembah hamba kepada Ratu Ginari!” seru Raja Galang Madra, Suginowo, Laga Patra, Nyai Kilau Maut, Satria Gagah, dan Biru Segara serentak sambil mengambil sikap sujud menyembah di tempatnya berdiri masing-masing.
“Sembah hamba kepada Ratu Ginari!” seru kelompok Bajak Laut Elang Biru, Kelompok Kaki Awan dan seluruh prajurit Kerajaan Balilitan.
Semua warga desa yang menyaksian kejadian luar biasa itu hanya bisa terdiam melongo seperti orang yang kehilangan daya pikir.
“Ayah, sebenarnya aku tidak setuju dengan peristiwa aneh ini!” bisik Garis Mekar kepada ayahnya, Sogok Karang. Mereka sekarang sedang bersujud.
“Kau jangan bertindak aneh-aneh, Merak. Kita sudah seperti belalang yang dikerumuni ribuan semut. Jika kau tidak setuju, kau jangan berbuat hal-hal yang mencurigakan!” bisik Sogok Karang.
Garis Merak akhirnya hanya bisa diam. Ia merengut kesal.
“Bangunlah semua abdi-abdiku!” seru Ginari seraya tersenyum puas di balik cadar birunya. Tampak sorot matanya tajam.
Para pendekar dan prajurit yang kini menjadi pengikut Ginari, segera bangkit berdiri kembali.
“Tujuh Roh sudah berkumpul. Nanti malam kita akan lakukan ritual. Besok pagi kita mulai bergerak mencari calon raja kalian, yaitu pendekar Joko Tenang!” teriak Ginari.
__ADS_1
Setelah itu, Ginari yang kini menjadi seorang ratu dalam sekejap waktu, berbalik dalam posisi tubuh masih mengambang di udara, lalu ia melesat terbang seperti seekor burung, kembali ke rumah singgahnya. (RH)