Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo3: Petunjuk Sugeti Harum


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Joko Tenang dan Tirana tiba di kamar tempat calon istrinya dan Kembang Buangi tinggal. Namun, mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali beberapa mayat prajurit.


Kemarahan yang besar terlihat melekat di wajah Joko Tenang. Baru kali ini Tirana melihat calon suaminya mengeluarkan ekspresi menyeramkan seperti itu. Sorot matanya begitu garang.


“Siapa pun mereka yang menyerang Tabir Angin, harus mereka bayar dengan kehancuran!” desis Joko Tenang, menaruh dendam yang tinggi.


Joko Tenang berdiri menempelkan dahinya di tembok kamar. Tangan kanannya memukul-mukul pelan tembok itu. Joko memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar kalut. Pembawaan tenangnya tiba-tiba hilang.


“Ini semua karena aku,” ucapnya lirih.


Press! Bluar!


Tirana terkejut dan cepat melihat ke arah Joko yang baru saja menghancurkan dinding kamar dengan sinar hijau dari ilmu Surya Langit Jagad. Ia segera menghampiri kekasihnya itu.


“Kakang, apa yang kau lakukan?” tanya Tirana, lembut.


“Ini semua salahku, Tirana,” jawab Joko pelan. Ia menunduk, menahan rasa penyesalan dan amarah yang menyatu dalam hati dan kepalanya.


“Apa yang Kakang katakan? Ini bukan salah Kakang,” kata Tirana.


“Jika bukan karena menolong aku, Ratu Getara pasti bisa menangkal serangan ini dan semuanya tidak akan mati seperti ini!” kata Joko dengan nada yang tinggi.


“Kita belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ratu, Ginari, Kembang Buangi, dan Hujabayat belum kita temukan. Kita belum bisa menyimpulkan, Kakang,” tandas Tirana. Ia menambahkan, “Kita harus berpikir jernih, Kakang.”


Joko Tenang terdiam mendengar perkataan Tirana. Meski ia tetap berkeyakinan bahwa bencana ini adalah salahnya, tetapi perkataan Tirana ada benarnya. Mereka harus memperjelas dulu permasalahan yang terjadi, terutama harus mengetahui di mana keberadaan Ratu Getara Cinta, Ginari dan lainnya. Apakah masih hidup atau sudah mati.


“Periksa lagi mayat-mayat wanita yang tewas dengan teliti!” kata Joko akhirnya kepada Tirana.


Tirana merasa lega, itu artinya Joko tidak larut dalam penyesalannya. Ia bisa mengerti jika Joko menyalahkan dirinya. Pasalnya, jika Ratu Getara Cinta dalam kondisi memiliki Permata Darah Suci di dalam tubuhnya, mungkin kondisi Kerajaan Tabir Angin tidak seburuk ini.


Akhirnya, Joko Tenang dan Tirana kembali memeriksa secara teliti seluruh korban prajurit perempuan, termasuk memeriksa semua tempat yang ada di dalam kerajaan itu.


Namun, hasilnya tetap nihil. Ratu Getara Cinta, Ginari, Kembang Buangi dan Hujabayat tidak mereka temukan.


“Kita harus ke Hutan Kabut, mungkin di sana ada petunjuk, Kakang,” kata Ginari.


“Aku akan mengubur Panglima Jagaraya dulu,” kata Joko.


Joko Tenang lalu mengubur mayat Panglima Jagaraya. Setelah itu, barulah mereka pergi meninggalkan Kerajaan Tabir Angin.


Akhirnya mereka tiba di pintu gerbang bekas Kerajaan Hutan Kabut di saat hari telah menggelap. Jarak antara kedua kerajaan memang cukup jauh.


Melihat siapa yang datang, para penjaga yang terdiri dari prajurit lelaki, segera menjura hormat. Mereka mengenali siapa adanya Joko Tenang dan Tirana.


Di masa kepemimpinan mendiang Ratu Aswa Tara, semua prajurit yang ada di istana itu adalah kaum perempuan.

__ADS_1


“Siapa yang berkuasa di sini?” tanya Joko kepada prajurit yang berjaga.


“Badak Jawara, Pendekar,” jawab prajurit yang ditanya.


“Antar kami menemuinya!”


“Silakan, Pendekar!” kata prajurit itu mempersilakan Joko dan Tirana mengikutinya.


Namun, ketika mereka melewati satu tempat, mereka melihat sejumlah lelaki yang terbaring bertelanjang dada, tetapi ada balutan kain yang menutupi luka-luka mereka.


Joko Tenang dan Tirana segera menduga.


“Siapa mereka?” tanya Joko cepat.


“Prajurit Tabir Angin,” jawab si prajurit.


Joko Tenang segera berjalan cepat mendatangi tempat perawatan itu. Di sana ada puluhan prajurit lelaki yang sedang menjalani perawatan.


“Di mana ratu kalian?” tanya Joko langsung secara umum kepada para prajurit yang terluka.


“Kami tidak tahu, Pendekar,” jawab salah satu prajurit yang mengenal Joko Tenang dan Tirana.


“Siapa yang menyerang Tabir Angin?” tanya Joko lagi.


“Pendekar Joko, kalian sudah kembali!”


Joko dan Tirana berpaling melihat siapa yang punya suara.


Orang yang datang adalah seorang lelaki separuh baya bertubuh kekar. Ia mengenakan pakaian merah gelap. Rambutnya yang gondrong diikat sederhana. Ia adalah Badak Jawara, salah satu komandan yang dimiliki oleh Kerajaan Tabir Angin.


