Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 21: Perpisahan Terjadi


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Kemunculan tujuh sosok tamu yang tidak diundang itu memaksa semua orang yang di dalam balairung segera keluar beramai-ramai, termasuk Malaikat Serba Tahu yang tidak tahu siapa yang datang. Ia hanya tahu bahwa penyebab perpisahan antara Joko Tenang dengan Putri Sri Rahayu telah tiba di tempat itu.


Melihat ketujuh sosok itu, terkejutlah Putri Sri Rahayu. Ia kenal siapa yang datang. Satu wanita muda nan cantik dan enam pemuda tampan-tampan.


Sosok gadis berpakaian ungu memiliki wajah putih bersih dengan model wajah bulat. Berhidung mancung dan memiliki bibir merah terang. Uniknya, bibir itu sebenarnya tidak bergincu, tetapi merah alami, sama seperti merahnya bibir Joko Tenang. Kecantikannya semakin mengundang nafsu dengan kumis yang sangat halus di atas bibirnya. Rambutnya hitam hanya sepanjang bahu, tapi diperindah oleh dua hiasan jepit rambut dari emas beruntai berlian. Pakaian ungunya dihiasi sayap tebal yang saat itu berkibar gagah ditiup angin.


Keenam pemuda tampan-tampan yang bersamanya berpakaian beda-beda warna seperti pelangi. Mereka memiliki gaya rambut yang berbeda-beda, tetapi tidak membedakan jauh tingkat ketampanannya. Mereka mengenakan pakaian serba putih, merah, kuning, hijau, biru, jingga, dan hitam. Pemuda yang berpakaian serba hitam sudah pernah bertemu dengan Putri Sri Rahayu sebelumnya, ia adalah Siluman Tangan Jauh.


Gadis cantik berpakaian ungu adalah Putri Aninda Serunai yang berjuluk Putri Dua Matahari. Pemuda berpakaian putih berambut botak satu centi bernama Siluman Seratus Rupa. Di pinggang kirinya tersemat sebuah topeng berwarna merah dan sebuah topeng berwarna hitam di pinggang kanannya.


Pemuda berpakaian merah berambut gondrong sebahu dan berikat kepala merah bernama Siluman Cemeti Kutuk. Di pinggangnya melingkar segulung cemeti berwarna abu-abu. Sementara pemuda berpakaian kuning berambut keriting keribo bernama Siluman Berdua. Ia membawa sebuah pedang hitam di punggungnya.


Pemuda berpakaian hijau dan berkumis tipis memiliki rambut yang dikepang pendek. Ia membawa busur tanpa ada anak panah. Ia bernama Siluman Panah Setan. Sementara pemuda berpakaian biru bernama Siluman Benteng. Ia memiliki postur tubuh yang paling besar dari rekan-rekannya.


Adapun pemuda berambut panjang sepunggung berpakaian jingga bernama Siluman Bola Kilat. Ia memiliki kulit putih dan fisik yang lebih kurus. Berbeda dengan yang lainnya yang memiliki tubuh berotot sebagai seorang pendekar, Siluman Bola Kilat lebih feminim.


“Siapa kalian?!” teriak Tembas Rawa membentak.


“Mereka mencariku!” Justru Putri Sri Rahayu yang menjawab seiring berkelebatnya sosok wanita beracun itu.


Putri Sri Rahayu mendarat dan berdiri di atas atap panggung, tempat para seniman berada.


“Apa maksudmu datang ke perguruan ini, Aninda Serunai?” tanya Putri Sri Rahayu dingin.


“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku datang, Kakak?” jawab Putri Aninda Serunai seraya tersenyum tipis. Ia lalu berkata lantang kepada Putri Sri Rahayu, “Kau mengatakan bahwa utusanku tidak pantas menyampaikan perintah Ayahanda kepadamu. Maka itu, aku datang langsung untuk menyampaikan, Kakakku Putri Sri Rahayu, Ayahanda memerintahkanmu kembali ke Kerajaan Siluman!”


Putri Sri Rahayu menatap tajam adiknya, menunjukkan bahwa kedua saudara cantik itu tidak akur.


“Mana jawabanmu, Kakak?” tanya Putri Aninda Serunai seraya balas menatap tajam.


“Aku Putri Sri Rahayu mentaati perintah Ayahanda!” ucap Putri Sri Rahayu lantang dengan tatapan tidak berkedip kepada adiknya.


