
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
Pangeran Kubur yang datang bersama dua puluh pengikutnya dikawal oleh tiga puluh orang prajurit, sebagai antisipasi terhadap orang-orang yang belum jelas hitam atau putihnya.
Mereka dikawal menuju ke Ruang Jamuan yang terletak di sisi barat Istana. Setibanya di gerbang benteng, Pangeran Kubur dan rombongan diterima oleh Senopati Batik Mida.
Namun, di saat Senopati Batik Mida mendampingi Pangeran Kubur menuju Ruang Jamuan, tiba-tiba….
Kaaak!
Tiba-tiba terdengar suara keras membahana yang sepertinya berasal dari langit. Rombongan itu dan semua prajurit segera mendongak ke langit. Seluruh penghuni dalam Istana yang belum pernah mendengar suara seperti itu, jadi terkejut dan terdiam, termasuk Permaisuri Mata Hati yang berada di kamar pribadinya.
Permaisuri Kerling Sukma dan para pendekar yang masih berkumpul di sekitar panggung arena, juga terkejut takjub.
Sementara Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Tirana tersenyum. Mereka tahu suara apa dan siapa itu.
Di dalam kamar pengantin, di dalam kamar Permaisuri Kusuma Dewi, Prabu Dira yang baru selesai putaran kedua berpacu dalam melodi, tersenyum lebar kepada istri ketujuhnya.
“Burung rajawaliku sudah datang menjemput,” ucap Prabu Dira kepada Permaisuri Kusuma Dewi yang saat itu menutup tubuhnya dengan pinjung merah, semerah darah perawannya yang menodai kain alas kasur berwarna putih.
“Menjemput ke mana, Kakang Prabu?” tanya Kusuma Dewi yang tidak mengerti.
“Menjemputku untuk terbang menjemput Permaisuri Pertama,” jawab Prabu Dira yang sudah memasukkan tubuhnya sebatas dada ke dalam kolam. “Apakah kau mau bertemu dengan Gimba, burung rajawali raksasaku?”
“Tidak. Kakang Prabu setelah ini akan pergi, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamamu,” jawab Permaisuri Kusuma Dewi sambil berjalan mulai memasukkan kaki mulusnya ke dalam air pada kolam yang sama.
“Hahaha! Gimba akan menungguku sampai besok pagi. Kau tidak perlu khawatir akan kehilangan waktu bersamaku, Sayang,” ucap Prabu Dira yang didahului tawanya.
Mendengar perkataan suaminya, Permaisuri Kusuma Dewi tersenyum. Ia lalu melepas pinjungannya agar tidak basah. Maka poloslah Kusuma Dewi hingga akhirnya dia masuk ke dalam air sebatas leher. Kain pinjungnya ia letakkan di pinggir kolam.
Prabu Dira segera meluncur di air kolam lalu mendapati tubuh indah istrinya. Babak ketiga pun mulai berlangsung di dalam air.
Di luar Istana, terjadi kegegeran. Orang-orang melihat seekor burung sangat besar terbang berputar-putar di langit, tepat di atas Istana.
“Burung apa itu?” tanya Pangeran Kubur kepada Senopati Batik Mida.
“Aku juga tidak tahu. Baru kali ini aku melihat burung sebesar itu!” jawab Senopati Batik Mida.
Setelah berputar-putar agak lama, yang membuat langkah rombongan Pangeran Kubur terhenti, burung rajawali raksasa yang tidak lain adalah Gimba tersebut lalu bergerak terbang merendah, membuatnya terlihat semakin besar.
Para prajurit yang berjaga di seluruh bagian benteng Istana segera bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Bahkan pasukan panah yang berada di atas benteng bersiaga dengan anak panah siap membidik.
“Turunkan senjata kalian semua!” teriak Permaisuri Tirana keras sambil berkelebat lembut ke halaman Istana yang luas.
__ADS_1
Para prajurit panah segera menurunkan kembali panahnya.
Kehebohan semakin menjadi karena Permaisuri Tirana muncul ke halaman seolah bermaksud menyambut kedatangan burung besar tersebut.
Kaaak!
“Aak…!”
Sambil terbang menukik turun, burung rajawali berbulu cokelat keemasan itu berkoak kencang melengking. Para pendekar harus mengerenyit menahan rasa sakit yang menusuk gendang telinga mereka. Para prajurit lebih merasakan sakit pada telinganya, meski tidak sampai pecah atau membuat rusak.
“Gimbaaa!” teriak Permaisuri Tirana mendongak sambil melambaikan tangan kepada kedatangan burung raksasa itu.
Pada saat itu, mereka yang tidak mengenal Gimba dan tidak pernah melihatnya, menjadi paham bahwa burung itu ternyata milik Permaisuri Kedua.
Pangeran Kubur sebagai pihak luar Istana semakin terperangah.
