Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 28: Membujuk Cinta Pertama


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


“Kusuma Dewi adalah kekasihku dan cinta pertamaku! Aku harap kalian membiarkan aku bicara kepadanya!” Joko Tenang mempertegas seruannya kepada keempat orang yang mengepung Kusuma Dewi dan Lanang Jagad.


Semua memandang kepada Joko Tenang yang sudah berdiri di pinggiran pendapa.


“Maafkan aku, Pangeran. Bagaimana mungkin penjahat ini menjadi kekasihmu? Sedangkan di kadipaten sana kelompoknya membunuhi orang-orang yang tidak bersalah!” kata Rara Sutri.


“Urusan dengan Gerombolan Kuda Biru tidak akan berubah, tapi aku ingin menyelesaikan urusan cintaku dengan Kusuma Dewi, bukan urusan gerombolannya. Jika pun nanti kami berdua bertemu tarung di medan laga, aku akan bersikap adil sama seperti musuh yang lainnya!” tandas Joko Tenang lantang.


Kata-kata Joko Tenang membuat semuanya terdiam.


“Kayuni, Arya, sarangkan dulu permusuhan kalian. Biarkan Joko Tenang menyelesaikan urusannya dengan Kusuma Dewi!” perintah Resi Tambak Boyo.


“Huh!” dengus Kayuni Larasati kesal. Dengan wajah yang asam ia melangkah pergi kembali naik ke pendapa.


Arya Permana, Surya Kasyara dan Rara Sutri pun memutuskan melepas Kusuma Dewi. Legalah Lanang Jagad.


“Lanang!” panggil Resi Tambak Boyo.


Lanang Jagad jadi memandang kepada Rasi Tambak Boyo. Namun, ia merasa berat meninggalkan Kusuma Dewi sendirian. Ia jadi memandang kepada Kusuma Dewi dan gurunya bergantian.


Guru Ranggasula memberi isyarat gerakan tangan agar Lanang Jagad meninggalkan Kusuma Dewi yang terus memandang kepada Joko Tenang. Lanang Jagad akhirnya meninggalkan Kusuma Dewi berdiri sendirian, ia pergi naik ke pendapa.


Kusuma Dewi menurunkan pedangnya, menurunkan kewaspadaannya.


Joko Tenang menolakkan kakinya, membuat tubuhnya melayang pergi dan turun indah satu tombak di hadapan Kusuma Dewi.


Saat itu, perasaan Kusuma Dewi berkecamuk hebat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ingin rasanya ia menghamburkan diri memeluk pemuda berbibir merah di hadapannya itu. Namun, kini hatinya sakit laksana disayat-sayat sembilu.


Bagaimana tidak sakit, pemuda yang ia tunggu-tunggu kini ia jumpai dalam kondisi sedang bersama dengan tiga wanita cantik di depan matanya. Bahkan, para wanita itu telah diikat sebagai istri.


Joko Tenang dan Kusuma Dewi saling pandang dalam kebisuan. Yang lain pun hanya menyaksikan dalam keterdiaman.

__ADS_1


Kusuma Dewi menatap Joko Tenang dengan sorot mata yang tajam, seolah sedang menatap seorang musuh. Sepasang mata itu telah memerah tergenang oleh air bening yang nyaris tumpah. Wajah cantik putihnya tampak memerah. Tangan kanan memegang gagang pedang samurainya dengan kuat, sewaktu-waktu bisa saja ia gerakkan.


Sebaliknya, Joko Tenang menatap cintanya dengan tatapan yang dalam tetapi lembut. Ada energi kasih sayang yang terpancar dari tatapan itu. Terlebih ketika bibir merah Joko Tenang mekar tersenyum sesuai porsinya.


Senyum itu seketika membelai hati Kusuma Dewi, membuat amarahnya perlahan terjun bebas tanpa parasut. Dan seiring itu, air mata yang sudah membuncah berselancar deras di kedua pipinya. Pedang di tangan pun terjatuh lepas ke tanah. Tangis Kusuma Dewi kali sampai mengguncang tubuhnya.


“Kau pernah mengatakan, walau hanya bisa memandangmu, walau hanya bisa memimpikanmu. Dan kau akan menungguku, Kusuma,” ucap Joko Tenang lembut.


Tersentak perasaan Kusuma Dewi mendengar kata-kata itu. Ia tidak menyangka bahwa Joko Tenang akan mengingat kata-kata yang telah ia lupakan itu.


“Kini waktu itu telah tiba. Keadaanku lebih baik dari yang dulu. Kini aku sudah bisa kau sentuh, kini aku datang bukan sekedar dalam mimpimu. Kita sudah bisa bersama, Kusuma,” ujar Joko Tenang seraya tersenyum menunjukkan kebahagiaannya.


“Hiks hiks hiks!”


Mendadak tangis Kusuma Dewi meledak dan dia menghamburkan tubuhnya kepada Joko Tenang. Bukan untuk memeluknya, tetapi untuk memukuli dadanya dengan tenaga kasar sebagai seorang wanita. Joko Tenang membiarkan dirinya dipukuli berkali-kali.


