Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
37. Dua Wanita dalam Satu Pelukan


__ADS_3

Kaak!


Gimba berkoak agak keras. Ia bergerak bangun lalu dengan perlahan membuka sayapnya sehingga membentang lebar dan menciptakan angin keras.


Tirana segera naik ke atas gerobak mendampingi Ginari dan Kembang Buangi.


Ketika Gimba mulai naik meninggalkan bumi, tali yang terikat di kakinya turut tertarik, kemudian menarik pula gerobak. Ketiga gadis itu sempat terguncang dalam hentakan pertama ketika mulai terangkat ikut terbang. Maka gerobak itu pun menggantung di bawah kaki Gimba.


“Sehebat inikah Pangeran Dira?” ucap Tirana yang didengar pula oleh Ginari dan Kembang Buangi.


“Aku pun tidak pernah mendengar cerita tentang makhluk sebesar ini,” kata Ginari.


“Menjadi kebanggaan bagi kita jika nanti menjadikan Joko sebagai suami,” kata Tirana.


“Kau begitu yakin. Apakah Joko mencintaimu?” tanya Ginari. “Aku ragu bahwa Joko mencintaiku. Ia hanya terikat paksa oleh wasiat dari kakekku sebelum mati.”


“Cinta wanita tidak akan mudah untuk diduakan, masalah kalian bukan perkara remeh.” Kembang Buangi akhirnya berkomentar setelah diam sejak tadi.


“Aku takut mencintainya karena kau telah didaulat sebagai calon istrinya. Aku khawatir, ketika aku mencintainya, aku tidak sanggup menerima kondisi ketika perhatiannya ia curahkan kepada wanita lain, yaitu dirimu, Tirana,” ujar Ginari.


Tirana tertawa kecil.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Ginari.


“Karena kau sudah mencintai Joko,” jawab Tirana.


“Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Ginari dengan nada agak meninggi.


“Karena kau memiliki rasa takut itu. Ibuku pernah mengatakan kepadaku, pada dasarnya mencintai seseorang adalah merasa memiliki sepenuhnya. Karenanya, kita akan marah jika orang yang kita cintai berbagi perhatian dengan orang lain, berbagi kasih dan sayang dengan orang lain. Namun, ibuku mengatakan, sebenarnya bukan itu makna dari cinta sejati. Makna cinta itu lebih luas, bukan hanya sebatas antara aku wanita dan dia lelaki lalu saling menerima dan saling memberi, tidak. Arti cinta sejati adalah memberi dan berbagi kebahagiaan. Kebahagiaan kita tergantung pada kebahagiaan orang lain. Itu yang ibuku ajarkan kepadaku tentang arti cinta,” kata Tirana.

__ADS_1


“Kau terdengar jauh lebih tua dari usiamu, Tirana,” kata Kembang Buangi. “Tapi, aku asing dengan pemikiran seperti itu. Lalu apakah kau akan bahagia jika suamimu direbut oleh wanita lain dengan dalih membuat wanita lain itu bahagia?”


“Kata merebut berarti memisahkan aku dengan suamiku, aku benci itu. Aku lebih suka menyebutnya, emm...” kata Tirana lalu dia diam mendengung berpikir. “Berbagi. Ya, berbagi. Aku lebih suka menyebutnya berbagi. Jika wanita itu mau berbagi kebahagiaan denganku, tidak masalah bagiku. Cinta suamiku tidak akan berkurang karena diberikan kepada wanita lain dan raga suamiku tidak akan terkikis karena dibagi dengan wanita lain.”


Ginari hanya terdiam memandang wajah jelita Tirana. Entah hal apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Sementara Kembang Buangi menghempaskan napas tanda tidak setuju dengan pemahaman gadis asing yang baru dikenalnya itu. Tirana hanya tersenyum kepada Kembang Buangi.


“Sebenarnya siapa yang kau cintai, Hujabayat?” tanya Joko di atas sana kepada Hujabayat.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Hujabayat jadi berekspresi kikuk. Ia tidak langsung menjawab kecuali terdengar dengungan “emm”.


“Tak usah kau jawab jika kau berat mengatakannya,” kata Joko yang duduk memunggungi Hujabayat.


“Tidak, tidak mengapa, Joko. Wajar bila kau bertanya demikian. Kita berdua sudah sejauh ini. Kau telah kerahkan hal yang sangat besar demi menyelamatkan Ginari dan Kembang Buangi, selayaknya bila kau mengetahui tentang apa yang aku rasakan juga,” kata Hujabayat di belakang kepala Joko. “Awalnya aku cinta buta kepada Ginari, karenanya aku gelap mata ketika menyangka kau telah menodainya. Namun faktanya, Ginari tidak mencintaiku dan Pengemis Maling justru menyerahkan dia kepadamu. Di sisi lain, separuh hatiku juga cenderung kepada Kembang Buangi yang begitu malang. Entah, apakah aku mencintai Kembang Buangi karena tak ada rotan rumput pun jadi? Aku tidak tahu. Namun, saat ini aku jadi begitu mencintainya. Aku tidak mau kehilangan Kembang Buangi. Apa pun akan aku lakukan demi menyelamatkan hidupnya. Bagaimana denganmu, Joko? Apakah benar kau akan menjadikan keduanya istrimu?”


