
“Dan pesanku yang terakhir... harus kau... lakukan. Ginari sejak kecil... nyaris tidak... pernah bahagia. Sejak kecil... ia menjaga kesuciannya. Kaulah orang pertama... yang merenggutnya dan... melihat wajahnya. Karenanya, demi aku, demi Ginari, nikahilah Ginari,” ucap Pengemis Maling terputus-putus di sisa-sisa napasnya
Mendelik Joko mendengar pesan Pengemis Maling.
“Tapi, Orang Tua....”
“Berjanjilah, Joko,” kata Pengemis Maling, tangannya menggenggam erat tangan Joko dengan sisa tenaganya.
“Yang ini aku tidak bisa!” bisik Joko.
“Kau bisa, kau hanya... hanya perlu menikahinya, tidak sulit. Berjanjilah padaku.”
Joko terdiam tidak menjawab, dalam hati ia dibuat bingung.
“Jika tidak, aku... bisa mati tidak te... te... nang. Berjanjilah.”
Joko menarik napas dalam, lalu dengan terpaksa ia menjawab, “Iya, Orang Tua. Aku berjanji.”
“A... aku... te... te... nang,” ucap Pengemis Maling lalu diam dengan mata terbuka dan mulut ternganga sedikit.
Itu adalah kalimat terakhir dari Pengemis Maling. Setelahnya, ia sudah meninggal dunia.
“Orang Tua, Orang Tua!” sebut Joko memanggil.
Joko pun menghela napas. Ia lalu mengusap mata Pengemis Maling hingga matanya tertutup.
“Baiklah, Orang Tua. Akan aku pikirkan nanti tentang permintaanmu. Biar aku urus dua orang tua jahat itu,” kata Joko.
Joko lalu beranjak pergi mendekati tubuh Pendekar Tikus Langit dan berhenti dalam jarak empat langkah darinya.
Joko menatap Ginari yang terkulai tidak berdaya. Ginari balas menatapnya.
“Kakekmu sudah meninggal,” kata Joko lemah.
Maka berubah merahlah wajah jelita Ginari. Air mata mengalir deras, tapi ia tidak bisa bersuara menangis.
“Kakek,” ucap Ginari begitu lirih.
Joko Tenang lalu melangkah pergi dan berhenti.
“Nenek Kerdil Raga, benarkah kau tidak memiliki obat penawar untuk gadis itu?” tanya Joko yang kini berhadapan dengan Nenek Kerdil Raga dan Ki Demang Rubagaya.
“Tidak ada penawarnya. Meskipun aku bisa membuatnya, tapi perlu waktu dua pekan lamanya, sedangkan kekasihmu itu hanya perlu dua malam untuk mati,” kata Nenek Kerdil Raga.
__ADS_1
“Demang!” Joko beralih kepada Ki Demang. “Aku tadi di jalan menemukan teman wanitaku kondisinya sudah tidak berdaya. Kau pasti memiliki penawarnya!”
“Hahaha! Aku punya, tapi apakah nyawamu cukup untuk mendapatkannya?” tanya Ki Demang setelah sebelumnya tertawa meremehkan.
“Bagus!” seru Joko lalu memasang kuda-kuda seolah hendak melepaskan satu serangan hebat.
“Mampus kau!” teriak Ki Demang lebih dulu sambil melompat menerjang dengan kaki kanan yang diselimuti sinar merah.
“Ciaat!”
Sebelum terjangan maut Ki Demang sampai, Joko pun menghentakkan sepasang lengannya.
Wusss! Brasskrr!
Serangkum angin dahsyat menderu hebat menerbangkan tubuh Ki Demang menghantam rumahnya. Angin berkekuatan hebat itu juga menerbangkan sebagian rumah Ki Demang dan meratakan sisanya.
Sejenak suasana hening setelah angin dahsyat itu berlalu.
Jbrakr!
Tak berapa lama, Ki Demang keluar dari reruntuhan rumahnya dengan kondisi kepala berdarah. Saat melihat kondisi sekitar, terkejutlah Ki Demang. Rumah dan area sekitar telah porak-poranda barsama tercabutnya sejumlah pepohonan di sekitar rumah yang terkena sepertiga dari kekuatan Badai Malam Dari Selatan yang dilepaskan Joko.
Nenek Kerdil Raga pun sampai geleng-geleng melihat daya rusak angin pukulan itu.
“Kerdil, kenapa kau diam saja?!” teriak Ki Demang Rubagaya gusar.
Orang yang baru datang tidak lain adalah Hujabayat dalam kondisi yang segar bugar. Mau tidak mau, Nenek Kerdil Raga harus melayani serangan Hujabayat yang penuh ambisi.
Munculnya Hujabayat membuat Ki Demang Rubagaya harus bertarung sendirian melawan Joko.
Swesst! Wuss!
Slebs! Slebs...!
Ki Demang Rubagaya melesatkan ilmu Taburan Maut. Delapan sinar biru berpijar melesat dari kedua tangannya. Joko melompat mundur sambil menghentakkan lengan kanannya melepaskan salah satu angin pukulannya. Serangkum angin panas menderu keras menyambut datangnya ke delapan sinar itu hingga musnah di udara. Sementara angin terus berhembus menyerang Ki Demang.
