
*Cincin Darah Suci*
Warga ibu kota He sedang melakukan aktivitas sehari-harinya sebagaimana biasa, khususnya di jalan utama Liong Sue. Di jalan utama yang lurus menuju gerbang istana Negeri Jang itu tidak pernah sepi oleh keramaian. Di jalan yang panjang itulah perputaran uang memusatkan diri.
Berbagai bisnis tergelar di jalan nan panjang tersebut. Lebarnya badan jalan yang berdebu membuat kuda dan kereta leluasa melintas. Kemegahan yang ditampilkan dalam arsitek setiap bangunan kayunya menjadi keunggulan yang membuat nama kota He mahsyur hingga berbagai negeri lain. Menjadikannya pula sebagai tujuan bisnis dan perdagangan para pengusaha dunia.
Tidak hanya hampir semua jenis barang dijual di kota He, sekedar satu kata informasi saja juga ada harganya. Pekerjaan legal dan ilegal sama-sama memiliki tempat.
Sebagai pusat ekonomi Negeri Jang dan terhubung langsung dengan gerbang istana, sistem dan tingkat keamanan pun sangat ketat.
Gong...!
Tiba-tiba keramaian di Jalan Liong Sue dikejutkan oleh suara genta yang hampir tidak pernah terdengar di kawasan tersebut. Suara gemanya terdengar jelas hingga ke dalam-dalam toko dan berbagai bangunan bisnis yang ada.
Gong...!
Setelah suara gemanya menghilang, kembali suara genta besi itu terdengar. Demikian seterusnya. Warga yang sedang melakukan transaksi, atau sedang makan, atau keperluan lainnya, menjadi peasaran dan ingin tahu, apa, dari mana, dan siapa yang membuat suara lonceng besar itu.
Mereka yang kala itu berada di jalan, bisa langsung melihat ke asal suara. Sementara mereka yang berada di dalam bagunan, harus pergi ke luar dulu atau membuka jendela-jendela yang ada di atas loteng. Suara ramai manusia terdengar bertanya-tanya sambil pandangannya mencari-cari. Tidak lama untuk mencarinya.
Gong...!
Suara itu berasal dari serombongan manusia yang berada di ujung jalan dan bergerak perlahan akan melalui jalan itu. Itu bukan rombongan manusia biasa, sebab sebagian besar mengenakan pakaian prajurir berwarna hitam-hitam.
Sebuah genta besar menggantung di bawah silangan dua balok kayu besar dan kuat. Keempat ujung balok kayu itu dipikul oleh delapan lelaki bertubuh besar dan berotot kekar, satu ujung dipikul dua lelaki. Mereka yang tanpa baju itu memperlihatkan kegagahan fisiknya yang berkeringat. Satu orang lagi berjalang sambil sesekali memukul genta yang menggantung berat. Kesembilan orang itu berjalan di posisi paling depan dari rombongan panjang tersebut.
__ADS_1
Di belakang mereka berjalan 20 wanita berpakaian putih yang membawa keranjang besar berisi kelopak bunga-bunga bermacam jenis. Mereka berjalan dalam dua baris dan menebarkan bunga ke udara seiring aroma wanginya.
Di belakang barisan wanita-wanita muda dan cantik-cantik itu berjalan 30 prajurit berpedang dan bertameng berseragam hitam-hitam. Mereka berjalan dalam tiga baris. Dua orang terdepan membawa panji berbendara hitam bergambar kepala burung elang dengan paruh terbuka lebar, terkesan sang burung sedang marah.
Di belakang lagi ada dua kuda yang ditunggangi oleh dua perwira dengan pakaian yang bagus berwarna hijau-hijau.
Di belakang kedua perwira itu berjalan kereta kuda bagus berwarna hitam berhias kain-kain merah terang. Siapa yang berada di dalam kereta tidak bisa dilihat dari luar, tetapi orang yang berada di dalam bisa melihat samar-samar ke luar.
Di belakang kereta kuda adalah tiga kereta tanpa rumah yang mengangkut peti-peti bagus dengan berbagai ukuran. Kereta barang itu masing-masing ditarik oleh seekor kuda. Di belakang lagi adalah 30 prajurit bertombak panjang dan bertameng. Di paling belakang adalah 20 prajurit berkuda.