“Bagus, Kakak. Maka pulanglah sekarang!” kata Putri Aninda Serunai. “Oh iya, aku juga ingin menyampaikan pesan Ayahanda kepadamu. Tugas Bidadari Asap Racun dan Siluman Generasi Pertama telah dicabut. Tugas itu telah diberikan oleh Ayahanda kepadaku. Aku harap kau bisa mengerti, Kakak.”


“Para Nisanak dan Kisanak!” seru Jaga Manta kepada Putri Aninda Serunai dan rombongannya.


Karena Jaga Manta berada lebih rendah posisinya, Putri Aninda Serunai lalu melompat melayang turun dan berhenti beberapa langkah di hadapan Ketua Perguruan Tiga Tapak itu. Keenam pemuda tampan segera melayang turun pula dan berdiri berjejer di belakang sang putri.


“Jika kalian ingin bertamu, perkenalkan diri kalian dan kami akan menjamu dengan baik. Namun, jika kalian ingin membuat kacau dan melukai murid-murid perguruan ini, maka kami pun akan melayani kalian!” kata Jaga Manta lantang.


“Aku tidak akan memperkenalkan diri. Kalian bisa tanya siapa kami kepada kakakku itu. Aku datang hanya untuk memanggil kakakku pulang. Mana mungkin kami membuat kekacauan di tempat yang penuh dengan harimau sakti,” kata Putri Aninda Serunai seraya tersenyum ramah, tetapi sangat kentara bahwa keramahan itu hal yang dibuat-buat.


Kini di belakang Jaga Manta berdiri Pendekar Seribu Tapak, Lili Angkir, Gatri Yandana dan Tembas Rawa.

__ADS_1


“Jika kalian hanya ingin memanggil pulang Putri Sri Rahayu, maka segeralah pergi! Jika satu harimau sudah marah, maka harimau yang lain tidak akan tinggal diam!” usir Pendekar Seribu Tapak yang sudah terlihat emosi.


“Sabar, Kek,” ucap Putri Aninda Serunai seraya tetap tersenyum. “Bolehkah aku bertemu dengan pemuda yang sudah bisa membuat kakakku berkumpul dengan para pendekar aliran putih?”


“Aninda!” teriak Putri Sri Rahayu gusar sambil melayang turun ke hadapan adiknya. Ia berdiri tidak jauh di sisi Jaga Manta. “Apa maksudmu ingin bertemu dengan lelaki yang aku cintai, hah?!”


“Hihihi…!” tertawa kencang Putri Aninda Serunai mendengar perkataan kakaknya. “Aku semakin penasaran ingin melihat seperti apa pemuda yang bisa membuat seorang Bidadari Asap Racun jatuh cinta.”


“Jangan lancang kau, Serunai!” bentak Putri Sri Rahayu.


“Apakah aku salah? Aku hanya ingin bertemu dengan calon kakak iparku,” kilah Putri Aninda Serunai, benar-benar menyulut amarah sang kakak. Hingga-hingga di tangan kanan Putri Sri Rahayu telah bercokol sinar merah berpijar dari ilmu Amarah Siluman.


Putri Aninda Serunai cepat bersiaga, demikian pula keenam pengawalnya.


“Tahan, Putri!” seru satu suara dengan lembut.


Joko Tenang yang baru berseru melayang turun di posisi agak samping. Putri Sri Rahayu memadamkan sinar ilmunya.


Putri Aninda Serunai yang mengerti tentang nilai ketampanan seorang lelaki terlihat manggut-manggut seraya tersenyum. Ia mengagumi ketampanan Joko Tenang. Namun pada saat itu, ada yang mengusik pikirannya, yaitu warna bibir Joko Tenang.


“Senang bertemu dengan adik dari Putri Sri Rahayu,” sapa Joko Tenang seraya tersenyum ramah.


“Pantas kakakku bisa bertekuk lutut, ternyata pemuda yang memikatnya sungguh menawan. Senang bertemu denganmu, calon kakak ipar. Sepertinya kita berjodoh, kita memiliki bibir yang sejenis. Hihihi! Tapi sayang, kita tidak akan bertemu di pelaminan, melainkan di medan laga! Hihihi…!” ujar Putri Aninda Serunai lalu berbalik membawa tawa kencangnya.


Keenam pengawalnya bergeser membuka jalan bagi junjungan mereka lalu ikut berbalik dan berjalan mengikuti.


Setelah berkata seperti itu, Putri Aninda Serunai melesat naik ke atas pagar lalu melesat menghilang, pergi. Keenam Siluman yang mengawalnya juga melakukan hal yang sama lalu melesat menghilang.


