Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
42. Sumur Juara


__ADS_3

Slet!


Cepat Sawiri bertindak dengan melesatkan tali merah pelumpuhnya menyerang Tirana. Namun, tali itu lenyap ketika tinggal beberapa jengkal lagi dari leher Tirana. Terkejutnya Sawiri dan yang lainnya.


“Hanya cara curang yang bisa membuat serangan kalian berhasil terhadap kami,” kata Tirana sambil mengayunkan satu lengannya hendak melepaskan bola sinar di tangannya.


Sawiri cepat melompat mundur.


Bluk!


Semakin terkejut dan panik Sawiri. Lompatannya tidak berhasil, ia justru jatuh terduduk. Sepasang kakinya tidak bisa dilepas dari pijakannya, kakinya lengket dengan bumi. Dalam benak Sawiri, ilmu perisai yang ia miliki pun tidak akan sempat meyelamatkan nyawanya.


“Hentikan!” seru Ratu Aswa Tara memecah ketegangan yang tercipta.


Tirana menghentikan gerakannya dan beralih memandang Ratu Aswa Tara. Ia lalu melenyapkan kedua sinar biru di tangannya. Seiring itu, angin tenaga dalam yang berhembus pun sirna, membuat kondisi kembali tenang.


“Izinkan aku mengobati calon suamiku, Yang Mulia,” kata Tirana. “Biarkan para prajurit itu menjauhinya sejauh lima langkah. Ketika ia sembuh, jangan biarkan ada wanita yang mendekatinya.”


Ratu Aswa Tara memberi anggukan kepada para prajuritnya yang berdiri di sekitar Joko Tenang. Para prajurit wanita itu segera menjauh dari Joko. Seiring itu pula, tenaga Joko Tenang mulai berangsur pulih.

__ADS_1


Sebagai bentuk adegan rekayasa saja, Tirana menempelkan dua jari tangan kanannya ke dahinya. Di ujung jari itu kemudian muncul butiran sinar merah yang kemudian dihentakkan melesat mengenai kepala Joko Tenang.


Tubuh Joko sejenak terhentak. Ia merasakan hawa agak panas menggerogoti seluruh tubuhnya, membuatnya tidak nyaman.


“Apa maksud Tirana memberiku tenaga panas?” tanya Joko dalam hati.


Joko segera bangkit duduk bersila dan melakukan beberapa gerakan bertenaga dalam untuk meredam dan melenyapkan hawa panas yang ada ditubuhnya. Hal yang mudah bagi Joko. Setelahnya, ia bangkit berdiri tegak dengan gagah di hadapan Ratu Aswa Tara.


Bagi Ratu Aswa Tara dan para prajuritnya, hal itu adalah prosesi penyembuhan Joko. Mereka tidak tahu bahwa syarat wajib sembuhnya Joko adalah dijauhkan dari wanita.


“Apakah aku perlu membuktikan kelayakanku sebagai seorang pendekar, Ratu?” tanya Joko Tenang. Ia tidak tahu bahwa saat itu ketampanannya telah mulai membuat Ratu Aswa Tara tergoda.


Ratu Aswa Tara diam sejenak tak lepas menatap Joko Tenang. Namun, kemudian ia tersadar sendiri dari keterpukauannya yang singkat. Ia masih bisa mendengar pertanyaan Joko.


Ratu berjalan pergi didampingi oleh Pina Pima. Mengikuti Sawiri dan Tirana, lalu para prajurit. Joko Tenang memilih berjalan di belakang. Tidak ada yang bisa mencegahnya untuk berjalan di belakang.


Sementara itu di Sumur Juara.


Sumur Juara adalah sebuah lubang besar seperti sumur raksasa di sebuah gunung batu. Tidak ada air di dalamnya, yang ada di dalamnya adalah sebuah arena tarung berbatu yang luas. Di alur dindingnya yang melingkar ada undakan-undakan besar yang menjadi tribun. Tribun itu kini dipenuhi oleh ramainya dua kelompok prajurit yang saling berseberangan, baik kubu maupun posisi. Sementara di atas tampak langit terang menjadi sumber cahaya yang terang.

__ADS_1


Di dinding selatan berdiri lebih seribu prajurit wanita berpakaian putih-putih. Suara mereka begitu riuh berteriak-teriak dengan gaya militernya. Mereka berkelompok menurut jenis senjata yang mereka sandang. Kelompok prajurit bertombak berkumpul pada jenisnya, demikian pula yang bersenjata, pedang, panah atau yang lainnya. Namun mereka merapat mejadi satu barisan besar.