“Siapa wanita bidadari itu?” tanya Pangeran Kubur kepada Senopati Batik Mida, sambil memandang jauh kepada sosok Permaisuri Tirana.
“Dia Permaisuri Kedua, Yang Mulia Permaisuri Tirana,” jawab Senopati Batik Mida.
“Apakah semua permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil sesakti itu?” tanya Pangeran Kubur. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Prabu Dira memiliki para permaisuri yang sakti-sakti seperti Permaisuri Tirana. Padahal tadi pagi, dia pun sudah menyaksikan bagaimana tingkat kesaktian Permaisuri Sandaria.
“Benar. Bahkan ada yang jauh lebih sakti,” jawab Senopati Batik Mida.
“Pantas saja Permaisuri Sandaria berani berkoar akan memburu kami…” batin Pangeran Kubur.
Akhirnya burung besar itu turun ke halaman luas Istana, tepatnya beberapa tombak di depan Permaisuri Tirana yang sudah menunggu. Suara daratan kedua cekernya menggetarkan tanah sejenak. Seiring itu, kepakan sayapnya menimbulkan gelombang angin keras yang berdebu.
Orang-orang yang terkena imbas angin berdebu hanya bisa mengerenyit memejamkan mata. Namun tidak bagi Permaisuri Tirana, ilmu perisainya membuatnya aman dari terpaan debu.
Burung raksasa itu lalu turun merendahkan tubuh dan kepalanya di depan Permaisuri Tirana.
“Gimbaaa! Hihihi!” seru Permaisuri Tirana sambil menghamburkan diri dan memeluk paruh besar si burung. “Kami begitu merindukanmu.”
Dari arah lain, dari koridor luar Istana, berjalan anggun sosok Ratu Getara Cinta bersama Permaisuri Nara dan Permaisuri Sandaria. Setiap permaisuri dikawal oleh enam dayang.
Sungguh pemandangan yang begitu indah, jika melihat ketiga permaisuri yang semuanya jelita dalam balutan busana yang megah, berjalan berdampingan. Mereka berjalan menuju ke arah Gimba dan Permaisuri Tirana.
Melihat hal itu, Permaisuri Kerling Sukma jadi mendelik. Segera ia berkelebat lembut di udara dan mendarat di tanah lapang. Ia lalu berjalan dengan anggun pula untuk bergabung bersama sang ratu. Keenam dayangnya buru-buru berlari mengejar untuk mengawal.
Ratu Getara Cinta hanya tersenyum melihat kedatangan Permaisuri Mata Hijau dan bergabung bersama.
“Gimba! Apakah kau masih mengingat aku?” seru Ratu Getara Cinta saat sudah dekat dengan burung.
Kaaak!
__ADS_1
Gimba berkoak pelan, seolah menjawab pertanyaan sang ratu.
“Hihihi! Kau pasti senang karena disambut oleh wanita-wanita cantik,” kata Tirana sambil mengelus bulu kepala Gimba.
Ratu Getara Cinta, Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Sandaria tersenyum kepada Gimba, kecuali Permaisuri Nara.
“Banyak cerita untukmu, Gimba. Kami ini semua, adalah istri-istri Joko Tenang,” ujar Permaisuri Tirana.
Kaaak!
Gimba berkoak agak keras mengomentari perkataan Tirana.
“Hihihi! Kau pasti terkejut. Dan sekarang nama Joko adalah Prabu Dira,” kata Permaisuri Tirana yang didahului dengan tawa.
“Gimba, aku perkenalkan. Ini adalah Permaisuri Nara, orang paling sakti di Kerajaan Sanggana Kecil ini,” kata Ratu Getara Cinta. Ia terus memperkenalkan permaisuri yang lain, “Ini Permaisuri Kerling Sukma dan ini Permaisuri Sandaria.”
“Hihihi…!” Permaisuri Sandaria lebih dulu maju sambil mengulurkan tangan kirinya hendak menyentuh paruh besar Gimba.
“Kakang Prabu Dira baru saja menikah. Ia dan Permaisuri Ketujuh sedang bersama, sepertinya kau harus menunggu Gimba,” kata Ratu Getara Cinta.
“Tapi tenang saja, kami akan menemanimu dan berbagi cerita,” kata Tirana pula.
Gimba bergerak pelan menganggukkan kepalanya. (RH)
***********
Pangeran Kubur dan pengikutnya sudah pasti akan bergabung dengan Sanggana Kecil.
Ayo Readers beri masukan kepada Author:
Jabatan apa yang pas untuk Pangeran Kubur?
Gunung Prabu lebih luas dari wilayah Sanggana Kecil. Potensi apa yang dimiliki di Gunung Prabu? Langkah apa yang harus diterapkan di Gunung Prabu?
__ADS_1
Reader yang usulannya tertolak harap lapang dada.