Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 12: Si Tampan Sakti


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


Kusuma Dewi terus berlari. Berlari tetapi tidak cepat, karena ia berlari dalam kondisi terluka parah. Pedang melengkungnya masih tergenggam di tangan kanannya, tetapi sudah tanpa warangka. Tampak pula di dagunya ada bekas darah yang dilap.


Tampak pula di pinggang kanan Kusuma Dewi ada luka bakar yang hangus. Sejenak dia berhenti dengan bertopang pada pedangnya yang ia tancapkan ke tanah. Ia sejenak menengadah ke langit terang sambil memejamkan mata dan mengerenyit menahan sakit dan susah.


Tidak berapa lama, Kusuma Dewi kembali berlari tertatih.


Bruk!


Namun akhirnya, tubuh gadis jelita itu tersungkur ambruk di bawah sebuah pohon besar berumput. Sejak itu, Kusuma Dewi sudah tidak bergerak-gerak lagi.


Waktu terus berputar. Setengah jam kemudian, barulah ada manusia lain yang lewat.


Manusia itu adalah seorang pemuda tampan. Asli, dia pemuda yang tampan. Kulitnya memang tidak putih, tetapi warna sawo matang yang dicelup susu kambing. Pemuda berikat kepala putih itu berhidung mancung, beralis tebal, dan berambut gondrong sebahu. Usianya bisa ditaksir sekitar dua puluh tujuh tahun. Ia mengenakan pakaian serba putih. Lelaki yang bernama Lanang Jagad itu berjuluk Si Tampan Sakti.


Ia memang memiliki karakter yang percaya diri. Ia begitu bangga menjadi lelaki yang katanya “paling ganteng” sekolong langit. Ia juga mengklaim dirinya sangat sakti, karena ia murid favorit Resi Tambak Boyo.


Saat ini Lanang Jagad sedang mendapat tugas mencari sejumlah tanaman obat. Karenanya, saat ini dia menggendong sebuah keranjang anyaman kulit bambu yang telah berisi sejumlah tanaman obat.


Lanang Jagad yang matanya selalu mencari ke sana dan ke sini, menghentikan langkahnya saat pandangannya tertumpu pada sosok tubuh berpakaian serba putih pula.


“Eh, sepertinya seorang perempuan,” ucap Lanang Jagad lirih, kepada dirinya sendiri.


Ia segera menghampiri sosok itu dengan berlari kecil.


“Nisanak! Nisanak!” panggil Lanang Jagad.


Melihat tidak ada gerakan, Lanang Jagad segera meraih lengan Kusuma Dewi dan membalikkan tubuhnya. Saat itulah Lanang Jagad terkejut-kejut.


Terkejut pertama karena melihat luka Kusuma Dewi yang dinilainya cukup parah. Terkejut kedua karena melihat kecantikan luar biasa yang dimiliki oleh gadis yang tidak dikenalnya itu.

__ADS_1


Namun, Lanang Jagad membuang dulu nafsu kekagumannya, nyawa perempuan itu jauh lebih mendesak untuk diselamatkan. Ia segera memeriksa nadi di pergelangan tangan Kusuma Dewi. Dari denyutan yang dirasakannya itu, Lanang Jagad bisa mengukur separah apa luka si gadis.


Lanang Jagad lalu menotok beberapa titik di area pinggang yang terluka parah. Ia duduk bersila di sisi tubuh Kusuma Dewi. Selanjutnya ia melakukan beberapa gerakan. Hingga akhirnya, sebulat sinar putih sebesar genggaman muncul dari jari telunjuk Lanang Jagad.


Cresss!


Selanjutnya, Lanang Jagat menjatuhkan sinar putih itu tepat ke luka besar Kusuma Dewi. Satu kali tubuh Kusuma Dewi tersentak, tetapi tetap tidak sadarkan diri.


Setelah memberikan ilmu pengobatan Ludah Awan, Lanang Jagad kembali memeriksa denyut nadi Kusuma Dewi.


“Gadis ini harus diobati di Padepokan, tapi jaraknya cukup jauh jika harus menggendongnya,” pikir Lanang jagad. Akhirnya dia hembuskan napas. “Menolong orang itu harus sepenuh hati, tidak boleh sepotong tanggung.”


Lanang Jagad lalu meraih tubuh Kusuma Dewi dan memanggulnya dengan mengatur keranjangnya lebih dulu. Tidak lupa ia memungut pedang Kusuma Dewi dan menaruhnya di bakul obatnya.


Maka pergilah Lanang Jagat, langsung menuju pulang. Ia sebagai pendekar sakti, jarak jauh bukanlah kendala baginya untuk membawa sesosok tubuh. Cantiknya paras wanita yang dibawanya membuat ia bersemangat.


“Siapa kau, Kisanak?”


“Aku Lanang Jagad, Si Tampan Sakti,” jawab Lanang Jagad.


“Mau… kau bawa ke mana aku?” tanya Kusuma Dewi lagi, begitu lemah.


