
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
Pusat Kadipaten Surosoh kini memanas, tidak hanya suhunya karena banyak rumah yang dibakar di sana-sini, tetapi juga panas di setiap dada orang yang ada di sana.
Lebih dua puluh pendekar berkuda datang menyerbu Kadipaten Surosoh, mereka membakari rumah-rumah dan membunuh warga yang mereka temui di dekatnya. Kini mereka duduk di kuda-kuda yang berbaris di belakang tiga orang pemimpin mereka, yaitu Nila Mawangi yang berjuluk Gadis Kuda Biru, Nenek Haus Jantung dan Siluman Panah Setan.
Namun, ternyata masih ada orang yang berani menghadang pasukan kuat itu seorang diri, yaitu Surya Kasyara alias Pendekar Gila Mabuk. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sehingga nekat menghadang.
“Pergi kalian semua! Cukup kerusakan dan pembunuhan yang kalian lakukan!” teriak Surya Kasyara marah.
“Siapa orang mabuk ini?” tanya Nenek Haus Jantung kepada Nila Mawangi.
“Aku tidak mengenalnya. Mungkin dia orang yang putus asa,” jawab Nila Mawangi. “Coba kita lihat, sehebat apa orang mabuk ini.”
Wanita dewasa nan cantik itu lalu menunjuk kepada Surya Kasyara dengan telunjuk kanannya, sementara empat jari lainnya menekuk. Tunjukan itu membuat Surya Kasyara cepat bersiaga, siap mengelak atau menangkis jika itu gerakan menyerang.
“Apa yang kau inginkan, Orang Mabuk?” tanya Nila Mawangi dengan nada yang tenang.
“Aku ingin menghalangi kalian menghancurkan kadipaten ini!” teriak Surya Kasyara, tanpa gentar sedikit pun. Padahal, jika melihat pasukan berkuda di belakang Nila Mawangi, seharusnya itu cukup untuk membunuh keberanian seseorang.
“Kau lihat, kami sudah membakar dan membunuh, apalagi yang mau kau cegah?” tanya Nila Mawangi dengan telunjuk tetap menunjuk.
“Aku akan….”
Bang!
Di saat Surya Kasyara sedang berbicara, Nila Mawangi membuka keempat jarinya yang menekuk. Satu gelombang tenaga dalam tinggi langsung melesat menghantam tubuh Surya Kasyara, membuatnya terpental jauh.
Meski terpental beberapa tombak, Surya Kasyara mendarat dengan kedua ujung kaki dan tangan yang menggesek tanah dan menahan agar tubuhnya tidak mencium bumi. Surya Kasyara mendongak menatap tajam kepada rombongan itu.
__ADS_1
Melihat hasil dari serangannya, Nila Mawangi dapat menebak sejauh mana kemampuan Surya Kasyara.
“Algojo Besi, atasi orang mabuk itu!” seru Nila Mawangi tanpa memandang kepada orang yang diperintahnya.
Tidak pakai lama, pesanan Nila Mawangi segera tersaji. Tiga sosok lelaki tanpa baju melompat bersamaan dari punggung kudanya. Mereka melintasi atas kepala ketiga pemimpinnya dan mendarat bersamaan di depan sana, langsung berdiri menghadap kepada posisi Surya Kasyara.
Tiga orang yang maju untuk mengatasi Surya Kasyara adalah tiga orang lelaki bertubuh tinggi besar dan memiliki otot yang besar-besar. Keringat pada tubuh mereka membuat badan tanpa baju itu terlihat kemilau memantulkan cahaya senja. Ketiga lelaki ini memiliki tubuh dan otot yang lebih seksi daripada Gigi Gagah sebelumnya. Wajah mereka memang berbeda-beda, tetapi untuk lebih gampang mengenali mereka adalah warna celananya yang berbeda.
Lelaki berkumis bercelana hitam bernama Gelaga. Lelaki berkumis bercelana merah bernama Segoro Wono. Dan lelaki berkumis bercelana biru gelap bernama Sakare. Ketiga orang besar berotot itu dikenal dengan julukan Tiga Algojo Besi. Dari julukannya, bisa tergambar seperti apa kemampuan ketiga orang itu.
Menggelikan. Sebelum pertarungan dengan Surya Kasyara dimulai, ketiganya memainkan otot dadanya secara bersamaan, sehingga terlihat naik turun dengan ritme yang tinggi, seolah-olah sedang cekikikan menertawakan Surya Kasyara.
“Ayo maju, Orang Mabuk!” teriak Sakare.