Mereka adalah kaum prajurit Hutan Kabut di bawah perintah Ratu Aswa Tara. Semuanya perempuan. Namun, sepuluh orang penabuh genderang perang mereka adalah pria-pria besar bertelanjang dada berotot besar. Sepasang tangan dan kaki mereka dibelenggu dengan rantai besar.


Ada satu lelaki yang terlihat menonjol dengan warna kuning pakaiannya. Pria itu duduk laksana tuan besar yang dilayani oleh empat wanita. Duduk dengan meja kecil di depannya yang berisi buah dan minuman bergelas bambu. Pria berambut gondrong itu memelihara jenggot halus dengan usia hidup kisaran 40-an tahun. Di sisi meja bersandar sebuah perisai besi berbentuk bulat. Ia adalah Gardasakti, seorang pendekar yang akan dipasang oleh Ratu Aswa Tara.


Di dinding yang berseberangan, berkumpul jumlah prajurit yang lebih sedikit, semuanya lelaki berpakaian hitam dengan ikat kepala berwarna merah.


Di posisi paling depan dan tengah, duduk seorang wanita cantik, begitu cantik. Warna kulitnya yang putih bersih membuat ia bersinar di antara warna hitam. Tubuhnya di selimuti dengan jubah mewah biru gelap berhias rajutan benang emas. Kepalanya ditenggeri sebuah tiara bertahtakan permata merah. Usianya bisa diterka sekitar 40-an tahun. Ia duduk di sebuah kursi kayu bagus dengan ukiran dua kepala harimau di puncak sandarannya. Ia adalah Ratu Getara Cinta, Ratu Kerajaan Tabir Angin.


Di sisi kanannya berdiri seorang pria gagah yang sudah cukup berusia, lebih dari separuh abad. Pakaian serba hijau gelapnya berhias sejumlah perhiasan emas yang menunjukkan ketinggian statusnya di sisi sang ratu. Pria berkumis hitam sedikit keputihan itu adalah Panglima Besar Jagaraya, orang nomor dua di Kerajaan Tabir Angin.


Di sisi kiri Ratu Getara Cinta berdiri seorang wanita muda nan cantik, meski berkulit sedikit hitam yang membuat kecantikannya menjadi sangat manis. Ia mengenakan pakaian hitam bergaris kuning. Sebuah busur bagus berwarna merah terang melintang di tubuhnya, tetapi tidak terlihat ia menyandang anak panah. Namun busur panah itulah senjata andalannya. Ia adalah Panglima Perang Kerajaan Tabir Angin yang bernama Sugeti Harum. Ia lah pemimpin dari para prajurit berpakaian hitam itu.


Di sisi kiri Sugeti Harum berdiri tiga orang berperawakan pendekar, dua lelaki dan seorang perempuan. Pertama seorang lelaki tinggi besar karena memang berotot-otot besar, laksana tubuhnya terdiri dari bongkahan-bongkahan daging yang dibentuk. Dia tidak berbaju, hanya bercelana merah gelap. Sepasang batang tangannya dililit dengan rantai besi setebal batang jari. Ada bekas luka sayatan yang dalam di pelipis kanannya, membuat wajahnya agak menyeramkan. Ia bernama Ragatos.


Setelahnya adalah seorang pria yang lebih tua. Rambut hitamnya yang sudah beruban banyak gondrong terjuntai lurus. Wajah hitamnya memiliki mata yang sipit tapi tajam memandang. Kumisnya putih lagi panjang menutupi bibir atasnya. Ia berjubah cokelat lusuh. Tubuhnya kurus dan ia berbekal sebuah tongkat kayu hitam mengkilat yang padanya melilit seekor ular berkulit kuning berbintik merah. Ia dikenal dengan nama Kakek Ular Emas. Tiada yang mengenal nama aslinya.


Dan orang ketiga adalah seorang wanita remaja. Dandanannya yang baik membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut panjangnya yang mencapai bokong dikepang tunggal. Di perutnya terselip sebuah seruling kayu. Usia wanita berpakaian ungu itu sebenarnya lebih tua dari penampilan cantik fisiknya, yaitu 45 tahun. Ilmunyalah yang membuatnya terlihat sangat muda. Ia adalah Bidadari Seruling Kubur yang bernama asli Nintari.

__ADS_1


Ragatos, Kakek Ular Emas dan Bidadari Seruling Kubur adalah tiga jago yang akan diturunkan oleh Ratu Getara Cinta dalam pertarungan hari ini, yang merupakan pertarungan kedua dari tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama telah dimenangkan oleh kubu Kerajaan Tabir Angin.


“Yang Mulia Ratu Aswa Tara tiba!” (RH)


__ADS_2