Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo16: Syarat Ki Daraki


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Zurss!


Oaarss! Brass!


Sudarka melesatkan dua gelombang sinar biru menyerang Ki Daraki. Namun, Kepala Desa melesatkan sinar hijau besar berbentuk bayangan wajah manusia yang meraung dengan mulut terbuka lebar. Sinar hijau besar itu melahap hilang dua sinar biru dan terus melesat menghantam tubuh Sudarka.


Sudarka terlempar jauh ke belakang hingga ke pinggir alun-alun. Dengan menahan rasa sakit yang begitu dalam, Sudarka berusaha bangkit, tetapi sudah tidak kuat. Di dalam keremangan pencahayaan di alun-alun itu, kulit Sudarka berubah warna menjadi hijau gelap.


Sekali melompat, Ki Daraki sudah berdiri di bawah kaki Sudarka yang tidak berdaya. Ki Daraki tersenyum sinis.


“Dengan kemampuan seperti ini, kau berani memberontak, Sudarka,” kata Ki Daraki.


“Kau akan merasakan kehancuranmu, Daraki, karena kau telah salah melihat yang mana musuh dan yang manah teman!” desis Sudarka.


“Kau masih sempatnya mengguruiku. Yang jelas, Sedap Malu kini akan menjadi milikku,” kata Ki Daraki.


“Sungguh setan, kau!” maki Sudarka dalam rintihannya.


Krek!


Selanjutnya, Ki Daraki melangkah dan menginjak kuat batang leher Sudarka hingga terdengar suara tulang patah.


Berakhir sudah riwayat hidup Sudarka.


Warga yang lain hanya bisa diam melihat Ki Daraki membunuh tangan kanannya sendiri.


Ki Daraki berkelebat di udara dan mendarat ringan di tengah-tengah panggung.


“Aku peringatkan kepada orang-orang yang mengancamku!” seru Ki Daraki kepada warganya. “Cepat atau lambat, kalian akan terungkap. Aku sarankan, larilah kalian jauh-jauh, atau bernasib seperti Sudarka!”


Para warga hanya terdiam mendengar ancaman itu.


Sementara itu, Joko Tenang sedang mengobati Tudurya.


“Bubar kalian semua dan bereskan kekacauan ini!” perintah Ki Daraki kepada seluruh warganya.


Beramai-ramai warga Desa Wongawet membubarkan diri. Ketiga belas mayat yang ada juga dibereskan dengan dibawa ke suatu tempat. Sejumlah kaum wanita bekerja membereskan segala hidangan yang ditinggal begitu saja. Bagi yang belum sempat makan, harus menahan lapar. Atau, mereka akan makan makanan yang dipastikan bebas racun, tetapi makannya sembunyi-sembunyi.


Hingga pada akhirnya, tinggallah Joko Tenang, Tirana, dan Ki Daraki di panggung itu. Bangirayu menunggu Tirana di tempat yang agak jauh. Ia hanya mengawasi.


“Apa yang kau inginkan, Joko?” tanya Ki Daraki.


“Pergi mengejar Kelompok Pedang Angin secepatnya,” jawab Joko.


“Pasti kau sudah mendengar bahwa Kelompok Pedang Angin bisa meninggalkan desa ini di hari kedatangannya?” terka Ki Daraki.


“Benar,” jawab Joko.

__ADS_1


“Aku rasa kau tidak bisa memenuhi syaratnya. Lebih baik tinggallah saja selama tiga hari,” kata Ki Daraki. “Nikmati hari-hari kalian di desa ini. Kau bisa puas menikmati kecantikan gadis-gadis Wongawet dan Tirana bisa menjadi pemandangan yang begitu indah. Hahaha!”


“Tapi apakah benar aku tidak akan bisa memenuhi syarat itu?” tanya Joko lagi.


“Tentunya kau tidak mungkin mau memberikan Tirana kepada kami sebagai syarat? Atau kau mau pergi menculik wanita muda dari desa lain dan kau serahkan kepada desa ini,” tandas Ki Daraki.


Joko terdiam, menatap lekat lelaki tua bertampang muda di depannya.


“Tidak hanya itu, kau juga harus menyerahkan sejumlah pembayaran uang yang cukup banyak,” tambah Ki Daraki.


“Baiklah, Ki. Kami akan mengikuti aturan tiga hari itu,” kata Tirana memutuskan, membuat Joko beralih memandangnya tajam.


Tirana hanya mengangguk tersenyum kepada Joko, memberi isyarat multi tafsir.


“Baiklah. Hanya perlu aku ingatkan, kalian jangan ikut campur terhadap konflik di dalam desa ini!” tandas Ki Daraki. “Aku harus pergi menyelesaikan masalah desa ini.”


“Baik, Ki,” ucap Tirana seraya tersenyum manis.


Sambil tesenyum menikmati kecantikan Tirana, Ki Daraki melangkah pergi. Ki Daraki harus memastikan kondisi Kemuning dan Sedap Malu.


“Apa rencanamu, Tirana?” tanya Joko Tenang dengan kening berkerut.


“Kita harus memastikan siapa wanita yang diberikan oleh Kelompok Pedang Angin kepada Ki Daraki,” kata Tirana agak berbisik. “Jika itu memang Ginari atau Ratu, kita punya alasan untuk melengserkan kepemimpinan Ki Daraki dan mendukung para pemberontak.”


“Aku yakin, daerah terlarang dilapisi pagar gaib, jika kita menyusup, pasti akan diketahui,” kata Joko.


“Baiklah, tapi jangan sampai ketahuan sebelum jelas siapa perempuan yang dikorbankan oleh Kelompok Pedang Angin. Dugaanku itu adalah Ginari atau Ratu, karena orang yang Pedang Angin tahan adalah Hujabayat.”