Surya Kasyara yang tidak mau diremehkan, merasa sangat perlu untuk membuktikan bahwa ia bukan orang yang boleh diremehkan. Hitung-hitung ini adalah pertarungan untuk mematangkan keilmuannya. Selama tiga tahun berguru kepada gurunya, ia sangat jarang bertarung hidup mati melawan pendekar lain. Selama ini ia hanya sering berlatih melawan Rara Sutri, kakak seperguruannya.
Surya Kasyara melesat cepat ke depan, kepada ke Tiga Algojo Besi. Sakare langsung menyambut kedatangan Surya Kasyara dengan tinju. Namun, Surya Kasyara lihai mengelaki tinju itu dengan merendahkan tubuh atasnya, lalu kepalanya langsung menyodok ke arah Segoro Wono.
Namun, jari-jari besar Segoro Wono menangkap dan mencengkeram batok kepala Surya Kasyara, seolah ingin meremukkannya. Surya Kasyara cepat memelintir tubuhnya sehingga kepalanya berputar arah, sementara kedua tangannya menghantam dua kali perut kekar Segoro Wono.
Surya Kasyara harus mendelik terkejut, dua tinju bertenaga dalamnya ternyata tidak bisa membuat Segoro Wono bergeser sedikit pun.
Buk!
Justru dua pukulan bedug dari Gelaga dengan mudah menghantam perut Surya Kasyara yang dalam posisi terbuka dan menghadap ke atas. Tubuh Surya Kasyara langsung terbanting ke tanah.
Kini posisi Surya Kasyara dikurung oleh ketiga orang besar itu.
Sementara itu, Nila Mawangi, Nenek Haus Jantung dan Siluman Panah Setan pergi meninggalkan tempat itu. Kuda-kuda yang ada di belakang mengikuti dengan langkah kaki yang perlahan.
__ADS_1
“Celurit Kembar! Pimpin anak buahmu kuasai rumah Adipati. Ingat, pastikan keamanan Adipati dan istrinya!” perintah Nila Mawangi kepada seorang penunggang kuda berpakaian hitam-hitam tapi berikat kepala kuning.
“Baik!” sahut lelaki berusia empat puluh tahun itu. Ada sepasang celurit di punggungnya. Ia bernama Renggong Walu, berjuluk Celurit Kembar. Ia lalu menggebah kudanya untuk lebih dulu menyerang kediaman Adipati yang sudah terlihat jauh di depan sana.
Sepuluh penunggang kuda lain yang berkedudukan sebagai anak buah Celurit Kembar segera mengikuti, memisahkan diri dari rombongan besar.
Rombongan itu meninggalkan pertarungan antara Pendekar Gila Mabuk dengan Tiga Algojo Besi.
Berbeda ketika melawan anak buah Kusuma Dewi, kali ini Surya Kasyara kesulitan melawan ketiga orang kuat itu. Meski jurus mabuk Surya Kasyara sering mengecoh, tetapi sundulan, tinju, tendangan hingga dorongan tubuh yang disarangkan kepada orang-orang berotot itu tidak mempan.
Pada satu ketika, Surya Kasyara yang baru saja dipukul jatuh, mendadak melentingkan kedua kakinya ke atas hendak menendang dagu Segoro Wono, tetapi dengan mudahnya Segoro Wono dan Sakare masing-masing menangkap pergelangan kaki Surya Kasyara lalu mengangkatnya. Tubuh Surya Kasyara jadi menggantung.
Buk!
Sebelum Surya Kasyara melakukan serangan dengan tinjunya, Gelaga dengan keras menendang dada Surya Kasyara yang menggantung terbalik. Tubuh Surya Kasyara terlempar dan jatuh berdebam dalam posisi tengkurap.
Tanpa diketahui oleh Surya Kasyara, Segoro Wono telah melompat tinggi ke udara. Dari puncak lompatannya, Segoro Wono meluncur deras dalam posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas.
Bak!
“Hukr!” keluh Surya Kasyara dengan mulut menyemburkan darah saat punggungnya dihantam telapak tangan Segoro Wono dari atas.
Surya Kasyara mengerang kesakitan sambil bergerak perlahan membalikkan tubuhnya. Tulang punggung dan pinggangnya seolah berpatahan.
Zerzz! Blar!
Saat itu pula, Sakare menjejakkan kaki kanannya ke tanah. Satu aliran sinar merah menjalar cepat di permukaan tanah dan mengenai bumbung tuak dan tubuh Surya Kasyara. Tubuh pemuda itupun terpental jauh lalu jatuh bergulingan di tanah berdebu.
Tiga Algojo Besi yakin bahwa Surya Kasyara pasti mati terkena ilmu Jejak Jalar Maut. Surya Kasyara memang terlihat tidak bergerak. (RH)
__ADS_1