Meski seragam tiga tingkatan prajurit yang ada di dalam rombongan itu sama-sama hitam, tetapi modelnya berbeda-beda.
Masyarakat kota He yang ada di tengah jalan segera menepi. Mereka memenuhi kedua sisi jalan untuk menyaksikan rombongan yang akan melintas.
“Yang Mulia, pasukan dari mana ini?” tanya pemuda berpakaian biru di sisi Han Tsun. Ia berbekal sebilah pedang lengkap dengan warangkanya. Ia bernama Tan Ma, pengawal pribadi Han Tsun yang disebutnya “Yang Mulia”.
“Lihatlah benderanya. Apa kau mengenalinya?” tanya Han Tsun.
“Aku mengenali semua bendera lima negeri yang mengepung wilayah Jang. Tapi bendera kepala elang, baru kali ini aku melihatnya,” jawab Tan Ma.
“Di timur Jang ada Negeri Moh dan Lor We. Di timur kedua negeri itu ada negeri besar dan setahuku memiliki kekuatan pasukan yang hebat. Namanya Negeri Ci Cin. Seperti itu gambar bendera Negeri Ci Cin.”
“Wah!” desah Tan Ma. “Berarti mereka datang dari jauh. Pasti keperluannya sangat penting sehingga pasukan negeri itu datang dengan rombongan besar.”
“Aku sudah mendengar kabar bahwa Putra Mahkota Negeri Ci Cin akan datang langsung ke sini untuk melihat kakakku, tapi tidak aku sangka akan secepat ini dia datang. Aku pun belum pernah bertemu dengan Putra Mahkota Ci Cin,” kata Han Tsun.
__ADS_1
“Putri Kai begitu sulit menemukan pria yang cocok. Jika seperti ini terus, tentunya akan menjadi citra buruk bagi keluarga istana dan akan menjadi perbincangan hingga ke rakyat paling dasar,” kata Tan Ma.
“Jangankan kau, Kaisar saja bingung untuk merubah pendirian kakakku,” kata Han Tsun sambil melihat ke bawah.
Gong...!
Iring-iringan pasukan dan kereta kuda itu sedang melintas di depan rumah makan tempat Han Tsun dan Tan Ma berada.
“Melihat dari bahan pakaian para prajuritnya, bahan perisainya, menunjukkan Negeri Ci Cin lebih maju dalam hal kemiliteran. Namun, siapa yang tahu,” kata Han Tsun. “Aku ingin melihat seperti apa Putra Mahkota Pangeran Baijin.”
Han Tsun lalu berbalik dan melangkah masuk untuk turun. Tan Ma segera mengikuti. Mereka meninggalkan meja yang di atasnya ada dua botol arak dan dua cangkir kecil.
Sementara itu, jauh di dalam istana, seorang kasim berjalan dengan cepat. Kepalanya menunduk memperhatikan jalan dan kedua tangannya bertemu diam di depan perut tertutupi oleh gombrongnya lengan jubah hitamnya.
Ia berhenti sejenak di depan gerbang kayu yang dijaga oleh dua wanita tetapi berpakaian prajurit seperti pria dengan rambut digelung di atas kepaka dan dibalut oleh lilitan pita berwarna emas. Keduanya pun berbekal pedang di tangan masing-masing. Keduanya membungkuk sedikit sebagai sikap hormat.
Di atas gerbang ada papan nama besar bertuliskan kaligrafi yang berbunyi “Istana Haram”.
Tok! Tok tok tok!
Melihat siapa yang datang, seorang dari prajurit wanita berpakaian merah gelap itu mengetukkan gagang pedangnya ke pintu gerbang dengan irama tertentu.
Tak berapa lama, pintu gerbang bertembok cukup tinggi itu dibuka dari dalam. Belum lagi gerbang terbuka lebar, kasim sudah bergegas menyelinap masuk dan berjalan cepat melewati halaman luas yang indah seperti taman. Dua prajurit wanita yang berpakaian sama dengan prajurit di luar segera menghormat pula kepada kasim yang berlalu tanpa mengindahkan keberadaan mereka.
Untuk sampai kepada bangunan besar yang megah berwarna merah berpadu hiasan warna putih, kasim harus melalui jembatan kecil yang di bawahnya ada aliran air bening yang cukup lebar. (RH)
__ADS_1