“Bangirayu adalah bagian dari pemberontak itu. Aku akan mengorek keterangan darinya lebih lengkap,” kata Tirana.


“Bergeraklah tepat tengah malam, karena ada seseorang yang ingin bertemu denganku di bawah pohon randu tepat waktu itu. Aku tidak tahu siapa, tapi pohon randu itu terletak di wilayah lelaki,” kata Joko.


“Baik, Kakang,” ucap Tirana patuh.


Joko Tenang dan Tirana lalu berpisah. Joko kembali ke rumah Dagang. Tirana dan Bangirayu kembali pula.


“Kakang Joko setuju membantu. Tetapi kami perlu memastikan, siapa wanita yang dikorbankan oleh Kelompok Pedang Angin kepada Ki Daraki,” kata Tirana kepada Bangirayu. Nada suaranya lebih rendah.


“Syukurlah,” ucap Bangirayu senang.


“Tapi kau harus menjelaskan secara terang tentang kelompokmu dan langkah-langkahnya,” kata Tirana.


“Kejadian keracunan itu adalah perbuatan kami. Tujuannya membuat kacau guna menarik perhatian kalian, dan memberi tahu bahwa di desa ini sedang ada perlawanan terhadap penguasa yang kejam. Kau lihat, bagaimana Ki Daraki dengan mudahnya terpengaruh dan mengambil keputusan yang salah. Bahkan orang kepercayaannya dia salahkan dengan mudah tanpa berpikir jernih. Orang-orang yang kami bunuh adalah orang-orang yang setia kepada Ki Daraki dan sering jadi mata-mata di antara kami,” tutur Bangirayu.


“Bagaimana dengan Kemuning dan Sedap Malu?” tanya Tirana.


“Kemuning adalah....”


Kata-kata Bangirayu terputus oleh kemunculan Asih Marang yang menghadang mereka. Asih Marang membawa sebuah obor bambu.

__ADS_1


“Mak Gandur memanggil semua wanita yang tadi sore terlibat di dapur,” ujar Asih Marang.


“Baik,” kata Bangirayu.


Tirana dan Bangirayu mengikuti Asih Marang.


“Asih, apakah kau sudah menentukan sikap?” tanya Bangirayu dari belakang Asih Marang.


“Aku mendukungmu, tetapi aku tidak mau terlibat,” jawab Asih tanpa memandang sahabatnya itu. “Tapi, tindakan kalian malam ini sangat berlebihan. Bayangkan, tiga belas nyawa rekan kita kalian bunuh.”


“Mereka layak mati, Asih. Kau sendiri pernah merasakan akibat dari laporan-laporan mereka kepada Ki Daraki,” kata Bangirayu.


“Tapi tidak harus sampai membunuh mereka. Jika Sudarka mati di tangan Ki Daraki, itu kami tidak sayangkan. Tapi bagaimana dengan Kemuning dan Sedap Malu?” tandas Asih Marang.


“Aku hanya berharap kau bisa menjaga kami, Asih,” kata Bangirayu.


“Kau tidak perlu ragukan itu,” tandas Asih.


Akhirnya mereka tiba di dapur umum desa, tempat mereka tadi sore beramai-ramai memasak berbagai macam makanan dan lauk pauknya.


Ada lima belas gadis di tempat itu, termasuk Mak Gandur, tokoh wanita senior yang ditugaskan untuk mencari tahu siapa penaruh racun di dalam makanan. Dengan kedatangan Tirana, Bangirayu dan Asih Marang, genap berjumlah delapan belas orang.


Di tempat itu juga menumpuk makanan-makanan yang belum sempat mereka makan saat di panggung alun-alun.


“Baik, semua yang terlibat di dapur tadi sore telah hadir, kecuali Asih Marang!” seru Mak Gandur. “Aku sudah memeriksa semua makanan ini. Hanya ikan bakar yang mengandung racun....”


“Berarti Wunita yang bertanggung jawab atas racun itu, karena dia yang membersihkan ikannya dan membakarnya,” kata Sunirma, gadis yang juga merupakan tokoh senior wanita di desa itu.


“Bukan. Racun Ulat Api dimasukkan di bumbu ikan bakar!” sanggah Mak Gandur.


“Aku yang memasukkan racun itu!” kata seorang gadis sambil berdiri. Ia seorang gadis cantik berambut sebahu berhidung bangir. Ia mengenakan pakaian kuning hitam. Ia bernama Riri Liwet.


Semua mata seketika tertuju kepada Riri Liwet. Sebagian besar terkejut, karena selama ini mereka mengenal Riri Liwet adalah sosok gadis yang pendiam. Namun, bagi para wanita yang termasuk dalam kelompok pemberontak, mereka terkejut karena Riri Liwet mengaku sendiri.


“Aku yang mencuri Racun Ulat Api dari Sudarka,” tandas Riri Liwet lagi.


Pengakuan Riri bagi mereka sangat beralasan, karena Sudarka memang diketahui beberapa kali mencoba mendekatinya, meski Sudarka sudah memiliki kekasih.


“Tangkap Riri Liwet!” perintah Mak Gandur.


Sunirma dan Asih Marang segera meringkus Riri Liwet yang tidak melakukan perlawanan.


Bagirayu hanya bisa memandangi rekan seperjuangannya dibawa pergi.


“Bagikan makanan ini secara sembunyi-sembunyi!” perintah Mak Gandur. (RH)


**********


Bagi yang suka karya Om ini, silakan beri like, vote, komen, dan gift terbaikmu. Terima kasih selalu untukmu, Readers. 😁🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2