“Putri!” panggil Joko Tenang lembut.


Putri Sri Rahayu menengok kepada Joko Tenang. Ia lalu melangkah lebih mendekati sehingga jarak keduanya sejauh empat langkah. Sang putri tersenyum, berusaha meredam emosinya.


“Maafkan aku, Kakang. Aku harus pergi,” ucap Putri Sri Rahayu bernada sedih.


“Aku mengerti. Kau dengar sendiri kata Malaikat Serba Tahu, aku harus datang menjemputmu. Tunggulah aku di istanamu, aku akan datang membawa cinta kita,” kata Joko Tenang.


“Aku berharap suatu hari nanti bisa menaiki burung Kakang dan terbang bersama, hanya berdua,” kata Putri Sri Rahayu.


“Hari itu pasti tiba,” kata Joko yakin.


“Apakah tidak bisa kau menunggu hingga kami menikah, Putri?” tanya Getara Cinta yang datang bersama Tirana dan Kerling Sukma.


“Tidak, Ratu. Adikku akan menghitung waktu. Jika aku telat tiba di Istana, Ayahanda akan menghukumku,” jawab Putri Sri Rahayu.


“Aku akan membawa Kakang Joko sampai ke Istana Siluman untuk menjemputmu sebagai calon istri,” ujar Tirana kepada sang putri.

__ADS_1


“Aku juga akan mendampingi Kakang Joko untuk menjemput calon maduku,” kata Kerling Sukma pula.


Tersenyum lebarlah Putri Sri Rahayu.


“Aku pamit, Ratu!” ucap Putri Sri Rahayu lalu turun menjura hormat kepada Getara Cinta.


Namun, Getara Cinta menahan kedua lengan Putri Sri Rahayu dan menariknya masuk dalam pelukan. Getara Cinta memeluk gadis jelita berharum bunga mawar itu, tetapi tidak sampai menyentuh kulit wajahnya. Saat memeluk itu, Getara Cinta bisa merasakan hawa keganasan racun pada kulit sang putri.


“Terima kasih, Ratu,” ucap Putri Sri Rahayu.


Usai Getara Cinta memeluk Putri Sri Rahayu, giliran Tirana yang memeluk erat.


“Cinta ini harus kita perjuangkan, Putri!” bisik Tirana.


“Aku akan memperjuangkannya. Aku berjanji,” ucap Putri Sri Rahayu.


“Senang kenal denganmu, Putri. Aku juga senang pernah bertarung denganmu,” ucap Kerling Sukma saat memeluk Putri Sri Rahayu.


Tertawa rendahlah mereka mendengar kalimat akhir Kerling Sukma.


“Aku akan menunggu kalian semua di Istana Kerajaan Siluman!” kata Putri Sri Rahayu kepada ketiga calon istri Joko Tenang. Ia lalu beralih memandang Joko Tenang. Lalu katanya, “Aku tidak akan memelukmu, Kakang. Aku akan menunggu pelukanmu di Istana. Aku akan melakukan apa yang telah dilakukan Kerling Sukma dalam menunggumu, Kakang. Aku juga akan mengenang masa-masa indah kita di lembah.”


“Hahaha!” tertawalah Joko Tenang karena diingatkan kepada insiden ia dengan Putri Sri Rahayu saat menolong Nini Silangucap.


Clap!


Tiba-tiba Putri Sri Rahayu telah menghilang.


Terdiamlah Joko Tenang. Ia benar-benar merasakan kehilangan. Mulai detik itu ia tidak akan bisa melihat Putri Sri Rahayu lagi hingga nanti ia pergi ke Kerajaan Siluman.


“Kakang Joko berbuat apa dengan Putri di lembah?” tanya Tirana dengan tatapan curiga.


“Apakah kalian cemburu?” tanya Joko Tenang.


“Tidak!” jawab ketiga calon istri itu kompak.


“Apakah Kakang tidak sadar?” tanya Tirana mengalihkan topik.


“Apa?” tanya Joko.


“Wajah adik Putri Sri Rahayu,” kata Kerling Sukma.


“Kenapa?” tanya Joko lagi, benar-benar tidak mengerti.


“Selain bibir yang sama-sama merah, bentuk mata dan alisnya sangat mirip dengan mata dan alis Kakang,” kata Getara Cinta.

__ADS_1


“Apa!” kejut Joko Tenang. (RH)


__ADS_2