
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Setelah merasakan sakit yang tinggi, yang memaksanya harus menahan sekuat tenaga dan menjerit keras, Joko Tenang akhirnya berhenti menjerit. Namun, wajahnya masih mengerenyit.
Rasa sakit itu berkurang secara cepat.
“Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima....”
Ketiga orang berjubah yang mengaku berusia di atas seratus tahun itu, kompak menghitung mundur, sehingga mereka terlihat kocak. Namun, ketegangan yang terjadi saat itu membuat Tirana dan Kembang Buangi tidak tertarik untuk tertawa.
“Satu...! Hahaha!” teriak ketiganya kencang dan bersamaan, lalu tertawa puas.
Ketika hitungan “satu”, Joko Tenang sudah tidak merasakan sakit pada tubuhnya.
“Dia sudah resmi jadi murid kita, murid Tiga Malaikat Kipas! Hahaha!” teriak Ewit Kurnawa girang dan bangga.
“Kalau begitu kita pulang!” ajak Minati Sekar Arum.
“Eit, tunggu!” teriak Iblis Timur. “Joko belum diajari cara mengeluarkan ilmunya!”
“Tidak perlu diajari, nanti dia akan tahu sendiri seperti cara dia tahu bermain anu dengan istrinya. Hihihi!” kata Minati Sekar Arum seenaknya lalu tertawa.
“Joko muridku!” panggil Ewit Kurnawa.
“Iya, Guru Putih,” sahut Joko.
“Ketiga ilmu ini akan membantumu menjadi orang baik. Di dunia persilatan ini, banyak sekali sesuatu yang diletakkan tidak pada tempatnya, salah satunya adalah kesaktian. Kesaktian itu seharusnya hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang baik. Jika kesaktian itu dimiliki oleh orang jahat, maka itulah yang kami sebut sesuatu diletakkan bukan pada tempatnya. Kesaktian bukan untuk membuat manusia menjadi sombong, menjadi pembunuh, menjadi penindas, menjadi budak nafsu, mencari harta, tahta dan wanita. Bukan untuk itu, tetapi sebaliknya. Aku rasa kau mengerti itu,” ujar Ewit Kurnawa, kali ini omongannya serius.
“Murid mengerti, Guru Putih,” ucap Joko.
“Ketiga ilmu itu bernama Putih Raga, Hijau Raga dan Merah Raga. Ketahuilah, kini, hanya kami bertiga dan kau yang memilikinya,” kata Iblis Timur.
Joko Tenang mengangguk.
__ADS_1
“Cara pengerahannya sangat muda. Kau tinggal tarik napas dan kumpulkan di pusarmu. Genggam kuat tangan kanan, maka ilmu Putih Raga akan bekerja. Tangan kiri untuk Hijau Raga, dan kanan kiri untuk Merah Raga. Sudah aku katakan, semuda belajar menciumi perempuan. Hihihi!” jelas Minati Sekar Arum.
“Putih Raga tujuannya untuk memusnahkan seluruh ilmu kesaktian dan tenaga dalam musuh. Hijau Raga akan membuat tubuh wujud, tetapi tidak tersentuh. Merah Raga akan membuat ragamu menyatu ke alam yang tidak terlihat,” jelas Ewit Kurnawa.
“Bangunlah dan tunjukkan kepada kami, apakah kau murid yang memuaskan atau tidak!” perintah Iblis Timur.
Joko Tenang lalu bangkit berdiri. Ia berdiri tegap. Lalu mulailah dia menghirup udara melalui hidungnya dan mengumpulkan udara itu ke dalam perutnya. Di situlah tenaga bercokol. Joko Tenang menahannya, lalu menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanan yang mengepal kuat.
Tanpa menimbulkan suara, tiba-tiba lapisan sinar putih transparan menyelimuti tubuh Joko. Setelah itu Joko melepaskan napasnya dan genggamannya. Tubuhnya tetap bersinar.
“Cara kerja Putih Raga cukup kau tabrakkan tubuhmu ke tubuh lawan. Maka setelah itu, lawanmu akan menjadi orang biasa tanpa memiliki tenaga dalam sedikit pun lagi. Namun, ilmu itu tidak berlaku kepada kami. Lebih baik kau buktikan kepada lawanmu nanti. Untuk menghentikannya, cukup genggam ulang tanganmu,” kata Ewit Kurnawa.
Joko lalu kembali mengepalkan tangan kanannya, maka sinar putih dari ilmu itu lenyap. Kemudian Joko mengulang kembali menghirup napas yang dalam dan mengepalkan tangan kirinya dengan kuat. Namun, tidak ada perubahan yang terjadi. Tidak sinar hijau yang muncul.
“Diam, jangan bergerak!” perintah Iblis Timur.
Joko Tenang patuh.
Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi terbelalak tersenyum. Meski sosok Joko terlihat nyata, tetapi ketika dua puluh serangan masuk, tidak sekali pun serangan itu berhasil menyentuh fisik Joko. Tubuh pemuda berbibir merah itu berubah seperti sosok halusinasi atau bayangan. Artinya, dengan ilmu Hijau Raga, Joko bisa menembus benda padat dan tidak akan tersentuh oleh benda apa pun.
Tiba-tiba tubuh Joko Tenang menghilang, tidak terlihat keberadaannya. Padahal Joko Tenang tetap ada berdiri di tempatnya. Ia telah mengerahkan ilmu Merah Raga.
“Kakang!” panggil Tirana untuk memastikan keberadaannya calon suaminya.
“Aku masih di sini, Sayang,” sahut Joko, membuat Tirana tersenyum manis.
Joko Tenang melihat ke sekelilingnya. Ia agak terkejut, selain tetap bisa melihat keberadaan orang-orang di sekitarnya, ia juga bisa melihat keberadaan sejumlah makhluk yang sepertinya bukan manusia. Seperti makhluk hijau bertangan empat, ular berkepala tiga, lelaki terbang tanpa kaki yang sedang bekerja di atap rumah yang tadi tidak terlihat ada. Joko Tenang juga melihat keberadaan wanita berbaju merah yang melayang dengan asap merahnya. Namun posisi makhluk-makhluk itu cukup jauh dari tempat Joko dan yang lainnya berada.
Ketika Joko menghentikan penggunaan ilmu Merah Raga, Joko kembali melihat normal dan seiring tubuhnya juga kembali terlihat oleh ketiga gurunya dan kedua wanitanya.
“Hahaha!” tawa Ewit Kurnawa dan Iblis Timur bersamaan
“Bagaimana? Apa yang kau lihat selain kami yang ada di sini?” tanya Iblis Timur.
__ADS_1
“Makhluk-makhluk aneh, Guru Hijau,” jawab Joko.
“Hahaha! Kau tidak perlu takut melihat makhluk-makhluk yang bernama jin itu. Mereka tidak akan mengganggu jika tidak diganggu. Mereka sibuk dengan alamnya sendiri dan kita pun dengan urusan kita sendiri,” jelas Ewit Kurnawa.
“Yang terakhir, ini!” kata Minati Sekar Arum sambil melempar segulungan kain kepada Tirana.
“Apa itu, Guru Merah?” tanya Joko.
“Kau bisa melihatnya nanti. Di dalam gulungan itu ada puluhan nama tokoh sakti dunia persilatan. Jika urusanmu sudah selesai, kami perintahkan kau untuk mencari mereka. Jika bertemu, undang mereka untuk hadir dalam pertemuan aliran putih di Jurang Lolongan. Pertemuan itu akan diadakan tepat di purnama kedua. Cukup yang kau jumpai saja, karena tidak mungkin semuanya kau bisa datangi. Kami pun melakukan hal yang sama. Jika mereka bertanya, sebutkan nama kami dan katakan bahwa kelompok aliran putih harus segera bersiap,” jelas Ewit Kurnawa. Ia lalu beralih kepada kedua rekannya, “Ada yang ingin kalian sampaikan kepada murid baru kita?”
“Aku hanya berpesan kepadamu, Joko. Jangan sakiti hati para wanitamu. Aku tidak mau sebagai gurumu, wajahku tercoreng karena kau terkenal sebagai pemuda penyakit wanita. Aku tidak masalah jika kau mau beristri seratus wanita, asalkan mereka bahagia hatinya,” kata Minati Sekar Arum.
“Baik, Guru Merah,” ucap Joko patuh.
“Yang tidak kalah penting, kita hidup untuk menyelamatkan, bukan untuk memusnahkan!” tandas Iblis Timur.
“Baik, Guru Hijau.”
“Ayo kita pergi!” kata Ewit Kurnawa lalu berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu.
“Hahaha!” Iblis Timur tertawa rendah lalu pergi mengikuti Ewit Kurnawa.
Minati Sekar Arum terdiam sejenak menatap Joko Tenang dan kedua gadisnya.
“Tirana, kesaktianmu tinggi, jaga murid kesayanganku ini!” kata Minati Sekar Arum kepada Tirana.
“Baik, Guru Merah,” ucap Tirana patuh.
Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi terkejut setelahnya. Mereka melihat tubuh Minati Sekar Arum tiba-tiba musnah seperti asap yang tertiup angin. Namun, saat mereka melihat ke arah jauh, Minati Sekar Arum sudah berjalan di antara kedua kakek.
“Kita lanjutkan perjalanan,” kata Joko Tenang yang sejak tadi sebenarnya gemas, karena waktu pengejarannya cukup tersita. Namun apa boleh buat, urusan dengan ketiga guru barunya itu termasuk penting.
Joko Tenang, Tirana dan Kembang Buangi terpaksa menggunakan ilmu peringan tubuh mereka untuk melakukan perjalanan mengejar Kelompok Pedang Angin. (RH)
__ADS_1