Serangan itu bahkan membuat permata Cincin Macan Penakluk bercahaya berpendar-pendar, seolah sang macan di dalamnya mau melompat keluar karena majikannya diserang.


Puncaknya, Kusuma Dewi menampar wajah Joko Tenang, tetapi tidak begitu keras.


Melihat suami mereka ditampar, Tirana dan Kerling Sukma berniat bertindak.


“Tahan!” kata Getara Cinta pelan sambil menangkap tangan kedua madunya agar tidak mengganggu pertemuan sepasang kekasih itu.


Tirana dan Kerling Sukma pun tunduk pada saran Getara Cinta.


Setelah menampar wajah Joko Tenang yang hanya diam, akhirnya Kusuma Dewi memeluk Joko Tenang dan menutupkan tangisnya ke dada bidang pemuda itu. Perlahan kedua tangan Joko Tenang memeluk dan membelai kepala Kusuma Dewi. Belaian lembut itu membuat Kusuma Dewi merasa nyaman dan bahagia.


Sementara di sisi lain, Lanang Jagad patah hati menyaksikan pemandangan bencana itu. Ia hanya bisa bersedih mode silent, diam tanpa suara dan reaksi.


“Kenapa pertemuan ini begitu menyakitiku, Joko?” tanya Kusuma Dewi sambil melepaskan pelukannya. Ia lalu mundur sejauh dua langkah. Ia usap wajahnya dengan jari-jemarinya.


“Apakah kau tersakiti karena melihatku sudah beristri?” tanya Joko Tenang lembut.

__ADS_1


Kusuma Dewi mengangguk.


“Aku akan menjelaskan kepadamu kenapa ini bisa terjadi,” ujar Joko Tenang.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Joko. Semua terlihat jelas oleh kedua mataku. Ternyata selama ini kau tidak pernah memikirkanku. Mungkin bayanganku pun tidak pernah sekali pun hinggap dalam anganmu,” kata Kusuma Dewi.


“Kau akan dibohongi oleh pikiran dan dugaanmu jika kau tidak mendengarkan penjelasanku,” tandas Joko Tenang.


Kusuma Dewi terdiam mendengar hal itu.


“Aku merindukanmu. Aku merindukan Limarsih, Parsuto dan Curaina. Aku rindu kalian!” kata Joko Tenang, mencoba membujuk cinta pertamanya itu.


Joko Tenang lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Kusuma Dewi. Gadis itu masih diam menatap Joko Tenang. Air matanya sudah berhenti mengalir.


“Ikut aku. Kita bisa berbagi cinta, berbagi cerita, dan berbagi derita. Dan jadilah istriku!”


Terkesiap Kusuma Dewi mendengar perkataan terakhir Joko Tenang.


“Aku pasti bermimpi. Tidak mungkin Joko melamarku. Aku sekarang adalah wanita liar yang haus membunuh,” ucap Kusuma Dewi kepada dirinya sendiri, tetapi didengar Joko Tenang. Ia tanpa sadar termundur dua langkah.


“Kusuma!” panggil Joko Tenang lembut sambil maju dua langkah pula. Tangan kanannya tetap menjulur meminta tangan gadis itu.


“Maafkan aku jika menyakitimu. Aku sedikit pun tidak bermaksud menyakitimu. Jika kau memang ingin meninggalkanku, meninggalkan lelaki yang mencintaimu, tolong beri aku kesempatan untuk menceritakan deritaku selama ini,” bujuk Joko Tenang. Ia sengaja melunakkan diri agar Kusuma Dewi mau diajak bicara secara lengkap dan menyeluruh.


Sepasang mata Kusuma Dewi mengedip. Akhirnya tangan kirinya bergerak dan menyambut jari-jemari Joko Tenang. Joko Tenang pun tersenyum. Akhirnya pula, ada hilal senyuman di bibir Kusuma Dewi.


Di saat tangan kirinya digenggam erat oleh Joko Tenang, tangan kanan Kusuma Dewi menghentak samar ke arah pedangnya yang tergeletak di tanah. Seperti besi dirayu magnet, pedang itu melesat tertarik ke tangan Kusuma Dewi.


Sambil tersenyum, Joko Tenang bergerak cepat mengangkat tubuh Kusuma Dewi pada kedua tangan kokohnya. Sang gadis pun membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Ia bahkan merangkulkan kedua tangannya pada leher Joko Tenang, seperti pengantin yang akan menuju ke ranjang bergoyang.


Joko Tenang lalu berkelebat pergi ke sebuah gazebo bambu di dekat sebuah kolam. Gazebo itu berhias satu suluh bambu. Agak jauh dari pendapa, tetapi masih dapat dipantau.


Cara seperti ini pernah Joko Tenang lakukan kepada Kerling Sukma, tetapi tidak semesra dan sesulit kali ini. Saat itu Joko Tenang masih mengidap penyakit Sifat Luluh Jantan. Maka Kusuma Dewi cukup lebih beruntung karena mendapat kemesraan langsung dari Joko Tenang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2