Joko Tenang dan Tirana tidak mengenal namanya, tapi pernah melihatnya memimpin penyerangan Kerajaan Hutan Kabut bersama Nintari yang berjuluk Bidadari Seruling Kubur.


“Siapa kau?” tanya Joko.


“Aku Badak Jawara,” jawab Badak Jawara. Ia datang tanpa senyum, menunjukkan bahwa situasinya memang sedang serius.


“Bagaimana bisa Tabir Angin dibantai habis sedangkan kalian di sini baik-baik saja?!” tanya Joko dengan nada agak tinggi.


“Maafkan kami, Pendekar. Kami telat mengetahuinya. Serangan ke Tabir Angin begitu tiba-tiba,” jawab Badak Jawara. Ia menunduk, merasa bersalah meski bukan salahnya.


“Lalu kenapa mereka dibiarkan membusuk seperti itu?” tanya Joko lagi, ia marah.


“Panglima Sugeti Harum melarang kami, Pendekar,” jawab Badak Jawara.


“Di mana Sugeti Harum?” tanya Tirana cepat, menyela Joko Tenang agar calon suaminya itu tidak terus menyudutkan Badak Jawara dengan pertanyaannya.


“Panglima Sugeti Harum dalam kondisi terluka parah, Pendekar,” jawab Badak Jawara.

__ADS_1


“Bawa kami kepadanya, Prajurit!” kata Tirana.


“Mari, Pendekar,” kata Badak Jawara.


Joko Tenang dan Tirana mengikuti Badak Jawara. Mereka dibawa ke sebuah kamar batu yang diterangi oleh obor.


“Sulasih!” panggil Tirana kepada seorang wanita yang ada di ruangan itu.


Wanita berpakaian putih yang sedang mengulek beberapa bahan obat, terkejut karena mengenal suara Tirana. Ia langsung berhenti bekerja dan menengok.


“Kalian sudah datang!” sapa wanita bernama Sulasih, mantan Kepala Penjara Kerajaan Hutan Kabut. Ia tersenyum gembira dan menghampiri Tirana. “Malapetaka besar telah terjadi.”


“Kami sudah melihat kondisi Tabir Angin. Karenanya kami datang kemari untuk mencari petunjuk,” kata Tirana sambil mengikuti Joko dan Badak Jawara yang mendekati sebuah pembaringan.


Di atas pembaringan itu berbaring seorang wanita cantik berkulit agak gelap. Joko Tenang dan Tirana mengenalnya sebagai Panglima Perang Kerajaan Tabir Angin. Tubuh atasnya hanya mengenakan pinjung hitam, itu dikarenakan pada dada atasnya ada luka besar yang sedang ditutupi oleh baluran obat dari dedaunan yang ditumbuk halus.


“Maafkan aku, Pendekar!” ucap Sugeti Harum menangis kepada Joko Tenang. Ia bergerak berusaha bangun.


“Tetaplah berbaring, Harum!” kata Tirana cepat sambil datang memegangi lengan Sugeti Harum, menahannya agar tidak banyak bergerak dan terus berbaring.


“Kami gagal melindungi Yang Mulia Ratu dan yang lainnya!” ratap Sugeti Harum.


Joko Tenang berdiri agak jauh, menjaga jarak.


“Siapa yang melakukannya?” tanya Tirana.


“Kerajaan Tarumasaga. Kalian pasti ingat dengan petarung Sumur Juara yang mati di tangan Ragatos. Orang itu adalah Pangeran Serak Bayat,” ungkap Sugeti Harum.


“Tapi, kemampuan para prajurit yang menyerang seragam. Cara membunuh mereka seperti hanya menggunakan satu jurus pedang yang tinggi?” tanya Tirana cepat memotong. Ia tidak yakin bahwa prajurit berpakaian cokelat putih yang mereka temukan mati di Kerajaan Tabir Angin adalah prajurit kerajaan.


“Mereka memang bukan pasukan dari Kerajaan Tarumasaga, tetapi pasukan dari Kelompok Pedang Angin. Kerajaan Tarumasaga menggunakan jasa Kelompok Pedang Angin untuk menghancurkan kita,” jelas Sugeti Harum.


“Lalu di mana Ratu Getara?” tanya Joko.


“Ditawan oleh mereka,” jawab Sugeti Harum.


“Lalu Ginari dan Kembang Buangi?” tanya Tirana.


“Aku tidak tahu. Aku sempat melihat mereka bertarung sengit, tetapi kemudian aku tidak tahu, apakah mereka telah tewas atau berhasil selamat. Saat aku terluka parah melawan seorang perwira Tarumasaga, Yang Mulia Ratu memerintahkan aku dan pasukan yang tersisa untuk menyelamatkan diri. Yang Mulia membiarkan dirinya ditawan. Pasukan Kelompok Pedang Angin begitu mengerikan, karena itu aku melarang prajurit yang ada di sini untuk pergi ke sana,” kata Sugeti Harum.


“Kami tidak menemukan mayat Ginari, Kembang Buangi ataupun Hujabayat. Itu artinya, kemungkinan besar mereka masih hidup,” kata Tirana.


“Atau mungkin juga mereka ditangkap oleh penyerang itu,” timpal Joko. (RH)



KUNJUNGI JUGA karya Om Rudi yang sensasional kocaknya. Chat Story PETUALANGAN TINA AYU.

__ADS_1


__ADS_2