“Hahaha!” Joko Tenang tertawa. “Sebenarnya aku bingung, tapi aku tidak bisa menolak. Aku lebih bocah daripada kau mengenai masalah cinta. Waktu kecil, aku pernah jatuh cinta dan merasakan rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Meski sejak bayi aku sudah ditinggal oleh kedua orangtuaku, tapi aku tidak pernah merasakan betapa sedih dan sakitnya ditinggalkan oleh mereka. Berbeda ketika gadis yang aku cintai tiba-tiba pergi dan lenyap dari kehidupanku.”


Joko terdiam kemudian. Ia memandang jauh ke cakrawala, mengenang masa indah saat remajanya, ketika ia dan para sahabatnya berjuang bersama membasmi kelompok Perampok Raja Gagah.


“Ia menghilang jatuh ke dalam jurang. Meski ada orang yang meyakinkan bahwa mereka yang jatuh masih hidup, tapi nyatanya hingga saat ini aku pun tidak mengetahui sedikit pun kabarnya,” jawab Joko. “Setelah itu, hanya kenangan yang tersisa dan seiring waktu perasaan itu memudar. Pikiranku tidak pernah lagi disibukkan dengan urusan suka dengan lawan jenis. Kau lihat sendiri, betapa menyedihkannya kondisiku jika berurusan dengan para wanita, hahaha!”


Hujabayat turut tertawa kecil.


“Ketika aku tiba-tiba disuguhkan perkara tentang istri, wanita dan cinta, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Kau bisa lihat kemarin di kediaman Ki Demang Rubagaya, ketika Tirana begitu mudahnya membuatku tidak berdaya. Bagaimana aku bisa membantah dan menolaknya sementara dia memiliki keyakinan kuat yang tidak bisa dirubah? Aku seperti orang sakit yang nyatanya memang sedang sakit. Meski aku tidak suka dengan obat yang suguhkan kepadaku, tapi aku harus menelannya untuk bisa sembuh dari sakit itu.”


“Jadi kau terpaksa dalam menerima mereka?” tanya Hujabayat.


“Bisa kukatakan iya. Akan tetapi, bila aku terpaksa, bukan berarti aku bersikap tidak peduli. Aku terpaksa menerima dua wanita yang diamanahkan kepadaku, tapi mereka tidak akan aku abaikan karena keterpaksaan itu. Jika nasi sudah menjadi bubur, aku tidak akan menutup mulutku sehingga bubur itu mengotori wajahku, tapi aku akan memakannya, hahaha!”


“Kau beruntung, Teman,” puji Hujabayat.

__ADS_1


Mendengar perkataan Hujabayat itu, Joko justru memperpanjang tawanya.


“Untung di mananya, Hujabayat?” tanya Joko seraya tetap menyisakan tawanya.


“Dua wanita cantik jelita langsung menjadi milikmu dalam satu pelukan. Bukankah itu keberuntungan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya? Terlebih, keduanya memiliki kesaktian yang tinggi. Jika melihat kesaktian Tirana, jelas aku merinding. Kesaktian gadis yang muncul tiba-tiba itu sangat mengerikan,” kata Hujabayat.


“Mungkin sebaliknya, bukan keberuntungan, tapi kemalangan bagiku. Kau lihat sendiri bagaimana aku lari terbirit-birit ketika digoda oleh Kembang Buangi saat pertama kita bertemu. Kau dapat simpulkan bahwa hidupku akan lebih bahagia dan nyaman tanpa adanya wanita di dekatku. Tapi kini, di sepanjang hidupku akan selalu ada paling sedikit dua wanita di dekatku. Apakah kau tidak bisa membayangkan, betapa tersiksanya batinku? Bagaimana jika mereka marah kepadaku? Mereka tinggal mendekatiku kurang dari tiga langkah, maka aku akan mati lemas.”


“Hahaha!”


Kali ini yang tertawa adalah Hujabayat.


“Akhirnya kau mengerti, Sahabat,” kata Joko seraya menghempaskan napas.


Kaak!


Gimba pun berkoak pelan, seolah turut menertawakan nasib sahabatnya.


“Hei, Hujabayat!” panggil Joko tiba-tiba bernada serius.


“Ya?” sahut Hujabayat di belakang.


“Apakah kau berencana untuk memiliki dua wanita juga?” tanya Joko.


“Tidak, tidak, tidak!” sangkal Hujabayat cepat dengan ekspresi salah tingkah. “Aku tidak pernah katakan seperti itu!”


“Tapi keirianmu kepadaku seolah menyiratkan itu,” kata Joko seraya tersenyum sendiri.


“Penilaianmu terlalu jauh, Joko!” tukas Hujabayat.

__ADS_1


Kemudian Joko hanya tertawa menertawakan Hujabayat.


Sang Rajawali terus terbang ke timur menantang matahari pagi. Kelima pendekar itu pun disibukkan dengan pikiran dan perasaan cintanya yang semuanya muncul dengan tiba-tiba. Ada keraguan, ada ketekadan, dan ada yang menerima apa adanya. (RH)


__ADS_2