“Ke Padepokan Hati Putih untuk mengobatimu,” jawab Lanang Jagad.


Namun setelah itu, tidak ada lagi pertanyaan atau suara Kusuma Dewi. Saat Lanang Jagad memeriksanya, ternyata gadis itu kembali tidak sadarkan diri.


Lanang Jagad kembali melesat menuju pulang.


Setelah jauh melesat, Lanang Jagad harus berhenti dan bersembunyi. Ia telah tiba di Gerbang Hati Putih, yaitu daerah yang menjadi mulut untuk masuk ke jalan yang diapit oleh dua tebing bukit.


Di daerah itu ada sejumlah orang yang sedang berkumpul, jumlahnya sepuluh orang dan mereka berpakaian berbeda-beda dengan ciri seperti pendekar persilatan. Mungkin lebih tepatnya mereka berjaga di tempat itu, sebab mereka juga membangun sebuah tenda untuk berteduh.

__ADS_1


“Itu pasti orang-orang Gerombolan Kuda Biru,” terka Lanang Jagad. “Mereka benar-benar menutup jalan menuju ke Padepokan. Lebih baik aku lewat belakang saja….”


Lanang Jagad lalu berkelebat mengambil jalan lain yang akan memutari bukit, sehingga jarak tempuh yang seharusnya sudah dekat kembali menjadi agak jauh.


Ujung-ujungnya, Lanang Jagad sampai ke sebuah jalan selebar dua depa. Pada kanan dan kiri jalan itu adalah jurang dalam yang juga luas membentang. Di bawah kanan dan kiri adalah wilayah yang ditutupi kabut tebal. Hingga memandang jauh ke kanan dan ke kiri, yang terlihat hanyalah hamparan kabut. Seolah ada dunia gelap di dalam kabut tebal itu.


Jalan yang sepanjang tiga kali lemparan batu itu adalah satu-satunya jalan yang menuju ke Padepokan Hati Putih.


Di ujung sana ada gapura tinggi yang pada tengah atasnya ada tiga helai kain putih yang satu ujungnya disematkan, sementara ujung lainnya dibiarkan berkibar ditiup angin.


Setelah itu, yang ada adalah sebuah lingkungan kompleks padepokan. Terlihat ada tiga pendapa kecil yang masing-masing memiliki kumpulan yang berpakaian putih-putih, tepatnya kumpulan anak-anak yang sedang mendengarkan wejangan dari gurunaya. Pendapa yang pertama berisi anak-anak usia kisaran belasan tahun, pendapa kedua adalah anak-anak dewasa, dan pendapa yang ketiga adalah anak-anak perempuan yang diasuh oleh seorang guru lelaki.


Murid-murid Padepokan Hati Putih hampir semuanya adalah anak pejabat kerajaan dan bangsawan. Bahkan pangeran putra raja Kerajaan Baturaharja yang masih berusia empat belas tahun berguru di tempat itu.


Kedatangan Lanang Jagad yang membawa sesosok tubuh, membuat para guru yang sedang mengajar sejenak memperhatikan. Setelah itu, Lanang Jagad membawa Kusuma Dewi di lingkungan tempat murid-murid perempuan tinggal.


“Ni Rukiah!” panggil Lanang Jagad kepada seorang wanita berusia separuh abad yang sedang memperbaiki jemuran buah palanya.


“Siapa itu, Lanang?” tanya wanita yang bernama Nini Rukiah.


“Aku belum tahu namanya, Ni. Tapi dia harus diselamatkan dari kematian,” jawab Lanang Jagad.


“Tempatkan saja di kamar pengobatan!” kata Nini Rukiah.


Singkat cerita.


Seorang lelaki tua serba putih sedang memeriksa kondisi Kusuma Dewi, disasksikan oleh Lanang Jagad dan Nini Rukiah. Lelaki tua itu memelihara kumis dan jenggot panjang yang menyatu. Jenggotnya sampai sedada. Ia mengenakan kain seperti sarung yang berwarna putih bersih. Badan atasnya hanya ditutupi dengan kain selempangan warna putih. Sementara dada kanan dan lengan kanan tampak tanpa penutup. Tubuhnya bersih dari perhiasan-perhiasan. Ialah yang bernama Resi Tambak Boyo.


“Dari lukannya, wanita ini usai bertarung dengan Pangeran Mabuk atau muridnya. Ia terkena ilmu Kaki Pemabuk. Ilmu itu sangat terciri dengan luka hangus yang ditimbulkannya dan cepat mengancam nyawa. Untung kau sudah memberinya pengobatan Ludah Awan. Senjata pedangnya juga unik,” kata Resi Tambak Boyo.


“Karena aku yakin Guru bisa menyembuhkannya, maka aku bawa ke mari,” kilah Lanang jagad. “Oh iya, Guru, Gerombolan Kuda Biru menutup jalan di Gerbang Putih Hati.”

__ADS_1


“Biarkan, mereka tidak akan bisa masuk lagi, kecuali mereka nekat,” kata Resi Tambak Boyo. (RH)


__ADS_2