Ki Demang Rubagaya buru-buru melompat ke atas setinggi-tingginya.
Blap!
Angin panas dari pukulan Langit Membakar Bumi yang mengenai reruntuhan rumah Ki Demang langsung membakar hebat.
Khawatir jika saat di udara lawan menyerang, Ki Demang Rubagaya menghentakkan kedua lengannya bergantian ke arah Joko di bawah sana.
__ADS_1
Blar blar blar...!
Dengan mengandalkan kecepatan gerakan, Joko Tenang menghindari semua pukulan jarak jauh Ki Demang yang datang beruntun dari atas. Tanah-tanah yang ditinggalkan Joko berledakan berlubang tidak karuan.
Ketika Ki Demang baru menjejak tanah, Joko melesat cepat, maju dan melakukan pertarungan jarak dekat. Ki Demang langsung membuat sepuluh jari tangannya menghitam legam warnanya. Dengan gerakan mencakar, Ki Demang berusaha melukai Joko. Ternyata Ki Demang memiliki gerakan yang terbilang cepatnya di atas rata-rata. Namun, Joko pun memiliki kecepatan yang tidak kalah. Kali ini ia mengandalkan jurus hebatnya yang bernama Tapak Kucing.
Sejenak pertarungan berlangsung imbang, tanpa ada yang terkena serangan maut dari kedua petarung. Namun, seiring waktu, kondisi berubah secara perlahan. Joko yang menguasai gerakan Bayang-bayang Malaikat, bisa membuat Ki Demang mulai kerepotan. Ki Demang berusaha mengimbangi. Bagi mata biasa, pertarungan keduanya terlihat seperti pertarungan dua bayangan setan.
Pada satu ketika, tapak tangan kiri Joko hendak menghantam paha Ki Demang. Serangan itu membuat Ki Demang melompat mundur.
Bakk!
“Hekh!”
Pada saat Ki Demang melompat mundur seperti itu, tangan kanan Joko menghentak keras. Meski jaraknya tidak terjangkau, tapi terdengar ada hantaman keras tidak terlihat pada dada Ki Demang, membuatnya terlempar lima tombak.
“Hoekh!”
Ki Demang Rubagaya muntah darah hitam dan panas. Dada Ki Demang hangus dan memiliki jejak telapak kaki kucing dengan warna yang begitu hitam.
“Kau akan mati!” teriak Ki Demang murka dengan mulut penuh darah.
Ki Demang lalu berdiri bersedekap, siap mengeluarkan ilmu tertingginya.
Sementara itu, pertarungan antara Nenek Kerdil Raga dan Hujabayat bisa dibaca hasilnya. Hujabayat sudah mengalirkan darah dari celah bibirnya.
Kini keduanya sedang berhadapan dalam jarak beberapa tombak. Hujabayat lalu berlari maju, setibanya di hadapan Nenek Kerdil Raga, ia tidak menyerang, tapi justru melompati atas kepala si nenek. Hal itu ia lakukan berulang kali, sehingga Nenek Kerdil Raga kini dikepung oleh dua belas sosok Hujabayat. Semua tangan sosok Hujabayat bersinar hijau.
“Hihihi...!” Nenek Kerdil Raga hanya tertawa nyaring melihat formasi Lingkar Hantu Hujabayat. “Ilmu semacam ini tidak akan berpengaruh terhadapku, Bocah!”
Kembali kepada Ki Demang Rubagaya. Ia masih berdiri bersedekap, tapi kini tubuhnya telah diselimuti sinar merah. Sementara Joko menunggu jenis serangan apa yang akan dilepaskan Ki Demang kepadanya.
“Hiaaat!” teriak Ki Demang membahana.
Wess wess wess...!
Seiring teriakannya, dari tubuh Ki Demang berlesatan bayangan-bayangan sinar merah berbentuk sosok Ki Demang secara beruntun ke arah posisi Joko.
Press! Blarbalar...! Bduarr!
Joko merasa tidak punya pilihan lain selain adu ilmu. Ilmu yang layak ia lepaskan hanya Surya Langit Jagad. Seberkas sinar putih menyilaukan mata melesat dari tangan kanan Joko, menerabas semua bayangan sinar merah sekaligus, hingga terus menghantam raga Ki Demang Rubagaya. Sosok Ki Demang Rubagaya hancur tanpa ampun, tidak ada yang tersisa dari jasadnya. Tamat sudah perjalanan hidup Ki Demang Rubagaya.
Sementara Joko Tenang terjajar beberapa tindak dengan bibir merahnya berlumuran darah.
__ADS_1
Namun, kehancuran tubuh Ki Demang membuat Joko terkejut, karena ia teringat sesuatu.
“Demang! Obat penawarnya belum kau berikan!” teriak Joko terkejut. Ia belum mendapatkan obat penawar untuk Kembang Buangi, tapi Ki Demang sudah terlanjur hancur. Joko akhirnya kesal sendiri, menyesali keterlupaannya. (RH)